MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 62. Pengganggu


__ADS_3

Melupakan sejenak pekerjaan dan masalah yang ada, hari ini Nadya dan Reno terbang ke Bali. Mereka menempati vila milik keluarga Bagaskara. Udara segar sangat terasa karena sekeliling vila ini ditumbuhi pepohonan tinggi dan rindang. Jauh dari hiruk pikuk padatnya kendaraan kota dan juga polusi yang sering mengganggu pernafasan.


Nadya menatap hamparan air laut dari balkon kamar yang dia tempati bersama Reno. Beberapa wisatawan tampak duduk dibawah pohon sambil bercengkrama dan melihat hamparan laut seperti dirinya.


"Anginnya sangat kencang disini sayang." bisik Reno yang baru saja bergabung dengan istrinya itu.


"Tapi pemandangannya bagus, Mas." jawab Nadya.


"Kita kesana nanti, tidak sekarang. Ini masih sangat panas." balas Reno.


"Iya, Dya juga nggak kuat kalau panas seperti ini harus kesana." tunjuk Nadya pada lautan luas di depan sana.


"Kita pemanasan di kasur saja, bagaimana?" tawar Reno.


"Mas!"


Reno tertawa, istrinya masih saja malu jika membahas hal yang berhubungan intim. Tanpa menunggu persetujuan Nadya, Reno membawa Nadya masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur.


"Istirahatlah, kamu dan adek pasti lelah." ucap Reno sambil mengusap perut istrinya yang sudah mulai membesar.


Melakukan hal kecil seperti ini saja sudah membuat Reno bahagia, dia bisa membayangkan akan semakin bahagia saat sang buah hati kelak terlahir dan berada ditengah-tengah keluarga mereka.


"Mas Reno mau kemana?" tanya Nadya saat Reno berjalan menjauh dari tempat tidur.


"Mau tutup pintu balkon sayang, biar udara panas tidak masuk." jawab Reno.


Nadya mengangguk, baru saja dia akan membaringkan tubuhnya, suara ponsel milik Reno yang ada diatas nakas berbunyi. Nadya sempat mencuri lihat nama penelpon yang tertera. Sedikit terkejut karena Jasmine yang menghubungi suaminya.


"Mau apa wanita itu kembali menghubungi mas Reno?" gumam Nadya.

__ADS_1


Jujur Nadya masih merasa kesal bahkan sangat kesal dengan teman kuliah Reno itu, apa yang telah wanita itu rencanakan sangat buruk untuknya. Nadya tidak bisa membayangkan jika saja Didu dan Jane tidak menyelamatkanya, mungkin dia akan merasa jijik dengan dirinya sendiri karena pernah disentuh pria lain.


Nadya tidak suka Reno masih berhubungan dengan Jasmine. Wanita itu jelas-jelas seorang penganggu dalam rumah tangganya dengan Reno. Bisa saja wanita itu ingin membalas dendam dan merencanakan hal lain untuk mencelakai dirinya dan juga Reno.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Reno karena suara dering ponselnya terus berbunyi.


Biasanya Nadya akan menerima panggilan telepon meski itu ponsel miliknya, karena Reno tidak merahasiakan apapun dari sang istri, maka dia membebaskan Nadya untuk mengangkat panggilan disaat dirinya jauh atau tidak mendengar.


Begitupun sebaliknya, Reno akan melakukan hal yang sama. Dia akan menerima panggilan di ponsel milik Nadya jika istrinya sedang tidak berada didekat ponsel.


Nadya tidak menjawab, membuat Reno menatap curiga. Pasti ada sesuatu yang membuat istrinya kesal. Nadya bahkan berbalik memunggungi, tanpa memberikan penjelasan. Tidak ingin salah paham dan banyak bertanya, Reno memilih memeriksa sendiri siapa yang menghubunginya sehingga membuat Nadya tidak suka.


"Kenapa tidak diangkat saja sayang?" tanya Reno lagi begitu dia sudah naik ketempat tidur berhadapan dengan sang istri.


"Kenapa tidak di blokir saja?" Nadya balik bertanya. Reno tidak lagi heran. Sudah jadi kebiasaan istrinya jika ditanya maka akan balik beritanya.


"Lupa sayang, Mas bahkan lupa kalau masih menyimpan nomor dia." jawab Reno jujur. Harusnya setelah kasus hari itu Reno memutus semua yang berhubungan dengan Jasmine. Apa yang dilakuka wanita itu sungguh sangat keterlaluan, menjual istrinya pada pria lain itu sama saja menghina Reno.


"Nih sekarang Mas blokir nomornya." ucap Reno sambil melakukan apa yang dia katakan dihadapan Nadya.


"Udah nih sayang, dia nggak akan ganggu kita lagi." Reno menunjukkan layar ponselnya pada Nadya.


"Jangan ngambek, katanya kita mau pemanasan. Klo ngambek gagal dong"


Bukan balasan jawaban dari sang istri, Nadya justru mencubit perut Reno, "Aww, sakit sayang." lirih Reno.


"Katanya suruh istirahat, masih saja bahasan ke sana." sahut Nadya.


"Pemanasan doang, bertarungnya nanti malam. Gimana?" balas Reno.

__ADS_1


"Mana ada modelan Mas Reno hanya pemanasan." sahut Nadya yang membuat Reno tekekeh.


Apa lagi yang Reno harapkan saat ini? Bertemu Nadya sungguh membuat dunianya lebih berwarna. Wanitanya mampu memberikan berbagai rasa kehidupan. Meski banyak halangan dan rintangan Reno akan terus berusaha membahagiakan istri dan keluarga kecilnya.


Jasmine membanting ponsel miliknya. Reno mengabaikan panggilannya dan sekarang tidak bisa dihubungi. Sungguh Jasmine sangat kesal. Perwakilan perusahaan milik Reno baru saja menyampaikan jika proyek kerja sama mereka dibatalkan. Tentu saja Jasmine tidak terima, karena itu dia menghubungi Reno. Mengajak pria yang selalu membuatnya penasaran bahkan menjadi fantasinya saat bercinta dengan pria lain untuk bertemu.


Setelah rencananya bersama Aditya dan Marisa gagal, bukan berarti dia akan berhenti mengejar Reno. Jasmine hanya penasaran dengan tubuh Reno, hingga dia sangat menginginkan bercinta dengan pria itu meski hanya satu kali. Sakit! Aditya bahkan sempat mengumpat dirinya, tapi Jasmine tidak peduli.


Gagal menghubungi Reno, Jasmine mencoba menghubungi Yuda. Satu kali panggilan, asisten Reno itu mengabaikan. Dua kali panggilan tidak juga dijawab. Tiga kali panggilan suara ramai dan berisik yang masuk kedalam gendang telinganya.


Yuda sengaja melakukannya. Dia sedang bersama Kania saat ini, tentu saja Yuda memilih mengabaikan panggilan dari Jasmine.


"Kenapa?" tanya Kania, melihat Yuda yang mengabaikan panggilan tersebut.


"Bukan apa-apa. hanya klien yang diputus kerjasama kontraknya oleh Reno." jawab Yuda.


Sebenarnya Yuda cukup kesal pada atasannya itu. Reno tiba-tiba saja memberi perintah pemutusan kontrak kerja dengan perusahaan milik Jasmine. Kerugian mereka tidak sedikit, tapi jika pemilik sudah memutuskan sebagai bawahan dia bisa apa.


"Kenapa tidak diangkat saja?" tanya Kania


"Ini diluar jam kerja." jawab Yuda tanpa ingin menjelaskan lebih banyak lagi tentang Jasmine.


Banyak hal lain yang lebih penting yang harus mereka bicarakan dari pada membicarakan Jasmine yang tidak penting. Kasus Naira lebih penting untuk mereka bahas. Karena kasus wanita itu bukan kasus biasa. Bukti percobaan pembunuhan dan juga dalang pembunuhan yang dilakukan Wulan dan Marisa terhadap Widya sudah mereka dapatkan begitu pun bukti penyebab kematian Irfan.


Kania mengangguk mengerti, mereka memang sedang makan di jam istirahat siang. Jika Yuda bisa menganggap jam makan siang bukan jam kerja, tidak berlaku dengan dirinya. Sebagai anggota polisi, harus siap selalu kapanpun dan dimanapun berada tanpa batasan waktu meski sudah larut malam sekalipun.


"Yuda!"


Yuda terdiam, dari suaranya dia tahu siapa wanita yang memanggilnya saat ini.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua ...


__ADS_2