MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 6. Malam Pertama


__ADS_3

Sebelum membawa Nadya ke tempat tidur, Reno sempat membuka hijab instan yang melekat di kepala istrinya. Reno tidak menyangka, Nadya jauh lebih cantik dengan rambut tergerai. Hasratnya untuk memasuki Nadya semakin memuncah, Reno langsung mengangkat tubuh istrinya untuk dia baringkan di tempat tidur.


Tidak ingin menunggu lama, selepas membaringkan Nadya ditempat tidur, Reno langsung menyambar dan mengecup bibir istri keduanya itu. Reno tidak tahu jika itu adalah kecupan pertama Nadya membuat tubuh istrinya kaku.


"Manis." ucap Reno setelah mekepaskan tautannya.


Reno tidak memberi kesempatan pada Nadya untuk menolak setiap sentuhan dan ciumannya. Mulai dari bibir, lalu dia turun ke leher. Tangannya dengan lincah membuka pakaian yang masih melekat di tubuh Nadya. Tubuh mulus istrinya yang putih dan bersih semakin menambah gairah Reno yang sudah lama puasa tidak melakukan hubungan intim dengan Marisa.


Melihat wajah Nadya yang meringis kesakitan, Reno baru menyadari jika ini hal baru bagi Nadya. Dia lupa jika istri keduanya ini baru pertama kali melakukannya, tentu saja Nadya merasa tidak nyaman saat miliknya mencoba menerobos masuk kedalam pusat inti milik wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Rasa cemburu Reno mengalahkan akal sehatnya untuk melakukannya dengan lembut, terlebih lagi dia merasakan milik Nadya yang sangat sempit, yang semakin memburu hasrat Reno untuk berlama-lama memasuki istrinya.


Reno tersenyum saat Nadya mulai bisa merasakan dan mengikuti permainannya, suara lenguhan yang keluar dari bibir Nadya semakin membuat Reno bergairah hingga akhirnya dia menuntaskan hasratnya.


Reno menjatuhkan tubuhnya di samping Nadya yang hanya bisa menahan tangis. Nadya tidak menyangka secepat ini dia harus menyerahkan diri pada laki-laki yang baru di kenal.


Tapi Nadya tidak bisa menolak, menerima permintaan Marisa untuk menjadi ibu pengganti membuat Nadya harus siap menjalaninya kapanpun Reno menginginkan dirinya.


Nadya terpaksa membiarkan Reno malam ini menyentuhnya. Jika tidak hari ini, dihari yang berbeda Reno tetap akan menyentuhnya. Bukankah setelah ini Nadya bisa segera mengakhiri perjanjiannya dengan Marisa.


Nadya kembali menangis saat menyadari dirinya yang sudah tidak lagi suci. Jika Kehormatannya telah dia berikan pada laki-laki yang tidak dia cintai tapi berstatus suaminya.


"Semoga kamu cepat hadir disini." gumam Nadya disela tangisnya yang tidak bisa bersuara karena tangan Reno tengah memeluknya erat.


Nadya berharap dia langsug hamil, dengan begitu cukup satu kali saja dia menyerahkan dirinya untuk disentuh Reno. Jika saja pernikahan ini pernikahan normal, Nadya tentu akan bahagia menikmati malam pertamanya.


Nadya tidak tahu jika Reno belum terlelap, dia sengaja memeluk erat Nadya karena dia merasa bersalah memasuki Nadya dengan kasar.


"Maaf." ucap Reno yang hanya dia ucapkan di dalam hati, tanpa ada niatan untuk mengucapkannya langsung pada Nadya.

__ADS_1


Reno tidak ingin Nadya tahu jika dia merasa bersalah telah mengambil kehormatan Nadya dengan paksa. Reno juga takut mengakui jika dia jatuh cinta pada istri keduanya ini.


Satu minggu berlalu.


Hubungan Reno dan Nadya dapat dikatakan baik-baik saja setelah peristiwa malam dimana Reno menyentuhnya, meskipun bisa dikatakan tidak normal untuk sepasang suami istri.


Nadya tetap pergi bekerja seperti biasanya setelah Reno berangkat ke perusahaan dan pulang ke rumah sebelum Reno kembali. Namun, sebelum kembali ke kediaman Reno, Nadya menyepatkan diri untuk mampir menjenguk Rosa seperti janjinya setelah memberi tahu Rosa tentang pernikahannya.


Satu minggu ini, Nadya banyak menghindar saat bertemu Reno. Meskipun dia tetap menyiapkan semua keperluan Reno setiap harinya terutama membuatkan sarapan dan memasak makan malam untuk Reno. Dan saat terpaksa bertemu Reno di meja makan Nadya memilih diam, hanya tangannya saja yang tetap melayani Reno untuk mengambilkan makanan. Seperti saat ini mereka sedang sarapan berdua, tapi Nadya mengunci rapat mulutnya sampai Reno menyelesaikan sarapannya.


"Mbak Ijah, saya berangkat kerja dulu." ucap Nadya pamit pada Ijah.


"Kenapa tidak berangkat sama bapak saja, Mbak?" tanya Ijah heran pada kedua majikannya yang satu minggu ini tidak pernah bicara, tapi Reno selalu bertanya tentang Nadya pada Ijah, begitupun sebaliknya Nadya sering bertanya tentang Reno pada Ijah.


"Tempat kerja kami beda arah Mbak." jawab Nadya memberi alasan. Nadya tidak berbohong, tempat kerjanya dan Reno memang tidak satu arah.


Sepanjang jalan menuju restoran tempat dia bekerja, Nadya memikirkan hubungannya dengan Reno. Nadya tahu apa yang dia lakukan ini adalah salah, tidak mungkin juga dia bisa terus menghindar dan memilih diam seperti satu minggu ini.


"Malam itu karena mbak Marisa tidak ada dirumah Nadya, karena itu dia melampiaskan hasratnya padamu." gumam Nadya.


Nadya merasakan sakit menusuk hatinya saat mengucapkan kalimat itu meski dia bicara dengan dirinya sendiri. Nadya merasa sangat terhina jika benar dia hanya sebagai tempat pelampiasan, apa lagi Reno malam itu terlihat kesal dan marah.


"Tidak mungkin kan mas Reno melaukannya karena dia cemburu pada Anjas, ini pasti karena mas Reno kesal mbak Marisa tidak ada di rumah." pikir Nadya.


Nadya tidak tahu jika diamnya dia selama satu minggu ini membuat Reno merasa bersalah, laki-laki itu sadar malam itu telah berbuat kasar pada Nadya karena kecemburuannya. Rasa cemburu yang tidak pernah ada pada Marisa meskipun istri pertamanya itu sering pergi bersama Kevin. Reno bahkan tidak tahu bagaimana dia harus memulai percakapan dengan Nadya karena takut ucapanya kembali menyakiti Nadya seperti hari pertama pernikahan mereka.


"Pagi Nadya." sapa Anjas begitu melihat Nadya seperti orang yang melamun. Sahabatnya itu hanya diam saja saat berpapasan dengannya.


"Pagi Pak Anjas." balas Nadya yang terkejut mendengar Anjas menyapanya.

__ADS_1


"Mikirin apa sih, sampe jalan aja ngelamun." tanya Anjas.


"Mikirin kamu yang sibuk terus satu minggu ini." jawab Nadya membuat Anjas terkekeh.


Nadya tidak sepenuhnya berbohong, Anjas memang sibuk satu minggu ini dan hanya menyapanya sekilas saja. Biasanya mereka akan makan bersama atau sekedar menikmati secsngkir kopi sambil berbagi cerita.


"Ada yang ngambek nih di cuekin." sahut Anjas setelah menghentikan kekehannya.


"Bukan karena kamu mikirin nenek Rosa?" ucap Anjas lagi dengan bertanya pada Nadya.


Nadya menggeleng, "Nenek baik-baik saja." jawab Nadya.


"Alhamdulillah kalau gitu. Jadi kamu beneran ngelamunin aku, nih." ucap Anjas lagi untuk meyakinkan apa yang Nadya katakan sebelumnya benar.


Anjas merangkul Nadya, sahabat yang dia cintai. Hanya untuk memperjelas pada Nadya, kalau Anjas sayang pada sahabatnya itu.


Nadya langsung melepaskannya rangkulan Anjas, entah mengapa sekarang dia merasa tidak nyaman Anjas melakukan itu.


"Nggak enak dilihat yang lain." ucap Nadya agar Anjas tidak tersinggung.


"Aku traktir kamu deh ditempat biasa untuk membayar satu minggu ini nggak bisa nemenin kamu makan siang." ucap Anjas yang merasa bersalah karena memang satu minggu ini dia disibukkan membuat laporan restoran yang dia pegang pada pemilik restoran ini yang tak lain kakeknya sendiri.


"Tidak usah, aku harus segera pulang." ucap Nadya menolak ajakan Anjas. Dia juga hanya mencari alasan dengan mengatakan memikirkan Anjas yang sibuk. Karena tidak mungkin Nadya mengatakan jika dia memikirkan Reno.


Nadya juga harus mengunjungi Rosa lalu pulang ke kediaman Reno, jika makan diluar bersama Anjas dia akan terlambat pulang ke kediaman Reno. Nadya tidak ingin Reno marah, Nadya takut Reno akan menyentuhnya lagi karena kemarahannya.


"Ya sudah, lain kali saja." ucap Anjas.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2