
Tiba di apartemen Kevin, Marisa menghempaskan tubuhnya disofa dengan keras. Hatinya masih tidak terima dipermalukan seperti tadi oleh Azam, adik bungsunya itu sudah mencemes bertubi-tubi hingga dia tak bisa mengelak lagi. Marisa tidak habis pikir, bagaimana anak kecil itu tahu semua tentang dirinya.
Wulan yang tengah menyaksikan siaran televisi merasa terganggu dengan suara keras yang di ciptakan putrinya saat duduk. Dia langsung melihat dan memperhatikan Marisa sejenak. Niat hati ingin marah pada Marisa, tapi Wulan ganti dengan bertanya.
"Ada apa?" tanya Wulan melihat Marisa yang terlihat kesal.
"Reno, dia akan mengumumkan pernikahannya dengan anak bodoh itu dan akan mengadakan resepsi." jawab Marisa.
"Dia akan mengadakan resepsi, kapan?" tanya Wulan antusias.
"Mama tidak kesal atau marah?" tanya Marisa begitu melihat Wulan yang tampak senang mendengar berita darinya.
Tentu saja Wulan senang, yang ada di kepala ibu dari Marisa itu saat ini adalah menjalankan rencana-rencana yang tadi dia susun bersama Jane. Dia bertanya kapan, karena ingin menentukan waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.
"Untuk apa marah, biarkan saja." jawab Wulan dengan santai.
"Ini tidak bisa dibiarkan, anak perempuan itu tidak boleh bahagia." sahut Marisa.
"Siapa yang akan membiarkan dia bahagia. Gunakan ini." jawab Wulan menunjuk keningnya.
"Tadi mama sudah membahas ini bersama Jane, dan gadis itu mau membantu kita."
"Maksud mama apa?"
"Kita buat anak itu menyusul ibunya, dan biarkan Jane yang melakukannya kali ini." jawab Wulan berbisik pada Marisa, dia takut Kevin mendengar pembicaraan mereka yang akan memanfaatkan Jane.
"Jangan lakukan itu Ma." ucap Marisa dengan keras.
"Pelankan suara kamu , Risa." Wulan balas membentak.
"Ma, papa sudah tahu siapa yang menyebabkan kematian istrinya."
"Apa?" tanya Wulan tidak percaya.
"Pasti putri wanita itu yang memberitahu papa kamu. Mama tadi menemui dia, anak itu memancing mama tentang kematian ibunya." ucap Wulan lagi menjelaskan.
__ADS_1
"Mau apa mama menemui dia?" tanya Marisa heran. Apa yang mamanya pikirkan sampai harus mendatangi Nadya.
"Hanya ingin memberikan peringatan." sahut Wulan lagi.
"Mama mau tahu siapa yang membuat aku marah."
"Siapa?"
"Anak kecil itu yang membuka kartu kita dihadapan semua orang." ucap Marisa memberitahu Wulan.
"Siapa yang kamu maksud anak kecil itu?"
"Calon pewaris perusahaan papa, siapa lagi."
Jawaban Marisa membuat Wulan mengepalkan tangannya. Azam sudah masuk list nama orang yang harus dia singkirkan sebagai penerus pemimpin perusahaan. Wulan tidak rela jika harta Surya jatuh pada anak dari wanita yang dibencinya.
"Ini semua karena kamu memasukkan anak itu ke dalam rumah tangga kamu, Risa. Coba waktu itu kamu dengar nasehat mama, tentu saja tidak akan seperti ini." ucap Wulan kesal.
"Kalau sudah begini, Mama harus bagaimana?" tanya Wulan sambil memijat keningnya.
"Memangnya apa yang mama rencanakan?" tanya Marisa penasaran.
Marisa dan Wulan tidak sadar, jika Kevin dan Jane sama-sama ikut menyimak percakapan keduanya. Kevin yang baru tahu jika Wulan telah membunuh ibu Nadya, hanya bisa mengepalkan tangannya saja saat ini.
Sementara itu Jane merekam semua percakapan ibu dan anak itu sejak awal. Gadis itu langsung bersembunyi di balik sofa, begitu melihat kepulangan Marisa. Didu memberi tahu Jane untuk mulai menjalankan tugasnya, memata-matai dan mengawasi Wulan dan Marisa selama mereka ada di apartemen. Didu juga meminta Jane untuk memasang telinga baik-baik, merekam setiap kata yang keluar dari mulut keduanya.
Di kediaman Reno, keluarga mereka masih berkumpul kecuali Surya. Dia pamit terlebih dulu, ada banyak hal yang harus dia selesaikan. Sebelumnya, dia kembali bersimpuh didepan Rosa meminta maaf atas ketidak tahuannya tentang kematian Widya. Surya juga meminta maaf pada kedua anakya, karena masa lalunya yang tidak baik hingga semua ini terjadi.
Tiba di kediamannya, Surya langsung mencari bukti-bukti perbuatan buruk Wulan pada Widya. Dia juga sudah menghubungi pengacaranya, bukan lagi membahas perceraiannya dengan Wulan seperti biasanya, tapi meminta pengacaranya menyelidiki penyebab kematian Widya.
"Wulan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di mata hukum." gumam Surya.
Kembali kekediaman Reno, Dina dan Haris kembali kekediaman mereka, sementara Rosa dan Azam diminta Reno menginap. Rosa tidak menolak, banyak hal yang ingin dia bicarakan pada Nadya.
Rosa yang tidak boleh kelelahan diantar Nadya untuk istirahat di kamar Nadya, kamar yang dia tempati saat pertama kali tinggal di kediaman Reno. Sementara Azam menempati kamar tamu. Setelah menemani Rosa beberapa saat, Nadya pamit untuk kembali kekamarnya.
__ADS_1
"Mas." panggil Nadya pelan pada Reno yang masih duduk di kursi kerja.
"Kenapa belum tidur?" tanya Nadya.
"Nungguin kamu." jawab Reno sambil tersenyum lebar.
"Sini." panggil Reno agar Nadya duduk di atas pangkuannya.
Nadya tidak menolak, dia duduk di pangkuan Reno dan langsung mendapat pelukan dari sang suami.
"Ini." ucap Reno menyerahkan dua buah buku dan beberpa berkas yang lain.
Suami Nadya itu menyerahkan buku nikah mereka pada sang istri. Nadya yang menerimanya menatap tidak percaya pada buku tersebut, sejak kapan Reno mengurus semua ini. Seperti mimpi, kini dia sah menjadi istri Reno bukan hanya dimata agama tapi juga dimata hukum dan negara. Bukan lagi menjadi istri kedua tapi istri satu-satunya dari Reno Bagaskara.
"Kamu yang simpan semua berkas ini, sayang." ucap Reno.
Nadya mengangguk setuju "Terima kasih Mas." jawab Nadya.
"Mas yang berterima kasih, kamu sudah mau menerima Mas, suami yang tidak sempurna ini." balas Reno.
Nadya menggeleng. Reno suami sempurna bagi Nadya, meski diawal menyakitkan, tapi semua ada alasannya.
"Jangan bicara seperti itu Mas, Dya juga tidak sempurna. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi... mari kita saling menutupi ketidak sempurnaan kita, menjadi sempurna"
Reno tersenyum mendengar jawaban Nadya. Hatinya tidak salah memilih, dia tidak menyesal dengan keputusannya mempertahankan Nadya dan melepaskan Marisa. Reno memeluk erat tubuh istrinya, rasanya seperti mimpi sebentar lagi dia bisa menunjukkan pada dunia bahwa dia memiliki istri, wanita yang dia cintai.
"I love you." ucap Reno disela-sela pelukannya yang engan dia lepaskan.
"Ayo kita sempurnakan kehidupan kita dengan membuat Reno junior." bisik Reno di telinga Nadya.
Belum bulan madu saja suaminya sudah seperti ini, meminta dan terus meminta. Bagaimana nanti saat mereka bulan madu? Nadya tidak bisa membayangkan dirinya yang harus terus berada di atas tempat tidur.
Belum juga Nadya menjawab, tubuhnya sudah melayang di udara. Malam ini benar-benar akan ada ronde ke dua, mungkin juga ronde ke tiga.
Reno sendiri tidak tahu, mengapa dia selalu dan selalu meginginkan Nadya. Apa lagi disaat berdua seperti ini, Reno sulit sekali menahan hasratnya untuk tidak bercinta dengan sang istri.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...