
Resepsi pernikahan yang dipersiapkan Reno sangatlah mewah. Seluruh ballroom dipenuhi dengan hiasan bunga segar dari berbagai jenis. Indah dan segar itulah yang dirasakan saat kaki memasuki tempat pesta ini.
Hal itu juga yang dirasakan Anjas dan Naira yang hadir malam ini memenuhi undangan Nadya dan Reno. Ada perasaan yang Anjas sendiri tidak mengerti, dia bahagia Nadya akan diperkenalkan sebagai Nyonya Reno Bagaskara, tapi dia juga merasa disudut hatinya yang lain terluka.
"Aku bukan jodohnya dan cinta tak harus memiliki, bukan." gumam Anjas dalam hati untuk menghibur dirinya sendiri.
Reno menatap terpesona pada Nadya yang malam ini sangat cantik, bukan hanya cantik, tapi istrinya adalah bidadari yang dikirimkan tuhan untuknya. Reno sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Nadya wanita baik-baik, sederhana, angun cantik dan menghangatkan hingga mampu menyejukkan hati Reno. Mungkin Reno akan berterima kasih pada Marisa, tidak dipungkiri karena permintaan wanita itu Reno mengenal dan menikah dengan Nadya.
Seperti yang Reno bayangkan saat istrinya itu mencoba gaun pengantinnya. Istrinya akan terlihat sempurna malam ini, aura kecantikannya terpancar dan memukau. Nadya menjelma bak seorang ratu, ratu yang akan selalu bertahta di hati Reno.
"Dia ratuku, ratu yang akan selalu bertahta di hatiku." gumam Reno yang menatap takjub pada sang istri.
"Acara akan dimulai." ucap seseorang yang merupakan salah satu karyawan dari wedding organizer bagian acara yang mengurus pernikahan Reno dan Nadya.
Mendengar ucapan itu, Reno mengulurkan tangannya pada sang istri, "Ayo." ajaknya.
Nadya tersenyum dan menyambut tangan Reno yang kini menggenggam erat tangannya. Mereka berjalan beriringan menuju pelaminan. Senyum bahagia terpancar dari keduanya membalas sapaan tamu undangan yang mana mata mereka semua tertuju pada dua insan yang akan menjadi raja dan ratu di pesta malam ini.
Mata Nadya menangkap sosok Anjas yang tengah melihat padanya. Mata itu sendu meski bibirnya melukiskan senyum.
"Biarkan aku bahagia." begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Nadya saat melihat Anjas.
Seakan tahu apa yang dipikirkan Nadya, Anjas pun membalas tatapan itu dan mengatakan, "Aku bahagia melihat kamu bahagia." ucap Anjas membatin dengan senyum yang terus dia sunggingkan hingga matanya sudah tidak lagi bertemu pandang dengan Nadya.
Satu persatu tamu mulai berbaris untuk memberikan ucapan selamat. Sementara Anjas mengajak Naira untuk menyumbangkan sebuah lagu, lagu yang sudah dia persiapkan untuk dia nyanyikan malam ini.
"Ini salah ku, terlalu memikirkan egoku." Anjas mengawali lirik lagu yang dia nyanyikan, lagu milik Tri Suaka yang dia rasa pas mewakili hatinya saat ini tepatnya setelah dia tahu Nadya wanita yang dicintainya telah menikah.
Nadya bisa langsung tahu siapa pemilik suara itu, begitu Anjas menyumbangkan suaranya. Ini lagu yang sering mereka nyanyikan berdua saat karaokean bertiga Naira. Dulu Nadya menyanyikannya untuk Anjas yang akan bersanding dengan Naira, siapa sangka malam ini Anjas menyanyikan lagu itu untuknya yang bersanding dengan Reno.
"Terlambat sudah, kini kau t'lah menemukan dia."
Mata Nadya kembali bertemu dengan manik hitam milik Anjas saat istri Reno itu melihat sejenak pada sahabatnya itu. Keduanya melempar senyum meski Nadya tahu masih ada luka dibalik senyum itu.
"Maafkan aku Anjas." batin Nadya dengan wajah yang tetap tersenyum karena masih banyak tamu yang akan memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Seseorang yang mampu membuatmu bahagia. Ku ikhlas kau bersanding dengannya."
"Mau duduk?" tanya Reno berbisik ditelinga sang istri yang membuat Nadya sedikit tersentak karena sedang menyimak lagu yang Anjas nyanyikan.
Menutupi keterkejutannya, Nadya tersenyum pada Reno, "Tamunya masih banyak Mas, nggak enak kalau kita duduk." jawab Nadya melihat pada antrian yang berbaris untuk naik keatas panggung.
"Tapi jangan paksakan diri kalau kamu memang lelah."
"Iya Mas, sejauh ini Dya masih bisa menyalami mereka semua." Nadya menjawab sambil mengangguk dengan senyum yang merekah.
"Selamat ya Mbak." ucap istri Didu setelah mengurai pelukannya dengan Nadya.
"Ria, terima kasih sudah mau datang" balas Nadya ucapan selamat istri Didu itu.
Nadya melihat pada perut Ria yang sudah bulat sempurna itu, "Kapan lahiran?" tanya Nadya, tangannya mengelus perut yang membuncit itu.
"Tinggal tunggu hari." jawab Ria. "Semoga Mbak cepat isi ya." ucap Ria lagi mendoakan.
"Aamiin." Reno yang menjawab.
Hal itu membuat Didu sang sahabat berkomentar, "Lagunya dalem banget." celetuk Didu tepat dihadapan Nadya. Sang istri langsung memukul lengan Didu yang sering bicara tidak pada tempatnya.
Nadya hanya tersenyum, tentu saja Didu dan Ria tahu bagaimana hubungannya dengan Anjas. Tapi seperti judul lagu yang dinyanyikan Anjas, 'Aku Bukan Jodohnya.' begitulah Nadya dan Anjas meski saling mencintai.
Dibelakang Didu ada Ica bersama kekasihnya, "Selamat ya Bu." ucap Ica.
"Terima kasih Mbak Ica." balas Nadya sambil menarik tubuh Ica untuk dia peluk.
Sungguh Ica merasa tersanjung dengan sikap Nadya yang menganggapnya sebagai teman, bukan istri dari pimpinan tempatnya bekerja.
Anjas yang sudah selesai mengungkapkan apa yang dia rasakan lewat lagu, kini ditemani Naira ikut mengantri dibarisan para tamu yang akan mengucapkan selamat.
"Aku titip Nadya, dia itu terlihat kuat tapi sebenarnya tidak sekuat yang terlihat. Ada kalanya dia rapuh dan butuh sosok yang kuat." ucap Anjas berbisik ditelinga Reno saat pria itu memeluk suami Nadya untuk mengucapkan selamat.
Jujur Reno tidak suka dengan ucapan Anjas, tapi mengingat Anjas yang selama ini selalu ada untuk Nadya, Reno hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tentu dia istriku, aku sebagai suami pasti akan menjaga dan membahagiakan istriku." balas Reno ucapan Anjas yang membuat pria itu tersadar posisi Reno untuk Nadya.
"Selamat ya sayang." ucap Naira memeluk Nadya.
"Semoga selalu bahagia dan kalian akan menua bersama sampai maut memisahkan." ucap Naira lagi mendoakan Nadya.
"Terima kasih Nai." balas Nadya setelah Naira menguraikan pelukannya.
"Terima kasih An." ucap Nadya pada Anjas.
"Kalian kapan menyusul?" tanya Nadya melanjutkan ucapannya.
"Ya gimana Anjas aja, kapan mau dihalalkan." jawab Naira membuat Anjas tersenyum kikuk dengan sindiran Naira. Mungkin setelah ini Anjas akan memikirkan apa yang Nadya tanyakan.
Sementara itu diluar, tepatnya di pintu masuk tempat pesta resepsi Nadya dan Reno diadakan. Dua orang wanita beda generasi di tahan panitia, mereka berdua tidak diizinkan masuk karena tidak ada nama mereka berdua didaftar nama tamu yang diundang.
Dua orang itu adalah Marisa dan Wulan. Sunggu definisi manusia yang tidak punya malu, setelah berani mempermalukan Nadya kini mereka berani menghadiri resepsi pernikahan Reno dan Nadya.
Mereka memaksa untuk masuk, dan menimbukkan keributan di meja depan. Untungnya tidak menganggu acara yang sedang berlangsung didalam.
Tujuan keduanya menghadiri resepsi pernikahan Reno dan Nadya tentu saja bukan untuk memberikan selamat, tapi karena ada tujuan dan maksud lain. Sayangnya Reno sudah tahu rencana mereka dari Jane dan juga Kevin.
Ya Kevin sekarang berpihak pada Reno. Meski Azam tidak memberi tahu siapa pemilik foto pernikahan Reno dan Nadya, namun bukan hal sulit bagi suami Nadya itu untuk mencari tahu siapa orangnya. Nama Kevin yang Reno dan timnya temukan sebagai tersangka utama. Karena terlanjur Reno tahu, akhirnya Kevin bergabung dengan Reno.
"Hei, kamu tahu siapa saya?" tanya Marisa pada petugas yang menjaga meja tamu.
"Iya kami tahu, Mbak saudara bu Nadya." jawab penjaga meja tamu tersebut.
"Nah itu tahu, makanya nama kami tidak ada didaftar tamu undangan. Karena kami adalah kakak dan ibunya." ujar Marisa.
"Betul yang dikatakan putri saya, saya ini ibunya dan ini kakaknya, kami ini keluarga mempelai wanita." sahut Wulan menimpali ucapan Marisa.
"Keluarga, benarkah?" tanya seseorang yang menatap tajam pada Wulan dan Marisa.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua ...