
Mendengar kabar dari Reno tentang Nadya yang jatuh lalu tidak sadarkan diri membuat Dina ingin marah besar pada putranya itu. Dina yang baru beberapa saat yang lalu tiba di kediamannya pun bergegas kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Nadya, menantu kesayangannya.
Bagi Dina, hanya Nadya yang dia anggap menantu. Bukan tanpa sebab, selama ini Marisa tidak pernah berhubungan baik dengannya. Menyapa sekadarnya saja, tidak pernah berbagi berita apa lagi untuk berbagi cerita. Tentu saja tidak pernah, karena Marisa selalu beralasan sibuk dengan pekerjaannya sebagai model.
Bersama Nadya, Dina bisa berbagi berita dan berbagi cerita. Apa lagi jika itu cerita masa lalu, masa bersama sahabatnya. Nadya sama seperti ibunya, mampu mengerti dan mengimbangi suasana hati Dina saat ngobrol dan berbagi cerita. Hal itu tentu saja membuat Dina nyaman dan mampu membuat mereka sudah seperti ibu dan anak dalam waktu sekejap.
Tiba di rumah sakit, Dina sesegera masuk keruangan Nadya. Benar saja, Dina langsung memarahi Reno begitu dia melihat sang putra yang duduk disamping menantunya.
"Reno! Kamu apakan putri kesayangan Mama sampai tidak sadarkan diri?" ucap Dina kesal pada putra semata wayangnya.
Sementara itu yang di marah hanya tersenyum simpul meski sempat terkejut dengan kemarahan sang mama. Reno segera berdiri, turun dari ranjang dimana Nadya harusnya berbaring.
"Bukankah sudah Mama katakan, selesai pesta istirahat jangan yang macam-macam." ucap Dina lagi, rupanya dia semakin kesal dengan Reno yang diam dan hanya tersenyum simpul.
"Nggak macam-macam kok Ma, hanya satu macam." jawab Reno sambil mengedipkan sebelah matanya. Melihat itu Dina semakin kesal pada putranya itu.
"Mama datang mau marah-marah apa mau lihat kondisi putri Mama." tegur Haris agar istrinya berhenti melayani Reno yang dia tahu sedang menggoda mamanya itu.
"Mama lupa Pa." sahut Dina teguran suaminya.
"Kamu kenapa sayang? Pusing? atau suami kamu itu membuat kamu kekelahan?" tanya Dina beruntun setelah dia berdiri disisi tempat tidur.
Nadya menggeleng lalu tersenyum melihat kekhawatiran mama mertuanya. Sungguh Nadya merasa kembali menemukan sosok ibu yang dia rindukan, sangat dia rindukan. Rindu pelukannya, rindu belaian tangan lembut ibunya, rindu suaranya yang lembut yang mampu menenangkan Nadya dikala gundah, dan rindu semua yang ada didiri wanita yang telah melahirkanya.
'Bunda bahagia, kan Bun?' Nadya merasa sang bunda saat ini ada bersamanya dan melihat bagaimana putrinya ini disayangi oleh sahabat bundanya.
Tanpa Nadya sadari, air matanya mengalir. Air mata bahagia, bahagia dengan kabar kehamilanya. Nadya ingin tahu bagaimana reaksi mama mertuanya jika mendengar kabar kehamilannya.
"Eh sayang, kenapa menangis?" tanya mama Dina sambil mengusap pipi sang mantu.
"Dya terharu, Mama lebih membela Dya dari pada mas Reno." jawab Nadya.
"Tentu saja Mama akan membela kamu, karena Mama tahu suami kamu itu seperti apa? Dia itu arogan, suka memaksa." sahut mama Dina.
"Jadi benar kamu sakit karena perbuatan suami kamu?" ujar mama Dina.
Mama Dina bicara pada Nadya, tapi matanya menatap tajam pada sang putra. Yang ditatap malah terlihat santai-santai saja, tidak takut dengan tatapan mengerikan itu. Wajahnya bahkan menunjukan senyum lebar.
__ADS_1
Nadya mengangguk, "Dya pingsan karena perbuatan mas Reno, Ma." adunya.
"Reno!"
"Tapi perbuatan Reno kali ini buat Mama bahagia." sahut Reno.
"Buat bahagia gimana, lah ini harus dirawat begini kabar bahagianya apa?" balas mama Dina.
"Bahagianya ini Ma." Nadya memindahkan tangan mama Dina yang memegang tangannya ke perut.
"Ini? Kamu hamil?" ucap mama Dina tidak percaya.
Nadya mengangguk, "Iya, Mama mau jadi Oma."
Mama Dina langsung memeluk Nadya dan menciumi menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Doanya selama ini dikabulkan oleh Tuhan, apa lagi wanita yang akan memberikannya cucu adalah Nadya, putri sahabatnya.
"Widya, kita mau punya cucu. Kamu juga bahagia, kan." gumam mama Dina lirih. Meski lirih namun masih terdengar oleh Nadya.
Tidak hanya mama Dina, papa Haris pun ikut meneteskan air mata terharu. Dia akan memiliki cucu, penerus keluarganya. 'Berarti selama ini dugaan ku benar, Marisa yang tidak mau hamil.' pikir papa Haris.
Jika Nadya sedang berbahagia, tidak dengan Marisa dan Wulan. Selain berita mereka yang terus beredar di dunia maya, keduanya juga harus menghadapi hukuman yang harus mereka terima.
Surya hanya diam, dia sulit mengekspresikan hatinya untuk Marisa. Sungguh Surya tidak bisa mengerti apa yang dia rasakan saat ini pada Marisa. Terkadang Surya berpikir, mengapa sifat baik didirinya tidak ada sedikitpun dimiliki putri pertamanya itu?
Bahkan sangat jauh berbeda dengan Nadya yang memiliki hati lembut dan tidak suka menyakiti orang lain.
"Pa tolong. Maafkan Risa, Pa." cicit Marisa lagi.
Surya menatap putrinya, hatinya kini dalam dilema. Di satu sisi dia tidak ingin Marisa berada didalam jeruji besi, di sisi lain dia juga tidak membenarkan perbuatan Marisa yang mencelakai adiknya sendiri.
"Risa minta maaf, Pa. Risa dipaksa mama, Pa. Risa terpaksa mengikuti keinginan mama." ucap Marisa lirih.
Surya menatap sendu putrinya kali ini, sungguh dia kasihan pada putrinya harus mengalami ini semua akibat ulah sang ibu. Jika pada Marisa, Surya masih ada rasa kasihan. Tidak untuk Wulan. Surya benar-benar membenci wanita itu yang tega membunuh istrinya agar Surya mau kembali dan menikahinya.
Azam mendecih dalam hati, merasa jijik dengan akting yang dilakukan Marisa. Ayahnya mungkin masih bisa di bohongi, tapi tidak bagi Azam. Sedikit banyaknya Azam mulai memahami ilmu mikro ekspresi meski belum seahli dosen pembimbingnya.
Azam membaca ekspresi Marisa tidak sunguh-sungguh meminta maaf, wajah dan ucapannya sungguh tidak selaras. Beruntunglah sang ayah tidak berkata apa-apa pada Marisa, membuat Azam cukup lega. Azam tahu ayahnya sedang dalam pilihan yang berat.
__ADS_1
Mengingat kejadian itu Azam baru ingat, sekarang ayahnya di kantor polisi tanpa dirinya. Tanpa menunggu lama, Azam segera menghubungi Surya, menanyakan dimana keberadaan sang ayah.
"Assalamualaikum Yah." sapa Azam mengucap salam begitu panggilannya terhubung.
"Waalaikumsalam. Ada apa Zam? Apa ada masalah dengan kesehatan nenek?" sahut Surya dari seberang sana dengan tenang.
"Ayah dimana sekarang? Masih di kantor polisi?" tanya Azam.
"Ayah di parkiran rumah sakit."
Azam bernafas lega, ayahnya sudah kembali. Itu berarti ayahnya tidak terlalu lama berada di sana.
"Ada apa Zam?" tanya Surya karena tidak ada jawaban dari Azam.
"Segeralah masuk Yah. Mbak Dya juga dirawat disini." jawab Azam.
"Dya?"
Surya segera mempercepat langkahnya untuk menemui Azam, dia ingin tahu apa yang terjadi dengan putri keduanya. Sungguh Surya merasa saat ini dia sedang di uji untuk membayar dosanya yang telah menelantarkan Ibu dan anaknya meski tanpa sengaja. Ini semua karena manipulasi Wulan dan bodohnya dia percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu.
"Putrimu masih marah Mas, ibu kamu juga. Dia tidak mau bertemu aku apa lagi kamu." ucap Wulan kala itu.
Surya percaya dengan apa yang dikatakan Wulan, sikap Nadya yang tidak suka dan selalu menghindar jika bertemu memperkuat apa yang diucapkan Wulan. Sungguh Surya tidak mengira jika apa yang dia pikirkan salah. Nadya bukan marah karena dia menikah lagi dengan Wulan, tapi karena putrinya itu merasa diabaikan. Wulan benar-benar telah membohonginya memperdaya dirinya sejauh itu.
"Kakak kamu dirawat dimana?" tanya Surya begitu melihat Azam duduk di bangku yang ada di lorong rumah sakit.
Azam mendongak, melihat sosok tampan yang memiliki wajah yang sama dengannya.
"Ayah temui saja langsung. Mbak Dya ada di kamar itu." tunjuk Azam kamar dimana Nadya bersama Reno dan kedua orang tua Reno berada.
Surya mengikuti arah telunjuk Azam mengarah. Dia pun segera melangkah untuk mendekati kamar itu. Namun baru beberapa langkah, tampak dokter dan perawat berlari dan masuk kekamar dimana nenek Rosa dirawat.
"Ibu."
"Nenek."
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua...