
Kini ruangan itu hanya ada Syafira dan Victor. Setelah perawat keluar Victor berjalan mendekat ke arah Syafira lalu duduk di sofa yang berada di sebelah tempat tidur gadis itu.
“Apa kamu sering mendapatkan mimpi seperti itu Sya?” tanya Victor. Ia benar-benar tidak tahu jika gadis itu sering mengalami mimpi buruk seperti itu.
“Tidak juga Om, hanya kadang-kadang dan tidak tentu. Tetapi aku ingat mimpi itu kadang hadir, dan mengganggu tidurku,” jelas Syafira.
Ia menatap wajah Victor yang berada dekat di hadapannya. “Kamu makan dan minum obat sekarang ya,” tawar si Om.
“Baik Om!” jawab Syafira ia beranjak dari tidur, lalu duduk bersandar. Kemudian meraih nampan di atas nakas. Namun, Victor menghentikan aksinya.
“Biar aku yang suapi!” Victor meraih nampan berisi menu makan pagi Syafira, dan bersiap menyuapi gadis itu.
“Tidak perlu Om, aku bisa sendiri!” Kejadian semalam membuat Syafira malu dan merasa berhutang budi. Berbeda dengan Victor yang merasa kasihan dan ingin berada di delat Syafira saat gadis itu membutuhkan bantuannya.
“Biarkan aku menyuapimu, setelah ini aku harus bekerja dan baru bisa datang sore nanti,” ujar Victor. Ia menyuapkan nasi beserta potongan sayur untuk Syafira. “Buka mulutmu,” pintanya.
Mengalahkan rasa canggung Syafira membuak mulutnya. Kejadian semalam membuatnya merasa malu pada Victor. Ya, ia paling menghindari saat si Om mengasihaninya. Namun, yang terjadi semalam benar-benar membuat Victor merasa iba.
“Jadi pagi ini aku tidak berangkat kuliah Om?” tanya Syafira. Sayang sekali jika harus meminta izin untuk tidak berangkat kuliah lagi. Dalam waktu dekat ini ia sudah sering izin berangkat kuliah.
“Tidak perlu Sya, nanti sore aku jemput kamu dan besok baru kamu berangkat kuliah! Jangan bantah, aku sedang tidak ingin berdebat!” tegas Victor. Syfria suka sekali melakukan sesuatu yang dilarangnya.
“Baik Om.”
Syafira hanya menurut. Tatapan mata tajam dari si Om, mampu membuatnya tidak berkutik.
Tepat pukul tujuh Victor, bersiap untuk berangkat kerja. “Sya aku berngkat kerja sekarang ya, kalau ada apa-apa kamu telefo aku saja. Oh, ya sore nanti aku akan menjemputmu setelah dokter memeriksa dan memperbolehkanmu untuk pulang!” terang Victor. Membawa jas hitamnya dan tidak lupa membawa ponselnya yang sejak tadi bergetardan ia biarkan begitu saja.
“Iya Om.”
Victor berbalik dan bergerak menuju pintu.
“Om,” panggil Syafira.
“Iya,” sahut pria itu berbalik. Melihat ke sumber suara.
“Hati-hati,” ucapnya.
“Tentu.” Victor mengangkat ibu jarinya seraya tersenyum. Kemudian Syafira hanya melihat punggung pria itu yang berjalan menjauhinya.
* * *
__ADS_1
Sepanjang pagi hingga siang hari tak banyak yang dilakukan Syafira. Ia hanya terus berkutat dengan telepon pintar miliknya untuk berkirim pesan Aleta, Desi, dan Arsyan. Kadang, ia berselancar untuk mengetahui informasi selebriti dari mesin pencari berita.
Ya, nama Natasha Agnesia masih menduduki nomor satu seluruh kekepoan di kepalanya. Ia sampai lupa waktu dan tidak tahu berapa lama mencari berita mengenai sang model.
Hingga sepulang kuliah Aleta, Desi, dan Arsyan datang untuk menjenguknya.
Syafira yang awalnya sudah merasa sangat bosan menjadi ceria karena kedatangan mereka bertiga.
"Apa yang terjadi padamu?" Aleta berjalan mendekat. Tampak khawatir, karena kemarin Syafira masih baik-baik saja. Ia terkejut ketika guru salah satu guru mata kuliahnya mengabarkan kalau sahabatnya itu sedang di rawat di rumah sakit.
"Semalam aku terjebak di lift, dan aku pingsan," jawab Syafira. Mengingat kejadian naas itu. Ya, meski bisa berduaan dengan Victor, ia tidak ingin berduaan di dalam lift yang rusak. Bisa-bisanya nyawanya melayang karena hal itu.
"Apa kamu terjebak di lift bersama Om Victor?" tanya Aleta bersemangat. Ia tidak sabar ingin mendengar cerita selanjutnya. Pasti akan lebih heboh dari cerita-cerita yang di kisahkan Syafira sebelumnya. Pertemuan dengan Victor selalu menjadi pertemuan yang tidak biasa baginya.
Syafira mengangguk pelan, menahan senyuman mengingat semalam, pergi makan hanya berdua, itu bisa disebut kencankah!
"Siapa Om Victor?" selidik Arsyan yang sedari tadi hanya bungkam. Pun begitu dengan Desi yang hanya menyimak.
Aleta dan Syafira saling berpandangan. Tampak diam dan menunggu yang lain berbicara.
Hening.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Kening Arsyan berkerut dengan kedua alis menyatu, tampak tidak suka karena mengetahui bahwa Syafira berduaan dengan seorang pria. Sebenarnya sejak pertama bertemu. Arsyan, sudah menyukai Syafira.
Bahkan Ia secara pribadi selalu meminta pada pihak sekolah agar bisa satu kelas dengan Syafira. Saat kuliah pun ia memilih jurusan yang sama dan sering berada di kelas yang sama. Hanya saja sampai saat ini Arsyan belum berani mengungkapkan perasaan pada Syafira.
Rencananya setelah akhir semester satu nanti, dia akan mengutarakan semua perasaan yang sudah dipendamnya selama hampir empat tahun ini pada Syafira.
Melihat reaksi dua gadis yang ada di hadapannya. Arsyan mencoba bertanya mengenai hal lain.
"Jadi kapan kamu boleh pulang Sya?" nada suara Arsyan lebih tinggi dari sebelumnya. Ada rasa kesal yang tertahan. Dia terus saja bertanya-tanya pada dirinya.
Siapa Om Victor?
Apa hubungannya dengan Syafira?
Kenapa Aleta menyebut Om Victor seolah pria itu adalah milik Syafira?
Hati Arsyan memanas terbakar api cemburu. Bahkan sebelum Ia melihat pria yang bernama Victor itu.
__ADS_1
"Nanti sore aku sudah boleh pulang, dan mungkin besok aku sudah masuk sekolah. Jangan khawatir aku baik-baik saja!" jawab Syafira tidak terlalu suka mendapat perhatian dari Arsyan. Di otak dan hatinya hanya ada Victor, Victor, dan Victor.
Aleta pun ikut tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Dia merasa lega karena Syafira tampak baik-baik saja.
"Lantas! Siapa yang nanti akan mengantarmu pulang?" tanya Arsyan semakin penasaran. Benar-benar tidak ingin jika pria yang bernama Victor itu yang akan mengantar Syafira pulang.
"Seseorang akan menjemput dan mengantar ku kembali ke asrama," jawab Syafira datar, tampak tidak suka dengan Arsyan yang terlalu ingin tahu semua tentangnya.
"Apa Om Victor yang akan mengantarmu pulang?" tanya Aleta dengan mata berbinar. Desi dan Arsyan, melihat tajam ke arah Syafira. Tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan gadis itu.
Syafira hanya mengangguk pelan. Ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Pipinya pun tampak merona. Nama pria itu, selalu berhasil membuatnya tersipu.
Awalnya Mario hanya ingin melihat sekilas dan memastikan Syafira baik-baik saja, tetapi kali ini dia berubah pikiran. Setelah melihat ekspresi sang pujaan hati yang begitu bahagia karena pria yang bernama Victor itu ingin menjemputnya.
Arsya memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit sampai Syafira dijemput. Terpaksa, tidak berangkat ke kafe miliknya.
Aleta bertepuk tangan. Paham sekali jika Syafira sangat bahagia karena hal ini. Amplop coklat tempat uang yang di beri oleh Victor saja, Syafira simpan. Memperlakukan kertas coklat yang pernah di sentuh Victor itu seolah-olah harta paling berharga. Apa lagi Om Victor mengantarnya pulang, bisa jadi ia tidak mandi selama dua hari.
Aleta, Desi, dan Syafira pun tampak mengobrolkan hal lain selain Victor. Sedangkan Arsyan duduk di sofa, menunggu sembari bermain game online favoritnya.
Cklek. Pintu ruang perawatan terbuka.
Pukul 16:05 Victor masuk ke dalam ruang perawatan Syafira. Ia mengenakan sweater warna hitam dengan celana jeans warna senada. Sangat kontras dengan kulit wajah dan tangannya yang putih bersih.
Desi dan Aleta, menelan ludah. Melihat pria yang penuh aura yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Bau parfumnya pun tercium meski masih berada jauh dari mereka. Victor terlihat sangat muda, dari usia sebenarnya.
Seorang suster yang berjalan mendahului pria itu. Berdiri di sebelah Syafira melepas infus di tangan gadis itu. Kemudian memberikan penutup di bekas jarumnya.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Victor tegas. Sekilas mata Syafira dan pria itu beradu pandang.
Victor tampak biasa saja, tetapi tidak untuk Syafira. Jantungnya berdebar kencang hanya karena satu detik tatapan mata dari pria itu.
Aleta dan Desi membantu Syafira turun dari tempat tidurnya. Kemudian Ia mengajak Arsyan untuk segera pulang.
“Terima kasih ya, kalian sudah menemani Syafira,” ucap Victor seraya berjalan di urutan paling depan. sedangkan Syafira, Desi, Aleta dan Arsyan berjalan di belakangnya.
Ini pertama kalinya Arsyan bertemu dengan Victor. Ada satu hal yang dia pahami. Perasaan Syafira terhadap Victor bertepuk sebelah tangan. Syafira bukanlah wanita idaman bagi pria dewasa yang saat ini berjalan di hadapannya. Lagi pula pria itu terlalu Om-Om untuk Syafira yang masih 18 tahun.
Satu hal lagi, Arsyan mengakui jika Victor memang keren, tampan, penuh aura, trendi, berkarisma, dan maskulin. Namun, ia juga sangat yakin jika dia dewasa kelak, ia pasti akan lebih keren dan tampan daripada pria berbaju hitam yang sekarang berjalan di hadapannya.
"Kamu kenapa?" tanya Syafira.
__ADS_1
Gadis itu melihat Arsyan yang bersiap memukul Victor dari belakang.
* * *