MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 26. Semakin Mencintai


__ADS_3

Tiba di kediamannya, Reno tidak menemukan Nadya yang biasa menyambutnya di teras depan. Tentu saja istrinya tidak menunggu dia seperti biasanya, karena Reno pulang lebih awal sore ini.


Karena kedatangan Wulan? Reno pulang lebih awal bukan karena kunjungan Wulan yang datang menemui Nadya dan memancing kemarahan istrinya. Apa lagi dia melihat sendiri, Nadya mampu melawan mantan ibu tirinya itu.


Hari ini Reno dan Nadya akan menjamu makan malam keluarga mereka, karena itulah Reno pulang lebih awal. Mengikuti pekerjaan tidak akan ada habisnya, dan Reno merasa tidak sopan jika dia belum ada di kediamannya sementara keluarga mereka sudah berkumpul.


Reno melangkahkan kakinya ke dapur, mengira sang istri mungkin saja masih ada disana. Tapi belum sampai dapur, Reno bertemu Ijah.


"Istri saya di mana Mbak?" tanya Reno pada Ijah yang baru saja keluar dari dapur.


"Mbak Nadya...."


"Ibu, Mbak. Ibu." ucap Reno memotong ucapan Ijah agar asisten rumah tangganya itu memanggil ibu pada Nadya.


Jika dulu Reno tidak mempermasalahkan Ijah memanggil istri keduanya dengan panggilan mbak seperti keinginan Nadya, tapi tidak untuk sekarang. Nadya sudah menjadi satu-satunya nyonya rumah ini bahkan sudah sah dimata hukum. Asisten rumah tangganya harus menghormati Nadya, dengan memanggil istrinya ibu.


"Iya Pak, maaf. Ibu baru saja naik, katanya mau mandi."


Reno meninggalkan Ijah sambil tersenyum senang, mendengar Nadya baru saja naik untuk mandi pikiran nakalnya bermain di kepala. Benar saja, dia melihat Nadya baru saja melangkah hendak ke kamar mandi begitu dia membuka pintu kamar.


Nadya yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh dan menemukan suaminya tengah tersenyum lebar.


"Mas Reno sudah pulang." sapa Nadya yang terkejut melihat kehadiran suaminya.


"Kenapa tidak kasih kabar kalau mau pulang lebih cepat." ucap Nadya lagi sambil meraih tangan Reno.


"Mas lupa." jawab Reno setelah dia mencium kening istrinya lalu turun ke bibir mengecupnya.


"Mau mandi?" tanya Reno yang langsung mendapat anggukan dari Nadya.


"Mandi berdua ya." bisik Reno.


Nadya tidak bisa menolak jika Reno sudah menginginkan sesuatu, dia hanya bisa mengangguk yang membuat wajah Reno kembali melukiskan senyum. Nadya tahu kemana akhirnya setelah mereka mandi bersama, akan ada mandi kedua untuk benar-benar membersihkan diri.


"Mas, tadi Dya kedatangan tamu?" ucap Nadya setelah Reno melepaskan penyatuannya.


"Siapa?" tanya Reno pura-pura tidak tahu.


"Mantan istri ayah." jawab Nadya yang tidak ingin menyebutkan nama mantan ibu tirinya itu.


"Mau apa dia datang?" tanya Reno lagi sambil memainkan rambut istrinya.


"Dia marah dan menuduh Dya yang menghasut Mas Reno untuk menceraikan anaknya."

__ADS_1


"Kamu melawan?" tanya Reno lagi.


Nadya mengangguk, dengan mata berkaca-kaca. Reno yang melihat langsung mengusap sayang wajah istrinya.


"Mas, dia mengakui telah membunuh ibu." ucap Nadya memberitahu Reno. Sementara yang diberitahu bersikap biasa saja membuat Nadya bertanya.


"Mas Reno tidak terkejut?" tanya Nadya yang menghadirkan senyum di wajah Reno.


"Mas harusnya gimana? Bilang wow, gitu?" tanya Reno yang membuat Nadya mengerucutkan bibirnya.


"Mas Reno sudah tahu ya. Kenapa tidak memberi tahu Dya?"


Reno mengecup bibir istrinya sebelum dia bicara, bibir Nadya yang mengerucut kedepan membuatnya gemas ingin kembali melahapnya. Tapi Reno sadar, tidak mungkin dia melakukan Ronde kedua saat ini. Waktunya sangat tidak tepat.


"Mas masih mengumpulkan bukti." jawab Reno.


"Sekarang, apa yang mau kamu lakukan setelah tahu?" ucap Reno lagi dengan bertanya pada istrinya.


"Dya ingin ayah tahu kelakuan istrinya." jawab Nadya.


"Mantan istrinya." sahut Reno.


"Iya mantan istri." ulang Nadya ucapan Reno.


"Kamu bisa memberitahu ayah nanti." jawab Reno memberi saran yang lamgsung disetujui Nadya.


"Berdua." jawab Reno yang langsung mendapat penolakan dari Nadya.


"Enggak. Mandinya sendiri-sendiri aja. Kalau berdua jadi lama." jawab Nadya yang mendapat kekehan dari Reno.


Mengapa baru sekarang dia merasa benar-benar memiliki seorang istri. Bersama Marisa semua hambar, tidak ada rasa berbagi apa lagi saling memiliki. Selesai bercintapun Marisa lebih banyak merengek minta ini dan itu seperti wanita yang menagih bayaran setelah menjual dirinya. Itu salah satu penyebab yang membuat Reno malas sering-sering bercinta dengan mantan istrinya itu.


Bersama Nadya, Reno merasa lebih dihargai sebagai suami. Istrinya tidak pernah meminta apapun darinya, Reno melihat Nadya melakukan semuanya dengan ikhlas. Nadya lebih banyak membuatnya tertawa, istrinya itu selalu menggemaskan dimata Reno.


Nadya juga tidak pernah membantah apa yang Reno katakan saat bicara, meskipun itu salah. Nadya akan memberitahunya dan meluruskan kesalahan Reno dilain waktu dengan cara yang lembut dan baik-baik, sehingga dia bisa menerima dengan baik apa yang Nadya sampaikan.


Begitulah Nadya di mata Reno. Sebagai suami, Reno merasa Nadya sangat menghormatinya. Bagaimana Reno tidak semakin mencintai istri keduanya ini.


"Sebentar lagi magrib, kita harus sholat. Jadi mandinya nggak akan lama, nggak akan ada ronde kedua." jawab Reno.


"Atau kamu yang berharap ada ronde kedua." goda Reno yang langsung mendapat pukulan sayang di dadanya.


"Ayo." ajak Reno sambil melepaskan pelukannya setelah mengecup bibir yang selalu dan selalu dia inginkan.

__ADS_1


Reno dan Nadya turun, sudah ada Azam yang duduk di ruang keluarga.


"Zam, mana nenek?" tanya Nadya.


"Azam dari kampus langsung ke sini Mbak. Nenek sama mama Dina dan papa Haris." jawab Azam.


"Pantas saja bau." sahut Nadya membuat Azam mencium dirinya sendiri.


"Mandi Zam, nanti Mbak ambilkan pakaian ganti."


"Ganti pakai pakaian siapa?" tanya Azam.


"Ya pakaian Mbak, lah." sahut Nadya lagi.


"Ogah, aku jadi melambai nanti." ujar Azam yang mendapat kekehan dari Reno.


Azam tahu Nadya hanya bercanda, kakaknya pasti memberikannya pakaian baru. Sudah jadi kebiasaan Nadya membelikan Azam sesuatu tapi tidak langsung diberikan pada pemiliknya. Nadya akan menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada Azam.


Selama ini Nadya yang selalu mengurus pakaian Azam, bahkan hingga kini meskipun sudah menjadi istri Reno. Azam bahkan tidak pernah membeli pakaiannya sendiri, dia akan memiliki pakaian baru jika Nadya yang membelikannya. Bukan hanya itu saja, Nadya rela tidak jadi membeli kebutuhan pribadinya demi kebutuhan Azam terpenuhi. Bagaimana Azam tidak sangat sayang pada kakaknya ini, bagi Azam Nadya bukan sebagai kakak tapi lebih seperti ibu untuknya.


Di tempat lain, Surya yang sudah siap menuju kediaman Reno kedatangan putri pertamanya. Marisa baru saja pulang dari luar kota bersama Kevin, dia langsung menuju kediaman Surya untuk menemui sang ayah.


"Pa." panggil Marisa pada Surya yang baru saja keluar dari pintu kamarnya.


"Papa mau kemana?" tanya Marisa yang melihat ayahnya sudah rapi.


"Bertemu teman Papa." jawab Surya berbohong. Tidak mungkin dia memberitahu Marisa jika dia akan makan malam dikediaman Reno.


"Malam-malam?" tanya Marisa.


"Tidak biasanya Papa pergi malam-malam begini hanya untuk bertemu teman." ucap Marisa curiga.


"Kamu datang mau apa?" tanya Surya mengabaikan perkataan Marisa.


"Kangen sama Papa, apa lagi." jawab Marisa yang tentu saja tidak dapat dipercaya oleh Surya.


"Kangen Papa atau uang bulanan dari Papa untuk nenek dan adik-adik kamu?" Surya balik bertanya yang membuat Marisa terkekeh.


"Bukan aku ya Pa, tapi Mama yang pakai uang mereka. Aku kesini beneran kangen sama Papa." jawab Marisa membela diri.


"Tapi Papa harus segera pergi."


Semarah apapun Surya pada Marisa, dia tidak bisa mengabaikan jika yang berdiri di hadapannya ini putri pertamanya. Meskipun sifat dan sikap Marisa jauh berbeda dengan Nadya dan Azam, dia tetap darah dagingnya. Perbedaan itu mungkin karena cara mendidik mereka yang berbeda, Marisa terpengaruh gaya hidup Wulan yang biasa bebas dan glamour, sementara Nadya dan Azam sama seperti Widya yang sederhana dan bersahaja.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2