MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 55. Ditangkap


__ADS_3

Baru saja akan istirahat, ponsel milik Nadya berbunyi. Tertera nomor milik Naira yang menghubunginya lewat panggilan video, "Halo Nadya." sapa Naira senang dari seberang sana begitu panggilanya diterima oleh Nadya.


"Oh... hai Naira." balas Nadya, mencoba ramah seperti biasanya. Mengulas senyum yang biasanya tulus karena Nadya tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain, menganggap semua orang seperti dirinya. Tapi senyum tulus Nadya kali ini menguak berubah menjadi senyum tipis hanya untuk bersandiwara jika dia baik-baik saja menerima panggilan dari Naira yang sebenarnya terpaksa dia lakukan.


"Coba tebak aku dimana sekarang?" ucap Naira dengan senyum yang sumringah. Merasa yakin sudah menjadi orang yang istimewah bagi Anjas kali ini.


Nadya tentu saja mengenali pemandangan yang ada disekitar Naira saat ini. Itu pemandangan yang ada disekitaran vila milik nenek Anjas. Vila yang sekarang menjadi milik sahabatnya itu, setelah sang nenek telah tiada. Nadya sangat paham tempat itu, tempat yang banyak menyimpan cerita antara, dia dan oma Anjas.


Pura-pura tidak tahu tempat yang Naira pamerkan padanya saat ini, Nadya mengedikkan kedua bahunya, 'Cari aman.' pikir Nadya.


"Aku tidak bisa menebak." jawab Nadya sekenanya.


Jangan sampai Naira tahu jika dia sering ketempat itu bersama Anjas dan omanya. Pasalnya tidak ada yang tahu nenek Anjas memiliki vila itu, kecuali dirinya dan Anjas serta beberapa orang kepercayaan oma Anjas yang menjaga dan merawat vila tersebut.


Tapi mengapa Anjas berani membawa Naira kesana sekarang? Ada banyak pertanyaan, pasalnya Anjas melanggar janji pada sang oma karena telah berani membawa Naira ketempat itu.


"Atau..." Nadya teringat percakapan Reno dan Yuda ditelepon yang dia curi dengar, "Mungkinkah?" gumam Nadya.


"Kamu tahu, Anjas membawa aku ke vila pribadinya." ucap Naira bangga.


Ucapan Naira menarik Nadya yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Mengerjapkan mata, Nadya berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Anjas punya vila pribadi? Sejak kapan?" tanya Nadya agar tidak terlihat melamun dan melengkapi kesempurnaan sandiwara yang sedang dia lakoni sekarang.


"Entahlah, aku tidak bertanya karena terlalu senang diajak ke vila ini. Mungkin sudah lama, karena menurut Anjas beberapa kali dia ingin mengajakku tapi aku selalu saja menentukan tempat dimana kami akan berkencan." jawab Naira.


"Mungkin juga baru." seru Nadya, "Sepertinya kamu orang pertama yang dia bawa ke vila pribadinya." ucap Nadya yang membuat Naira semakin yakin dan percaya diri.


"Sepertinya begitu. Coba saja aku tahu sejak dulu, aku bisa ajak kamu kesini." ujar Naira.


Nadya hanya tersenyum tipis menanggapi apa yang Naira katakan. Jika saja Naira tahu alasan Anjas membawanya ketempat itu, apa Naira akan sebahagia ini.


"Biarkan dia menikmati kebahagiaanya sebelum dia menikmati dinginnya lantai penjara.

__ADS_1


Nadya tersenyum lebar saat Reno mau mendengarkan permintaannya. Dia yang sempat mencuri dengar percakapan Reno dan Yuda yang menyebut nama Anjas dan wanita itu yang Nadya tebak adalah Naira, akhirnya mau menceritakan apa yang terjadi.


Sebuah kenyataan ternyata Naira adalah dalang dari penyebab keracunan yang dialami nenek Rosa. Awalnya dia tidak percaya, tapi setelah Reno menjelaskan, Nadya akhirnya mengerti.


Sungguh dia tidak menyangka, Naira sumber derita yang dia dapati selama ini hanya karena salah faham.


Nadya jadi mengingat sosok Irfan, pria itu dia kenal sudah sangat lama dan tidak ada kabar beritanya. Hanya Leo pernah satu kali bertanya dan memberitahu jika pria itu telah pergi untuk selama-lamanya.


Sungguh dunia terasa sempit, siapa sangka pria yang pernah menyatakan perasaanya pada Nadya itu ternyata sahabat Naira. Rasanya Nadya tidak percaya jika Irfan bukan hanya sahabat tapi pria yang Naira cintai sebenarnya.


Menggelengkan kepala, Nadya tidak bisa berkata apa-apa setelah Reno memberitahunya. Ada perasaan benci, marah dan juga kasihan menjadi satu.


Reno pergi bersama Azam setelah menjelaskan padanya tentang Naira. Sekarang suami dan adiknya tengah berada di kantor polisi bertemu Yuda dan ayahnya disana.


"Nadya!" panggil Naira.


Nadya tersentak, lupa jika dia masih terhubung dengan Naira.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kepikiran mas Reno yang belum pulang ?" jawab Nadya asal.


"Lo tuh ya, lagi ngobrol sama gue yang diinget laki." rutuk Naira kesal.


"Maaf, tiba-tiba keingat aja." sahut Nadya.


"Ya udah gue mau cari Anjas." balas Naira, "Jangan cemburu ya Nad, aku yang dibawa kesini pertama kali." ucap Naira lagi melanjutkan perkataannya yang tentu saja untuk memanasi Nadya.


"Kenapa harus cemburu? Wajar kan, kamu yang dibawa? Kamu itu tunagannya, calon istrinya Anjas. Jadi harus kamu jadi yang pertama, bukannya selalu seperti itu?" jawab Nadya.


Naira tertawa senang, apa yang dikatakan Nadya benar tapi rasa bencinya pada istri Reno itu membuatnya selau ingin merendahkan Nadya walau ada kalanya dia meninggikan orang yang dia anggap menyebabkan kematian Irfan.


Nadya mengehela nafas lega setelah panggilan videonya dengan Naira berakhir. Tangannya mengelus perut yang masih rata tapi sudah terasa kencang.


"Bunda harap kedepannya semua akan baik-baik saja sayang." ucap Nadya bicara pada sang buah hati untuk melepas gundah yang dia rasakan.

__ADS_1


Sementara itu, Naira tidak bisa menemukan keberadaan Anjas di vila yang baru saja dia pamerkan pada Nadya. Setiap sudut, dia tidak menemukan keberadaan tunangannya itu.


Merasa sia-sia mencari Anjas di vila yang sebesar ini, Naira memilih untuk menunggu pria itu diruang tengah. Baru saja dia menjatuhkan tubuhnya di sofa, suara derap langkah terdengar.


"An...."


Naira tidak dapat melanjutkan ucapannya yang akan memanggil nama Anjas saat melihat sosok yang mendekatinya adalah petugas kepolisian.


"Anda kami tangkap!" ucap salah satu anggota polisi yang posisinya sangat dekat dengan Naira.


"Ditangkap? Memangnya saya salah apa?" tanya Naira tidak terima.


"Sebaiknya anda diam dan bicarakan semuanya nanti setelah dikantor polisi." ucap salah satu polisi yang lainnya lagi.


"Tunggu! Saya ingin bicara dengan tunagan saya." ucap Naira.


"Tidak ada orang di vila ini." sahut polisi yang bicara pertamakali dengan Naira.


Tanpa tahu kasus apa yang dituduhkan padanya, Naira masuk kedalam mobil polisi. Dia mengedarkan mata melihat sekeliling, tampak mobil Anjas masih berada disana, tapi kemana pria itu berada.


Tanpa Naira sadari, Anjas melihat Naira dari roof top yang ada di vila ini. Dia sengaja bersembunyi diatas sana. Naira tidak akan bisa menemukannya karena tangga menuju rooftop cukup tersembunyi. Setelah kendaraan milik polisi itu menjauh, baru Anjas akan turun dan menemui orang tuanya untuk memutuskan pertunangan dengan Naira.


Mengukir senyum, ada perasaan lega yang Anjas rasakan. Meski tidak bisa bersama Nadya, tapi terbebas dari Naira jauh lebih membuatnya bahagia.


"Oma, aku tahu semua ini karena ada doa yang oma kirimkan untuk ku." ucap Anjas menatap foto sang nenek.


"Semoga setelah ini aku akan menemukan wanita baik seperti cucu kesayangan oma, Nadya." ucap Anjas lagi.


Setelah puas melepas kerinduan pada sang nenek, Anjas meninggalkan vila miliknya. Membelah jalanan menuju kediaman orang tuanya.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...

__ADS_1


__ADS_2