MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 71. Kemarahan Azam


__ADS_3

Masuk kekamar Nadya, Reno melihat istrinya sudah terlelap. Begitu nyenyaknya hingga tidak menyadari Reno yang masuk kedalam kamar sudah selarut ini.


Setelah pembahasan tentang Marisa sebagai orang yang memberi perintah untuk menghilangkan nyawa Surya selesai, Reno harus menghadapi drama yang dibuat oleh saudara Nadya. Wanita itu bertengkar dengan Azam yang tidak terima Nadya direndahkan.


Emosi Azam sedang tidak stabil. Kepergian Surya secara tiba-tiba tentu saja membuat adik Nadya itu cukup shok dan terpukul. Beban tanggung jawab melanjutkan perusahaan milik Surya agar tetap berjalan adalah beban terberat Azam yang belum banyak tahu tentang mengurus perusahaan.


Ditambah lagi kepergian Surya disebabkan oleh orang yang selama ini Azam benci. Orang yang selalu saja membuat kehidupannya dengan Nadya dan Rosa selalu menderita.


Emosi yang sedang tidak stabil itu memicu kemarahan Azam saat mendengar kalimat buruk tentang Nadya. Jangankan Azam, Reno pun sangat marah istrinya dibicarakan yang tidak baik seperti itu. Mau tidak mau, Reno harus turun tangan.


Melelahkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Dia sekarang yang diminta membibimbing Azam sebagai kakak laki-laki remaja itu.


Flash back


Azam dan Reno keluar paling akhir dari ruang kerja Surya. Mereka berdua sama-sama menuju kamar yang posisinya bersebelahan. Namun sebelum kekamar, Reno ingat pesan Nadya untuk membawakan air putih kekamar. Reno pun berlalu ke dapur sementara Azam meneruskan langkahnya menuju kamar.


Baru beberapa langkah, Azam mendengar dua orang saudara sepupunya tengah berbincang.


"Aneh." gumam Azam.


"Tidak biasanya mereka mau menginap seperti ini, terutama Silvi." ucal Azam lagi.


"Apa sudah terlalu larut untuk mereka pulang?" tanya Azam pada dirinya sendiri dan berusaha berpikir positif.


"Kalau mbak Ana aku tidak heran, dia baik dan sering berkunjung." Azan masih saja bicara dengan dirinya sendiri.


Ana satu-satunya saudara yang masih sering mengunjungi neneknya, meski saat itu banyak saudara yang menjauhi mereka. Kenang Azam masa lalu mereka yang saat itu seperti orang yang diasingkan oleh keluarga karena ekonomi mereka yang dibawah.


Sementara Silvi? Azam tidak yakin karena alasan sudah larut malam wanita itu menginap disini. Wanita itu bahkan biasa pergi malam hari dan pulang pagi hari.


Langkah Azam terhenti saat nama Nadya tiba-tiba saja keluar dari mulut Silvi. Wanita itu sepertinya tidak menyadari ada Azam yang sedang lewat diruang keluarga tempat wanita itu duduk saat ini.


"Aku baru tahu Nadya itu ternyata merebut Reno dari Marisa." ucap Silvi tiba-tiba mengalihkan percakapannya dengan Ana.


"Darimana kamu dengar kabar seperti itu. Jangan bicara sembarangan." sahut Ana mengingatkan saudaranya ini.

__ADS_1


"Tentu saja dari sumber yang terpercaya. Nadya yang menggoda Reno terlebih dulu." jawab Silvi.


Malam ini kedua saudara itu ikut meginap dikediaman Surya, Silvi yang mengajak Ana untuk menemainya. Ana yang memang sedang tidak ada kesibukan tidak menolak tanpa tahu tujuan Silvi sebenarnya. Apalagi jika bukan untuk mencari perhatian suami dari saudara sepupu mereka.


Melihat Nadya yang sederhana bisa memikat hati Reno. Silvi yakin, dia bisa lebih menarik perhatian Reno. Percaya diri sekali dia. Bukankah sudah jelas sebelumnya Reno menolak tawarannya.


"Siapa orang yang memberitahu kamu?" tanya Ana curiga.


"Tidak perlu aku kasih tahu." jawab Silvi, "Yang jelas, Nadya itu pakai sesuatu sampai membuat Reno akhirnya memilih Nadya dari pada Marisa." ucap Silvi lagi sambil berbisik.


"Maksud kamu sesuatu itu apa?" tanya Ana pura-pura bodoh.


Ana sudah melihat kehadiran Azam. Dia melihat Azam yang meletakkan jari telunjuk di mulutnya, meminta agar Ana tidak memberi tahu Silvi tentang keberadaan dirinya.


Tentu saja Ana setuju dengan permintaan Azam. Menurut Ana, Silvi harus diberi palajaran sesekali. Sikapnya yang sombong tentu saja sering membuat orang lain tidak suka. Apalagi Silvi sangat suka bergosip, seperti yang dia lakukan saat ini. Pantas saja dia terpilih menjadi salah satu pembawa acara gosip di televisi.


"Apa lagi kalau bukan pelet dan sejenisnya." jawab Silvi.


"Nadya itu wanita beriman, mana mungkin dia melakukan hal syirik seperti itu. Kalau kamu..." Ana menjeda sesaat ucapannya, "Mungkin iya." lanjutnya membalas jawaban Silvi.


"Aku?" tunjuk Silvi pada dirinya sendiri, "Aku tidak perlu melakukan hal semacam itu. Aku cantik, dan juga terkenal. Kalau aku mau, tinggal aku dekati saja Reno. Dia pasti tidak akan berpaling lagi." jawab Silvi menyombongkan diri.


"Itu cara berpakaian yang benar Silvi. Bukan kayak kamu sekarang, pakai tanktop dan celana pendek kemana-mana." ujar Ana membalas hinaan Silvi pada Nadya.


"Tapi aku tidak menjual tubuhku seperti yang Nadya lakukan pada Reno. Aku dengar saat itu dia sedang butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit nenek Rosa. Dia menjual diri." jawab Silvi.


"Astagfirullahal'adzim Silvi. Jangan suka membuat fitnah." ucap Ana mengingatkan, "Mana ada Nadya seperti itu." ucapnya lagi.


"Tidak percaya? Aku punya buktinya." balas Silvi.


"Bukti seperti apa yang Lo punya?" Azam yang sudah tidak bisa bersabar lagi segera menyahuti.


"Tunjukan ke Gue. Katakan orang yang memberitahu kamu berita ini untuk menghadapi Azam. Berani-beraninya dia menyebar fitnah tentang kakakku." ucap Azam lagi.


"Nggak usah sok Lo anak kecil." balas Silvi. "Baru juga diakui anak lagi sama om Surya udah sombong. Dasar anak orang miskin tetap aja kelakuannya miskin. Ya iyalah, ibunya aja anak panti asuhan." ucap Silvi lagi menghina Azam.

__ADS_1


Bagaikan luka disirami garam, tanpa memandang gender Azam yang tersulut emosi bersiap melayangkan tinjunya pada Silvi. Namun tangannya tertahan oleh tangan kekar lainnya.


"Jangan gunakan kekerasan Azam." ucap Reno mencegah Azam.


Bisa runyam urusanya kalau Azam sampai memukul Silvi. Wanita penuh drama itu pasti akan berkoar-koar ke media sosial dan berita infotainment tentang dirinya yang mengalami kekerasan.


Untung saja Reno datang tepat waktu. Meski dia juga marah dengan perkataan Silvi yang menghina Nadya dan Azam. Namun Reno masih bisa berpikir baik dan buruk setiap tindakannya.


"Dia menghina mbak Dia dan ibu." sahut Azam.


"Iya, Mas dengar tapi jangan pakai kekerasan. Kamu sendiri nanti yang rugi." balas Reno.


"Mas Reno benar Zam. Sabar, kita beri pelajaran dengan cara yang lain." ucap Ana menimpali, agar Azam tenang dan menahan emosinya.


"Azam nggak terima Mbak." ucap Azam lagi.


"Iya, Mbak Ana ngerti. Tapi kamu yang sabar." jawab Ana.


"Kamu!" ucap Reno pada Silvi dengan tatapan tajam, "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dirumah ini?"


"Memangnya dia kenapa Mas?" tanya Azam.


"Nuri, katakan apa yang kamu temukan." ucap Reno.


"Baik Mas." jawab Nuri.


"Aku melihat Mbak ini masuk ke kamar mbak Dya, dia meletakkan sesuatu dikamar itu dan juga di pakaian milik Mas Reno." jawab Nuri.


"Jangan fitnah kamu!" sahut Silvi.


"Ini buktinya Mas Azam." ucap Nuri memberikan ponselnya pada Azam.


Tadi saat di dapur Nuri melihat kehadiran Reno disana. Langsung saja Nuri menunjukkan hasil rekamannya tanpa banyak bicara.


Tadinya Reno akan membicarakan masalah ini besok. Tapi ternyata, Silvi sedang mencari gara-gara dengan Azam.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2