
Seperti yang Reno katakan, begitu mereka berdua tiba di meja makan semua keluarg dan orang terdekat mereka sudah duduk di meja makan sambil berbincang.
Begitu sudah mendekati meja makan, langkah Nadya terhenti. Dia berdehem, melihat Anjas yang sudah ikut bergabung di meja makan. Sejak kapan sahabatnya itu kembali ke Indonesia?
"An." panggil Nadya pada Anjas yang sudah tersenyum lebar terlebih dulu padanya.
"Selamat ya Nad, Lo udah jadi emak-emak sekarang." ucap Anjas terkekeh.
Nadya mencebikkan mulutnya, dia tahu kemana ucapan Anjas. Dulu mereka sering membicarakan the power of emak-emak dan sering adu pendapat hanya karena ada emak-emak yang lewat didepan mereka.
"Kamu kapan balik?" tanya Nadya karena terakhir mereka berkirim pesan Anjas tidak memberi tahu akan kepulangannya ke Indonesia.
"Baru sampai dan langsung kesini." jawab Anjas sambil matanya melirik pada Yusi.
"Oh, udah nggak sabar buat ke KUA sepertinya." ucap Nadya menggoda sahabatnya itu.
Semua tertawa mendengar ucapan Nadya. Sementara dua orang yang jadi bahan pembicaraan hanya bisa tersenyum malu.
"Jadi kapan nih?" tanya Nadya lagi.
"Iya Jas, kapan?" ucap Didu ikut bertanya.
"Minggu depan." jawab Anjas yang membuat semua yabg ada disana terkejut.
"Secepat itu?" tanya Yuda tidak percaya. Dia sendiri sudah satu bulan ini disibukan mengurus pernikahannya denga Kania, dan pernikahannya itu baru bisa terlaksana bulan depan.
"Hanya akad dan perayaan kecil-kecilan saja, terus makan-makan bersama keluarga dan orang terdekat saja." jawab Anjas.
"Tidak apa-apa, yang penting sah." sahut mama Dina menaggapi.
"Pesta bisa diadakan kapan saja. Seperti Reno dan Nadya." ucap mama Dina lagi.
"Iya Tante." jawab Anjas membalas ucapan mama Dina.
"Mbak Ana bagaimana?" tanya Nadya.
"Mbak kenapa Nad?" tanya Ana tidak mengerti.
"Ih Mbak Ana pura-pura nggak ngerti. Mbak Nadya itu nanya Mbak Ana sama abang sepupu aku gimana?" sahut Yusi.
"Kita nggak ada apa-apa. Kenapa kalian berpikir seperti itu?" tanya Ana heran.
__ADS_1
"Benarkah?" goda Yusi.
"Aku nggak bohong, Abang kamu aja sekarang kabur." jawab Ana yang membuat Yusi terkikik dan yang lain menahan senyum.
Bukan ingin menertawakan ucapan Ana yang mengatakan Dean kabur. Tanpa Ana tahu, saat ini orang yang dia bicarakan tengah berdiri dibelakanya lengkap dengan buket bunga ditangannya.
Dean sudah sejak tadi berdiri dibelakang Ana, bersamaan dengan Nadya dan Reno yang ikut bergabung di meja makan. Saat Nadya akan menyapa, Dean meletakkan jari telunjuknya dibibir, meminta Nadya untuk diam.
Nadya yang mengerti segera mengalihkan ucapannya pada Anjas.
Sebelum kehadiran Jasmine, Yusi sempat berbisik memberitahu bahwa Dean akan melamar Ana. Nadya tidak mengira Dean akan melakukannya di sini, di kediamannya dan Reno.
"Seandainya abang datang terus melamar Mbak Ana, Mbak mau terima nggak?" tanya Yusi lagi.
"Aku nggak suka mengandai-andai Yusi." sahut Ana kesal.
Bukan kesal pada Yusi, tapi kesal pada Dean yang telah mempermainkan dirinya. Hari itu setelah mereka makan siang bersama, Dean mengatakan merasa cocok degan Ana. Keesokan harinya, pria itu datang dan mengajaknya jalan keluar. Mereka menghabiskan waktu satu hari tersebut dengan jalan-jalan, nonton dan sebagainya seperti orang yang berkencan.
Setelah mengantar Ana kembali ke kediaman orang tuanya, Dean pamit dan mengatakan bahwa besok dia harus kembali ke Jerman. Hati Ana yang sedang berbunga seketika layu, bahkan ranting bunga itu patah yang membuatnya jatuh ke tanah.
Seperti itulah yang Ana rasakan setelah ditinggal Dean pergi. Apa lagi tidak ada kontak diantara mereka setelahnya. Yang lebih membuat Ana kesal, dirinya tenyata masih mengharap kehadiran pria yang berstatus abang sepupu Yusi tersebut.
"Ok Bang, gas ken!" seru Azam sambil tertawa membuat kakak sepupunya itu menatap Azam.
"Hai." sapa Dean.
"Oh, hai." balas Ana kikuk karena Dean mendengar apa yang tadi dia ucapkan. "Asem." umpat Ana didalam hati.
Tidak ingin merasakan lebih lama lagi suasana canggung diantara mereka, Dean segera meberikan buket bunga yang dia pegang sejak tadi pada Ana. Pria itu berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Sudah bisa kalian tebak kan apa yang dilakukan Dean?
"Manis ya Mas, mereka." bisik Nadya pada Reno.
"Hemm." jawab Reno singkat.
"Tapi sikap Mas Reno sama Dya jauh lebih manis." ucap Nandya lagi masih dengan berbisik ditelinga suaminya.
Reno yang mendengarnya langsung menatap wajah Nadya dengan senyum mengembang. Mata mereka bertemu dan saling menatap penuh cinta. Pandangan itu diputus Nadya dengan meyenderkan kepalanya dilengan Reno.
"Zam kamu sendiri progresnya gimana?" Kini Ana balik bertanya pada Azam.
"Aku gimana Karla aja Mbak." jawab Azam.
__ADS_1
"Ih nggak gitu konsepnya Azam." sahut mama Dina.
"Kamu itu laki-laki, masa gimana Karla." ucap mama Dina lagi.
"Yang kamu udah dapat izin belum?" tanya Azam pada Karla.
"Jagan tanya Karla, Azam tanya langsung sama bapak." jawab Karla, membuat yang lain menertawakan Azam.
Makan siang di kediaman Nadya dan Reno hari itu diisi penuh dengan kebahagian. Canda tawa terdengar begitu indah menggema dirumah dua lantai itu.
Nadya bahagia melihat keluarga dan orang-orang terdekatnya bahagia. Semua sudah menemukan pasangan mereka masing-masing. Setelah kesakitannya yang dulu dia rasakan, kini semuanya berganti dengan kebahagiaan. Kedepannya Nadya siap menyambut hari-hari bahagianya bersama keluarga kecilnya.
Hari-hari Nadya disibukkan dengan merawat Seno. Istri Reno itu tidak ingin menggunakan jasa babysitter. Nadya ingin melihat sendiri tumbuh kembang putranya. Reno selalu mendukung selama itu baik dan tidak menyulitkan Nadya.
Tidak terasa satu tahun berlalu. Seno sudah bisa berjalan dan bicara meskipun belum jelas. Tapi itu sudah sangat membuat Nadya bahagia.
Anaknya tumbuh dengan baik, asupan gizi putranya selalu jadi prioritas Nadya. Dibantu Berto yang setiap hari masih saja mengirimkan masakannya untuk Nadya dan Seno.
Seperti hari ini, Nadya dan Reno merayakan ulang tahun putranya atas permintaan mama Dina.
Bukan ulang tahun pada umumnya yang dilakukan oleh anak-anak orang kaya dengan pesta meriah. Nadya hanya mengundang sahabat dan keluarga dekatnya saja untuk makan bersama.
Tampak Kania yang mulai kesulitan berjalan di usia kandungannya yang baru masuk bulan ke enam. Karena hamil anak kembar, maka kandungan istri Yuda itu lebih besar dari kandungan ibu hamil pada umumnya.
Sementara Anjas datang bersama Yusi dan bayi mereka yang baru berusia dua bulan. Papa muda itu tidak malu mencangklong tas bayi yang berisi perlengkapan putrinya.
Ana mengirim pesan tidak bisa hadir. Dean memboyongnya ke Jerman setelah mereka menikah dan sekarang ibu muda itu sedang mengalami masa-masa kehamilan di trimester pertama. Dokter melarangnya berpergian jauh apa lagi meggunakan pesawat.
"Uncle."
Seno berlari begitu melihat kehadiran pamannya itu. Azam dan Karla baru saja pulang bulan madu dan langsung menuju kediaman kakaknya untuk ikut merayakan hari kelahiran keponakannya.
Nadya dan Reno saling menautkan jemari tangan mereka. Sungguh Nadya sangat-sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini. Nadya tidak ingin lagi mengingat luka masa lalu. Kini dia selalu optimis menyonsong masa depan bersama keluarga kecilnya.
"Terima kasih Mas." ucap Nadya pada Reno yang terus menatapnya.
Reno membalas dengan kecupan dipucuk kepala Nadya. Harusnya dia yang berterima kasih mendapatkan istri sesempurna Nadya. Istri yang selalu memberikannya kebahagian, yang membuat hari-harinya lebih bewarna.
"I LOVE YOU MOM" bisik Reno.
Tamat
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...