MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 52. Dugaan Kita Benar


__ADS_3

"Aku akan membebaskan kamu dari tuntutan." ucap Naira.


Sepulang dari kediaman Reno dan Nadya, Naira melajukan kendaraannya ke kantor polisi. Masalah mencari Anjas bisa dia lakukan nanti, yang penting bagi Naira sekarang adalah membuat orang yang dia benci namun harus pura-pura berteman baik itu dapat segera dia hancurkan bahkan mungkin kali ini akan dia lenyapkan. Baginya nyawa harus dibayar dengan nyawa.


"Jangan katakan kalau kamu mau meminta bantuanku lagi." jawab Marisa.


Naira tersenyum, "Ini yang aku suka dari kamu Mbak, cepat sekali tanggap." ujar Naira lalu tertawa pelan.


"Kali ini aku menolaknya, aku tidak mau lagi!" sahut Marisa.


"Kalau begitu aku akan membuat kamu selamanya berada didalam penjara." balas Naira.


"Lakukan saja, aku tidak takut. Bukan masalah juga buat aku ada didalam sini. Diluar tidak ada yang bisa menerima aku, bukankah lebih baik aku didalam sini?" balas Marisa ucapan Naira dengan santai.


"Baiklah aku tidak akan memaksa, jika ini pilihan kamu." ujar Naira lalu berdiri untuk meninggalkan Marisa yang Naira yakin masih menatap punggungnya yang akan menjauh.


"Berhenti sakiti Nadya, Naira. Jika tidak, aku akan membongkar semua kejahatan yang sudah kamu lakukan selama ini." ujar Marisa.


Naira mengehentikan langkahnya lalu kembali berbalik menghadap Marisa. Kakak Nadya itu tersenyum penuh arti, membuat tangan Naira mengepal menahan emosi.


"Nadya tidak salah atas kematian Irfan. Laki-laki cinta pertama kamu itu yang bodoh dengan sengaja mengakhiri hidupnya." ucap Marisa saat Naira akan pergi meninggalkan ruagan yang disediakan pihak kepolisian untuk para tahanan menerima tamu.


"Jangan katakan apapun lagi tentang kebohongan. Kamu tidak perlu membela adik kamu, aku pastikan nyawa harus dibalas dengan nyawa."


"Aku tidak bicara bohong, kamu bisa tanyakan kebenaran itu pada keluarga Irfan." sahut Marisa.


"Asal kamu tahu, keluarga Irfan yang telah mengirim pengacara keluarga mereka untuk membantu proses hukumku." ucap Marisa lagi yang membuat Naira berbalik kembali menghadap Marisa.


"Untuk apa?" tanya Naira.


"Untuk apa? Tentu saja karena mereka tahu aku tidak bersalah." jawab Marisa dengan tenang.


"Mereka tahu tentang aku?" tanya Naira penasaran.


Marisa menaikan kedua bahunya tanda dia tidak tahu, "Tapi menurut kamu, jika mereka tahu aku tidak bersalah bukankah itu berarti mereka tahu siapa yang bersalah." jawab Marisa sengaja memainkan pikiran Naira.


Kini Marisa yang tidak ingin bicara lagi dengan Naira, segera berdiri lalu kembali masuk kedalam sel. Tinggallah Naira yang masih belum terima apa yang dikatakan Marisa, tepatnya tidak percaya.


Ingin membuktikan ucapan Marisa, Naira menuju rumah sakit dimana sepupu Irfan yang baru pulang dari luar negeri berada.


Sampai dirumah sakit, Naira melihat sosok Anjas yang dia cari keberadaannya sejak pagi. Diapun menunda niatnya untuk bertemu sepupu Irfan.

__ADS_1


"Anjas." panggil Naira.


"Berperanlah dengan baik, demi Nadya." bisik Didu yang menyadarkan lamunan Anjas.


"Siapa yang sakit?" tanya Naira pada Anjas yang hanya diam saja, sementara Didu telah melenggang pergi masuk kedalam kamar rawat inap istrinya.


"Istri Didu melahirkan." jawab Anjas singkat, padat dan jelas.


"Oh ya." seru Naira yang kini telah merubah ekspresi wajahnya yang sejak tadi tegang dibuat ceris, seolah senang dengan berita yang disampaikan Anjas.


"Kamu mau menjenguk mereka?" tanya Anjas menawarkan Naira untuk masuk yang langsung diangguki tanda setuju.


Tiba didalam kamar rawat Ria, Anjas melihat Didu sedang bicara dengan seseorang yang tidak Anjas kenal dan tampak membicarakan dia, melihat mata keduanya menunjuk dirinya.


"Apa dia yang akan ikut dalam penyelidikan ini?" tanya Anjas dalam hatinya.


Jane tersenyum lebar pada Anjas, sementara Didu memberi kode pada Anjas tentang siapa Jane.


"Apa kabar Kak? Udah lama ya nggak ketemu." sapa Jane pada Anjas dengan melakukan cipika cipiki.


Benar saja, apa yang mereka perkirakan terjadi. Naira tidak mampu menahan cemburunya pada Jane yang terlihat akrab dengan anjas. Terlebih lagi tunangannya itu tampak senang bertemu Jane.


"Sudah lama?" tanya Anjas seolah-olah sudah akrab dengan Jane.


Naira tidak terima melihat semuanya, dia merasa diabaikan oleh Anjas sejak melihat wanita yang menyapanya. Naira yang kesal pada Anjas memilih pergi meninggalkan tunagannya, dia pun menutup pintu dengan kasar.


"Gimana ini?" tanya Anjas untuk menanyakan sikap apa yang harus dia ambil.


"Kejar!" sahut Didu dan Jane bersamaan. "Kita masih butuh dia." ucap Didu lagi.


Anjas mengikuti apa yang disarankan oleh Didu dan Jane. Dia keluar dari kamar rawat inap Ria untuk menyusul Naira. Dari kejauhan Anjas masih bisa melihat Naira yang berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Anjas sengaja tidak memanggil Naira, dia lebih memilih mengikuti wanita itu dari jarak aman setelah menyadari Naira ke rumah sakit bukan untuk bertemu dengannya, tapi ada keperluan lain.


"Leo!" panggil Naira saudara sepupu Irfan itu.


Leo mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang memanggilnya. Pantas saja dia dipanggil tanpa embel-embel dokter.


"Kamu masih ingat aku, kan?" tanya Naira. Leo mengangguk.


"Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Naira memberitahu Leo


"Ya bicara saja!" balas Leo.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya tentang Irfan." cicit Naira takut-takut.


"Apa yang ingin kamu ketahui tentang sepupuku itu?" tanya Leo.


"Apa penyebab kematian Irfan?"


"Kenapa? Ada hubungan apa sampai kamu ingin tahu tentang itu?" tanya Leo curiga.


"Apa ada hubungannya dengan keracunan nenek Rosa? Leo bertanya-tanya sendiri.


Sementara itu, dikediaman Reno, suami Nadya itu tengah mendapatkan kesulitan menghadapi ibu hamil yang sedang banyak keinginan.


Reno sudah mengikuti keinginan Nadya untuk membeli ketoprak saat pulang dari rumah sakit. Hanya saja Reno lupa mengingat pesan Nadya untuk memesan ketporak dengan level yang sangat pedas.


Bukan lupa, tapi Reno sengaja tidak memesan seperti keinginan Nadya, pria itu takut perut istrinya akan sakit jika mengkomsumsi makanan pedas. Terlebih lagi, saat ini ada anak mereka yang harus dijaga. Reno tidak ingin anak dan istrinya kenapa-napa.


Karena tidak menuruti apa yang Nadya minta, kini Nadya tidak bisa menghabiskan ketoprak yang sudah dia bayangkan akan sangat nikmat melahapnya. Tapi lihatlah sekarang, Nadya memutahkannya lagi karena tidak pedas sehingga membuatnya mual.


"Mas gimana sih!" kesal Nadya pada Reno.


"Iya maaf, Mas minta maaf nggak ikuti kemauan kamu sayang." jawab Reno yang tidak tahu jika akan berakhir seperti ini. "Apa mau Mas belikan lagi?" tanya Reno.


"Udah nggak nafsu!" sahut Nadya ketus.


Bukan marah karena diketusi oleh sang istri, Nadya malah tampak menggemaskan jika merajuk seperti ini.


"Tapi kalau sama Mas, masih nafsu, kan?" tanya Reno menggoda Nadya dan istrinya pasti akan bersemu merah seperti saat ini. Reno semakin gemas dan membawa sang istri masuk kekamar.


Ijah yang melihat tingkah majikannya itu hanya bisa tersenyum. Selama berumah tangga dengan Marisa, Reno tidak bersikap semanis ini dengan istrinya. Melihat majikanya saat inj, Ijah beryukur dan berdoa untuk kebahagiann Reno dan keluarga kecilnya.


Reno sudah membaringkan Nadya di tempat tidur, bertepatan dengan suara ring tone ponselnya berdering.


"Jadi?" tanya Reno yang langsung bertanya.


"Dugaan kita benar!" seru Yuda dari seberang sana.


"Apa sudah ada bukti?" tanya Reno lagi.


"Sudah." jawab Yuda bangga.


"Good job."

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua ...


__ADS_2