
Pernyataan Marisa dan Wulan, menjadi trading topik di media online dan televisi. Hujatan pada Nadya mulai bermunculan, tanpa mereka konfirmasi kebenarannya.
Marisa tertawa bahagia, saat melihat hampir semua komentar netizen membela dirinya. Dia lupa apa yang dia sampaikan adalah kebohongan dan jika kebohongan itu terungkap maka dia yang akan di serang balik netizen.
Jane yang sudah kembali ke kediaman Kevin setelah tugasnya selesai, dia memperhatikan Marisa dan melaporkannya pada Didu. Dirinya yang jadi mata-mata belum diketahui Marisa maupun Wulan. Bahkan wanita paruh baya itu mengajaknya saat bertemu Jasmine, dan keduanya menyusun rencana di hadapan Jane. Tanpa mencurigai Jane akan membocorkan rencana ini pada Didu, lalu Didu meneruskannya kepada Yuda.
Nadya dan Reno baru saja selesai sarapan, Reno mulai hari ini tidak pergi kekantor. Dia memilih menemani Nadya hingga pesta pernikahan mereka berlangsung. Terlebih lagi serangan yang dilancarkan Marisa dan Wulan, membuat Reno sangat menjaga istrinya itu. Reno tidak ingin Nadya sampai membaca atau mendengar komentar miring tentang dirinya. Untungnya Nadya bukan orang yang aktif di media sosial meskipun memiliki akun, sehingga Reno lebih mudah menjaga istrinya itu dari serangan netizen
Nadya baru saja akan menyalakan televisi, Reno yang melihatnya langsung merebut remote televisi dan melemparkan remote itu begitu saja diatas sofa.
"Mas!" panggil Nadya kesal.
"Ada apa?" tanya Nadya menyelidik.
"Tidak ada apa-apa, Mas mau mengajak kamu mencoba gaun pengantin kita." jawab Reno.
"Kenapa tidak bicara sebelumnya dan merebut remote tv dengan kasar?" tanya Nadya lagi.
"Mas minta maaf. Ayo kita pergi sekarang." jawab Reno.
Baru saja keduanya akan melangkah, Ijah berlari mendekat.
"Pak." panggilnya sambil mengatur nafas.
"Ada apa Mbak?" Nadya yang bertanya karena penasaran.
"Diluar banyak wartawan." ucap Ijah.
Nadya langsung melihat kearah suaminya, ingin tahu apa yang terjadi. Mungkinkah masalah penculikan tentang dirinya di ketahui wartawan atau masalah lain lagi. Seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya, Reno segera mengeluarkan ponsel miliknya yang ada di saku celana.
"Dimana?" tanya Reno, begitu panggilannya terhubung dengan Yuda.
"Aku dan pak Bowo di kantor polisi, melaporkan pencemaran nama baik." jawab Yuda.
"Ada apa?" tanya Yuda.
"Banyak wartawan dirumah, aku dan Nadya harus pergi untuk fitting pakaian pengantin kami."
"Akan aku kirim orang untuk mengamankan." sahut Yuda dari seberang sana.
"Mas, ada apa? Apa ada hubunganya dengan penculikan Dya semalam." tanya Nadya begitu Reno menutup panggilannya.
__ADS_1
Reno menarik nafas panjang, lalu menggeleng. "Wulan dan Marisa membuat masalah." jawab Reno.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Nadya penasaran. Kini dia mengerti mengapa Reno melarangnya menyalakan televisi, itu berarti ada hubungannya dengan yang dilakukan Wulan dan Marisa.
"Apa mereka menyampaikan hal yang buruk tentang Dya pada wartawan?" tebak Nadya.
Melihat Reno hanya diam, Nadya meyakini apa yang dia duga itu benar.
"Ayo kita keluar Mas, Dya tidak takut. Mengapa kita harus sembunyi kalau kita tidak salah." ucap Nadya mengajak Reno untuk pergi ke butik untuk fitting pakaian pengantin mereka.
"Tunggu orang-orang keamanan yang dikirim Yuda. Diluar bukan hanya wartawan tapi juga orang-orang yang percaya dengan ucapan Marisa. Mereka bisa saja bertindak diluar batas, Mas tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu sayang." jawab Reno.
"Baiklah Mas." Nadya mengalah, suaminya benar. Marisa seorang model terkenal, penggemarnya banyak, sudah dapat dipastikan akan membela saudara perempuannya itu.
Di hotel, Aditya baru saja terjaga dari tidurnya yang cukup lama. Pukulan Jane di kepalanya cukup keras, dia masih bisa merasakan rasa sakitnya. Tidak hanya itu, Didu dan orang-orang kepercayaan Reno juga memberikan obat tidur pada Aditya tanpa pria itu tahu.
"Bangun juga akhirnya bos muda ini." ucap Didu begitu melihat pergerakan Aditya.
"Siapa kamu, dimana wanita itu dan orang-orangku?" tanya Aditya.
"Sabar bos." sahut Didu.
"Apa Reno yang mengirim kalian?" tanya Aditya lagi, dia sadar, dia pasti sudah berada ditangan musuh.
"Pak, bos muda kita sudah terjaga." lapor Didu pada Yuda.
"Lakukan sesuai rencana, saya akan segera kesana setelah urusan di kantor polisi selesai." jawab Yuda.
"Siap Bos." jawab Didu lalu dia melihat pada Aditya.
"Anda salah memilih lawan." ucap Didu sambil menyeringai. Enak saja pria di hadapannya ini ingin menikmati tubuh Nadya. Meskipun Reno tidak membayarnya dengan tugas ini, Didu tetap akan menyelamatkan Nadya dari pria seperti Aditya.
Yuda memijat keningnya setelah menutup panggilan dari Didu, begitu banyak pekerjaan yang diberikan Reno akhir-akhir ini. "Aku harus minta bonus yang banyak setelah ini." gumamnya.
Pengacara Reno menghampiri Yuda, "Kita sudah selesai Pak Yuda." ucap pengacara itu.
"Kita tunggu perkembangannya. Bukti yang kita berikan lebih dari cukup untuk menyangkal apa yang mereka katakan."
"Baiklah, saya harus kembali ke hotel. Orang yang mencoba menculik bu Nadya sudah sadarkan diri." jawab Yuda.
Butuh waktu tiga puluh menit dari kantor polisi menuju hotel tempat mereka menyandera Aditya. Baru saja Yuda memarkirkan kendaraanya, dia melihat sosok Jasmine berjalan menuju lobby hotel.
__ADS_1
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Yuda segera mengikuti wanita itu. Seperti yang Yuda duga, Jasmine mendatangi kamar dimana Reno seharusnya disandera oleh orang-orang Aditya.
Jasmine melihat sosok pria tengah tertidur, lampu kamar yang remang membuat dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Tapi dia yakin, jika pria itu adalah Reno.
Jasmine mendekati pria itu setelah membuka pakaiannya, dia memeluk pria itu dari belakang. Tanganya membuka kancing kemeja pria itu, satu persatu hingga tak bersisa. Sejak semalam dia menunggu waktu ini tiba, dalam hatinya Jasmine merasa senang bisa menyentuh tubuh Reno tanpa pakaian seperti saat ini.
"Hari ini kamu adalah milikku sayang." bisik Jasmine membuat pria yang dia peluk itu terjaga.
Jasmine mencium tengkuk pria itu, sementara tangannya mengelus dada bidang sang pria. Hal itu tentu saja membangkitkan hasrat pria tersebut, apa lagi dia sudah merasakan tubuhnya panas.
Pria itu berbalik dan langsung menyerang Jasmine dengan ciuman panasnya. Jasmine yang mengira itu adalah Reno tentu saja tidak ingin melewatkan hal yang sudah sangat dia inginkan. Keduanya terus menautkan bibir mereka, sampai Jasmine menyadari pria yang menciumnya bukan Reno.
"Aditya!" teriak Jasmine.
Aditya tidak menghiraukan teriakan Jasmine, tubuhnya sudah dikuasai nafsu sejak semalam dan dia ingin pagi ini menuntaskannya.
"Aditya, ini gue Jasmine." ucap Jasmine agar Aditya menghentikan cumbuan laki-laki itu.
Dengan sekuat tenaga Jasmine mendorong Aditya, usahanya sia-sia, tenaganya tidak bisa melawan tenaga Aditya. Jasmine pasrah kali ini dia kembali melakukannya bersama Aditya bukan Reno pria yang diinginkannya.
"Kenapa gue harus berakhir sama lo lagi, Dit." rutuk Jasmine setelah mereka selesai dengan kegiatan panas mereka.
"Lo yang mulai Jas, dan lo tahu gue seperti apa." jawab Aditya.
Jasmine hanya diam, ada rasa kesal dia tidak bisa melakukannya dengan Reno, tapi setidaknya hasratnya tersalurkan meskipun bersama Aditya. Ini juga bukan kali pertama mereka berhubungan.
"Apa yang terjadi? Mengapa lo yang tidur disini?" tanya Jasmine penasaran, orang-orangnya memberi kabar rencana mereka berhasil.
Semalam dia bisa mengalihkan perhatian Reno pada Nadya dengan mengajak pria itu berbincang, sehingga orang-orang Aditya juga berhasil menculik istri Reno.
"Orang-orang ku tidak berhasil membawa istri Reno. Sepertinya mereka sudah tahu rencana kita." jawab Aditya.
"Bukankah kamu bilang, kamu sedang bersama wanita itu."
"Wanita itu bukan istri Reno, tapi orang suruhan Reno untuk mengecoh kita."
Jasmine kembali ingin bicara, namun ucapannya tertahan begitu pintu terbuka. Dia segera menarik selimut menutupi tubuh polosnya.
"Bagaimana sarapan kalian, sudah terpuaskan, kah?" tanya orang yang membuka pintu tersebut.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua...