
"Kev." panggil Marisa pada Kevin begitu dia masuk ke dalam kamar yang ditempati Kevin.
"Hemm." Kevin menjawab panggilan Marisa dengan malas.
"Bangun, kita sarapan." ucap Marisa.
Kevin membuka selimut yang menutupi wajahnya, "Sarapan yang mana nih?" tanya Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya sarapan, makan makanan yang disiapkan Ijah." jawab Marisa.
"Nanti saja kalau sarapan yang itu, aku masih ingin tidur." sahut Kevin.
"Aku tidak mengganggu tidur kamu tadi malam, mengapa jam segini masih mau tidur?" tanya Marisa heran. Kevin tipe orang yang rajin bangun pagi untuk olah raga.
"Karena itu, tidak ada kamu aku jadi tidak bisa tidur." jawab Kevin dengan nada kesal.
Marisa tertawa mendengar jawaban Kevin. Hanya sebentar, karena tawanya langsung hilang begitu mengingat Reno yang tidak masuk ke kamarnya.
"Ada apa?" tanya Kevin begitu melihat Marisa yang langsung diam setelah menertawakanya.
"Apa Reno tidak tidur di kamarmu?" tanya Kevin lagi.
Marisa mengganggukkan kepalanya, "Sejak kemarin bertemu di meja makan, sikap Reno berubah padaku." ucap Marisa sambil ikut berbaring disamping Kevin.
"Biasanya dia langsung memeluk dan menciumku, tapi kemarin...."
"Mungkin Reno menjaga perasaan Nadya. Bagaimanapun saudari tiri kamu itu adalah istrinya." ucap Kevin memotong ucapan Marisa.
"Kamu membela Reno." sahut Marisa.
"Aku bicara dari sudut pandang laki-laki." jawab Kevin sambil mencium bibir Marisa.
"Kevin, aku sedang kesal." ucap Marisa mendorong Kevin agar menjauhkan wajahnya.
Marisa kesal karena Reno tidak mendatanginya, dia sudah menyiapkan diri untuk bercinta dengan Reno. Tapi, lagi dan lagi Marisa harus kecewa dengan Reno, karena laki-laki itu sering mengabaikannya.
Kevin menghiraukan permintaan Marisa, dia kembali menciumi istri pertama Reno itu. "Aku mau sarapan, sayang." ucap Kevin berbisik di telinga Marisa.
Marisa tidak menolak cumbuan yang dilakukan Kevin, hasrat bercintanya yang semalam gagal kini bangkit kembali. Kevin selalu tahu apa yang Marisa inginkan. Tidak peduli mereka berada dimana, dua insan itu melakukan dosa yang biasa mereka lakukan.
Masih dengan nafas yang tidak beraturan setelah menuntaskan hasratnya, Marisa bertanya pada Kevin. "Menurut kamu, apa Reno sudah melakukannya dengan Nadya?"
"Bukankah itu yang kamu inginkan?" Kevin balik bertanya.
"Iya, aku ingin dia segera hamil lalu melahirkan. Dengan begitu aku bisa punya anak dari Reno dan Anjas akan sangat kecewa lalu membenci Nadya." jawab Marisa.
"Jadi semua ini karena laki-laki itu sampai-sampai kamu memanfaatkan kesulitan Nadya jadi ibu pengganti. Aku pikir semua karena dia adik tiri kamu." ucap Kevin kesal. Marisa masih saja menyimpan dendam karena cintanya pernah ditolak Anjas.
"Dua-duanya, aku benci dia karena menjadi saudaraku dan aku juga tidak bisa melupakan sakit hatiku pada Anjas yang menolakku karena dia mencintai Nadya." jawab Marisa.
"Itu bukan salah Nadya, Marisa. Dia tidak pernah tahu kalau kamu mencintai Anjas dan dia juga tidak tahu kalau kamu adalah saudara tirinya. Dan dia juga tidak tahu kalau kamu menjebak dan membohonginya dengan memaksanya mengandung anak Reno." ucap Kevin mengingatkan Marisa yang sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Kevin kamu dipihak aku atau mereka?" tanya Marisa meminta Kevin memilih.
"Aku dipihak kamu, tapi aku kasihan dengan Nadya." jawab Kevin.
Marisa tidak suka dengan jawaban kevin, karena dia tahu Kevin juga menyukai Nadya. Laki-laki itu bahkan memberitahunya disaat mereka bercinta.
"Ada apa dengan kalian semua, apa yang menarik dari wanita seperti Nadya." gumam Marisa sambil turun dari tempat tidur.
Kevin terkekeh mendengar gunaman Marisa sambil memperhatikan wanita itu mengenakan pakaiannya.
"Karena dia cantik dan hatinya baik." ucap Kevin menjawab gumaman Marisa.
Marisa sudah terlihat duduk santai di pinggir kolam berenang saat Nadya menemuinya.
"Sudah selesai berenangnya Mbak?" tanya Nadya hanya sekedar basa basi.
Dia terpaksa menunggu Nadya selesai olah raga paginya bersama Kevin. Ada hal yang ingin Nadya bicarakan pada Marisa menyangkut kesepakatannya menjadi ibu pengganti.
"Nadya, kamu dirumah." ucap Marisa terkejut melihat kehadiran Nadya.
"Aku libur kerja hari ini." jawab Nadya.
"Kebetulan sekali, ada yang ingin aku bicarakan." jawab Marisa.
"Aku juga ingin bicara dengan Mbak Risa." balas Nadya.
"Duduklah." ucap Marisa sambil menunjuk kursi yang ada dihadapannya.
"Besok pagi aku ada pekerjaan, nggak jauh sih hanya dikota sebelah, tapi tetap saja nggak bisa pulang pergi." ucap Marisa lagi untuk menjelaskan kegiatannya.
"Maksud Mbak, Mbak Risa mau keluar kota lagi?" tanya Nadya.
Sebenarnya Nadya terkejut dengan ucapan Marisa yang memberitahunya akan pergi lagi, membuat dia semakin penasaran dengan rumah tangga yang dijalani Reno dan Marisa. Apa lagi telinganya tadi tercemar oleh suara Marisa dan Kevin.
"Sebenarnya aku ingin istirahat dulu beberapa hari di rumah, tapi sayang kalau tawaran ini aku tolak. Kontraknya lumayan besar." jawab Marisa.
"Aku juga ingin memberi waktu untuk kamu dan Reno. Kalau ada aku di rumah, aku takut Reno tidak mau masuk ke kamar kamu." ucap Marisa sambil terkekeh, dia ingin memberi kesan bahwa Reno semalam menghabiskan waktu bersamanya.
"Mbak tidak masalah aku... dengan mas Reno?" tanya Nadya ingin tahu karena dia tidak percaya dengan ucapan Marisa.
"Demi seorang anak, aku tidak masalah. Aku harap kamu cepat hamil lalu melahirkan. Dengan begitu kehidupan rumah tangga aku dan Reno akan kembali normal tanpa kehadiran kamu lagi."
Ucapan Marisa membuat Nadya kembali tersadar dengan posisinya yang hampir dia lupakan sebagai ibu penganti.
"Oh Nadya, mengapa kamu lupa dengan posisi kamu di rumah ini." rutuk Nadya didalam hati.
Dan bodohnya dia hampir saja mencoba mencampuri urusan rumah tangga Reno dan Marisa karena rasa penasarannya.
"Aku juga berharap yang sama Mbak. Aku juga ingin kembali pada kehidupanku sebelumnya." jawab Nadya.
Marisa tersenyum hatinya menertawakan Nadya yang akan hancur setelah kontrak mereka berakhir.
__ADS_1
"Bagus kalau kamu mengerti dengan maksudku, tapi aku tetap akan selalu mengingatkan posisi kamu di rumah ini." ucap Marisa.
"Aku akan selalu ingat posisiku, Mbak Risa tidak perlu khawatir tentang itu." balas Nadya ucapan Marisa.
Marisa sepertinya menunjukkan aura permusuhan padanya, berbeda dengan saat wanita itu memaksanya untuk jadi ibu pengganti. Nadya tidak tahu apa penyebabnya, tapi Nadya tidak akan membiarkan jika Marisa mengingkari janjinya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan denganku?" tanya marisa.
"Aku mau pamit, hari ini aku libur kerja, dan aku ingin menghabiskan waktuku satu hari ini bersama nenek." ucap Nadya memberitahu Marisa.
Sebenarnya bukan itu yang ingin Nadya bicarakan dengan Marisa, tapi Nadya mengurungkan niatnya mengingat perubahan sikap yang ditunjukkan Marisa.
"Aku sudah pamit dengan mas Reno, dan dia mengizinkan." ucap Nadya lagi.
"Pergilah." jawab Marisa.
"Mbak Nadya, pak Agus sudah sampai." ucap Ijah memberitahu.
"Tunggu." ucap Marisa membuat Nadya menghentikan langkahnya.
"Kamu diantar pak Agus? Mengapa tidak naik kendaraan umum saja." tanya Marisa tidak percaya.
"Mas Reno yang memintanya." jawab Nadya.
Marisa dan Nadya tidak tahu jika apa yang mereka bicarakan dilihat dan didengar oleh seseorang.
Nadya masuk kedalam mobil begitu pak Agus membukakan pintu untuknya.
"Pak lain kali tidak perlu membukakan pintu untuk saya." ucap Nadya.
"Maaf Bu, itu perintah dari bapak." jawab pak Agus.
"Jangan panggil saya ibu, Pak. Bapak tahu saya hanya...."
"Itu juga perintah dari bapak Bu." ucap pak Agus memotong perkataan Nadya.
"Apa maksud kamu dengan semua ini mas Reno?"
Mengabaikan pikirannya tentang Reno, kini Nadya harus mempersiapkan diri untuk menjelaskan pada neneknya yang kecewa dan marah begitu mengetahui Nadya yang telah menikah tanpa memberitahunya. Melihat kemarahan Rosa, Nadya tidak berani memberitahu neneknya jika dia menikah dengan Reno hanya sebagai ibu pengganti.
Nadya memijat kepalanya, dia tidak tahu harus memberi alasan seperti apa agar Rosa tidak lagi marah tentang pernikahannya.
Pak Agus kembali membukakan pintu saat Nadya akan turun dari mobil.
"Terimakasih Pak Agus." ucap Nadya.
"Sama-sama Bu. Ini titipan pak Reno untuk ibu Rosa." jawab pak Agus.
Nadya menerima papper bag yang pak Agus berikan, "Apa lagi ini mas Reno, Mengapa kamu melaukan banyak kejutan akhir-akhir ini." gumam Nadya sambil melangkah masuk kerumah neneknya, rumah yang selama ini menjadi tempat dia berteduh.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua...