
Victor sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ada beberapa produk baru yang akan menjadi produk skinbcare utama yang di promosikan ARRA mall. Beberapa merk ternama, tas dan juga aksesoris yang baru saja mendapat kesepakatan, akan di sahkan dalam minggu ini juga.
Hal itu membuat Victor tidak memikirkan Syafira sama sekali. Hingga mala mini, tepat dua hari setelah kepergian Syafira dari rumah, Victor baru menyadari jika ia tidak pernah melihat gadis itu.
“Mbok Atun, apa Syafira sudah makan malam?” tanya Victor. Ia tidak pernah melihat Syafira makan malam ataupun sarapan bersama dalam dua hari terakhir.
“Bukankah, Nona Syafira memang tidak tinggal di sini lagi Tuan, saya kira Nona Syafira memilih untuk tinggal di kos dan sudah meminta izin pada Anda,” sahut Mbok Atun seraya menata alat makan di atas meja.
“Apa? Syafira tidak pernah mengatakan apa pun padaku!” Victor yang tengah menunggu kedatangan kedua orang tua, dan putranya untuk bergabung di ruang makan untuk makan malam bersama, beranjak dari duduk.
Pria itu berjalan melewati ruang keluarga, lalu mengetuk pelan pintu kamar Nyonya Hani.
“Mama,” panggil Victor seraya mengetuk pintu pelan.
“Mama,” panggilnya dengan suara lebih keras karena tidak ada sahutan sama sekali.
Cklek.
Pintu kamar terbuka.
__ADS_1
“Ya. Ada apa?” sahut Nyonya Hani yang memang tengah bersiap untuk makan malam bersama.
“Mama tahu Syafira pergi ke mana?” tanya Victor. Terlihat jelas, dari sorot matanya ia merasa sangat resah.
“Mama tidak tahu, dia sendiri yang ingin keluar dari rumah ini.” Jawab Nyonya Hani dengan santai. Ia sama sekali tidak merasa bersalah dengan kepergian Syafira.
“Apa mama tidak mencegah Syafira untuk pergi Ma? Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Syafira? Ma, Syafira tidak bisa hidup di luar sendirian, apa mama tidak tahu Syafira itu tidak punya siapa pun selain kita Ma,” protes Victor. Jelas sekali wajahnya menyimpan kemarahan.
“Mama sudah bilang kan Syafira sendiri yang memutuskan pergi dari rumah, bukan mama yang mengusirnya! Paham!” Nyonya Hani memilih menghindari Victor yang sedang marah.
Karena tidak ingin terjadi keributan di dalam rumah Victor memutuskan untuk tidak mengejar sang mama. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi nomor Syafira. Cukup lama Victor menunggu, tetapi Syafira tidak menerima telefon darinya. Bukan hanya tidak menerima telefon, Syafira ternyata sudah memblokir nomor ponselnya.
Selanjutnya Victor mencoba menghubungi Juna, sekretarisnya.
“Halo, Tuan,” sapa Juna di seberang telefon.
“Apa Aleta di rumah?” tanya Victor yang paham betul jika Syafira dan Aleta berteman baik.
“Aleta sedang belajar di kamarnya Tuan,” jawab Arjuna keheranan dengan pertanyaan dari bosnya.
__ADS_1
“Aku ingin bicara dengannya sebentar!” pinta Victor tidak ingin mendapat penolakan.
“Baik Tuan, sebentar!” jawabnya.
Victor menunggu hingga terdengar suara sapaan dari seberang telefon yaitu suara dari Aleta.
“Halo, Tuan,” sapa Aleta bisa menebak jika alasan Victor menelefonnya karena Syafira.
“Halo Aleta, apa kamu dinmana Syafira sekarang? Dia tidak ada di rumah dan aku tidak tahu dia ke mana?” tanya Victor mendenguskan nafas kesal. Marah terhadap dirinya sendiri. Ia sudah memutuskan hubungan agar Syafira tetap tinggal di rumah itu, tetapi nyatanya Syafira tetap pergi dari rumah!
“Aleta ada di asrama Om, sudah dua hari yang lalu ia pergi dari rumah Om Victor tapi Om baru menyadarinya. Sebenarnya Om peduli atau enggak sama Syafira!” protes Aleta, ia sampai lupa tidak memanggil Victor dengan sebutan ‘Tuan’
“Aku akan ke asrama sekarang! Maaf aku tidak tahu,” ucap Victor perkataan Aleta membuatnya sadar jika dalam dua hari terakhir ini ia memang tidak peduli dengan Syafira.
“Besok saja Om, Syafira belum pulang kerja sekarang!” Aleta segera mengakhiri panggilan telefon dan mengembalikan benda pipih nan canggih itu kepada pemiliknya.
Aleta masuk ke dalam kamar. Ketika sang kakak memanggilnya lagi, aleta memutuskan untuk tidak membuka pintu kamarnya.
“Tuan, maaf sepertinya Aleta tidak mau membuka pintu kamarnya,” ujar Juna memberi tahu lawan bicaranya.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari sekretarisnya, Victor mengakhiri panggilan telefon begitu saja. Ia tahu ke mana harus mencari Syafira.
To be Continue.