
Sepanjang jalan Naira terus saja memberontak meminta untuk dibebaskan. Dia tidak merasa memiliki salah apa-apa hingga harus ditangkap dan dibawa secara tidak hormat seperti ini.
"Apa salah saya, Pak?" tanya Naira pada polisi yang duduk dikursi depan.
"Tidak usah banyak bicara dan bertanya, renungi saja kejahatan apa yang pernah kamu lakukan selama ini. Kamu pasti akan tahu jawabannya." ucap polisi wanita yang ada disamping kanan Naira.
Merasa mengenali suara polisi wanita itu, Naira memalingkan wajahnya untuk melihat polisi wanita itu. Sayangnya polisi wanita tersebut mengenakan masker sehingga Naira tidak bisa mengenalinya.
"Apa?" tanya polisi wanita itu menatap pada Naira.
"Aku seperti mengenal suaramu." jawab Naira.
Polisi wanita itu tidak menanggapi, dia kembali fokus melihat jalanan. Jangan sampai Naira tahu siapa dirinya. Kania sengaja ikut dalam misi penangkapan Naira, saudara perempuan Irfan itu sudah lama ingin membawa sahabat kakaknya itu kedalam jeruji besi. Sayangnya dulu dia hanya remaja biasa belum jadi apa-apa seperti sekarang.
Sungguh satu kebetulan bagi Kania saat ada berkas laporan tentang kejahatan yang dilakukan oleh Naira singgah di mejanya. Kania menemui orang yang mengajukan laporan tersebut untuk memastikan jika Naira yang dimaksud adalah Naira yang dia kenal, sahabat kakanya.
Kania sempat terdiam dan terpaku saat mengenali pria dewasa yang pernah membantunya, pria itu tak lain adalah Yuda. Kepergian Irfan sang kakak membuat Kania seperti kehilangan separuh nyawanya. Kania kecewa saat itu, kakaknya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri demi menyelamatkan wanita yang dia cintai. Amarahnya berkobar saat tahu semua karena Naira, sayangnya dia tidak punya bukti dan juga tidak punya kekuatan untuk bertindak. Rasa kecewa, marah dan sedih bercampur jadi satu yang Kania rasakan kala itu. Ditengah kegalauannya, seorang pria yang usianya hampir sama dengan usia kakaknya menyelamatkan Kania yang hampir saja tertabrak mobil karena melamun.
Kania yang butuh orang untuk tempatnya mengadu langsung menagis dalam dekapan pria itu. Merasakan kenyamanan sama seperti dia menagis dan mengadu dalam pelukan Irfan. Kini pria yang tidak pernah Kania lupakan itu berdiri dihadapanya, menatap ragu padanya seolah mencoba mengingat mungkin mereka pernah bertemu atau tatapan lain? Yang pasti telah membuat jantung Kania berdetak lebih kencang.
Yuda menatap Kania, baru saja dia meminta izin untuk mencari gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu, kini berada tepat dihadapannya. Gadis yang tidak pernah dia lupakan, bahkan tangannya yang pernah memeluk gadis itu masih bisa merasakannya hingga saat ini. Semesta sepertinya berpihak pada Yuda untuk bertemu lagi dengan belahan jiwanya tanpa di sangka dan diduga. Kini Yuda tidak perlu susah mencarinya, liburan yang dia ajukanpun akan dia batalkan. Yuda akan ikut mengawal kasus Naira hingga selesai, tentu saja agar bisa bertemu dengan Kania.
"Maaf, anda yang melaporkan Naira atas percobaan pembunuhan dengan memberikan racun?" tanya Kania yang membuat Yuda tersentak dari lamunannya.
"Iya betul. Tapi bukan atas nama saya, saya hanya mewakili saja." jawab Yuda.
"Anda pengacara?" tanya Kania.
"Bukan, pengacara pelapor masih dalam perjalanan." jawab Yuda lagi.
"Ada yang ingin saya tanya dan sampaikan, tapi kita tunggu pengacara dulu." ucap Kania.
"Kita pernah bertemu?" ucap Yuda yang membuat Kania terdiam lalu mengangguk setelahnya.
__ADS_1
"Terimakasih telah menyelamatkan nyawa saya. Maaf saat itu saya pergi begitu saja." balas Kania.
"Tdak apa-apa, yang penting sekarang kita bisa bertemu lagi." sahut Yuda.
Yuda mengulurkan tangannya, "Prayuda. Panggil saja Yuda." ucap Yuda.
Kania membalas uluran tangan Yuda, "Kania. Panggil saja Nia." jawab Kania.
Mereka saling melempar senyum hingga suara deheman membuat keduanya melepaskan jabatan tangan mereka dan memutuskan pandagan lalu beralih pada sumber suara. Pengacara keluarga Reno yang menganggu sesi perkenalan mereka berdua, pria itu sudah tiba sejak tadi namun sengaja memberi waktu sejenak untuk keduanya berkenalan.
Setelahnya mereka bertiga terlibat pembicaraan yang serius. Ditengah pembicaraan Yuda mendapat pesan dari Anjas, sahabat Nadya itu mengirim lokasi dimana Naira saat ini berada. Kania dan timnya turun tangan langsung, dan disinilah sekarang Kania, duduk disamping Naira mengawal wanita itu sampai ke kantor polisi.
Reno dan Azam tiba lebih dulu di kantor polisi, lalu disusul Surya dan pengacaranya. Mereka masuk dan menemui pengacara Reno.
"Dimana Yuda?" tanya Reno pada pengacaranya.
"Pak Yuda ikut ke lokasi penangkapan." jawab pengacara itu.
Sementara menunggu Yuda dan yang lain, Reno menghubungi Nadya. Baru sebentar saja dia sudah merindukan istri cantiknya itu. Sejak Nadya hamil, Reno semakin dibuat bucin pada istrinya oleh si buah hati. Tidak masalah bagi Reno, dia justru menikmatinya. Apa lagi Nadya juga semakin manja sejak hamil, dan juga mengemaskan membuat Reno selalu ingin berada didekat Nadya untuk memakan istrinya. Istri yang selalu siap melayaninya dan mampu memberikan kepuasan padanya.
"Assalamualaikum sayang." sapa Reno begitu panggilanya tersambung.
"Waalaikumsalam Mas." jawab Nadya yang terdengar serak.
"Kamu tadi sedang tidur sayang?" tanya Reno merasa tak enak hati menganggu tidur istrinya. Sejak hamil Nadya mudah sekali terlelap tanpa melihat tempat dan situasi dan rasa kantuk istrinya tidak bisa ditahan walau sekejap.
"Ketiduran Mas, nggak ada teman ngobrol soalnya." jawab Nadya.
"Maaf ya, Mas udah ganggu tidur kamu."
"Nggak ganggu kok Mas. Mas, apa Naira sudah ditangkap?" tanya Nadya penasaran, "Tadi dia sempat menghubungi Dya." ucap Nadya memberitahu Reno.
"Sudah sayang. Yuda dan pihak yang berwajib sedang dalam perjalanan membawa wanita itu ke kantor polisi." jawab Reno.
__ADS_1
Mendengar jawaban Reno yang ada dalam pikiran Nadya saat ini adalah Anjas. Bagaimana kabar sahabatnya itu saat ini? Bagaimana pula status pertunangannya dengan Naira.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" taya Reno karena tidak mendapat jawaban dari Nadya.
Suara Reno menarik Nadya kembali kedunia nyata, dia sibuk memikirkan sahabatnya disaat Reno masih bicara dengannya. Nadya merasa bersalah tapi tidak berani mengatakannya.
"Dya baik-baik saja Mas. Semoga Naira mendapatkan hukuman yang setimpal. Tapi...."
"Tapi apa sayang?" tanya Reno karena Nadya menggantung ucapannya.
"Bukan apa-apa Mas, semoga dia bisa menjalani semua ini." jawab Nadya yang sudah pasti berbeda dengan yang dia pikirkan.
"Kamu itu, masih saja memikirkan kebaikan untuk orang yang selama ini sudah membuat kehidupan kamu sulit." sahut Reno.
"Kalau tidak begitu, mungkin kita tidak bertemu Mas." balas Nadya.
Reno yang sekarang diam, memikirkan ucapan Nadya yang ada benarnya. Semua memang sudah takdir yang kuasa, dan Reno bangga Nadya tidak mengeluh tapi menilainya semuanya dengan pandangan positif.
"Iya, kamu benar sayang. Kita bisa bertemu karena ulah wanita itu dan saudara perempuan kamu." ujar Reno setelah mereka hening sesaat.
Benar, Marisa ikut andil mempertemukan Reno dan Nadya. Mengapa Nadya melupakan saudara satu ayah beda ibu dengan dirinya itu? Mungkin dilain waktu Nadya akan mengunjungi kakak perempuannya itu di penjara dan juga Naira saat dia siap menemui tunangan Anjas itu.
"Sayang, Yuda sudah tiba di kantor polisi. Mas tutup dulu ya." ucap Reno pamit.
"Iya Mas. Jangan pulang larut, Dya kesepian." balas Nadya.
Reno tersenyum senang, "Tentu sayang, sekarang saja Mas sudah rindu. Jika tidak penting Mas memilih untuk tinggal di rumah menemani kamu. Mas janji setelah selesai semuanya, Mas langsung pulang." sahut Reno.
Setelah mengucap salam dan mendapat jawaban dari Nadya, Reno langsung menutup sambungan teleponnya. Dia segera menghampiri Yuda yang terus tersenyum. Ada apa dengan sahabat yang merangkap asistenya itu?
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...
__ADS_1