
"Ria aku boleh gendong?" tanya Nadya yang gemas dengan bayi kecil itu.
"Tentu saja. Satu kehormatan putri kecil kami digendong sama Bu Bos." ujar Ria bercanda.
Nadya dan Ria sama-sama terkekeh, istri Reno itu terus menoel pipi mulus Anaya, nama yang diberikan Didu untuk putrinya. Ditengah perbincangan keduanya, terdengar ketukan dipintu.
"Masuk." ucap Nadya dan Ria bersamaan.
Pintu terbuka, sosok Jane masuk ditemani Kevin. Jane langsung berlari mendekati Ria dan bayinya.
"Cewek ya? Cantik banget sih, mirip tante Jane lho." ujar Jane yang membuat Ria menggelengkan kepalanya. 'Mirip darimananya?' Ria membatin.
Kedua sahabat itu berbincang dengan serunya, melupakan ada Nadya dan Kevin disana. Nadya memaklumi, keduanya sudah lama tidak bertemu tentu banyak yang ingin diceritakan. Nadya akhirnya memilih duduk di sofa menunggu Reno selesai bicara dengan Didu dan Yuda, juga Anjas.
"Apa kabar Nad?" tanya Kevin menyapa Nadya. Dia ikut duduk di sofa yang ada didepan Nadya.
"Alhamdulillah baik Kak. Kakak sendiri bagaimana? Sudah lama kita tidak bertemu." balas Nadya ramah.
"Seperti yang kamu lihat, sekarang aku juga manager Jane. Kemarin kita ketemu saat pesta pernikahan kamu dan Reno." jawab Kevin.
Nadya mengangguk menaggapi jawaban Kevin, "Maaf lupa." jawab Nadya jujur.
Jika boleh lebih jujur lagi, Nadya merasa canggung berhadapan dengan Kevin seperti ini. Pria dihadapannya ini sahabat baik Marisa dan bahkan teman tidur saudara perempuannya itu, Nadya merasa tidak nyaman saja. Tapi mau bagaimana lagi, jika dia pergi terlihat sangat tidak sopan. Satu-satunya harapan Nadya berdoa, semoga Reno segera kembali atau Kevin yang keluar dari ruangan ini.
"Maaf." ucap Kevin, menarik atensi Nadya yang menatap layar ponselnya.
"Saya minta maaf atas nama Marisa. Dia memang manusia bodoh yang aku kenal." lanjut Kevin ucapannya sambil merutuki kebodohan Marisa yang lebih mengedepankan balas dendam pada orang yang tidak salah.
"Bukan Kakak yang salah, mengapa harus minta maaf?" tanya Nadya.
"Ya, harusnya saya bisa menasehati dia. Tapi...." Kevin tidak melanjutkan ucapannya.
Nadya memilih diam, dia tidak akan mendesak Kevin untuk melanjutkan ucapannya meskipun dia cukup penasaran.
"Pengaruh ibunya lebih kuat dari pada nasehat saya." ucap Kevin akhirnya melanjutkan kata-katanya.
"Kak Kevin tidak usah merasa bersalah, hanya karena tidak bisa memberikan nasehat pada Mbak Risa. Saya menganggap ini semua sudah takdir dari yang maha kuasa. Saya bertemu dengan mas Reno dengan cara menjadi istri keduanya. Dan ini justru menjadi kotak pandora bagi saya dan keluarga, kami akhirnya mengetahui kejahatan yang telah dilakukan mbak Risa dan ibunya."
__ADS_1
Kevin diam, dalam hatinya dia membenarkan apa yang Nadya ucapkan. Jika saja semua orang bisa berpikir seperti Nadya dan menerima takdir. Tidak ada dendam dan amarah dimuka bumi ini. Sayangnya masih banyak manusia yang hatinya diliputi dengan hawa nafsu, seperti dirinya sendiri.
Suara pintu terbuka, Reno yang masuk dan langsung duduk disamping Nadya. Dia menatap Kevin yang tersenyum padanya, lalu beralih melihat pada istrinya.
"Pulang sekarang?" tanya Reno.
"Mas sudah selesai bicaranya?" Nadya balik bertanya dan Reno sudah tidak heran, bukankah istrinya memang seperti itu.
"Sudah sayang." jawab Reno lembut.
"Kalau begitu kita pulang, tapi mampir beli ketoprak ya Mas!" Nadya bicara sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
"Tentu, untuk bumil apa saja akan Mas turuti." jawab Reno lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Nadya berdiri.
Dengan senang hati, Nadya menyambut uluran tangan Reno yang langsung menggenggamnya.
"Kami pamit, Kak." ucap Nadya pada Kevin.
"Iya, silakan. Saya masih menunggu Jane." jawab Kevin sambil menunjuk Jane dengan dagunya.
"Saya duluan kalau gitu." pamit Nadya lalu berjalan mendekati Ria.
Ria yang melihat ada sosok Reno hanya bisa mengangguk meskipun masih banyak yang ingin dia bicarakan dengan istri bos suaminya itu, terutama tentang Naira. Tapi waktunya tidak tepat untuk memberitahu Nadya tentang tunangan Anjas itu.
"Terima kasih Mbak Nadya, Pak Reno, sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung." ucap Ria.
"Iya, sama-sama. Semoga cepat pulih ya." balas Nadya mendoakan Ria.
"Aamiin." sahut Ria.
"Mari Mbak Jane." pamit Nadya pada Jane yang hanya diam membisu. Mungkin karena ada Reno, membuat wanita yang tadi heboh kini diam seribu bahasa.
"Iya Bu." jawab Jane.
Yuda menunggu diluar bersama Didu dan Anjas saat Reno dan Nadya pamit.
"Aku pulang ya, Did, An." ucap Nadya.
__ADS_1
"Iya Bu Bos, hati-hati." balas Didu.
"Jaga kesehatan." sahut Anjas yang diangguki Nadya.
Tidak ingin berlama-lama, Nadya mengamit lengan Reno, mengajak suaminya berjalan keluar rumah sakit. Anjas menatap kepergian Nadya, ada rasa sedih bukan dia yang berada di posisi Reno. Jika saja mamanya tidak berambisi menjodohkannya dengan Naira, sudah sejak dulu dia hidup bahagia bersama Nadya. Bahagia? Benarkah? Belum tentu, karena Naira tidak akan diam mengusik kebahagiaan mereka.
Mengingat nama Naira, Anjas sungguh tidak percaya jika tunangannya itu tega berbuat jahat pada keluarga Nadya. Lalu mana arti persahabatan yang didengungkan wanita itu selama ini.
Anjas sadar, semua hanya topeng agar Naira terlihat baik. Sementara Nadya, hatinya terlalu baik hingga bisa dimanfaatkan Naira dengan dalil pertemanan. Tugas Anjas berat, dia harus bersandiwara untuk mencari bukti. Tapi Anjas harus melakukannya, apalagi jika bukan karena Nadya. Anjas yang membawa Nadya bertemu Naira, maka Anjas juga yang harus menjauhkan Naira dari Nadya.
Tepukan di bahu oleh Didu, menyadarkan Anjas dari lamunannya. Untung saja, dia masih dikelilingi oleh orang-orang yang berhati baik seperti Didu.
"Semua akan baik-baik saja. Aku akan membantu, demi Nadya. Aku ingin dia bahagia tanpa ada yang menganggu lagi. Cukup sudah hidupnya terpuruk selama ini." ucap Didu. Anjas menganggukan kepala tanda setuju.
"Terima kasih Did." ucap Anjas tulus.
"Sama-sama, gue juga berterima kasih. Lo udah menyelamatkan hidup anak dan istri gue." balas Didu.
Keduanya saling merangkul hanya sesaat lalu berjalan masuk ke kamar rawat Ria. Baru saja Didu akan memegang handle pintu, suara Naira yang memanggil Anjas membuat tangan itu melayang dan urung menyentuh handle pintu kamar.
"Berperanlah dengan baik, demi Nadya." bisik Didu. Kali ini dia benar-benar membuka pintu kamar rawat dimana istri dan anaknya berada.
Didu tidak mengira jika didalam ada Jane dan Kevin. Itu berarti keduanya bertemu Reno dan Nadya.
"Apa kabar Jane?" tanya Didu.
"Kabar baik Kak. Selamat Kak Didu udah jadi seorang ayah." jawab Jane. Didu tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Jane sambil berjalan mendekati teman istrinya itu yang masih duduk disamping brankar Ria.
"Jane, Kakak punya tugas lagi untuk kamu. Bersedia kah?" tanya Didu.
"Tugas apa Kak? Berat tidak?" tanya Jane sambil berbisik.
Didu bicara setengah berbisik tentang siapa yang akan Jane hadapi kali ini. Didu juga menjelaskan bagaimana sosok yang mereka hadapi. Didu melirik pada Kevin yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Jangan sampai manager kamu tahu." pesan Didu.
Jane tercengang mendengar penjelasan Didu, sementara Anjas tahu dia yang di sindir oleh Didu. Bertahun-tahun dalam lilitan tunangannya.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...