MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 78. Seno Adipati Bagaskara


__ADS_3

Reno berjalan cepat dengan langkah yang lebar. Dia ingin secepatnya sampai diruang persalinan, dimana istrinya sekarang berada. Reno ingin memenuhi janjinya yang akan menemani Nadya saat proses persalinan.


Menunggu waktu ini tiba, Reno sudah banyak melakukan persiapan. Baik lewat referensi bacaan maupun bertanya langsung dengan calon ayah yang pernah menemani proses persalinan istri mereka. Persiapan mulai dari rumah, proses persalinan hingga bayi lahir, semua Reno pelajari. Semua Reno lakukan demi menjadi suami siaga. Sayangnya Reno melewatkan proses mengantar Nadya kerumah sakit seperti keinginnanya.


Sebenarnya sejak pagi Reno sudah merasakan perasaan tidak tenang saat akan meninggalkan Nadya ke kantor. Namun pertemuan penting hari ini tidak bisa dia lewatkan begitu saja. Nadya pun meyakinkan Reno untuk berangkat ke perusahaan dan jangan menghawatirkan dirinya yang sedang menunggu hpl.


"Ada mama, Ija dan Ratna, yang akan jaga Dya, Mas." ucap Nadya yang membuat Reno akhirnya berangkat juga ke perusahaan.


Perasaan tidak tenang Reno terjawab sudah saat mama Dina menelponnya untuk segera menyusul ke rumah sakit.


"Mas, Dya mau melahirkan. Kami sudah dijalan menuju rumah sakit, kamu secepatnya menyusul." ucap Dina memberi kabar pada Reno.


Detik itu juga jantung Reno berdebar sangat kencang. Ada rasa takut menghadapi proses persalinan Nadya meski dia sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Tapi tidak dapat dipungkiri jika dihatinya kini merasakan rasa bahagia. Pangeran kecilnya hari ini sudah waktunya melihat dunia. Membayangkan akan seperti apa rupa putranya, wajah Reno seketika melukiskan senyum.


Senyum terus terpancar dari wajah Reno sepanjang jalan dari ruang meeting menuju ruangannya. Membuat karyawan wanita merasa seperti dapat undian berhadiah. Masalahnya, bisa di hitung dengan jari pimpinan mereka itu tersenyum.


Tidak ingin terlambat menemani Nadya melahirkan putra mereka, Reno segera mengambil kunci mobil yang dia simpan dilaci meja kerjanya. Sambil terus berdoa, Reno melajukan kendaraanya membelah jalan menuju rumah sakit. Untung saja jalanan sepi dan rumah sakit yang Nadya pilih tidak jauh dari perusahaan dan juga kediaman mereka.


"Pa, dimana istriku." tanya Reno begitu dia melihat papa Haris.


"Istrimu ada didalam ruang persalinan. Masuklah, ada mama kamu yang menemaninya didalam." jawab papa Haris.


Dengan jantung berdebar, Reno memberanikan diri masuk keruangan yang disebutkan papa Haris.


Cklek, terdengar suara handle pintu. Semua mata yang ada diruangan bersalin beralih melihat pada sosok Reno yang sekarang berdiri di pintu.


"Mas!" teriak Nadya memanggil Reno.


Mendengar panggilan istrinya Reno segera mendekat. Langsung saja dia memeluk dan memberikan semangat pada Nadya.


"Maaf bukan Mas yang antar kamu ke rumah sakit." ucap Reno merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi janjinya.


"Tidak apa-apa Mas. Ini bukan salah Mas Reno tapi karena keadaan. Jangan merasa bersalah. Sekarang Mas temani Dya." jawab Nadya yang langsung kembali mendapat pelukan dari Reno.


"Iya sayang, Mas disini temani kamu." bisik Reno disela pelukanya.


"Mas, Mama tunggu diluar temani papa kamu." ucap mama Dina setelah menepuk punggung Reno.


"Iya Ma, terima kasih Mama sudah mau gantiin jaga Dya." balas Reno.

__ADS_1


"Dya juga anak Mama." sahut mama Dina, "Sayang, mama keluar dulu ya, sudah ada suami kamu yang menemani." ucap mama Dina pamit pada Nadya.


"Terima kasih Ma." jawab Nadya yang mendapat balasan senyuman dari mama Dina.


"Kamu pasti kuat dan bisa melewati semuanya dengan lancar." ucap mama Dina lagi.


"Aamiin" balas Reno dan Nadya bersamaan.


Selepas kepergian mama Dina, Reno kembali menatap istrinya. Peluh mulai terlihat di dahi Nadya, segera saja Reno mengusapnya dengan tissue yang ada di samping sang istri.


"Sakit sayang?" tanya Reno begitu Reno merasakan tangan Nadya yang mengengam tangannya mengenggamannya semakin erat.


Nadya mengagguk dengan peluh yang kembali memenuhi wajah sang istri. Sungguh Reno tidak sanggup melihat istrinya yang kesakitan seperti ini. Jika saja dia bisa mengantikan proses ini Reno akan melakukanya. Sayangnya itu tidak mungkin. Jadi Reno akan terus di samping Nadya, menemani istrinya untuk memberikan dukungan dan semangat.


"Sayang kalau kamu nggak kuat, kita operasi saja." ucap Reno memberikan tawaran pada Nadya, yang langsung mendapat penolakan dari istrinya itu.


"Nggak sempurna jadi ibunya kalau nggak ngerasain lahiran normal, Mas." jawab Nadya.


"Tapi kamu kesakitan sayang." sahut Reno cemas.


"Dya kuat." balas Nadya.


"Iya Dok." jawab Nadya.


"Coba kita lihat, pembukaannya sudah lengkap belum."


Dokter Meri memeriksa jalan lahir sang bayi lalu tersenyum pada Nadya.


"Pembukaan sudah lengkap. Ibu ikuti aba-aba saya. Paksu tolong Ibunya diberi semangat, ya." ucap dokter Meri yang langsung mendapat anggukan dari Nadya dan Reno.


***


Aura kebahagian sangat terasa di kamar rawat inap Nadya dan putranya. Terutama mama Dina yang tidak henti-hentinya mengucap syukur. Hal yang sangat dia inginkan sejak Reno menikah adalah cucu. Namun yang lebih membuat mama Dina bahagia adalah keinginan dia dan Widya sekarang menjadi kenyataan. Mereka memiliki cucu yang sama.


"Kalian sudah mempersiapkan nama?" tanya papa Haris.


"Seno Adipati Bagaskara" jawab Reno.


"Bagaimana menurut Papa?" tanya Nadya meminta pendapat ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"Nama yang bagus. Iya kan Bu? sahut mama Dina dan meminta pendapat nenek Rosa.


"Iya itu nama yang bagus." jawab nenek Rosa.


"Papa tidak masalah mau nama apa saja yang akan kalian sematkan untuk cucu tampan papa ini." jawab papa Haris sambil megusap kepala cucunya.


"Ada yang ingin kamu tambahkan Zam?" tanya Reno agar Azam ikut memberikan pendapatnya.


"Seno Adipati. Aku suka nama itu Mas." jawab Azam.


***


Tiga hari berlalu, Nadya dan putranya sudah diizinkan pulang ke rumah. Sudah ada Azam yang akan menyambut kakak dan keponakannya. Dibantu Karla dan Ana juga Yusi, mereka menghias kamar Seno dengan balon warna warni. Setelah acara tujuh bulanan, Reno langsung mepersiapkan kamar untuk putranya, kamar tersambung dengan kamar utama yang Nadya dan Reno tempati.


Di kediaman Reno dan Nadya saat ini sudah ramai dengan kehadiran orang-orang terdekat mereka. Yuda sudah lebih dulu ada di kediaman Reno dan Nadya. Dia ditemani Kania karena kebetulan sekali hari ini hari libur kerja.


Tidak ketinggalan, Didu juga membawa keluarganya ikut menyambut kepulangan penerus Bagaskara di istananya.


"Selamat datang keponakan Uncle yang tampannya seperti Uncle Azam." ucap Azam menyambut kepulangan Seno.


"Mana ada mirip-miripnya sama kamu Zam." sahut Karla protes.


"Ih, iya in aja apa susahnya sih sayang." balas Azam memasang wajah sedih.


"Nggak usah drama pura-pura sedih." balas Karla lagi.


Nadya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sepasang kekasih yang selalu adu pendapat ini. Nadya tidak bisa membayangkan bagaimana ramainya rumahtangga mereka nanti. Tapi seperti itulah cara mereka mengasihi, Nadya hanya bisa mendoakan semoga Azam bahagia menjalani kehidupannya sama seperti dirinya saat ini yang bahagia.


Bahagia memiliki suami yang sayang padanya, bahagia telah dikarunia seorang putra yang tampan dan sehat, yang terpenting Nadya tetap bisa merawat dan membesarkannya. Tidak seperti perjanjiannya dengan Marisa yang hanya sebagai ibu pengganti. Siapa sangka perjanjian itu ternyata telah dibatalkan Reno sesaat sebelum mereka menikah.


"Permisi."


Suara seorang wanita mengejutkan mereka semua. Bagaimana tidak terkejut, karena wanita itu sangat berani mendatangi kediaman ini.


"Mau cari masalah apa lagi wanita itu." ucap Didu berbisik pada Yuda.


"Kita lihat saja apa maunya." balas sahabat Reno itu.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2