
Marisa sudah tidak ada dirumah saat Nadya dan Reno tiba di rumah, membuat Nadya bisa bernafas lega. Dengan begitu Marisa tidak melihatnya pulang bersama Reno.
Bukan apa-apa, baru tadi pagi Marisa memberikan peringatan padanya untuk selalu ingat jika posisinya hanya sebagai ibu penganti. Dan Nadya tidak akan lupa dengan ucapan Marisa yang mengingatkan dia sebagai istri Reno hanya sampai melahirkan saja.
Reno berjalan mendahului Nadya sambil meraih tangan istrinya untuk mengikutinya, sontak saja membuat Nadya tersadar dari pikiran yang berkelut dibenaknya.
Di depan pintu kamar Nadya, Reno menghentikan langkahnya. "Sudah sampai, masuk." ucap Reno memberi perintah agar Nadya masuk ke kamarnya lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga.
Nadya terpaku ditempatnya berdiri sambil melihat suaminya masuk ke ruang kerja. Nadya terkadang tidak habis pikir dengan Reno yang sering menghabiskan waktu berjam-jam lamanya diruang itu. Kenapa tidak di kamar pribadinya seperti yang Marisa katakan, lalu dimana kamar pribadi Reno yang dimaksud Marisa? sepuluh hari Nadya tinggal disana dia tidak pernah melihat Reno keluar dari pintu lain selain ruang kerja.
Masuk kekamarnya, Nadya segera membersihkan diri.
"Mbak Dya harus bisa buat mas Reno jatuh cinta sama Mbak."
Ucapan Azam yang meminta Nadya untuk membuat Reno jatuh cinta padanya kembali terlintas di pikiran Nadya.
"Haruskah aku lakukan itu?" tanya Nadya pada dirinya yang terpantul di cermin yang ada di kamar mandi. Apalagi Nadya tidak tahu harus memberi alasan apa pada Rosa jika perjanjiannya selesai dan dia harus bercerai dari Reno lalu meninggalkan laki-laki itu tanpa membawa bayinya.
Nadya mengangkat tangan kanananya lalu jarinya menyentuh bibir, sentuhan lembut bibir Reno masih bisa dia rasakan. Kini bayangan Reno menciumnya di lift kembali bermain di ingatannya. Reno menahan kepala Nadya dengan tangannya yang bebas, laki-laki itu tidak ingin Nadya melepaskan bibir mereka yang sekarang bertaut. Reno bahkan memperdalam ciumannya, ciuman yang membuat jantung Nadya berdetak lebik cepat dari biasanya.
Nadya segera mengguyur tubuhnya dibawah shower untuk melupakan kejadian itu, dia tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan perasaannya saat ini pada Reno dan juga perasaan Reno padanya.
Selesai membersihkan diri, Nadya keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Dia melihat Reno sudah duduk di depan televisi, suami sirihnya itu sudah terlihat lebih segar dan, "Pikiran apa ini Nadya." rutuk Nadya yang terpesona pada ketampanan Reno. Menghiraukan pikirannya, Nadya melanjutkan kegiatannya untuk menyiapkan makan malam.
Nadya tidak menyadari jika sebenarnya Reno sudah jatuh cinta padanya. Lihatlah, suaminya itu terus memperhatikan apa yang dia lakukan selama menyiapkan makan malam untuk mereka.
Seperti biasa tidak ada yang bicara, baik Reno maupun Nadya hingga makan malam mereka berakhir. Walau sebenarnya Nadya ingin sekali membicarakan permintaan Rosa pada Reno, tapi Nadya tidak tahu harus memulainya dari mana.
Selepas makan Malam, Reno pergi keruang kerja. Rutinitas yang dilakukan suami dari Marisa dan Nadya itu setiap harinya.
Sambil membantu Ijah membersihkan meja makan, Nadya terus menimang apakah sekarang juga atau nanti dia membicarakan permintaan Rosa. Nadya akhirnya memberanikan diri untuk bicara pada Reno, hari ini atau besok dia yakin jawabannya Reno tidak akan menemui neneknya. Tapi setidaknya dia sudah mencoba.
"Masuk." ucap Reno begitu mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.
Reno melihat Nadya yang masuk dari balik pintu, dia tersenyum tipis bahkan Nadya tidak bisa melihatnya.
"Ada apa?" tanya Reno.
__ADS_1
"Maaf menganggu waktu Mas Reno, ada yang ingin saya bicarakan." jawab Nadya.
"Bicara saja." ucap Reno mempersilakan.
"Saya ingin bicara soal nenek."
Reno mengangkat kepalanya untuk melihat Nadya. Tadinya Reno mengira Nadya akan menanyakan masalah berkas yang tadi dia tanda tangani dikantor, tapi Reno salah menebak.
"Apa nenek kamu butuh biaya pengobatan lagi?" tanya Reno.
"Bukan, tapi...."
"Tapi apa?" tanya Reno karena Nadya tidak melanjutkan ucapanya.
"Nenek ingin bertemu Mas Reno." jawab Nadya.
"Tapi... kalau Mas Reno tidak bisa tidak apa-apa, nanti saya akan bicara pada nenek." ucap Nadya lagi.
"Aku akan menemuinya." ucap Reno sambil berdiri dan berjalan mendekati Nadya.
"Tapi tidak gratis." ucap Reno lagi berbisik di telinga Nadya dan tersenyum penuh arti.
"Saya harus bayar berapa?" tanya Nadya membuat Reno tertawa, menertawakan Nadya, begitu lugu istri keduanya ini.
"Aku tidak butuh uang." jawab Reno.
"La...."
Belum sampai selesai Nadya bicara Reno sudah menautkan bibirnya agar Nadya tidak lagi banyak bicara. Nadya tidak tahu jika laki-laki itu sudah menginginkan Nadya sejak kemarin, sayangnya keinginannya terhalang dengan kepulangan Marisa.
Nadya terbawa suasana, dia mulai membalas ciuman Reno tanpa dia sadari jika Reno semakin berhasrat padanya.
Reno membawa Nadya masuk kedalam kamar pribadinya, kamar yang tidak pernah Nadya ketahui keberadaannya yang ternyata menyatu dengan ruang kerja.
Reno membaringkan Nadya yang hanya bisa menerima setiap perlakuan Reno, kini dia tahu bayaran apa yang Reno inginkan. 'Tubuhnya' dan seketika Nadya merasakan nyeri menusuk hatinya, begitu hina dirinya saat ini, menjual tubuhnya pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Tidak seperti penyatuan mereka yang pertama, kali ini Reno melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Tapi perasaan cinta itu tetap tidak bisa dirasakan Nadya, meskipun saat ini dia terlelap dalam pelukan Reno yang terus menatap wajahnya.
__ADS_1
"Kamu bahkan lebih cantik disaat tidur seperti ini, sayang." ucap Reno sambil membelai rambut Nadya yang panjang.
Nadya terjaga dari tidurnya, pemandangan yang dia lihat adalah wajah tampan Reno. Andai saja mereka dipertemukan dengan cara yang baik, Nadya akan menjadi istri yang bahagia berada dalam pelukan suaminya saat terbangun.
"Kamu harus ingat posisi kamu."
Ucapan Marisa lagi-lagi menyadarkan Nadya akan dirinya yang berada dalam pelukan Reno hanya sebagai ibu penganti.
Nadya menagis dalam diam, ingin rasanya dia berlari dari kenyataan ini, tapi dia bisa apa? Nadya menangisi dirinya yang kotor, dia sudah menjual dirinya meskipun Reno menikahinya secara sah di mata agama.
Wajah Rosa yang pucat kembali menjadi penguat Nadya untuk melanjutkan perannya sebagai istri Reno, Nadya segera mengusap air matanya dan mencoba menyemangati dirinya sendiri dengan berkata, "Semua ini demi nenek agar sehat dan bahagia." ucap Nadya.
Reno ikut terjaga merasakan pergerakan Nadya yang mengusik tidurnya. "Mengapa tidak tidur?" tanya Reno. Bicaranya sangat lembut sambil menyelipkan rambut yang menutupi wajah Nadya.
"Kamu kenapa?" tanya Reno begitu menyadari mata Nadya yang berkaca-kaca.
Nadya terharu dengan perlakuan Reno saat ini, tapi dia tidak bisa lupa ucapan Marisa yang selalu tergiang di kepalanya.
"Saya tidak apa-apa Mas." jawab Nadya yang sudah pasti berbohong.
Reno menghiraukan ucapan Nadya, dia tahu Nadya sedang tidak baik-baik saja. "Apa aku menyakiti kamu?" tanya Reno pada dirinya sendiri.
Reno menarik Nadya untuk masuk kedalam pelukannya, bahkan dia mengeratkan pelukannya. Bukan tanpa sebab Reno melakukannya, dia yakin Nadya baru saja menangis. Dan kelemahan Reno, dia tidak bisa melihat wanita menangis.
"Jangan pergi dari hidupku." bisik Reno.
"Tetaplah menjadi istriku untuk selamanya." ucap Reno lagi melanjutkan kalimatnya.
Nadya hanya bisa diam, dia tidak bisa menjawab permintaan Reno saat ini. Dia harus meyakinkan hatinya dan juga hati Reno padanya. Lalu bagaimana dengan Marisa jika tahu Nadya akan selamanya menjadi istri Reno?
"Belajarlah mencintaiku, karena aku sudah jatuh cinta padamu, Nadya." ucap Reno membuat degup jantung Nadya kembali tidak beraturan.
"Sungguhkah Reno sudah jatuh cinta padanya?"
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...
__ADS_1