MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 48. Menyerah


__ADS_3

[Nad, lagi sibuk nggak?]


Nadya membaca pesan yang dikirimkan oleh Anjas. Dia baru saja selesai membantu Ijah di dapur dan sekarang duduk di ruang keluarga menunggu Azam dan Reno yang masih betah di ruang kerja untuk makan siang bersama. Entah apa yang mereka berdua bahas hingga selama ini, Nadya tidak ingin tahu. Tepatnya berusaha untuk tidak mau tahu meski jiwa keponya ingin sekali tahu.


[Aku sedang menunggu Mas Reno dan Azam untuk makan siang. Ada apa?]


Pesan balasan yang Nadya kirim langsung bercentang biru, itu berarti Anjas langsung membacanya dan biasanya ada hal penting yang ingin pria itu bicarakan.


[Nad, bolehkah aku menyerah?]


Tidak perlu menyebutkan apa yang membuat Anjas menyerah, tentu saja Nadya sudah tahu apa yang sedang terjadi pada sahabatnya.


[Lagi?] Balas Nadya.


[Mau bagaimana lagi, kamu tahu seperti apa dia.]


Nadya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berlahan setelah membaca balasan dari Anjas.


[Keputusan ada ditangan kamu, An. Bukan aku. Jika itu bisa membuat kamu bahagia, mengapa tidak?Tapi tolong jangan lakukan hal ini karena aku.] Nadya mengirimkan balasannya.


Anjas terdiam setelah membaca balasan dari Nadya. Ada rasa tidak enak pada sahabatnya itu, tidak perlu dia memberitahu apa yang terjadi karena Nadya sudah tahu apa yang terjadi. Memang Nadya, nama yang selalu hadir dalam setiap pertengkarannya dengan Naira. Apa lagi jika bukan karena tunangannya itu cemburu pada sahabatnya itu.


Dan ini bukan kali pertama Anjas meminta pendapat Nadya untuk lepas dari Naira. Memang bukan solusi yang Anjas dapatkan, tapi dia bisa merasa lega saja setelah mengungkapkannya pada Nadya.


Baru saja Anjas akan membalas pesan pada sahabatnya itu, sang mama datang mengejutkannya.


"Anjas, mama dengar kamu dan Naira sedang bertengkar. Ada apa? Jangan katakan karena Nadya lagi." ucap Kinanti menyelidik.


"Tanyakan saja pada calon menantu idaman mama itu, bukan tanya sama Anjas." jawab Anjas kesal.


Bagaimana dia tidak kesal, Naira selalu saja mengadu pada Kinanti setiap mereka ada masalah dan bertengkar. Tidak hanya pada Kinanti, tunangannya itu juga sering mengadu pada Nadya yang nota bene orang yang membuat dia marah pada Anjas.


"Apa sih mau wanita itu? Mengapa dia tidak pernah bisa dewasa." geram Anjas dalam hati.


Menurut Anjas sikap dan sifat Naira sangat kekanak-kanakan. Bukan berusaha untuk menyelesaikan masalah tapi lebih mengumbar masalah mereka pada orang lain.


Bolehkah kali ini Anjas menyerah? Sudah lelah menghadapi Naira yang seperti ini. Sangat jauh dengan Nadya yang tenang dan dewasa. Tidak ada kenyamanan yang Anjas rasakan seperti yang Anjas rasakan saat bersama Nadya.


"Kamu kok bicaranya seperti itu? Mama nanya kamu karena Mama mau tahu masalahnya dari sudut pandang kamu. Tidak hanya tahu dari sudut pandang Naira." jawab Kinanti.

__ADS_1


"Tapi pada akhirnya Mama akan meminta Anjas bersabar. Sampai kapan Ma?"


Hening, Kinanti tidak bisa menjawab. Naira baginya menantu yang sempurna, derajat mereka juga sama dan yang penting gadis itu sangat mencintai putranya. Itu cukup menurut Kinanti untuk menyatukan Anjas dan Naira, tapi Kinanti tidak memikirkan kebahagian Anjas. Bahkan dia turun tangan untuk memisahkan Anjas dan Nadya.


"Maaf Ma. Bolehkah kali ini Anjas lepas dari Naira? Dan ini tidak ada hubungannya dengan Nadya" pinta Anjas.


"Kamu yakin bukan karena Nadya?" tanya Kinanti menyelidik.


"Mama tahu kan Nadya sudah menikah, dia juga sudah bahagia. Jadi jangan libatkan lagi setiap keputusan Anjas karena Nadya." ucap Anjas menjelaskan.


"Untuk Naira, Anjas menyerah. Menyerah dengan sikap cemburunya, menyerah dengan sifat posesif nya dan juga menyerah dengan sikap kekanak-kanakan calon menantu idaman Mama itu." ucap Anjas panjang lebar agar Kinati mengerti.


"Anjas pergi dulu." ucap Anjas lagi pamit.


"Mau kemana? Kamu harus minta maaf pada Naira, Anjas!"


Anjas melihat Kinanti sesaat lalu membuang nafas kasar dan berlalu begitu saja. Percuma bicara banyak pada mamanya, tapi wanita itu tidak pernah sekali saja memikirkan kebahagiannya. Yang dia pikirkan oleh wanita yang melahirkannya kedunianya hanya kebahagian untuk dirinya sendiri.


Anjas sudah banyak mengalah selama ini hingga dia harus merelakan kehilangan cinta pertamanya jatuh pada pelukan pria lain.


"Anjas, jangan tinggalkan Mama!" Kinanti mengejar Anjas dan memohon, tapi Anjas seolah tidak mendengar. Dia terus saja berjalan lalu masuk kedalam kendarannya.


Anjas melajukan kendaraannya di jalanan yang sedikit lengang. Satu tempat yang menjadi tujuannya, ke tempat orang yang bisa dia ajak bicara.


Setelah mengirim pesan pada Anjas, Nadya langsung menutup ponselnya. Selalu dan selalu seperti ini yang terjadi antara Anjas Naira. Jika selama ini Nadya akan menjadi penengah diantara mereka, maka kali ini Nadya tidak akan ikut campur lagi seperti biasanya. Dia bukan lagi wanita single, ada hati yang harus dia jaga.


Reno dan Azam terlihat keluar dari ruang kerja bersamaan dengan suara dering telepon di ponsel Nadya berbunyi. Nama Naira tertera disana. Sudah Nadya duga tunangan Anjas itu akan menghubunginya, bukan suatu yang mengejutkan untuk Nadya. Tidak ingin terus berisik, Nadya langsung menerima panggilan telepon tersebut.


"Assalamualaikum." ucap Nadya begitu panggilan teloponnya tersambung.


"Nad, kamu dimana? Bisa kita bicara? Tolong bujuk Anjas maafin aku. Tolong ya Nad, please. Aku nggak bisa pisah sama dia, aku nggak bias! Tolong ya Nad, bujuk dia tetap sama aku. Hanya kamu yang bisa bicara sama dia, hanya kata-kata kamu yang dia dengar."


Nadya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar Naira yang bicara seperti kereta api. Wanita itu bahkan tidak pernah menjawab salam dari Nadya setiap bicara dengannya.


"Mulai sekarang coba kamu berusaha sendiri, Nai. Aku punya suami dan tidak bisa menemui Anjas kapan saja kamu butuh seperti dulu. Maaf ya, suami aku sudah menunggu untuk makan siang bersama." jawab Nadya.


"Nad, kamu tega sama aku? Atau memang selama ini kamu terpakasa melakukannya untuk aku?"


"Sayang ayo makan!" ucap Reno menegur Nadya.

__ADS_1


"Maaf ya Nai, kamu dengar sendiri kan, suami aku sudah menunggu."


Tanpa menunggu jawaban dari Naira, Nadya mematikan ponselnya sepihak. Lelah sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi?


"Maaf ya Mas." ucap Nadya sambil berjalan mendekati Reno.


"Telepon dari siapa?" tanya Reno setelah Nadya berada dalam pelukannya.


"Naira." jawab Nadya. "Ayo makan Mas, Dya udah masak makanan kesukaan Mas Reno." ucapa Nadya mengalihkan pembicaraan. Jika bicara soal Naira sudah pasti membicarakan Anjas juga, Nadya tidak ingin Reno cemburu.


"Jadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Nadya penasaran setelah mereka selesai menyantap hidangan makan siang.


"Urusan kaum pria." sahut Azam.


"Kamu sudah menjadi pria? Bukankah masih anak laki-laki yang suka main kabur dari rumah?" goda Nadya.


"Mbak Dya, tidak bisakah melihat adikmu ini sudah menjelma menjadi pria tampan?" jawab Azam sambil menyugar rambutnya.


"Di mata Mbak, kamu itu tetap saja anak laki-laki yang suka minta dibelikan coklat. Jika tidak dituruti merajuk dan kabur dari rumah." sahut Nadya.


"Mbak dikampus aku jadi primadona sekarang." ucap Azam bangga.


"Sekarang? Selama ini?" tanya Nadya.


"Ya sekarang sejak mereka tahu aku..."


"Berteman boleh tapi jangan terlalu dekat. Banyak orang yang terlihat baik tapi setiap kebaikannya mengandung sesuatu yang lain." ucap Reno memotong jawaban Azam.


"Azam mengerti Mas." jawab Azam. "Hanya Karla yang tulus." lanjut Azam ucapannya.


"Azam pulang Mbak, Mas." ucap Azam pamit.


"Pulang kerumah apa pulang ketempat Karla?" tanya Nadya.


"Kok Mbak Dya tahu aku mau ketempat Karla?"


"Tahu lah. Mbak tahu apa yang ada di otak kamu itu."


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2