
Surya baru pulang ke kediamannya yang dia tempati bersama Wulan hari ini, semalam dia menginap di kantor untuk menenangkan diri sambil merenungi perjalanan hidupnya dan mencari tahu apa saja yang sudah dia lewatkan selama ini tentang ibu dan kedua anaknya bersama Widya.
Pulang dari rumah Rosa, Surya kembali ke perusahaan. Dia langsung meminta asistenya mencari tahu mengapa Azam mengatakan jika mereka tidak pernah mendapatkan satu rupiah pun darinya. Bahkan kemarahan Azam sangat jelas tergambar diwajah putranya itu, putra yang Surya harapkan bisa menjadi penerus usahanya.
Sejak Surya meninggalkan ibu dan kedua anaknya, Rosa, Nadya dan Azam ikut meninggalkan rumah yang dulu Surya dan Widya tempati bersama keluarga kecilnya itu. Surya tidak tahu jika Wulan telah mengusir ketiganya dari rumah itu, membuat Rosa, Nadya dan Azam kembali menempati rumah tua milik Rosa yang sangat sederhana. Saat itulah rasa benci Nadya dan Azam semakin besar pada ayah mereka, Surya pergi meninggalkan mereka dan merekapun terusir dari rumah yang penuh kenangan bersama ibu mereka.
Surya bukan tidak menyayangi ketiganya, Surya bahkan jauh lebih sayang pada Nadya dan Azam yang tumbuh besar dalam pengawasannya. Ditengah kebahagiaanya bersama Widya, Wulan datang menemuinya dan memberitahu jika ada Marisa diantara mereka.
Merasa bersalah pada Marisa yang tidak dia ketahui keberadaanya, Surya memutuskan untuk menikahi Wulan tanpa meminta izin Widya dan Rosa. Surya ingin putri pertamanya ini juga memiliki orang tua yang utuh seperti Nadya dan Azam.
Tanpa Surya sadari, keputusannya adalah awal penyebab bencana rumah tangganya dan Widya terpisah. Widya bahkan pergi meninggalkan Surya untuk selama-lamanya, tanpa Surya tahu jika Wulan adalah penyebab kepergian Widya.
Perginya Widya untuk selama-lamanya membuat kehidupan Nadya yang masih sekolah menengah tingkat pertama dan Azam yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar harus menerima kenyataan pahit.
"Ini pak laporan semuanya" ucap Diki, asisten Surya.
Surya menatap tidak percaya pada lembaran kertas yang ada di tangannya, dia terlambat mengetahui ini semua. Pantas saja Rosa, Nadya dan Azam membencinya selama ini.
"Maafkan ayah nak, ayah tidak pernah tahu jika selama ini hidup kalian menderita. Maafkan ayah, Nadya... Azam...."
Tangis Surya pecah, anak-anak dan ibu yang dia sayangi hidup menderita serba kekurangan setelah keputusannya untuk tinggal bersama Marisa dan Widya yang tidak ingin Surya membawa Nadya dan Azam tinggal bersama mereka.
Kediamanya tampak sepi begitu Surya masuk kedalam rumah, sudah biasa rumah besar ini sepi. Surya rindu saat pulang kerumah dia disambut Widya dan kedua anaknya yang meminta di peluk. Bersama Wulan, hanya asisten rumah tangga yang menyambutnya pulang.
Menyeka air matanya, Surya melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga.
"Kemana perginya para asisten rumah tangga di rumah ini?" tanya Surya pada dirinya sendiri.
Biasanya mereka memberi salam pada Surya dan bertanya mau makan dan minum apa? Hal yang biasa ditanyakan Widya dan Nadya padanya begitu tiba di rumah.
Surya juga tidak melihat wulan yang setiap harinya hanya duduk santai di sofa dan tanganya yang sibuk dengan ponsel. Surya juga tidak melihat keberadaan putri pertamanya yang beberapa hari ini pulang ke kediamannya tanpa Surya tahu masalahnya.
"Kemana mereka semua." gumam Surya heran.
Menghiraukan rumah yang sepi Surya berjalan menuju kamarnya, dia ingin istirahat sebentar saja karena semalaman dia tidak bisa tidur. Rasa penasarannya pada ucapan Azam membuat Surya terus memeriksa laporan yang di berikan Diki padanya
"Pulang juga kamu Sur, masih ingat rumah?" tegur Wulan dengan nada menyindir begitu melihat kehadiran Surya yang akan masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
Surya menatap tajam istri keduanya ini, mengapa dia harus kembali tergoda dengan bujuk rayu Wulan yang jelas-jelas dulu meninggalkannya.
"Surya, aku bicara sama kamu." ucap Wulan yang merasa di abaikan Surya.
"Aku lelah ingin istirahat." jawab Surya.
"Tidur dimana kamu semalam? Wanita mana lagi kali ini?" tanya Wulan yang membuat Surya mengepalkan tangannya. Wulan selalu saja menuduhnya selingkuh jika tidak pulang ke rumah.
Surya memilih masuk ke kamar mandi, meningalkan Wulan yang semakin keras berteriak.
Untuk saat ini Surya berusaha menahan marah, bukan saatnya dia meluapkan amarahnya pada Wulan. Surya akan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu istri keduanya itu, jika dia tahu apa yang telah Wulan lakukan pada ibu dan kedua anaknya.
Reno tiba di kediamnnya, di langsung tersenyum begitu melihat Nadya sedang menyiapkan hidangan di meja makan.
"Mas, kamu pulang?" tanya Nadya sambil membalik tubuhnya.
"Mengapa tidak kasih kabar?" tanya Nadya lagi.
"Mau kasih kejutan untuk istri Mas yang cantik ini." jawab Reno.
"Kamu menyiapkan makan siang untuk mama?" tanya Reno yang mendapat anggukan dari Nadya.
"Mama dimana?"
"Mama disini." ucap Dina membuat Reno berbalik melihat kearah sumber suara.
"Ma, kita makan dulu." ucap Nadya mengajak ibu mertuanya.
Dina tipe orang yang suka bercerita. Selama mereka menikmati makan siang, ibu dari Reno terus menceritakan bagaimana Reno semasa kecil yang membuat Nadya sesekali tertawa, menertawakan Reno.
Tanpa ketiganya sadari, kebersamaan itu di lihat Marisa yang berdiam diri sambil mengepalkan tangannya. Marisa berharap Dina marah besar pada Nadya setelah mendengar kabar yang dia berikan pada ibu mertuanya itu.
Makan siang yang berantakan membuat Marisa berpikir ulang tentang rencananya untuk menghancurkan hidup Nadya adiknya itu.
"Ma, aku mau menemui mama Dina." ucap Marisa pada Wulan selepas kepergian Surya.
"Mau apa lagi Risa?" tanya Wulan yang ikut pusing karena ulah putrinya.
__ADS_1
Jika Marisa tidak meminta Nadya menjadi ibu pengganti, hidupnya akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Sayangnya putrinya itu tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan hingga berakhir rumit seperti saat ini.
"Aku akan memberitahu mama Dina tentang Nadya. Akan aku katakan, Nadya mencoba merebut Reno untuk balas dendam pada kita." jawab Marisa.
"Apa akan berhasil?" tanya Wulan ragu.
"Tidak ada salahnya mencoba. Mama Dina sangat tidak suka dengan yang namanya pelakor." jawab Marisa yang langsung mendapat tatapan membulat dari Wulan.
Tanpa Marisa tahu jika Dina sudah tahu tentang keberadaan Nadya sebelumnya dari Reno. Kini yang Marisa lihat tidak seperti yang dia inginkan, bahkan jauh dari harapannya.
"Aku pulang." ucap Marisa menghentikan kekehan Reno.
Suasana dimeja makan itu seketika hening, Dina dan Reno hanya melihat Marisa sekilas lalu melanjutkan makan mereka tanpa suara canda dan tawa seperti sebelumnya. Jangan tanyakan bagaimana Nadya, jangankan bicara, dia bahkan tidak ingin melihat wajah saudara perempuanya itu.
"Ma, Nadya duluan ke kamar." ucap Nadya begitu Dina sudah menghabiskan makanan di piringnya.
"Kamu baik-baik saja, Dya?" tanya Dina yang sebenarnya tahu Nadya pasti tidak ingin bertemu Marisa.
"Muka kamu pucat sayang, Mas antar kamu istirahat di kamar." ucap Reno.
Reno berdiri lalu mengiring Nadya untuk masuk kekamar mereka, melewati Marisa tanpa bicara.
"Aku ingin bicara sama kamu, Ren." ucapa Marisa.
"Tidak sekarang." jawab Reno.
"Ren, disini aku yang istri kamu, bukan...."
"Nadya juga istri Reno, Marisa." ucap Dina memotong perkataan Marisa.
"Tapi Ma..." bantah Marisa yang kembali di potong oleh Dina sebelum wanita itu meneruskan ucapannya.
"Tidak ada tapi-tapi, Itu kenyataannya. Nadya istri Reno dan kamu hanya kakak ipar Reno." ucap Dina mengutip perkataan Marisa saat konfrensi pers yang tadi wanita itu lakukan.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1