
Nadya mengalah, dia akhirnya memilih tinggal di rumah sakit untuk menjaga Rosa bersama perawat yang selama ini merawat neneknya itu. Membiarkan Reno pergi bersama Azam menemui orang yang diduga memberi racun pada neneknya.
Mama Dina dan papa Haris sudah pulang ke kediaman mereka, sedangkan ayahnya Surya harus kembali ke kantor polisi. Wulan baru saja menyelesaikan pemeriksaan, setelah berkelit akhirnya dia mengakui.
"Mbak Nadya." panggil Nuri perawat nenek Rosa.
Nadya menoleh pada Nuri, "Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu ketahui?" tanya Nadya setelah melihat raut wajah Nuri yang seperti ingin memberi tahu sesuatu
"Iya Mbak, ada yang ingin saya sampaikan, mungkin ini bisa bermanfaat." jawab Nuri.
"Katakanlah." ucapa Nadya setelah Nuri diam cukup lama.
"Sebelum diajak pindah sama bu Dina, nenek pernah kedatangan tamu." ucap Nuri memberitahu.
"Laki-laki apa perempuan?" tanya Nadya penasaran.
"Laki-laki Mbak, nenek sepertinya kenal baik jadi saya kira mereka kenalan nenek atau saudara jauh." ucap Nuri lagi.
"Saat pulang tamu nenek itu menitipkan obat untuk saya suntikan pada nenek. Katanya obat itu bagus untuk penderita cancer."
"Kamu suntikan obat itu pada nenek?" tanya Nadya sebelum Nuri melanjutkan lagi ucapannya sambil menatap lekat pada perawat tersebut.
"Saya tidak berani menyuntikkan obat itu." jawab Nuri.
"Kenapa?" tanya Nadya.
"Saya tidak yakin dengan laki-laki itu. Karena setelah kedatangan dia, nenek lebih sering diam dan melamun." jawab Nuri.
"Kenapa baru bicara sekarang?" tanya Nadya lagi.
"Nenek melarang saya untuk memberitahu Mbak Nadya dan mas Azam." jawab Nuri.
"Nenek tahu soal obat itu?" tanya Nadya yang mendapat anggukan dari Nuri.
"Saya yang memberi tahu nenek meskipun orang itu melarang saya memberitahu siapapun dan dia memberi saya uang tutup mulut sebagai imbalannya."
"Memberi uang?" tanya Nadya.
"Iya Mbak, saya tahunya saat membuka bungkusan obat itu dan menemukan amplop coklat. Uangnya dia selipkan di plastik obat itu." jelas Nuri.
"Lalu, dari mana kamu tahu itu uang tutup mulut, bisa saja kan uang itu untuk nenek?" tanya Nadya.
"Ada secarik kertas yang terselip diantara uang itu. Tulisannya menjelaskan uang itu bisa saya gunakan untuk apapun dan sebagai imbalannya saya harus merahasiakan ini."
__ADS_1
Nadya hanya bisa menghembuskan nafas denga kasar, dia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, hingga tidak begitu memperhatikan Rosa. Untung saja dia memilih perawat yang jujur dan setia. 'Tapi siapa laki-laki itu? Apa ada kaitannya dengan peristiwa hari ini?' Nadya hanya bisa bertanya tanpa bisa menjawab, oleh karena itu Nadya harus mencari tahunya.
"Obatnya masih saya simpan Mbak." ucap Nuri lagi menarik lamunan Nadya.
"Kamu simpan dimana?"
"Saya simpan obat dan uangnya dikamar saya yang ada dikediaman tuan Haris." jawab Nuri.
"Mbak Nuti ingat wajah orang itu?" tanya Nadya penasaran, sungguh Nadya sangat ingin tagu karena merasa abai pada neneknya akhir-akhir ini.
"Ingat Mbak." jawab Nuri yakin.
"Mbak Nuri bisa ambilkan obat itu dan bawa kesini?" tanya Nadya.
"Saya ingin memeriksakannya ke lab. Mungkin saja orang itu benar tentang obat itu." lanjut Nadya ucapannya, meski mencurigakan, tapi istri Reno itu mencoba untuk berpikir positif.
"Tentu saja bisa Mbak." jawab Nuri.
Nadya diam sejenak, matanya tertuju pada Rosa. Kini pikirannya tengah berpikir keras berperang. Siapa orang itu? Teman atau lawan. Kenapa juga neneknya tidak mau memberitahu kedatangan orang itu padanya dan Azam? Ada apa sebenarnya? Jika orang itu berniat buruk kenapa? Apa kesalahan yang neneknya lakukan? Dan semua pertanyaan itu tidak mampu Nadya jawab, yang ada kepalanya terasa berat.
"Mbak Dya kenapa?" tanya Nuri saat melihat Nadya memegang kepalanya.
"Kepala saya pusing Mbak." jawab Nadya.
"Saya akan ambil obatnya kalau sudah ada orang yang menemani Mbak Nadya.
Nadya diam dan membenarkan ucapan Nuri, dia kurang tidur karena semalam dia dan Reno baru tidur jam dua pagi. Bangun subuh dan belum sempat sarapan sudah harus ke rumah sakit. Nadya mengikuti saran perawat neneknya itu, lalu dia memejamkan matanya setelah berbaring di sofa. Mengusir sejenak semua pertanyaan-pertanyaan yang tidak menemukan jawabannya, mungkin dengan begini bisa membantu menghilangkan rasa pusing dan mualnya.
Sementara itu ditempat lain, Reno dan Azam baru saja tiba di kediaman milik nenek Yuda, rumah tua yang dibangunan dizaman kolonial Belanda. Rumah ini memiliki banyak kamar dan juga halaman yang terbilang cukup luas, serta pohon-pohon tua yang menjulang tinggi semakin mengesankan suasana zaman dulu. Karena itulah Reno tertarik membeli rumah ini saat Yuda menawarkan padanya. Sekarang rumah tua ini dia jadikan tempat tinggal orang-orang kepercayaannya yang belum berkeluarga. Bisa juga dikatakan sebagai markas orang-orangnya berkumpul.
"Aku tidak tahu Mas Reno punya basecamp keren seperti ini." ucap Azam kagum.
Reno tidak merubah banguna tua ini sama sekali, kesan tempo dulunya masih sangat terasa. Meski sempat di renovasi dibagian dalam tapi bagian luarnya tidak mengubah gaya tempo dulunya.
"Boleh aku ikut tinggal disini Mas?" tanya Azam.
"Bukankah sebaiknya kamu menemani nenek?" Reno balik bertanya.
Azam menyengir, diapun lantas menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
"Tapi Mas, mbak Dya itu suka rumah-rumah seperti ini. Sama seperti ibu, karena itu rumah yang dulu kami tempati meski bangunan baru tapi dibuat seperti bangunan zaman dulu." jelas Azam
Medengar itu Reno tersenyum, sejujurnya Reno juga menyukainya. Sebuah ide terlintas di benak Reno dan itu semakin melebarkan senyum diwajah suami Nadya itu.
__ADS_1
"Kalian kurung dimana?" tanya Reno begitu dia dihampiri seorang penjaga rumah.
"Di gedung serbaguna, pak Yuda ada disana." jawab penjaga itu.
Reno tidak jadi masuk kedalam kediaman itu, dia lalu berjalan kesamping rumah. Gedung serbaguna yang dimaksud penjaga itu adalah bangunan yang ada dibelakang rumah utama. Tempatnya cukup luas, Reno manfaatkan jadi tempat untuk berolah raga.
Tiba di depan gedung serbaguna, penjaga yang disana segera membukakan pintu untuk Reno, lalu memberitahu bosnya dimana orang yang ingin ditemui Reno berada.
"Dikamar pojok Pak." ucap penjaga itu.
Reno tidak menjawab, hanya anggukan kecil yang dia berikan pada penjaga itu. Dia pun berjalan menuju tempat seperti yang diucapkan penjaga itu.
"Bos." sapa Yuda begitu melihat keberadaan Reno.
"Kamu." ucap Azam terkejut begitu melihat orang yang Yuda dan orang-orangnya tangkap.
"Kamu mengenalinya Zam?" tanya Reno.
"Iya Mas, dia tetangga kami." jawab Azam.
"Zam saya tidak tahu kalau itu racun. Sungguh." ucap orang itu.
"Orang itu mengatakan kalau itu obat untuk nenek Rosa, dan dia meminta saya memberikannya pada perawat nenek."
"Perawat nenek." ucap Reno dan Azam bersamaan.
Entah apa yang ada di kepala Reno dan Azam, keduanya beradu pandang lalu menyebut nama Nadya bersahutan.
"Nadya." ucap Reno.
"Mbak Dya." ucap Azam.
"Jangan biarkan dia lepas, dan tunggu perintah dariku" ucap Reno pada Yuda setelah mendapatkan jawaban yang dia butuhkan.
Baru saja Reno dan Azam akan melangkahkan kaki mereka keluar gedung, ponsel milik Azam berdering dan pemuda itu segera mengangkatnya.
"Ada apa Mbak?" tanya Azam.
"Mbak Nadya tidak sadarkan diri, Mas."
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1