
Kevin sedang menautkan bibirnya dengan model pendatang baru saat Marisa masuk kedalam apartemen manager dan juga sahabatnya itu. Tangan laki-laki itu sudah berhasil membuka kancing kemeja yang dikenakan Jane, gadis yang di temukan Kevin saat dia berlibur di Bali.
Memiliki tubuh yang tinggi dan langsing membuat Kevin membawa gadis itu menjadi model pendatang baru dibawah manajemen yang dia kelola.
"Sa." panggil Kevin begitu melihat kehadiran Marisa yang berdiri sambil mengaitkan kedua tangannya didepan dada.
"Tunggu di kamar sayang." bisik Kevin pada Jane.
"Jangan sampe bunting lho." teriak Marisa pada Jane yang berjalan masuk ke kamar Kevin.
Kevin terkekeh mendengar ucapan Marisa, "Hanya bersenang-senang, aku kesepian." ucap Kevin menanggapi ucapan Marisa.
Marisa duduk di sofa, menghempaskan tubuhnya dengan kasar.
"Ada apa?" tanya Kevin mendekati Marisa.
"Reno menceraikan aku." jawab Marisa.
"Hahaha... hahaha." bukan ikut sedih dengan penderitaan Marisa, Kevin malah menertawakan sahabatnya itu.
"Ketawa lho sekali lagi gue tinju senjata lho Kevin, biar lho nggak bisa main." ancam Marisa yang membuat Kevin menghentikan tawanya.
"Bukankah itu bagus." sahut Kevin yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Marisa.
"Pemasukan bulanan gue hilang dodol." jawab Marisa.
"Cari yang lain lagilah." ujar Kevin membuat Marisa kembali melebarkan matanya.
"Rencana gue buat hancurkan hidup Nadya belum berhasil masalahnya Kev." jawab Marisa yang kali ini sedikit melemah.
"Udah sih, mau lo siksa gimana lagi adik lo itu. Sebenci apapun lo sama Nadya, dia itu adik lo Sa." ucap Kevin kesal.
"Bukankah lo maunya dia nggak jadi sama Anjas, lo udah berhasil dengan bawa dia masuk kedalam hidup Reno. Udah, mau apa lagi lo sekarang?"
Marisa diam, apa yang dikatakan Kevin benar. Bukankah tujuan awalnya dia ingin memisahkan Nadya dengan Anjas.
"Lo nggak mau tahu kenapa Reno menceraikan gue?" tanya Marisa.
"Nggak penting." sahut Kevin yang langsung mendapat pukulan di tangannya oleh Marisa.
"Dia pasang cctv di kamar yang biasa lo tempati, dia lihat gue tidur sama lho Kevin." teriak Marisa.
__ADS_1
Kevin tersenyum tipis, dia tahu ada cctv di kamar itu. Kevin sengaja mengajak Marisa bercinta dengannya pagi itu, dia ingin menunjukkan pada Reno bagaimana Marisa sebenarnya.
Kevin jatuh cinta pada Nadya, tapi dia tahu laki-laki bajingan seperti dia tidak pantas memiliki Nadya. Cinta tak harus memiliki itulah yang Kevin tanamkan untuk cintanya pada Nadya, tidak bisa memiliki bukan berarti Kevin tidak bisa melakukan yang terbaik untuk wanita yang dicintainya.
Kevin ingin melihat Nadya bahagia bersama Reno, itulah mengapa Kevin ingin Reno tahu Marisa yang sebenarnya tanpa dia tahu jika Reno sudah tahu semuanya. Kevin merasa usahanya berhasil, Reno benar-benar menceraikan Marisa sekarang.
"Kevin, hidup gue sekarang berantakan. Gue dicerai sana Reno. Nyokap gue juga di cerai sama papa."
"What." ucap Kevin lalu terkekeh.
"Sekarang Lo sama tante Wulan sama-sama janda. Keren." ucap Kevin yang langsung mendapat tinju di perutnya oleh Marisa.
"Untung aja meleset." ucap Marisa yang sebenarnya ingin meninju milik Kevin biar laki-laki itu tidak jadi bercinta dengan Jane.
"Udah masalah uang bulanan gue cariin lho sumber baru, nggak usah takut." ucap Kevin sedikit berteriak karena Marisa sudah berjalan meninggalkannya keluar apartemen.
Dina berdiri di depan teras rumah Rosa. Bersama Ijah, Dina diantar pak Agus untuk menemui nenek dari Nadya dan Azam.
"Aku baru tahu, selama ini Rosa dan kedua cucunya tinggal di rumah sesederhana ini." ucap Dina sedih.
Rosa wanita yang Dina kenal sangat baik, dari tangan wanita itu Dina sering menerima suapan saat dia ikut makan bersama anak-anak panti asuhan yang dia kunjungi bersama papinya. Dari kedua tangan Rosa juga, Dina merasakan belaian tulus seorang ibu yang sudah tidak bisa dia rasakan lagi setelah maminya meninggalkan dia saat melahirkan adiknya.
"Pak Agus." sapa Azam yang baru saja pulang kuliah setelah memarkirkan motor tua yang Nadya belikan untuknya.
"Bapak nganter mbak Dya?" tanya Azam.
"Bukan Den, tapi ngantar Nyonya." jawab pak Agus sambil menunjuk kearah teras dimana Dina dan Ijah berdiri.
Mata Azam mengikuti arah yang di tunjuk pak Agus, "Belum di buka kan pintu ya?" ujar Azam begitu melihat tamunya masih berdiri diluar.
"Baru saja sampai kok Den." sahut pak Agus.
Azam menghampiri Dina dan Ijah menyalami kedua tamunya. Dina menatap tidak percaya, Azam sangat mirip dengan Surya. Hanya hidung Azam lebih runcing seperti hidung Widya.
"Kamu pasti Azam." ucap Dina yang diangguki oleh Azam membenarkan ucapan Dina.
Azam pamit untuk membukakan pintu, dia masuk lewat pintu belakang yang biasanya tidak di kunci oleh perawat Rosa.
Dua wanita itu berpelukan saling melepaskan rindu, sudah lama sekali mereka tidak bertemu dan kehilangan jejak. Bukan mereka yang kehilangan jejak, tapi Dina yang kehilangan keberadaan Rosa.
"Saya dengar Ibu belum lama ini operasi."
__ADS_1
"Iya Nak, putramu yang membiayai ibu. Terima kasih." ucap Rosa yang memang belum tahu cerita sebenarnya.
Dina hanya tesenyum, jika Rosa tahu yang sebenarnya maka hati wanita tua ini akan semakin sakit. Reno sudah memberitahu Dina tentang semua yang terjadi pada Rosa, Nadya dan Azam.
Dina mengunjungi Rosa karena dia ingin membawa Rosa dan Azam untuk tinggal bersamanya.
"Bagaimana Bu? Mau ya." bujuk Dina agar Rosa mau ikut dengannya hari ini juga.
Rosa menatap Azam, meminta persetujuan cucunya itu.
"Azam terserah Nenek saja." jawab Azam.
"Azam sudah setuju Bu. Nadya dan Reno juga setuju." ucap Dina lagi.
Surya tiba di kediaman Rosa saat ibu dan putranya berjalan menuju mobil yang di kendarai pak Agus.
"Ibu mau kemana?" tanya Surya menahan langkah Rosa.
"Anda mau apa Tuan?" Azam balik bertanya pada ayahnya.
"Zam, ini Ayah Nak. Panggil ayah dengan panggilan Ayah." pinta Surya.
"Kamu mau apa Surya?" Dina ikut bertanya, dia takut Surya akan melukai Rosa lagi.
"Aku mau membawa ibu pulang ke rumahku." jawab Surya.
"Sekarang? Selama ini kamu kemana saja?" ucap Dina dengan pertanyaan.
"Maafkan Surya, Bu. Sungguh Surya tidak tahu jika selama ini wanita itu tidak pernah menyampaikan nafkah yang Surya berikan untuk Ibu dan anak-anak." ucap Surya menjelaskan.
"Zam, maafkan Ayah. Ayo pulang ke rumah kita. Ayah sudah menceraikan dia setelah Ayah tahu semua perbuatannya pada kalian." ucap Surya kini memohon pada Azam.
Rosa terduduk lemas di kursi teras. "Nek." panggil Azam yang bisa melihat kesedihan diwajah neneknya.
"Bu, maafkan Surya." Surya bersimpuh di pangkuan Rosa.
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat putranya serapuh ini. Rosa membelai rambut Surya yang semakin keras terisak. Menyesali dia yang sangat terlambat mengetahui semua ini, menyakiti ibu dan anak-anaknya tanpa dia sadari.
Sebenci apapun Azam pada Surya, dalam hati kecilnya dia tetap menyayangi laki-laki yang menjadikannya ada di dunia ini. Azam sudah diberitahu Reno tentang perbuatan Wulan dan Marisa pada mereka, Azam pun sudah memaafkan Surya. Tapi Azam ingin melihat Surya yang sungguh-sungguh menyesal dengan kebodohannya yang tertipu oleh Wulan dan Marisa selama ini.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua ...