MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 30. Istri Saya


__ADS_3

Tatapan mata Jasmine pada Nadya membuat Reno tersadar jika dia belum memperkenalkan sang istri pada Jasmine.


"Sayang kenalkan ini Jasmine, teman Mas waktu di Amerika." ucap Reno.


"Jasmine, ini Nadya istri saya." ucap Reno lagi memperkenalkan Nadya.


"Saya pergi bersama istri saya nanti malam." ucap Reno menjawab pertanyaan Jasmine sebelumnya.


Nadya bisa melihat wajah Jasmine yang tidak suka dengan ucapan Reno. Nadya tidak tahu apa yang dibicarakan Jasmine dengan suaminya sebelumnya, tapi Nadya yakin sepertinya Jasmine berharap bisa pergi bersama Reno nanti malam.


"Saya pamit." ucap Jasmine dengan wajah datar tanpa ekspresi. Wanita itu mengabaikan Reno yang memperkenalkan Nadya padanya.


Untung saja Nadya mengurungkan niatnya untuk mengulurkan tangannya, jika tidak tentu saja dia merasa malu tidak dianggap oleh teman suaminya itu.


Reno mengangguk sebelum Jasmine melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Kedua pendamping Jasmine memberi hormat pada Nadya dan Reno sebelum mereka menyusul bos mereka yang tidak punya sopan santun.


"Yuda, kamu yang ambil alih kerja sama dengan perusahaan Jasmine." ucap Reno pada sahabat yang juga asistennya itu.


"Siap Bos." jawab Yuda dengan senyum lebar. "Rezeki tidak akan kemana." batin Yuda. Jika dia yang mengambil alih kerja sama itu, itu berarti dia yang akan lebih sering bersama Jasmine.


"Hati-hati dengan wanita seperti dia, Yud." ucap Reno memperingatkan.


"Baru juga berharap lebih sudah dipatahkan." rutuk Yuda atas peringatan Reno.


"Aku tahu sepak terjang dia waktu di Amerika, dia bisa menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya." ucap Reno lagi.


"Kalau begitu, kenapa kamu mau kerja sama dengan perusahaannya?" tanya Yuda.


"Kerja samanya menguntungkan buat kita, tapi tetap hati-hati. Jangan mudah tertipu dengan ucapannya, harus selalu ada perjanjian hitam diatas putih jika tidak ingin kamu hancur." jawab Reno.


Reno mengajak Nadya masuk kedalam ruangannya, meminta istrinya duduk di sofa sembari menunggu dia menyelesaikan sedikit pekerjaanya.


Nadya mulai merasa jenuh, menunggu Reno yang berkutat dengan tumpukan kertas yang ada dihadapan suaminya itu. Dia pun berdiri dan mendekati Reno, "Mas, boleh Dya berkeliling sebentar?" tanyanya meminta izin.


Nadya melihat Reno yang melihat padanya, "Mau bertemu Ica." ucap Nadya mencari alasan. Entah mengapa dia tiba-tiba saja ingat pada nama karyawan Reno yang bernama Ica, karyawan yang pernah membuatkan kopi untuknya.


"Jangan lama-lama." jawab Reno.


Nadya tersenyum lebar, itu berarti Reno mengizinkannya. Nadya hendak berbaik, namun lenganya di tahan Reno, hingga dia kembali menatap pada suaminya.


"Ada apa Mas?" tanya Nadya.


"Jadi mau pergi begitu saja?" tanya Reno.


Nadya tidak mengerti maksud perkataan Reno, sampai Reno menyodorkan pipinya untuk di cium Nadya.

__ADS_1


"Astaga." batin Nadya, namun dia tetap melakukan apa yang diminta suaminya.


Nadya mendekat ingin mencium pipi Reno, tapi Reno berpaling dan sekarang bibir mereka yang bertemu. Reno menarik Nadya hingga duduk di pangkuannya. Reno butuh penyegaran, untuk bisa kembali meneliti lembaran kertas yang ada di hadapannya. Dia memangut bibir istrinya sesaat sebelum benar-benar mengizinkan sang istri keluar dari ruangannya.


"Janga lama-lama, Mas butuh kamu disini." ucap Reno mengiringi kepergian Nadya.


Nadya tidak benar-benar mencari Ica, dia bahkan tidak tahu dibagian mana Ica bekerja. Nadya hanya jenuh berdiam diri di ruangan Reno, karena itu dia memutuskan untuk berkeliling meski hanya di lantai dimana ruangan Reno berada.


"Nadya."


Nadya segera berbalik ke arah lift yang terbuka begitu mendengar namanya di panggil dari arah sana.


"Papa." balas Nadya begitu melihat Haris papa mertuanya.


"Sedang apa kamu disini? Bukankah kamu pergi bersama mama kamu?" tanya Haris beruntun begitu Nadya menghampiri dan mencium punggung tangannya.


"Iya tadi pagi kami pergi bersama. Mama pulang dan Dya diminta mas Reno ke perusahaan." jawab Nadya.


"Hemm." Salah satu pria yang datang bersama haris berdehem.


"Apa dia putri Pak Haris?" tanya pria yang lebih tua dari pria yang tadi berdehem.


"Ini menantu saya, istri Reno." ucap Haris.


"Nak, ini Pak Halim dan putranya Haikal." ucap Haris memperkenalkan tamunya.


Nadya menangkupkan kedua tangannya memberi salam pada kedua pria itu, "Salam kenal Pak, saya Nadya." ucap Nadya sopan.


"Reno beruntung sekali dapat istri cantik, sopan dan ramah seperti ini." ucap Halim memuji.


"Saya sudah menerima dan membaca undangan dari Reno, bukankah besan Pak Haris itu pak Surya?" tanya Haikal.


"Nadya putri kedua pak Surya." jawab Haris.


"Saya tidak tahu kalau Surya menyimpan permata, yang saya tahu putrinya itu hanya satu yang berprofesi model itu." ucap Halim.


Nadya sangat tidak suka mengakui Marisa adalah saudaranya, putri ayahnya juga. Tapi Nadya tidak bisa merubah kenyataan yang sebenarnya.


"Mari kita ke ruangan saya." ajak Haris sebelum rekan bisnisnya ini berbicara lebih banyak lagi tentang Surya dan itu bisa saja menyakiti Nadya.


Nadya mengangguk hormat pada Haris dan kedua tamunya, namun tatapan lekat Haikal membuat Nadya merasa tidak nyaman. Entah apa maksud tatapan pria itu padanya.


Nadya melanjutkan langkahnya menuju pantry, dia tiba-tiba saja merasa haus dan ingin sekali mencari minuman dingin. Tiba di pintu pantry, lagi-lagi Nadya mendengar karyawan yang berbicara buruk tentang dirinya.


"Mengapa orang-orang suka sekali memakan daging manusia yang sudah mati, semoga kalian menyadarinya dan berhenti membicarakan orang lain." gumam Nadya.

__ADS_1


"Bu Nadya." suara Ica yang berdiri di belakang Nadya mengejutkan penghuni pantry. Ica sengaja membesarkan suaranya agar rekan kerjanya yang ada didalam tahu, orang yang mereka bicarakan mendengarnya.


Sebenarnya Ica tiba di pantry tidak lama dari Nadya berdiri di depan pintu pantry, dia juga bisa mendengar rekan kerjanya yang didalam pantry sedang membicarakan istri bosnya ini. Yang membuat Ica kagum pada sosok Nadya, wanita itu tidak melabrak mereka yang berbicara buruk tentangnya. Sebagai istri bos, Nadya juga bisa melakukan apapun pada karyawan tersebut. Tapi Nadya tidak mengunakan kekuasaan itu untuk menghakimi orang.


"Hai Ica." sapa Nadya, akhirnya dia benar-benar bisa menemukan Ica. Itu berarti dia tidak membohongi Reno.


"Mau cari apa Bu? Apa ibu mau saya buatkan kopi hitam tanpa gula lagi?" tanya Ica.


"Tidak, terima kasih Ica." jawab Nadya.


"Ibu masih ingat nama saya, terima kasih Bu." ucap Ica senang.


Nadya tersenyum, "Saya hanya ingin air putih dingin saja." ucap Nadya lagi.


"Silakan masuk Bu." ucap Ica mempersilakan Nadya masuk.


"Maaf ternyata ramai disini." ucap Nadya, matanya menyapu seluruh ruangan dan melihat satu persatu karyawan yang tadi membicarakannya. Nadya mengenali salah satunya, dia adalah karyawan yang pernah duduk bersamanya di pantry bersama Ica dan Didu.


Mengingat nama Didu, Nadya baru ingat dia ingin menjenguk istri sahabat Anjas itu.


"Ica, apa istri Didu sudah melahirkan?" tanya Nadya begitu Ica menyodorkan segelas air putih dingin.


"Saya kurang tahu Bu, Lina yang satu divisi dengan Didu." jawab Ica sambil bertanya pada Lina lewat tatapan mata. Yang di tanya hanya mengangkat kedua bahunya.


"Tidak apa-apa, nanti saya hubungi istrinya saja." jawab Nadya.


"Ibu benar tidak ingin saya buatkan kopi?" tanya Ica lagi.


"Tidak terima kasih, saya harus kembali ke ruangan...."


"Sayang."


Suara Reno yang memanggil Nadya membuat seisi pantry itu berpaling ke sumber suara.


Nadya segera berdiri dan menghampiri Reno yang menyambutnya dengan uluran tagan. Sebelumnya dia sempatkan mengucapkan terima kasih pada Ica, " Terima kasih untuk air putihnya Ica." ucap Nadya.


Suara nafas lega terdengar di dalam pantry selepas kepergian Nadya.


"Ica, apa istri bos mendengar pembicaraan kami?" tanya salah satu karyawan.


Ica menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, "Saya hanya sempat dengar dia berkomentar, mengapa banyak orang yang suka makan daging manusia yang sudah mati." ucap Ica.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...

__ADS_1


__ADS_2