
Nanti malam akan diadakan pengajian di kediaman Surya. Nadya dan Reno memutuskan akan menginap disana sampai hari ke tiga.
Membaringkan tubuhnya yang lelah, Nadya memandangi langit-langit kamarnya. Satu persatu kenangan masa lalu bersama Surya saat kanak-kanak terlintas dalam ingatan. Bahagia dan menyenangkan sekali mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang utuh. Lalu semuanya hilang begitu Surya pergi meninggalkan mereka demi Marisa yang ternyata bukan anak kandung ayahnya.
Mungkin hal ini yang menyebabkan ayahnya pergi dengan tiba-tiba. Nadya hanya bisa menduga duga saja, apa lagi tidak ada tanda-tanda yang Surya tunjukkan atau kata-kata yang mengesankan perpisahan.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Reno terlihat keluar dari sana hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Wajah Nadya memerah, meski sudah sering melihat suaminya bertelanjang dada, Nadya masih saja merasakan debaran dan juga rasa kagum pada kesempurnaan yang suaminya miliki.
"Terimakasih sayang." ucap Reno begitu melihat pakaiannya yang sudah disiapkan Nadya di ujung tempat tidur.
"Istirahat saja dulu, biar nanti pas acara kamu bisa lebih segar. Tidak usah memikirkan yang diluar, semua sudah diatur oleh mama." ucap Reno.
"Iya Mas, pinggang Dya juga masih pegal." jawab Nadya.
Reno mendekat mengusap perut Nadya lalu mengecupnya, "Anak ayah istirahat sama bunda ya." ucap Reno.
Seolah mengerti apa yang Reno ucapkan, bayi dalam kandungan Nadya merespon dengan gerakan.
"Anak pintar." ucap Reno senang.
"Mas keluar sebentar, ingin bicara sama Azam. Bunda sendiri dikamar nggak apa-apa, kan?" ucap Reno lagi.
"Nggak apa-apa, Mas keluar aja." jawab Nadya.
Tangan Reno terulur mengusap pucuk kepala Nadya lalu mencuri cium di bibir istrinya, "Hanya sebentar, nanti Mas temani lagi." ucapnya.
"Iya." jawab Nadya.
Disinilah sekarang Reno berada bersama Azam. Di ruang kerja yang biasa Surya gunakan.
"Ada apa Mas?" tanya Azam begitu mereka sudah dudk berhadapan di sofa yang ada diruangan itu.
"Yuda sedang mendatangi teman ayah yang detektif itu. Mas minta dia untuk datang malam ini agar kita bisa bicara dengannya. Kita harus gerak cepat untuk menyelidiki kematian ayah, sebelum semua bukti yang mengarah pada pelaku menghilang. Bukankah ibu dulu juga seperti ini? Sayangnya kalian tidak segera menyelidiki penyebab kematiannya." ucap Reno menjelaskan.
Azam mengangguk membenarkan, "Iya, ibu juga pergi dengan tiba-tiba dan kami tidak pernah berpikir jika kematian ibu karena korban pembunuhan. Apa Mas Reno mencurugai orang yang sama?"
"Nara maksud kamu?" tanya Reno.
__ADS_1
"Iya Mas, Nara."
"Tidak ada hubungannya masalah ini dengan wanita itu."
"Lalu?" tanya Azam.
"Marisa. Mas mencurigai dia." jawab Reno.
"Tapi dia didalam tahanan. Apa bisa?" tanya Azam.
"Karena itu kita harus menyelidikinya." balas Reno, "Bukan dia yang bekerja, itu sudah pasti. Ada orang lain yang melakukannya atas perintah wanita itu."
"Tapi kenapa Mas?" tanya Azam.
"Itu yang harus kita cari tahu dan secepatnya harus selesai."
Di rumah tahanan, Marisa mengacak acak rambutnya dengan kasar. Rencananya untuk membuat Surya pergi selama-selamanya berhasil. Tapi usahanya untuk merebut Reno dari Nadya gagal. Pria itu sudah tahu siapa ayah putranya sekarang karena ucapan Adi asisten Surya yang selalu saja datang untuk merusak rencananya.
Marisa geram dengan Adi yang telah membeberkan semua tentang dirinya. Tentang siapa ayah kandungnya dan juga siapa ayah bayi yang dia kandung. Pria itu akan menunggu gilirannya untuk Marisa hancurkan.
"Marisa keluarlah, ada tamu." ucap sipir yang bertugas sore ini.
"Apa kabar Marisa? Kamu pasti terkejut melihat kedatanganku, kan?" tanya Anjas beruntun.
Anjas orang yang datang mengunjungi Marisa sore ini. Sahabat Nadya itu tidak datang sendiri, melainkan datang bersama Dean. Tepatnya menemani Dean yang ingin membuat perhitungan pada Marisa.
Pria itulah yang menjadi alasan Anjas berada di tempat ini, di hadapan Marisa, wanita yang sangat engan Anjas temui sebenarnya.
"Ada apa?" tanya Marisa dingin.
Mendengar pertanyaan Anjas, sangat jelas jika pria itu terpaksa menemuinya. Perasaan senangnya langsung menguap berganti dengan rasa sedih dan juga sakit hati.
Anjas belum pernah sama sekali bersikap baik padanya, dan bodohnya hal itu semakin membuat Marisa merasa tertantang untuk menaklukan Anjas. Itu dulu, sekarang?
Anjas menoleh pada Dean yang duduk disampingnya, "Bicara sendiri saja." ucap Anjas pada sahabatnya itu.
"Halo Marisa. Perkenalkan, aku Dean, putra dari Julian." ucap Dean.
__ADS_1
Marisa menatap tidak percaya pada pria yang mengaku saudaranya itu. Saudaranya, benarkah? Marisa mencoba untuk menelaah sejenak. Mengapa Marisa ragu karena tidak ada kemiripan antara Dean dan Julian yang pernah Marisa dan Wan temui.
"Anak tiri." ucap Dean terkekeh, "Julian adalah suami ibuku, yang berarti beliau adalah ibu tirimu. Jadi secara status berdasarkan ikatan ibuku dan ayah kandungmu itu, kita adalah saudara Tiri." ucap Dean lagi.
"Apa maumu?" tanya Marisa yang ingin langsung tahu apa yang menjadi keinginan pria dihadapannya ini.
"Memperkenalkan diri, apa lagi?" jawab Dean.
"Hanya itu?" tanya Marisa.
"Kau cukup pintar ternyata dalam hal seperti ini." sahut Dean.
"Dean, jangan bertele-tele." ucap Anjas mengingatkan sahabatnya itu.
"Sabar sobat, aku senang mendapatkan lawan yang sepadan saat ini. Pantas saja kau langsung kabur saat tahu wanita ini menyukai kamu." balas Dean.
Marisa berdiri, dia tidak suka cara Dean mempermainkan dirinya. Pria itu sepertinya sengaja memancing kemarahannya. Jadi untuk apa berlama-lama menemui saudara tirinya ini.
"Aku tahu, kau yang membuat om Surya pergi meninggalkan keluarganya." ucap Dean.
Marisa menghentikan langkahnya mendengar ucapan Dean. Sekarang dia mengerti mengapa pria ini datang menemuinya.
"Tidak perlu takut, kita saudara bukan? Sebagai saudara aku akan merahasiakan ini. Tapi tidak dengan cuma-cuma." ucap Dean.
"Aku tahu, aku tidak akan mengusik ibumu." sahut Marisa lalu kembali berlalu dari hadapan Anjas dan Dean.
"Beritahu Aditya tentang anak yang kamu kandung!" seru Dean sambil sedikit teriak karena Marisa sudah menjauh.
Seruan Dean berhasil membuat Marisa kembali menghentikan langkahnya dan berbalik, kembali menghadap kearah Anjas dan Dean.
"Jujur lebih baik dari pada memanfaatkan kehamilan kamu untuk merebut Reno dari Nadya" ucap Dean begitu Marisa melihat kearahnya.
Marisa tidak menjawab, dia hanya bertanya-tanya dari mana pria itu tahu semuanya. Sepertinya Marisa harus berhati-hati sekarang. Atau mungkin orang suruhannya yang membongkar ini semua?
Wajar Marisa mempertanyakannya. Pria itu belum juga memberikabar. Kemana perginya? Kembali Marisa mempertanyakannya.
Marisa tidak tahu, jika orang yang menjadi kaki tangannya saat ini tengah dalam bahaya. Pria itu disekap dalam ruangan gelap tanpa cahaya sama sekali dan juga pengap.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...