MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 58. Masih Dendam


__ADS_3

"Sayang, Yuda tidak jadi meminta cuti." ucap Reno memberitahu Nadya tentang keputusan yang diambil sahabatnya itu.


Bukan tanpa sebab Reno memberi tahu istrinya, masalahnya, Yuda sudah bicara sendiri pada Nadya agar dia diberikan izin cuti. Reno tidak ingin, Nadya mengira dirinya yang tidak memberikan izin cuti asistenya itu.


Menaikan sebelah alisnya, Nadya menatap curiga pada Reno dari pantulan cermin. Dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan sang suami, "Kenapa?" tanyanya.


Reno memaksakan seyum karena tatapan menyelidik yang Nadya berikan, sebenarnya dia sudah bisa menebak reaksi yang akan istrinya itu berikan. Untung saja dia memberi tahu Nadya sekarang, istrinya akan tahu alasan Yuda membatalkan izin cuti dari mulutnya sendiri, bukan dari orang lain.


Mendudukkan tubuhnya di tempat tidur, Reno memperhatikan aktivitas istrinya sebelum tidur, sebelum dia kembali bicara menjawab pertanyaan yang Nadya ajukan.


"Kamu tahu sayang, mengapa dia sibuk minta cuti?"


Nadya menggeleng menjawab pertanyaan Reno, sambil melihat suaminya dari pantulan cermin, "Mana Dya tahu, Mas!" ujar Nadya.


"Yuda iri lihat Mas sudah bahagia sama kamu." ucap Reno.


Nadya berbalik menghadap Reno, "Bagus kan Mas, dia jadi termotivasi untuk mencari istri. Biar nggak godain karyawan kantor terus." sahut Nadya.


"Kok sayangnya Mas tahu hal itu?" tanya Reno penasaran, "Apa Yuda yang cerita?"


Nadya menggeleng, lalu kembali menatap cermin, melanjutkan ritualnya merawat wajah di malam hari, "Bukan dari kak Yuda." jawab Nadya.


"Mas, tahu nggak kalau di kantor Mas Reno itu ada office boy yang hobi ngegosip?"


"Si Maman alias Manda itu!" sahut Reno.


Nadya terkekeh, "Wah, nggak disangka ternyata Mas Reno kenal sama Manda." balas Nadya menggoda suaminya.


"Jadi dia yang ngasih gosip ke kamu?" tanya Reno menghiraukan godaan istrinya.


Nadya terkikik geli lalu mengangguk, "Orangnya asyik dan seru buat teman ngobrol." jawab Nadya.


Reno mendengkus, dia ingin sekali memecat office boy yang bernama Maman alias Manda itu. Hanya saja tidak punya alasan yang kuat selain suka bergosip. Masalah pekerjaan, Maman sangat profesional dan banyak yang suka karena ringan tangan meski kebaikannya itu punya tujuan untuk mencari bahan gosip baru.


"Jadi, kenapa kak Yuda batal izin cuti?" tanya Nadya kembali ke topik awal pembicaraan mereka.


"Awalnya Yuda minta izin cuti karena ingin mencari seseorang." jawab Reno.

__ADS_1


"Pasti orang itu sangat penting bagi kak Yuda." sahut Nadya yang di setujui Reno.


"Penting banget. Tapi, sayangnya orang yang dia cari itu tidak dia ketahui nama dan juga tempat tinggalnya."


"Mencari orang yang tidak tahu nama dan tempat tinggalnya, pasti sulit Mas." sahut Nadya,


"Iya, ini bukan kali pertama Yuda berusaha mencari orang itu. Tapi, sudah kesekian kalinya dan hasilnya selalu gagal." jawab Reno.


"Kak Yuda pernah bertemu sebelumnya dengan orang itu? Dimana?" Kali ini, Nadya yang penasaran cerita tentang Yuda.


"Mereka pernah bertemu tanpa sengaja, ada sebuah kejadian hingga gadis itu menangis dalam pelukan Yuda." ucap Reno.


"Kak Yuda ngapain gadis itu sampai dia menangis? Jangan katakan kalau mereka..."


"Tidak sayang." potong Reno ucapan Nadya yang berpikiran buruk pada sahabatnya, "Yuda menyelamatkan gadis itu dari kendaraan yang hampir saja menabraknya." jelas Reno, sepertinya tadi dia salah bicara hingga terdengar ambigu.


"Mas Yuda jatuh cinta sama gadis itu, kan?" tebak Nadya.


"Hem, sepertinya." jawab Reno yang mulai malas menjawab banyak. Perhatiannya kini terfokus pada dada sang istri yang semakin kencang dan besar sejak hamil membuat junior miliknya berontak.


Jawaban yang Reno berikan tidak memuaskan Nadya yang ingin tahu lebih banyak. Tapi, mau bagaimana lagi jika Reno sudah kembali ke mode sedikit bicara. Melirik suaminya dari pantulan cermin, akhirnya Nadya menyadari jika perhatian Reno kini telah beralih padanya.


Melihat istrinya berbaring, Reno segera menyusul berbaring disamping Nadya sambil menghadap sang istri. Reno sangat suka memandangi wajah Nadya dengan posisi berbaring seperti ini, wajah mengemaskan istrinya mampu menyejukkan hati Reno.


"Mas, apa kak Yuda sudah bertemu gadis itu?" tanya Nadya, rasa penasaran cerita tentang Yuda, membuat Nadya mengabaikan tatapan mendamba sang suami.


"Hem, pertemuan tidak sengaja." jawab Reno, "Kamu mungkin kenal dengan gadis itu, sayang." ucap Reno lagi sambil menyelipkan rambut Nadya kebelakang telinga.


"Siapa emangnya Mas?" tanya Nadya penasaran.


"Makan dulu ya." sahut Reno yang sudah mulai tidak fokus.


"Ha, kita tadi sudah makan malam. Mas Reno masih lapar?" tanya Nadya pura-pura tidak megerti.


Reno terkekeh, dia tahu istrinya haya berpura-puta tidak paham maksud yang dia ucapkan. Tapi justru membuat Reno semakin tertantang.


"Makan kamu sayang." bisik Reno.

__ADS_1


"Ishh, kirain lapar beneran." gumam Nadya.


Lagi-lagi Reno terkekeh, tangannya sudah berjalan liar menelusuri tubuh istrinya.


"Pelan-pelan ya Mas, biar dedek nggak kaget Mas tengokin." pinta Nadya yang membuat Reno tersenyum lebar, Nadya sudah memberi lampu hijau.


Tidak ingin istrinya berubah pikiran, Reno langsung melahap bibir merah delima milik Nadya. Memanjakan juniornya lebih penting dari pada membahas Yuda dan Kania. Membiarkan Nadya penasaran dengan sosok gadis pujaan Yuda. Sebenarnya Reno hanya tidak ingin Nadya mengingat nama Irfan. Meski istrinya tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan pria itu. Tapi, Irfan yang rela mengorbankan nyawa demi Nadya hingga menimbulkan kesalah pahaman dari Naira, membuat Reno tidak begitu nyaman menyinggung nama itu.


Mengakhiri permainannya, Reno memeluk erat sang istri, berharap Nadya lupa dengan ucapannya. Benar saja, istrinya kelelahan dan langsung terlelap dalam pelukan Reno.


Sementara itu di kantor polisi, Naira duduk disudut ruangan sambil termenung. Tidak pernah dia bayangkan dirinya akan berada di ruang sempit yang diisi lebih dari tiga orang. Dia pun harus tidur hanya dengan beralaskan tikar, sungguh hal ini membuat seorang Naira tersiksa. Melihat ketiga teman satu selnya, ketiganya tampak nyaman tidur yang hanya beralaskan tikar itu.


"Hei, anak baru, sebaiknya kamu segera tidur!" seru salah satu penghuni sel tersebut.


Naira hanya mengangguk, wanita yang baru saja bicara dengannya adalah pimpinan kedua temanya yang lain membuat Naira tidak berani membantah.


Membaringkan tubuhnya, pikiran Naira menerawang jauh kemasa lalu. Satu persatu kenangannya bersama Irfan hadir kembali seperti film tayangan ulang.


"Mengapa kamu selalu menyebut nama dia, Irfan?" tanya Naira yang kala itu menahan cemburu.


"Aku mencintainya Nai, dia cantik dan...."


"Apa aku tidak cantik?" tanya Naira memotong ucapan Irfan.


"Kamu cantik, buktinya banyak yang titip salam ke aku dan minta izin buat dekati kamu. Kamunya aja yang nggak mau. Tapi Nadya, dia berbeda." jawab Irfan.


Saat itu Naira hanya bisa diam. Diamnya Naira bukan menyerah, melainkan menyusun rencana untuk memisahkan Irfan dari Nadya.


"Kamu bodoh Irfan, mengapa kamu yang meminum racun itu!"


Naira menjambak rambutnya, prustasi karena rencana balas dendamnya sis-sia. Dia baru tahu, jika Irfan melakukan itu demi Nadya.


"Wanita sial an kamu, Nadya!" umpat Naira. Dia masih mendendam, bahkan semakin dendam pada Nadya dan keluarganya yang sudah memasukkannya ke dalam tahanan.


"Hei, jangan berisik anak baru!" tegur teman satu sel yang tidur disamping Naira.


"Iya." jawab Naira, lalu merogoh sakunya, Naira ingin menggubungi Anjas, tapi dia lupa jika telepon genggamnya ikut di sita oleh pihak kepolisian. Lenyap sudah kesempatannya untuk bicara dan bertanya pada tunangannya itu.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2