
Sudah lima menit berlalu, tapi belum juga ada yang mengeluarkan suara. Baik Yuda maupun Aditya masih sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing setelah Yuda menjelaskan hasil keputusan keluarganya.
Sesekali Yuda menatap tajam pada Aditya, adik iparnya ini sungguh keterlaluan. Sudah memiliki istri, tapi masih saja suka menebar benih dimana-mana.
Hari ini Yuda meminta Aditya menemuinya. Yuda mewakili pihak keluarga menyampaikan hasil dari keputusan keluarga mereka, yaitu meminta Aditya segera menceraikan Airin.
Airin sendiri tidak bisa menolak apa yang sudah menjadi keputusan orang tuanya dan keluarga yang lain. Adik sepupu Yuda itu terpaksa setuju dengan keputusan keluarga mereka.
"Untuk apa mempertahankan rumah tangga dengan suami yang suka selingkuh. Tidak ada harapan kedepannya, sekali selingkuh dia akan mengulangi lagi dan lagi." komentar salah satu dari keluarga mereka saat rapat keluarga.
"Bagaimana? Kamu yang menceraikan, atau Airin yang menuntut cerai?" tanya Yuda karena Aditya masih saja diam setelah mendengar penjelasan darinya.
"Bagaimana jika tidak kedua-duanya?" Aditya balik bertanya.
Dia memang nakal dalam urusan bercinta, tapi wanita yang dia cintai hanya Airin. Dia bahkan rela melawan keluarganya terurama sang mama, demi bisa menikahi adik sepupu Yuda itu.
"Baik, berarti Airin saja yang menuntu cerai. Kami akan memberikan semua bukti perselingkuhanmu selama menikah dengannya." jawab Yuda.
"Aku saja." sahut Aditya.
Lebih baik dirinya yang menceraikan Airin, keburukannya tidak akan terungkap. Nama baiknya dan keluarganya tetap akan terlindungi. Bukan hanya itu, Aditya tidak ingin ibunya semakin membenci Airin. Tapi Aditya tidak terima dengan tuduhan Yuda padanya yang mengabaikan kehamilan Marisa.
"Aku tidak pernah mengabaikan anakku. Anak yang dikandung Marisa, itu bukan anakku. Dia memang meminta izin meminjam namaku jika dibutuhkan. Tujuannya untuk melindungi nama ayah anak yang dia kandung. Marisa membayar mahal padaku untuk itu, dan uangya sudah aku berikan semua pada Airin." ucap Aditya menjelaskan.
"Dan kamu membiarkan nama baik kamu tercemar?" tanya Yuda tidak percaya.
"Bayaranya sangat tinggi, bisa menjamin hidup Airin dan putraku sampai lima tahun kedepan tanpa perlu aku bersusah payah." jawab Aditya.
Yuda hanya bisa menggelengkan kepala mendengar pengakuan Aditya.
"Apa kamu tidak berpikir, hal seperti ini terjadi? Sekarang Marisa dalam penjara, dan kamu disebut sebagai ayah dari anak yang Marisa kandung. Namamu sangat buruk saat ini, apa kamu tidak memikirkan perasaan Airin dan putramu?" tanya Yuda yang penasaran bagaimana jalan pikiran Aditya? Mengapa Airin yang cerdas bisa terpedaya oleh pria seperti ini?
"Marisa tidak akan lama berada disana, dia memiliki orang yang kuat untuk membebaskanya. Kamu pasti sudah tahu hal itu." jawab Aditya dengan santainya.
"Yang aku tahu, pria itu sangat tegila-gila dengan Marisa. Asal kau tahu, mereka tetap bisa bermain walau Marisa berada didalam sana." ucap Aditya lagi memberitahu sebuah rahasia yang dia ketahui.
Yuda tetap tenang, meski informasi ini sangat berguna baginya. Sekarang dia harus bisa mengumpulkan bukti lain yang memperkuat tuduhan mereka pada Marisa atas kematian Surya.
"Tunggu!" ucap Yuda saat Aditya akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Berhati-hatilah." ucap Yuda memberikan peringatan pada Aditya.
Nyawa Aditya bisa saja dalam bahaya, dia terlalu banyak mengetahui rahasia Marisa. Bukankah Surya juga banyak tahu tentang Marisa sehingga wanita itu mengatur rencana melenyapkan mertua Reno itu.
"Aku tahu, tenang saja. Anak Airin tidak akan menjadi yatim. Aku mencintai mereka, aku pasti akan menjaga diri untuk mereka." jawab Aditya.
"Jangan bicara cinta kalau kenyataanya kamu menyakiti mereka." sahut Yuda.
Aditya terkekeh, "Ya ya ya, tapi Airin sangat mencintaiku. Kalian yang memaksa kami bercerai." balas Aditya.
Untuk saat ini biarlah dia melepaskan Airin. Setelah masalahnya selesai, Aditya akan rujuk kembali. Dia sudah membicarakan masalah ini dengan Airin. Istrinya memang belum memberikan jawaban, tapi Aditya sangat yakin Airin akan kembali padanya.
Selepas kepergian Aditya, Yuda segera menghubungi Reno. Dugaan mereka kemungkinan benar, ada dalang yang lebih tinggi lagi diatas Marisa yang memberikan perintah untuk melenyapkan Surya.
"Awasi terus pria itu dan kumpulkan banyak bukti. Dapatkan foto saat dia mengunjungi Marisa dan membawa wanita itu keluar dari tahanan." ucap Reno.
"Jika kita berhasil mengungkapnya, ini akan menjadi kasus besar." ucap Yuda menanggapi perintah Reno.
"Aku tidak peduli dengan itu, aku hanya ingin semua ini cepat selesai Yud. Nadya tidak lama lagi akan melahirkan, aku ingin menikmati waktu bersama keluarga kecilku dengan tenang." balas Reno.
"Mas." terdengar suara Nadya memanggil Reno.
"Aku bawa Kania." sahut Yuda.
***
Menatap sekeliling, Anjas memastikan lagi bahwa tidak ada barang pribadi miliknya yang tertinggal di ruang kerjanya. Hari ini, hari terakhir dia bekerja direstoran milik keluarganya.
"Sudah siap?" tanya Dean yang berdiri di pintu.
Pria itu baru saja tiba. Dia sengaja datang untuk membantu Anjas. Dua hari lagi mereka akan terbang ke Jerman. Dean sedang mengembangkan usahanya disana, Anjas berencana akan membantu Dean sebelum dia membuka usaha sendiri.
"Ya, aku hanya mengecek ulang." jawab Anjas.
"Tidak perlu sedih, ditempat baru kita akan bertemu dengan orang-orang baru." ucap Dean.
"Mungkin saja jodoh kita ada disana." ucap Dean lagi yang membuat Anjas terkekeh.
Sudah kesekian kalinya Dean bicara seperti itu, dan Anjas hanya diam saja. Kali ini dia tertawa karena melihat sahabatnya yang sedang putus asa soal wanita.
__ADS_1
"Kamu bisa tetap disini jika ingin mengejarnya." ucap Anjas memberikan saran.
"Kalau jodoh tidak akan kemana. Aku akan fokus dulu pada usaha yang aku rintis sekarang." jawab Dean.
"Kau yakin?" tanya Anjas.
"Ya...."
Dean tidak jadi meneruskan ucapannya saat matanya melihat wanita yang sedang mereka bicarakan.
Anjas kembali terkekeh melihat tingkah sahabatnya, "Dekati dia, mungkin ini kesempatan baik untukmu agar bisa lebih dekat dengannya." ucap Anjas memberikan saran.
"Sekarang?" tanya Dean ragu.
"Tidak, tahun depan saja saat dia sudah bersanding dengan pria lain." jawab Anjas yang langsung mendapat toyoran dari Dean.
"Kamu menyemangati sahabatmu. Bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja berdiri di samping Anjas.
"Yusi." panggil Anjas saat mengenali wanita yang berdiri disampingnya.
"Hai." sapa Yusi, "Tadinya aku ingin menyapa kamu dan bang Dean. Tapi dia sudah lebih dulu berjalan menemui mbak Ana." ucap Yusi lagi sambil melihat Dean yang menyapa Ana.
"Kamu mengenal Ana?" tanya Anjas menyelidik.
"Dia salah satu manager di perusahaan papa. Harusnya bukan hal yang sulit bagi bang Dean untuk mendekati mbak Ana." jawab Yusi.
"Dean tidak tahu Ana bekerja diperusahaan papamu. Dia baru mengenal Ana beberapa hari yang lalu saat pengajian dan kirim doa untuk ayah Nadya." jawab Anjas.
"Nadya sahabat kalian itu? Apa hubungannya dengan mbak Ana?" tanya Yusi.
"Mereka masih ada hububgan saudara." jawab Anjas.
Yusi melihat sekilas pada Anjas sambil tersenyum, lalu tangannya terulur menarik tangan Anjas.
"Ayo kita bergabung dengan mereka." ucap Yusi.
Anjas menatap tangannya yang ditarik Yusi, lalu bibirnya menyungingkan senyum. Adik sepupu Dean ini sekarang bukan lagi gadis pemalu seperti dulu. Anjas melepaskan tangan Yusi yang menariknya. Kini tangan pria itu merubahnya dengan menggenggam tangan Yusi. Tidak perlu mencari jodoh diluar negeri jika disini ada gadis yang bisa membuat hati mereka mencair.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua ...