
Nadya masih belum percaya dengan ungkapan cinta yang Reno ucapkan padanya, tapi sikap Reno yang mulai menunjukkan perhatian dan lembut semakin menguatkan jika apa yang dikatakan laki-laki itu benar adanya.
Sekarang Nadya binggung menentukan sikap, "Aku harus bagaimana?" gumam Nadya.
Disatu sisi hatinya mulai luluh dengan sikap lembut Reno, disisi lain dia memikirkan perasaan Marisa sebagai istri sah dan istri pertama dari Reno. Haruskah dia bertahan menjadi istri Reno untuk selamanya dan belajar untuk mencintai Reno seperti permintaan suaminya itu. Atau memilih pergi seperti perjanjiannya dengan Marisa.
Berkali-kali Nadya memijat kepalanya, dia tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya. Biasanya dia bisa merekap laporan pemasukan dan pengeluaran restoran dengan cepat, tapi hari ini berkali-kali dia melakulan kesalahan, karena yang ada di pikirannya adalah Reno dan Marisa.
"Nadya." panggil Anjas mengejutkan Nadya.
"Aku lihat kamu diantar seseorang, siapa?" tanya Anjas yang melihat Nadya turun dari mobil mewah saat tiba di restoran.
Siapa lagi kalau bukan Reno yang mengantar Nadya pagi ini, laki-laki itu memaksa Nadya pergi kerja bersamanya meski Nadya sudah menolak. Alasan Nadya menolak karena tempat kerja Nadya tidak satu arah dengan perusahaan Reno, dia juga tidak ingin membuat Anjas curiga jika melihatnya turun dari kendaraan milik Reno dan menjadi gosip rekan-rekan kerjanya yang lain.
"Aku tidak izinkan kerja, atau pergi kerja bersamaku." ucap Reno mengancam Nadya saat menolak ajakan Reno.
Mendengar ancaman Reno, mau tidak mau Nadya harus mau Reno mengantarkannya ke tempat kerja. Nadya tidak tahu jika Reno melakukan semua itu karena suaminya itu cemburu pada tukang ojek yang ditumpangi Nadya.
"Saudara jauh." jawab Nadya. Dia sudah mempersiapkan jawaban dan alasan-alasan lainnya untuk pertanyaan Anjas sejak di perjalanan menuju tempat kerjanya, karena Nadya sangat yakin Anjas akan bertanya begitu melihat dia turun dari mobil Reno.
"Pantas saja Azam bilang kamu sudah berangkat kerja waktu aku jemput kamu di rumah." ucap Anjas.
Nadya terkejut, "Kenapa tidak mengirim pesan sebelumnya kalau mau jemput, aku bisa menunggu kamu" jawab Nadya menutupi keterkejutannya agar Anjas tidak curiga.
"Tadinya mau kasih kejutan, tapi aku yang kamu buat terkejut" jawab Anjas sambil terkekeh.
"Lain kali kirim pesan dulu seperti biasanya." ucap Nadya.
"Iya sayangku." balas Anjas sambil meletakkan jarinya di hidung Nadya.
Nadya hanya tersenyum, mengapa sekarang terasa biasa saja saat Anjas memanggilnya sayang, tidak seperti biasanya yang membuatnya merasa dicintai. "Mungkin karena aku sudah bisa menerima jika kita tidak bersama." ucap Nadya didalam hati.
Selalu bersama Anjas sejak sekolah, menumbuhkan rasa sayang yang lebih pada sosok pria yang selalu bisa menghiburnya. Tapi Nadya harus bisa menekan perasaannya karena Anjas sudah dijodohkan dengan gadis lain saudara dari kerabatnya. Nadya tidak pernah bisa lupa pesan Kinanti, ibu dari Anjas padanya.
"Tante tidak melarang kamu bersahabat dengan Anjas, Nadya. Tapi tante tidak mengizinkan jika kalian menjalin hubungan lebih dari itu. Kamu tahukan kalau Anjas sudah dijodohkan sejak kecil." ucap Kinanti.
"Nadya mengerti tante, tante Kinanti tidak perlu khawatir. Nadya tahu kalau Anjas sudah dijodohkan, Anjas cerita kok sama Nadya." jawab Nadya.
Itu jawaban saat Nadya masih belum mengerti apa arti cinta. Kini saat mereka sudah dewasa baru dia sadari sakit menahan perasan yang tidak bisa bersama. Sekarang Nadya mengerti apa itu cinta, lalu bagaimana dengan ungkapan cinta Reno?
__ADS_1
"Atau karena aku... secepat inikah aku luluh pada mas Reno hanya karena dia menyatakan cintanya." ucap Nadya yang ragu rasanya pada Anjas mulai beralih pada Reno suaminya.
"Mikirin apa sih?" tanya Anjas yang melihat Nadya hanya diam saja.
"Mikirin kamu." jawab Nadya membuat Anjas tersenyum
"Anjas, sebaiknya jangan panggil aku sayang lagi. Bagaimana nanti kebiasan kamu itu didengar Naira, tunangan kamu itu bisa marah mendengarnya." jawab Nadya.
"Naira tahu tentang kita, dia juga tahu kalau aku sayang sama kamu." jawab Anjas membela diri.
"Tapi kamu harus jaga perasaan dia, An" balas Nadya.
"Bagaimana dengan perasaan kamu sendiri? tanya Anjas.
"Kita sudah pernah membahas ini, An." ucap Nadya.
Sementara Nadya sibuk berdebat dengan Anjas, di kediaman orang tuanya Marisa sedang berbincang dengan Wulan, ibunya.
Marisa berbohong pada Nadya jika dia punya pekerjaan di luar kota, tapi dia tidak berbohong jika memberi waktu agar Reno dan Nadya bisa berdua. Dia berharapa Nadya secepatnya hamil dan memberikan dia anak, dengan begitu Reno tidak akan menceraikannya. Marisa tersenyum licik mengingat kepintarannya memanfaatkan keluguan dan kebodohan Nadya.
"Risa jangan sampai apa yang kamu lakukan ini akan menghancurkan kamu sendiri, apa lagi jika Surya sampai tahu apa yang kamu lakukan pada putrinya." ucap Wulan menasehati Marisa agar berhati-hati.
"Tenang saja Ma, Papa tidak akan tahu. Bertahun-tahun kita tidak memberikan nafkah papa untuk keluarganya, sampai detik ini dia tidak tahu, kan." jawab Marisa.
Flashback
"Telepon dari siapa?" tanya wulan begitu melihat Surya baru saja menutup ponselnya.
"Nadya." jawab Surya.
"Mau apa lagi putri kamu itu, bukankah baru beberapa hari yang lalu kita memberi dia uang untuk kuliah Azam." ucap Wulan, walau dia tahu jika uang itu tidak sampai pada putra dan putrinya Surya.
"Ibuku sakit, dia butuh biaya untuk operasi." jawab Surya membuat Wulan mendengus.
"Ma, Pa." panggil Marisa pada kedua orang tuanya.
"Kenapa terlambat, sebentar lagi rapat pemegang saham mulai." ucap Wulan melihat putrinya yang menyapa.
"Kalian saja yang menghadiri rapat itu, aku mau ke rumah sakit." ucap Surya.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, kamu yang harus memimpin rapat ini." ucap Wulan melarang Surya.
"Kerumah sakit mau apa Pa?" tanya Marisa.
"Neneknya Nadya sakit." Wulan yang menjawab.
"Papa hanya mengurus biaya rumah sakit saja, setelah itu papa akan kembali ke perusahaan." jawab Surya.
"Marisa saja yang ke rumah sakit Pa." ucap Marisa menawarkan diri.
"Apa tidak merepotkan kamu?" tanya Surya.
"Nenek Rosa itu nenek Marisa juga." jawab Marisa.
Surya akhirnya menyetujui permintaan Marisa yang akan mengurus biaya rumah sakit Rosa. Karena pertemuan dengan pemegang saham hari ini juga sangat penting untuk kelangsungan pwrusahaan yang dia pimpin.
Wulan mengikuti Marisa yang keluar dari ruangan Surya. Dia membawa putrinya ke tempat yang tidak banyak dilewati karyawan.
"Apa kamu merencanakan sesuatu?" tanya Wulan pada Marisa.
"Iya, aku akan memberikan uang ini dengan syarat dia harus mau mengandung anak Reno yang nanti akan menjadi anakku." jawab Marisa.
"Maksud kamu?" tanya Wulan tidak mengerti.
"Aku akan menjadikan Nadya istri sementara Reno sampai dia melahirkan. Hanya sebagai ibu pengganti."
Melihat senyum licik putrinya, Wulan hanya bisa diam. Dia tahu Marisa sangat membenci Nadya, bukan karena Nadya saudara tirinya tapi karena pernah membuatnya patah hati. Sama seperti dirinya yang membenci Nadya karena sangat mirip dengan wajah ibunya. Wajah wanita yang pernah membuatnya patah hati.
Flashback End
"Apa kamu yakin Reno tidak tahu dengan apa yang kamu lakukan pada Nadya?" tanya Wulan lagi.
"Reno terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Ma. Mana ada waktu dia untuk menyelidiki apa yang aku lakukan." jawab Marisa dengan yakin.
Marisa salah besar menganggap Reno tidak tahu apa-apa. Bahkan Reno saat ini sudah mengetahui segala perbuatan Marisa dibelakangnya.
Meminta Yuda menyelidiki siapa Nadya, membuat Reno menemukan banyak fakta yang mengejutkan. Salah satunya kini Reno tahu siapa Nadya sebenarnya, karena itu tidak perlu berpikir panjang bagi Reno untuk menjatuhkan hatinya pada Nadya.
Tanpa Marisa tahu, Reno mulai mengumpulkan bukti perselingkuhan Marisa dan Kevin, juga dengan pria lain yang di temui Marisa diluar sana. Salah satunya Reno memasang cctv di kamar tamu yang biasa di tempati Kevin dan beberapa tempat lain yang menjadi tempat favorit Marisa di kediaman Reno.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...