MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 45. Kediaman Baru


__ADS_3

Dua hari berlalu, Nadya dan Rosa sama-sama diizinkan pulang ke rumah hari ini. Dalam tubuh Rosa sudah dipastikan tidak ada lagi sisa racun yang bisa membahayakan kesehatan nenek dari Nadya dan Azam itu.


Dalang siapa dibalik rencana meracuni Rosa belum bisa diketahui identitasnya. Entah apa maksud dan tujuan orang itu, hingga tega ingin mengakhiri nyawa orang lain.


Orang yang kemarin ditangkap oleh Yuda dan anak buahnya ternyata hanya kurir dan tidak tahu apa-apa. Orang itu datang ke pesta karena mendapat undangan dari Nadya. Lalu saat akan masuk kedalam ballroom dia dimintai tolong untuk memberikan obat pada perawat Rosa.


Perawat yang dia maksud pun ternyata bukan Nuri, entah siapa? Orang itu tidak tahu. Tapi saat itu perawat gadungan itu memakai pakaian perawat dan tahu tentang Rosa sehingga orang yang tak lain tetangga Rosa itu percaya.


Sementara obat yang dititipkan pada Nuri untuk disuntikkan pada Rosa, masih dalam pengecekan laboratorium. Dan hasilnya baru akan diketahui dua hari lagi, apakah obat itu memang baik untuk penderita cancer atau justru membahayakan.


"Sudah siap Nek?" tanya Nadya yang sudah lebih dulu berkemas. Dia kekamar Rosa sementara Reno membawa barang-barang kemobil.


"Nenek sudah siap sejak tadi." jawab Rosa senang.


Rosa senang, karena mulai hari ini dia akan kembali tinggal bersama Surya, ayah dari Nadya dan Azam itu berhasil membujuk sang ibu untuk tinggal lagi bersamanya. Saat Surya menjaga Rosa di rumah sakit, pria itu berusaha merayu sang ibu agar mereka hidup bersama lagi sebagai sebuah keluarga.


Bukan pulang kediaman Surya yang dia tempati bersama Wulan dan Marisa, tapi Rosa akan kembali ke rumah lama mereka. Rosa dan Azam akan kembali kerumah masa kecil Nadya, rumah yang selama ini sempat dikuasai oleh Wulan dan Marisa untuk kepentingan pribadi mereka.


Untuk perbuatan jahat Marisa dan Wulan, kedua wanita beda generasi itu kini masih terus dalam penyelidikan pihak yang berwajib sebelum bukti-bukti kejahatan mereka dilimpahkan ke kejaksaan.


Terlalu banyak kejahatan yang keduanya perbuat, sehingga banyak pula tuntutan yang diajukan baik oleh Surya maupun Reno. Bukan hanya kedua wanita itu, para saksi juga dipanggil untuk memberikan keterangan termasuk Jean dan Kevin.


Nadya ikut mengatar Rosa pulang kerumah lama mereka sebelum kembali kekediaman Reno. Nadya rindu rumah itu, banyak kenangan indah yang terjadi disana bersama sang ibu. Kenangan yang tidak bisa dia lupakan meski sudah bertahun-tahun lamanya.


Mata Nadya melihat sekitar, tidak ada yang berubah. Kediaman ini masih sama persis saat dia tinggalkan beberapa tahun yang lalu. Tanpa Nadya, Azam dan Rosa tahu jika Surya telah berusaha keras untuk mengembalikan kediaman ini sama persis seperti dulu.


"Tidak pernah menyangka bisa kembali menginjakkan kaki di kediaman ini lagi." ucap Nadya lirih namun mampu di dengar Reno yang terus berada disisi sang istri.


Sejak tahu Nadya mengandung buah hati mereka, sikap posesif Reno semakin bertambah. Pria itu tidak pernah ingin jauh dari sang istri barang sedetikpun yang justru terkadang membuat Nadya merasa kesal dengan suaminya itu.


"Ayo kita makan dulu." ajak Surya, membuat perhatian semua orang tertuju padanya.


Surya sudah memesan makanan khusus untuk hari ini sejak kemarin. Karena jika boleh jujur, Surya juga merindukan suasana rumah ini, rindu dengan kebersamaan mereka seperti dulu. Hidup bersama Widya, Rosa dan kedua anaknya jauh lebih bahagia dari pada hidup bersama Wulan.

__ADS_1


Selesai makan siang, Nadya menyempatkan untuk masuk ke dalam kamar yang dulu dia tempati. Jika Nadya bahagia masuk kedalam kamar yang dulu dia tempati, tidak untuk Reno. Ada foto Nadya dan Anjas terpajang dimeja belajar. Keduanya tampak bahagia dengan tangan yang saling merangkul dan tersenyum lebar. Melihat dari seragam yang keduanya kenakan, foto itu diambil saat mereka masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama. Meskipun begitu Reno tetap saja cemburu pada laki-laki yang menjadi sahabat istrinya itu.


Tidak ingin sang istri bernostalgia lebih lama lagi, Reno segera mengajak Nadya untuk pulang ke kediaman mereka. Kini saatnya Reno yang akan memberikan kejutan pada sang istri. Kediaman baru, kediaman yang bisa membuat Nadya lebih nyaman. Reno tidak ingin ada bayang-bayang Marisa lagi yang menganggu rumah tangga mereka.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Nadya begitu menyadari kendaraan yang dikemudikan Reno bukan jalan menuju ke kediaman Reno.


"Pulang." jawab Reno.


"Tapi ini bukan jalan kerumah kamu Mas." sahut Nadya.


Reno menghela nafas panjang, Nadya selalu saja menyebutkan jika rumah yang mereka tempati selama ini adalah rumah Reno. Salah? Tentu saja tidak. Bukankah itu memang kediaman milik Reno? Tapi Reno ingin Nadya menganggap rumahnya itu juga rumah Nadya. Sayangnya Nadya tidak mau mengakui itu, Mengapa?


Nadya merasa dia hanya pendatang. Kediaman itu Reno bangun untuk dia tinggali bersama Marisa bukan untuknya.


Reno yang tahu apa yang ada dalam pikiran Nadya, menyiapkan kediaman baru atas nama Nadya sebagai hadiah pernikahan mereka.


"Memang bukan pulang kerumah yang biasa kita tempati, tapi pulang ke rumah kita." jawab Reno santai.


"Rumah kita." ulang Reno.


"Maksud Mas Reno kita pindah rumah?"


Reno tidak menjawab, tanpa perlu dijawab Nadya pasti sudah tahu maksudnya. Diraihnya tangan Nadya lalu dia genggam dengan erat, melihat dan tersenyum pada istrinya yang juga melihat padanya.


Tidak pernah terbayangkan oleh Reno, wanita yang dia nikahi hanya untuk mengandung anaknya kini menjadi istri sah dan mampu memberikan kebahagiaan untuknya.


"Mas mencintai mu Nadya." ucap Reno membuat Nadya yang fokus kedepan berpaling melihat suaminya.


"Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini." ucap Reno lagi tepat lampu lalu linyas berwarna merah.


Reni menghentikan laju kendaraannya dan tanpa dia sangka ucapan cintanya dibalas Nadya dengan mencium pipinya.


"Dya juga mencintai Mas Reno.

__ADS_1


Tiga puluh menit setelahnya, kendaraan yang di kendarai Reno tiba disebuah rumah dengan halaman yang luas. Nadya diam dan mengamati dari dalam mobil dan menatap takjub pada bangunan yang ada di hadapannya. Rumah impiannya.


"Ayo turun sayang." ajak Reno yang sudah membukakan pintu untuk Nadya.


"Mas?" Reno tersenyum, dia tahu Nadya pasti tidak mengira akan dibawa pulang ke kediaman yang baru.


"Ini rumah baru kita, untuk kita tempati bersama anak-anak kita." ucap Reno menjelaskan.


"Sejak kapan Mas mempersiapkan ini semua?" tanya Nadya.


"Sejak Mas jatuh cinta padamu." jawab Reno jujur lalu mengecup bibir istrinya.


"Ayo." ajak Reno lagi untuk masuk kedalam kediaman baru mereka.


"Selamat datang Bu." sambut Ijah yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Mbak Ijah disini?" tanya Nadya terkejut. Ijah mengangguk.


Sebenarnya Reno ingin mengajak Nadya untuk melihat rumah baru mereka. Tapi dia ingat pesan dokter, istrinya tidak boleh kelelahan. Reno pun memutuskan membawa Nadya langsung ke kamar mereka.


"Kamu suka sayang?" Nadya mengangguk lalu berbalik menghadap suaminya yang sejak tadi memeluknya dari belakang sejak mereka tiba dikamar utama.


"Terima kasih Mas. Dya suka." Reno tersenyum senang.


"Sekarang istirahat, nanti sore kita tour. Banyak ruangan yang butuh sentuhan tangan nyonya rumah." ucap Reno.


Tanpa Reno sangka, dan lagi-lagi untuk pertama kalinya Nadya mencium bibirnya. Dan Reno suka ini, tentu saja dia tidak akan melewatkan kebersamaan ini. Dua hari ini dia puasa, dan sepertinya malam nanti mereka bisa berbagi peluh dikediaman baru mereka.


"Terima kasih Mas." ucap Nadya lagi setelah melepas tautan mereka.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua ...

__ADS_1


__ADS_2