
Merasa tubuhnya ditarik seseorang, Reno berusaha untuk melawan. Nadya dalam bahaya, dia harus bisa menyelamatkan istrinya. Itulah yang Reno pikirkan sejak Yuda menutup panggilan teleponnya.
"Ssttt tenang bos, ini gue." bisik Yuda, setelah asisten Reno itu berhasil membawa Reno menjauh dari lift.
"Kenapa gue harus disekap dan ditarik kasar seperti tadi?" tanya Reno kesal sambil merapikan pakaiannya.
"Sengaja, biar seperti yang mereka rencanakan. Gue berperan sebagai pemeran pengganti orang suruhan mereka." jawab Yuda sambil terkekeh.
"Mereka siapa?" tanya Reno sambil menunjuk pada dua orang pria bertubuh besar yang terkapar tidak sadarkan diri.
"Mereka orang suruhan Aditya Pak." Didu yang menjawab
Yuda memang tidak sendiri, ada Didu yang menemani asisten Reno itu dalam aksinya dan juga orang-orang kepercayaan Haris yang selama ini tetap setia pada keluarga Bagaskara. Yuda sengaja menarik Reno dan membawa suami Nadya itu masuk kekamar hotel yang tidak jauh dari lift. Kamar yang disewa musuh mereka untuk menyekap Reno.
"Aditya Adhitama." gumam Reno.
Pria itu sebaya dengan Reno, dia pewaris tunggal dari perusahaan Adhitama. Sejak kakek mereka yang menjalankan perusahaan, Adhitama memang tidak pernah sejalan dengan Bagaskara. Tepatnya Adhitama selalu ingin bersaing dengan Bagaskara.
"Jadi ini ulah musuh bebuyutan kita." ucap Reno.
"Dimana Istriku?" tanya Reno cemas.
"Tidak usah takut, nyonya Reno Bagaskara ada di tempat yang aman." jawab Yuda.
"Aku ingin menemuinya." ujar Reno.
"Sabar Bos, belum waktunya. Kita selesaikan dulu urusan kita dengan Aditya." sahut Yuda.
Sementara itu, disebuah kamar hotel yang mewah, seorang wanita duduk dengan tangan dan kaki yang terikat. Dia baru saja sadar dari tidak sadarkan diri karena obat bius, tapi wajahnya tampak tenang meski musuh saat ini bisa saja menyerangnya.
"Dia cukup cantik." ucap pria tampan itu melirik pada tawanannya.
"Bagaimana suaminya, apa sudah kalian amankan? Aku tidak ingin diganggu saat aku menikmati tubuh istrinya."
"Sudah Bos, dia sudah kami tahan di kamar lantai lima." jawab salah satu anak buah laki-laki itu."
"Bagus, setelah aku urus istrinya aku akan mengurus pria bodoh itu." ucap pria tampan itu lalu tertawa dengan keras memenuhi seluruh kamar hotel.
Para pengawal pria itu keluar kamar tanpa diperintah, mereka tahu bosnya akan bersenang-senang dengan tawanan mereka.
Pria itu berjalan mendekati wanita yang sejak tadi tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
"Kamu tidak takut denganku ?" tanya pria itu pelan tapi penuh penekanan.
Wanita itu menggeleng, "Untuk apa takut. Anda tampan bagaimana aku takut, yang ada aku mengagumi ketampanan anda." jawab wanita itu.
"Benarkah, kamu mengagumi ketampananku?" tanya laki-laki itu lalu kembali tertawa.
__ADS_1
"Ya, aku bisa membayangkan tubuhmu yang indah di balik kemeja itu." sahut wanita itu.
"Aku suka wanita jujur sepertimu." ucap pria itu tertawa senang.
"Apa kamu ingin melihatnya?" tanya sambil menatap penuh hasrat pada wanita dihadapannya.
"Jika diizinkan, mengapa tidak." jawab wanita itu masih dengan ketenangannya.
"Aku akan izinkan, tapi aku juga ingin melihat seluruh tubuhmu itu, sayang." ucap pria itu lagi, kali ini sambil berbisik di telinga wanita tawananya.
Tubuh wanita itu merinding, rasa takut mulai merasuki raganya tapi dia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya. Dia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya, membuat pria tampan dihadapannya ini tidak sadarkan diri.
Pria itu mengusap lembut wajah wanitanya, lalu menelan salivanya saat matanya tertuju pada bibir merah yang sedikit terbuka.
Tidak bisa menahan keinginanya, pria itu menautkan bibirnya, tidak disangka wanita tawananya membalas dan mereka beradu saling menyecap hingga mereka sama-sama kehabisan nafas.
"Lepaskan tangan dan kakiku, aku akan melayani dengan senang hati." bisik wanita itu dengan sangat meyakinkan sambil mengatur nafasnya.
"Benarkah?" tanya pria itu tidak percaya.
"Aku menginginkan kamu, sayang." bisik wanita itu dengan manja.
Tidak ingin melewatkan penawaran yang diberikan wanitanya, pria itu melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kaki wanita itu tanpa melepaskan ciumannya. Wanita tawanan itu bersikap seolah-olah dia benar-benar berhasrat pada prianya hinga pria itu lengah dan akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku." lapor Jane pada Didu.
"Jane sudah berhasil melumpuhkan Aditya." ucap Didu memberitahu Yuda.
"Kita masuk." ajak Yuda.
Mendengar ada yang membuka pintu, Nadya langsung berdiri dari sofa yang ada dikamar hotel tempat dia berada saat ini.
"Mas Reno." panggil Nadya mendekati suaminya begitu melihat Reno yang masuk.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Reno sambil menarik Nadya masuk kedalam pelukannya.
Nadya mengangguk, "Dya baik-baik aja Mas." jawab Nadya.
"Mengapa Mas Reno lama sekali menemui Dya disini." Nadya yang tidak tahu apa-apa bertanya.
Sebelum pamit pada Reno, Nadya mendapat pesan dari Didu. Laki-laki itu mengatakan istrinya ingin bertemu, saat itu Didu dan istrinya berada di hotel yang sama dimana acara malam amal diadakan.
Nadya pamit pada Reno lalu menuju toilet dimana istri Didu berada. Karena itu, Nadya tidak mau Reno mengantarnya. Tiba di toilet, Nadya tidak menemukan istri Didu melainkan seorang wanita yang tidak Nadya kenal. Wanita itu mengenakan pakaian yang sama persis dengan yang Nadya kenakan.
"Siapa kamu?" tanya Nadya terkejut.
"Aku Jane, Mbak. Teman istri Didu." jawab Jane.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu memakai pakaian yang sama sepertiku?"
"Ceritanya panjang Mbak, biar Didu yang menjelaskan." jawab Jane.
Didu kembali mengirimkan pesan pada Nadya, pria itu meminta Nadya untuk tetap diam di toilet sampai Didu atau Yuda datang menjemput dan membiarkan Jane yang keluar dari toilet.
Jane keluar dari toilet, lalu terdengar suara Jane meminta tolong. Nadya mencoba mengintip, dia melihat Jane di bekap seseorang lalu tidak sadarkan diri.
Melihat Jane tidak sadarkan diri dan dibawa pergi oleh dua pria bertubuh besar, Nadya langsung mengirim pesan untuk memberitahu Didu.
Nadya, [Du, Jane ada yang memberinya obat, sepertinya obat bius.]
Didu, [Tidak usah takut, dia akan baik-baik saja. Sebentar lagi pak Yuda akan menjemput kamu, Nad.]
Nadya tidak membalas pesan Didu, dia memilih untuk diam dan menunggu sampai Yuda menjemputnya, seperti yang dikatakan Didu.
Menunggu selama sepuluh menit, seseorang mengetuk pintu toilet. "Nadya ini gue, Yuda." ucap Yuda membuat Naya menarik nafas lega.
Nadya keluar dari toilet lalu dibawa Yuda untuk menunggu di sebuah kamar hotel.
"Istirahat disini saja dulu, nanti Reno akan datang menemuimu." ucap Yuda sambil berlalu pergi.
"Ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu sayang." jawab Reno.
"Apa yang terjadi sebenarnya Mas?" tanya Nadya penasaran.
"Bukan apa-apa, hanya persaingan bisnis saja." jawab Reno.
Sementara itu diluar hotel, Marisa dan Wulan sedang diwawancarai para wartawan.
"Dia memang anak suami saya, tapi bukan anak saya. Putri saya hanya Marisa, dia itu putri dari simpanan suami saya. Seperti ibunya yang merebut suami saya, dia juga merebut Reno dari putri saya." ucap Wulan menjawab pertanyan wartawan.
"Saya dicampakkan kekasih saya dan papa menceraikan mama saya karena hasutan adik tiri saya itu." Marisa menjelaskan pada wartawan.
Reno segera mematikan televisi begitu Nadya keluar dari kamar mandi. Reno tidak ingin Nadya mendengarkan apa yang diucapkan Marisa dan Wulan.
Reno meraih ponselnya, lalu menghubungi Yuda, "Dimana?" tanya Reno.
"Ada dibawah, memantau keheboan yang dibuat ibu dan anak itu." jawab Yuda.
"Jika ditanya tidak perlu banyak bicara, tunjukkan saja buktinya." ucap Reno.
"Ingin bermain-main dengan Reno Bagaskara rupanya." gumam Reno sambil mengepalkan tangannya.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1