MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 12. Menemui Rosa


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja, Nadya bergegas membereskan berkas-berkas yang dia periksa. Dia harus segera pulang, karena tidak ingin pak Agus terlalu lama menunggunya di parkiran.


Seperti apa yang dikatakan Reno, Nadya sudah tidak dia izinkan lagi untuk menaiki kendaraan umum roda dua.


"Pulang kerja pak Agus akan jemput kamu." ucap Reno tadi pagi saat mengantar Nadya.


"Tidak perlu Mas, saya bisa naik ojek." jawab Nadya.


"Agar bisa berduaan dengan sopir ojek itu." ucap Reno.


Nadya tersenyum mengingat percakapanya dengan Reno tadi pagi, dia menertawakan Reno yang cemburu dengan tukang ojek yang dia tumpanginya.


"Ada-ada saja, cemburu kok sama tukang ojek." gumam Nadya.


"Siapa yang cemburu sama tukang ojek?" tanya Anjas sejak tadi berjalan dibelakang Nadya tanpa diketahui sahabatnya itu.


"Kepo." jawab Nadya. Dia masih marah dengan Anjas masalah perdebatan mereka tadi pagi.


"Nadya sayang, siapa yang cemburu?" tanya Anjas lagi sambil menahan lengan Nadya agar tidak berjalan meninggalkan dia.


Nadya membulatkan matanya mendengar ucapan Anjas. Laki-laki itu segera melepaskan tangannya yang memegang lengan Nadya. Bukan karena Nadya yang tidak suka dengan ucapannya melainkan Anjas kembali melihat mobil yang tadi pagi mengantar Nadya menuju kearah mereka.


Melihat Anjas tertuju pada pandangan lain, Nadya lalu membalik tubuhnya dan ikut mendapati mobil Reno berjalan kearahnya.


Tiba disamping Nadya, pak Agus turun lalu membukakan pintu untuk istri majikannya.


"Terimakasih Pak." ucap Nadya pada pak Agus.


Tanpa pamit pada Anjas, Nadya langsung masuk kedalam mobil dan mendapati ada Reno didalamnya.


"Mas." panggil Nadya terkejut, tidak menyangka Reno ikut menjemputnya.


Menutupi keterkejutannya Nadya segera meraih tangan Reno untuk dia salim. Sama seperti tadi pagi Reno membalas dengan mencium kening Nadya.


"Kita ketempat ibu Rosa, Pak?" tanya pak Agus.


"Iya." jawab Reno.


"Mas mau kerumah nenek sekarang?" tanya Nadya sambil melihat kearah Reno.


"Bukankah lebih cepat lebih baik, sayang." jawab Reno membuat Nadya memalingkan wajahnya menatap kedepan.


Reno bisa melihat rona merah di wajah istrinya, tidak tahukah Nadya jika itu membuat Reno ingin membawanya pulang dan mengurung istrinya di kamar mereka.


Kamar mereka? Reno sudah memerintahkan Ijah untuk memindahkan semua pakaian dan perlengkapan milik Nadya ke kamarnya. Kini Reno akan berbagi kamar dengan istri keduanya.


Reno meraih tangan Nadya untuk dia genggam, Reno ingin Nadya tahu jika dia benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita yang selama ini dia tunggu dalam hidupnya.


Merasa diabaikan oleh Nadya, Anjas memutuskan untuk mengikuti kemana kendaraan yang menjemput Nadya membawa kekasih hatinya itu. Anjas bisa menarik nafas lega saat melihat kendaraan Reno benar-benar masuk ke halaman rumah Rosa.


"Jadi itu benar mobil saudara kamu, Nad. Mengapa kamu selama ini tidak pernah cerita." gumam Anjas sambil memarkirkan kendaraannya di seberang kediaman Rosa.


Tujuannya ingin tahu siapa saudara Nadya itu, karena Anjas sempat mengira Nadya berbohong. Anjas takut jika pemilik mobil mewah itu adalah pria yang menjalin hubungan dengan wanita yang dicintainya, meski dia tahu dia dan Nadya tidak bisa bersama.

__ADS_1


Ini kali kedua Reno menginjakkan kakinya di kediaman Rosa. Turun dari mobil, Reno segera mendekati Nadya.


"Pak Agus tolong turunkan barang-barang yang ada di bagasi." ucap Reno.


"Mas Reno bawa apa?" tanya Nadya.


"Banyak, apa harus aku sebutkan satu persatu" jawab Reno menggoda Nadya.


"Bukan begitu, Mas Reno mau berkunjung saja nenek sudah senang, jadi tidak perlu...."


"Sayang, sudah seharusnya seorang menantu membawakan hadiah untuk mertuanya." ucap Reno memotong perkataan Nadya.


"Mbak, Mas kalian datang." ucap Azam yang menyambut keduanya.


"Apa kabar Mas Reno?" tanya Azam sambil salim pada Reno.


"Baik." jawab Reno sambil menepuk-nepuk punggung Azam.


"Nenek dimana Zam?" tanya Nadya.


"Ada di kamar, baru selesai mandi." jawab Azam.


"Ayo Mbak, ajak Mas Reno masuk." ucap Azam lagi.


"Pak Agus mau dibuatkan apa?" tanya Nadya.


"Tidak usah repot-repot Bu." jawab pak Agus.


Mendengar prrtanyaan Reno, Nadya melihat ke arah suaminya. Dia baru tahu Reno ternyata orang yang selalu ingin diperhatikan.


"Mas Reno mau minum apa?" tanya Nadya.


"Nanti saja."


Jawaban Reno membuat Nadya kesal, tapi sebaliknya membuat Reno tertawa lalu merangkul Nadya untuk masuk kedalam rumah.


Mereka tidak menyadari jika Anjas terus memperhatikan setiap pergerakan mereka, "Siapa laki-laki itu sebenarnya?" tanya Anjas pada dirinya.


Nadya masuk ke kamar Rosa, dia melihat neneknya itu sudah terlihat segar.


"Nenek dengar suara Azam sedang berbincang dengan orang lain. Siapa?" tanya Rosa.


"Ayo nenek keluar, biar tahu siapa tamunya." jawab Nadya.


Melihat Nadya mengandeng Rosa, Reno berdiri lalu berjalan mendekati keduanya.


"Apa dia suami kamu Dya?" tanya Rosa.


"Dya." gumam Reno tersenyum. Dia ingat nama kecil itu nama panggilan yang diberikan oleh siapa.


"Saya Reno, Nek. Reno Bagaskara." ucap Reno sambil meraih tangan Rosa untuk dia cium punggung tangan wanita tua itu.


"Bagaskara." Rosa yang membeo kali ini.

__ADS_1


"Apa boleh nenek melihat punggung kamu?" tanya Rosa.


"Nek." ucap Nadya, dia takut Reno akan tersinggung dan marah karena neneknya sudah terlalu lancang.


"Tidak apa-apa sayang." ucap Reno agar Nadya tidak menegur neneknya.


"Tapi Mas."


Menghiraukan Nadya Reno membuka kemejanya dan memberikannya pada Nadya, kini suami Nadya itu hanya mengenakan kaos oblong yang dia gunakan sebagai dalaman.


"Nenek bisa melihatnya" ucap Reno duduk di kursi dan membelakangi Rosa.


Rosa benar-benar menarik kaos oblong bagian atas Reno lalu kepalanya mengangguk. Nadya yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa diam.


"Jadi benar kamu Reno Bagaskara putra Dina dan Haris." ucap Rosa.


Nadya semakin binggung dengan apa yang dilakukan Rosa, apa yang neneknya lihat di punggung Reno? Apa yang ingin Rosa pastikan tentang siapa Reno?


"Nenek masih mengenalinya?" tanya Reno.


"Tanda itu tidak akan bisa hilang, dan selamanya itulah yang menjadi bukti." jawab Rosa.


"Tanda apa?" tanya Nadya.


"Apa kamu belum pernah melihat tubuh suami kamu, Dya?" bukan menjawab Rosa balik bertanya.


Tentu Nadya sudah melihat semua tubuh Reno dari atas hingga ke bawah, tapi dia tidak memperhatikannya dengan detail apa lagi itu bagian belakang Reno.


"Nadya sudah melihatnya Nek, bahkan melihat semuanya." Reno yang menjawab membuat lagi-lagi wajah Nadya merona merah karena malu.


"Tapi mungkin dya tidak terlalu memperhatikannya." ucap Reno lagi melanjutkan jawabannya.


Tidak ingin terus dipermalukan Reno, Nadya pergi membiarkan Reno dan Rosa berbincang. Lebih baik dia membuatkan minuman untuk Reno dan pak Agus yang sedang berbincang di teras bersama Azam. Apa lagi sepertinya Rosa mengenal siapa Reno.


"Siapa mas Reno sebenarnya?" gumam Nadya.


"Suami Mbak Dya." sahut Azam.


"Kamu itu buat Mbak terkejut saja." balas Nadya.


"Mbak, kamu berhasil sepertinya." ucap Azam.


"Berhasil bagaimana?" tanya Nadya tidak megerti.


"Berhasil membawa mas Reno menemui nenek dan berhasil membuat mas Reno jatuh cinta sama Mbak." jawab Azam.


Nadya diam mendengar jawaban Azam, dia tidak melakukan apa-apa untuk membuat Reno jatuh cinta seperti permintaan Azam. Semua mengalir begitu saja tanpa dia tahu apa dan mengapa begitu mudahnya Reno mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Nadya dan meminta Nadya belajar mencintai Reno.


"Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu?" tanya Nadya didalam hatinya.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...

__ADS_1


__ADS_2