
Mulai dari parkiran hingga masuk kedalam restoran, masih banyak yang mengenali Nadya. Sosok ramah dan suka bergaul dengan siapa saja itu tidak akan dilupakan oleh mereka yang sama-sama mencari nafkah disana. Terutama bagi mereka yang bekerja hanya sebagai tukang parkir, satpam dan OB. Nadya sangat royal pada mereka meski mereka juga tahu dulu Nadya hidup dengan pas-pasan.
Sekarang, wanita baik itu sudah menjadi orang yang jauh diatas merka, tapi Nadya tetap saja bersahaja dan tidak malu meyapa mereka yang orang rendahan.
Sejak turun dari mobil hingga masuk kedalam restoran, mata Reno selalu sigap dan awas. Bagaimana tidak waspada? Hampir semua yang Nadya sapa adalah kaum Adam.
"Selamat siang Mbak Nadya, senang bisa melihat Mbak lagi." ucap Lala yang menjaga pintu masuk hari ini.
"Siang Lala, apa kabar?" balas Nadya sambil cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan yuniornya itu.
Reno bisa bernafas lega begitu Lala menyapa Nadya. Akhirnya ada juga kaum hawa yang menyapa istrinya.
"Sudah pesan tempat Mbak?" tanya Lala dengan ramah.
Nadya menoleh pada Reno, "Mas, sudah pesan belum?" tanya Nadya pada Reno.
"Atas nama Reno." jawab Reno.
Mendengar Reno nenyebutkan namanya, Lala langsung saja memeriksa daftar tamu yang sudah memesan meja. Setelah menemukannya, Lala kembali melihat Nadya dan Reno, lalu tersenyum.
"Silakan Mbak Nadya, VIP sepuluh." ucap Lala memberikan informasi.
"Terima kasih Lala." balas Nadya.
"Masih tahu tempatnya dimana kan, Mbak. Atau perlu aku antar?" goda Lala, membuat Nadya terkekeh.
"Aku belum lama resign tentu saja masih ingat. Kecuali jika kalian telah merubahnya." sahut Nadya.
"Semua masih sama Mbak." jawab Lala, lalu mempersilakan Nadya dan Reno menuju ruangan mereka.
Baru beberapa langkah, mata Nadya menagkap Anjas tengah berjalan dan menggenggam tangan seorang wanita. Seketika itu juga wajah cantik istri Reno itu melukiskan senyum. Senyum bahagia tentunya, karena Anjas cepat membuka hati lagi.
"Itu Anjas? Dengan siapa?" tanya Reno.
"Nggak tahu Mas, nggak kelihatan wajahnya." jawab Nadya yang sebenarnya juga penasaran dengan perempuan yang Anjas genggam tangannya.
Nadya berharap semoga kali ini Anjas menemukan perempuan yang baik yang bisa mendampinginya sampai tua. Nadya sudah bahagia dengan Reno, tentu dia juga ingin Anjas bahagia dengan pasangannya siapapun itu.
Untuk sampai di VIP sepuluh, Nadya harus melewati meja yang ternyata ada Ana dan Dean yang sedang bicara. Tidak sopan jika dia lewat begitu saja, sementara dia mengenal keduanya. Nadya tidak merasa heran mengapa Dean bisa mengenal Ana, dia sempat melihat keduanya berbincang saat acara kirim doa untuk ayahnya.
Nadya mengajak Reno menghentikan langkah mereka untuk menyapa Dean dan Ana.
"Mbak Ana, Bang Dean, kalian disini juga?" sapa Nadya pada keduanya yang tidak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
"Nad!" panggil Ana dan Dean bersamaan. Sedikit terkejut melihat sepasang suami istri itu yang menyapa mereka.
"Tidak perlu terkejut seperti itu." sahut Nadya sambil tersenyum lebar, "Aku dan Mas Reno kebetulan juga mau makan siang disini." ucap Nadya lagi menjelaskan.
Dean segera berdiri dan menyapa Reno dengan mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Dengan senang hati Reno membalas uluran tangan Dean bertepatan dengan kedatangan Anjas dan Yusi.
"Pak Reno." sapa Anjas yang juga mengulurkan tangannya.
"Mau makan disini Nad? Sudah pesan tempat?" tanya Anjas.
Nadya mengangguk, "Iya, ini adek pengen makan masakan om Berto." jawab Nadya sambil mengelus perutnya.
Om Berto adalah chef andalan direstoran tersebut. Pria paruh baya itu banyak memberikan pelajaran memasak pada Nadya, disaat keduanya sama-sama memiliki waktu luang. Karena itulah masakan Nadya bisa enak dan bervariasi setiap menyuguhkan makanan untuk Reno.
Bukan hanya hal memasak, om Berto juga banyak memberikan nasihat yang baik untuk Nadya. Biarpun keyakinan mereka berbeda, Nadya sangat menghormati om Berto yang menganggap Nadya seperti putrinya yang hilang dan belum ditemukan hingga saat ini.
Anjas tersenyum, "Om Berto pasti senang dapat penghormatan seperti ini dari putrinya." balasnya.
"Biar aku kasih tahu om Berto, untuk membuatkan yang special untuk kalian." ucap Anjas lagi.
"Kami di VIP sepuluh, mengapa tidak gabung saja?" ucap Reno, begitu Anjas akan meninggalkan mereka menuju dapur.
"Bagaimana yang lain saja." jawab Anjas.
"Gabung saja Mbak Ana. Ayo!" ajak Nadya agar sepupunya itu mau bergabung.
"Bagaimana?" tanya Ana pada Yusi.
Nadya menoleh pada wanita yang tangannya tadi digenggam Anjas, "Yusi, ya?" tanya Nandya begitu mengenali wanita itu.
Yusi Tersenyum, "Aku kira Mbak Nadya lupa dan tidak mengenali aku." jawab Yusi.
"Tadi sempat pangling, takut salah orang ingin menyapa. Tapi ternyata benar, Yusi." balas Nadya.
"Ayo Mbak Ana, Yusi, kita makan siang bersama." ucap Nadya lagi sambil menarik tangan Ana disebelah kanannya dan tangan Yusi disebelah kirinya.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, "Bang Dean." seorang gadis berteriak memanggil Dean.
Wajah Dean seketika tegang. Bukan takut ketahuan sedang bersama Ana dan yang lain, tapi Dean takut Aurora adik tirinya itu kembali membuat ulah pada Reno.
"Pak Reno, sebaiknya anda segera membawa Nadya masuk ke ruangan kalian." ucap Dean memberikan saran.
Nadya yang sempat menghentikan langkahnya bersama Ana dan Yusi mendengar ucapan Dean merasa heran, "Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Bukan apa-apa sayang, ayo kita masuk." ajak Reno yang langsung merangkul istrinya meninggalkan Ana dan Yusi yang ragu untuk ikut melangkah mengikuti Reno dan Nadya.
"Reno." panggil Aurora membuat Nadya menghentikan langkahnya yang terpaksa diikuti Reno.
Nadya berbalik, ingin melihat siapa perempuan yang memanggil Reno. Dari nada bicaranya, mereka terlihat akrab karena perempuan itu tidak memakai embel-embel lain memanggil suaminya.
"Benar, ternyata kamu, Ren." ucap Aurora.
"Aurora!" tegur Dean yang tidak ingin adiknya membuat masalah lagi dengan Reno.
"Mataku yang salah, atau mata kamu yang buta." ucap Aurora pada Reno.
"Kau sekarang bersama perempuan miskin ini?" ucap Aurora lagi.
"AURORA!" bentak Dean dengan kesal. Adik tirinya ini sudah sangat keterlaluan.
"Jaga mulutmu dan jangan membuat masalah disini." ucap Dean lagi.
"Apa aku salah? Dia memang gadis miskin yang kebetulan saja berteman dengan orang kaya seperti Abang dan Anjas."
PLAK
Yusi yang sejak awal mengenal Aurora memang sudah tidak suka dengan perempuan yang sok cantik itu sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mulut pedas perempuan ini memang harus dibungkam dengan kasar.
"KAU!" ucap Aurora pada Yusi.
"Belum puas kau menghina aku kemarin? Sekarang ingin cari-cari masalah yang baru lagi? Kau pikir kau siapa? Dengan mudahnya menghina setiap orang." ucap Yusi sambil menunjuk wajah Aurora.
"Kau masih bertanya siapa aku, Yus?" balas Aurora, " Apa kau lupa siapa aku?" ucap Aurora lagi.
"Aurora pulang!" ucap Dean sambil menarik tangan adik tirinya itu untuk pergi dari sana.
"Lepaskan Bang!" ucap Aurora sambil menghempaskan tangan Dean.
"Kamu belum berubah juga Ra." ujar Nadya yang bersikap biasa saja dan tenang dengan hinaan Aurora.
"Nad."
Dean langsung menggelengkan kepalanya pada Nadya setelah memanggil istri Reno itu. Dean tidak ingin Nadya berseteru lagi dengan Aurora. Cukup dulu saja, itu pun karena Dean datang terlambat untuk menghentikan tindakan Aurora yang arogan terhadap Nadya ditempat umum seperti sekarang.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1