
Selesai makan Om Victor membayar di kasir. Suasana menjadi petang. Arloji di pergelangan tangan Syafira pun sudah menunjukkan pukul 19:05 WIB.
“Syafira, kita pulang sekarang!”
Mereka berdua berjalan ke arah lift.
"Kenapa manyun! Apa kamu masih marah?" tanya Victor.
"Tidak!" jawab gadis itu singkat. Ia berbohong sebenarnya Ia masih kesal karena tidak jadi menikmati es krim. Kalau ada perlombaan membuat kesal hati orang, Victor bisa menjadi juaranya.
"Lain kali aku akan mengajakmu ke sini untuk makan es krim!" bujuk Victor. “Xander juga, kita bertiga akan ke sini!” imbuhnya.
"Sungguh?" tanya Syafira dengan mata berbinar. Bukan es krim, melainkan pergi bersama Victor selalu dinantikannya.
Victor mengangguk yakin.
Syafira pun tersenyum puas. Akan ada kencan lagi bersama Om Victor. Ini bisa di sebut kencan kan? Mereka hanya pergi berdua dan sekarang Victor tidak memiliki kekasih.
Meski sedikit jahat, Syafira lega, dengan berakhirnya hubungan Natasha dan Victor. Lagi pula, keduanya sudah menolak untuk memperbaiki hubungan. Jujur mereka tampak tidak cocok dari segi mana pun. Begitu lah pendapat Syafira sekarang. Ternyata Natasha wanita dominan yang tidak mungkin menjadi istri yang penurut.
Siapa lagi, hanya dialah yang cocok untuk pria itu. Syafira memupuk rasa percaya diri di dalam hatinya.
Victor dan Syafira masuk ke dalam lift.
Pintu lift tertutup.
Suasana hening karena, hanya mereka berdua yang ada di dalamnya. Alat transportasi dalam gedung itu mengantar kedua orang di dalamnya menuju lantai dasar.
Degh!
Lift seolah berhenti berjalan. Selanjutnya, penerangan di dalamnya ikut padam. Gelap, tak ada cahaya sama sekali kecuali angka dari arloji Syafira yang menyala dalam gelap.
“Om!” panggil Syafira pelan.
Ia mendekatkan tubuhnya pada pria yang berdiri di sampingnya. Merasa takut, karena cahaya lampu yang hilang begitu saja. Jantungnya berdegup dengan kencang. Pertama karena tubuhnya berdekatan dengan Victor dan kedua karena lampu di dalam lift yang tiba-tiba mati.
“Diam jangan takut!”
Pria itu meraih pundak Syafira, dan mendekat padanya.
Ia berusaha tenang, padahal dirinya merasa khawatir. Sepertinya ada gangguan yang mengakibatkan lift rusak. Kemudian, ia menuntun Syafira melangkah mundur, bersandar di dinding dan duduk.
Lebih mempererat genggamannya pada tangan Syafira yang terasa dingin dan gemetar.
__ADS_1
“Kenapa jadi gelap seperti ini Om, kenapa liftnya juga berhenti!” cerocos Syafira pelukan Victor, tidak mampu melenyapkan rasa takut di dalam hatinya.
Gadis itu mendekap lengan Victor kuat-kuat. Mengusir prasangka buruk yang melintas di benaknya.
“Tenang,” lirih Victor dengan berbisik.
Satu tangannya merengkuh Bella dalam pelukan. Kali ini dia akan mencari cara agar ada orang yang menyadari bahwa lift rusak karena mereka terjebak di dalamnya.
“Kamu membawa ponsel?” Victor memeriksa ponselnya sendiri sudah lowbat, karena semalam lupa meng-charge.
“Ini.”
Syafira membuka sling bag-nya lalu, memberikan ponsel pada Victor. Telapak tangannya sangat dingin. Masih ketakutan? Ya, mereka terjebak di dalam lift. Hal terburuknya mereka akan sesak nafas dan meninggal kalau sampai pertolongan datang terlambat.
“Kamu, duduk dulu,” pinta Om Victor. Pria itu menerima ponsel milik Syafira lalu beranjak dari duduknya. Sedikit cahaya dari ponsel yang dinyalakan membuatnya bisa melihat tombol lift yang ada di depannya.
Dengan telunjuk tangan kanan, Victor menekan tombol lantai satu persatu. Dari lantai satu hingga, lantai enam. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun, itu artinya lift rusak. Beberapa kali ia menekan tombol open, tetap saja tidak ada pergerakan sama sekali.
“Om, kita tidak akan mati di sini kan?” tanya Syafira lirih. Kegelapan dan panas mulai merambat.
Keringatnya mulai keluar, baju kuliah yang dikenakan mulai basah. Rasa takut dan tak ada udara di lift membuat suhu meningkat. Membuat gadis itu, tidak bisa berpikir jernih.
“Tenang saja, aku akan meminta bantuan dan tidak akan membiarkan kita terjebak berlama-lama di sini,” jawab Victor. Semakin kesal karena tak ada jaringan di ponsel yang ada di dalam genggamannya.
Kedua manik mata Victor , melihat layar ponsel. Menyalakan WIFI, berharap tersambung dengan jaringan internet.
Namun, tidak tersambung. Lebih parahnya lagi baterai ponsel akan segera habis.
Tak terasa sudah lima belas menit Victor dan Syafira terjebak di dalam lift. Pria itu terus saja menekan tombol alarm.
“Gerah sekali Om!” keluh Syafira. Keringat membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.
“Tenang ya, sebentar lagi pertolongan datang!” Victor mendekat, membantu Syafira melepas bagian luar bajunya. Lalu, ia juga membuka dua kancing baju bagian atas.
“Om panas sekali!”
Syafira merasa gerah dan nafasnya juga semakin susah.
“Tunggu, sabar ya!”
Victor juga melepas jas Navi-nya, dan menyisakan kemeja putih dengan semua kancing terbuka. Suasana sangat panas.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki mendekati lift.
__ADS_1
Syafira mulai merasa tenang. Terdengar jelas, beberapa orang di luar mulai berusaha membuka pintu lift dengan paksa.
“Kita akan selamat Sya!” ujar Victor. Keduanya duduk bersebelahan dengan tenang mencoba menunggu.
Menunggu.
Masih menunggu.
Terus menunggu.
Tidak bergerak, tidak mengeluh meski tubuh mereka susah sangat panas.
Hingga tak terasa hampir satu jam mereka di dalam sana.
“Om Victor,” lirih Syafira hampir tak terdengar.
Nafasnya sudah begitu sesak. Alas kaki sudah ia lepaskan untuk mengurangi rasa panas dan sesak di dalam lift. Badannya sangat lemas hingga kepalanya terjatuh ke lantai. Ia sudah putus asa, pasrah dan menganggap steik adalah makanan yang ia santap terakhir kalinya.
Bahkan, ia belum sempat memakan es krim terlezat di dunia seperti yang di katakan Om Victor. Es krim dengan taburan coklat yang ekstra banyak.
“Iya,” jawab Victor. Meraih tubuh gadis itu untuk bersandar di lengannya.
Dalam kegelapan Syafira meraba menghampiri sumber suara. Ia berpegangan kuat pada lengan si Om.
“Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi,” ucapnya dengan terbata. Kalau aku mati bilang sama Aleta kalau aku sangat menyayanginya, terima kasih sudah menjadi teman dan sahabat yang baik. Dan untuk Om Victor, terima kasih untuk semuanya. Aku senang bertemu dengan Om Victor, aku sungguh menyesal kenapa ini terjadi bahkan sebelum aku bisa membalas kebaikan Om yang selalu berbuat baik padaku, dan aku bahkan belum menyatakan cintaku pada Om—!” rancau Syafira sambil terbatuk karena sesak nafas.
Kini Victor yang khawatir. “Syafira bertahan!” teriaknya.
Kemudian bangkit, lalu kembali menekan tombol alarm berkali-kaki.
Victor meraba ke bawah, meraih Syafira. Gadis itu sudah tak sadarkan diri. Nafasnya sangat lemah, dan tangannya sudah lemas.
“Syafira.”
“Syafira.”
“Syafira.”
Victor memanggil gadis itu berulang kali, tetapi tidak ada respons. Syafira diam saja dengan nafas semakin lemah.
********
Komentarnya mana!
__ADS_1