MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 47. Hanya Nadya


__ADS_3

Azam tersenyum setelah menerima pesan dari Karla. Sahabat terbaiknya itu ternyata tidak lupa dengannya. Azam salah sempat berpikir negatif pada Karla, meski ada setitik kecewa yang Azam rasakan karena Karla tidak jujur dan memberi tahu apa yang terjadi dengan teman baiknya itu. Tapi Azam tahu, Karla pasti ada alasannya.


"Mas Azam mau kemana?" tanya Nuri saat melihat adik Nadya itu sudah berpakaian rapi.


"Mbak Nuri mau tahu apa mau tahu banget?" goda Azam.


"Palingan juga mau pergi nemuin mbak Karla." jawab Nuri yakin.


"Tet tot. Jawaban anda salah." balas Azam.


"Emangnya Mas Azam mau kemana?" tanya Nuri lagi.


"Mau ke rumah baru mbak Dya." jawab Azam, lalu tertawa. Menertawakan Nuri, sambil berlalu.


Tinggalah Nuri yang geleng-geleng kepala. Melihat Azam, Nuri merasa adik bungsunya yang telah pergi untuk selamanya hadir kembali saat bersama Azam. Usia Azam dan adiknya tidak jauh berbeda karena itu Nuri menganggap Azam seperti adiknya sendiri. Kehadiran Azam mampu mengobati rasa rindunya pada sang adik. Terlebih lagi Azam tipe orang yang ceria dan ramah.


"Nuri, bisa saya bicara sebentar?" tanya Surya mengejutkan Nuri.


Nuri mengangguk, "Bisa Pak. Kebetulan nenek baru saja tidur." jawab Nuri.


"Duduklah!" ucap Surya.


Nuri duduk di hadapan Surya. Mereka bicara di ruang tamu, sedikit menjauh dari asisten rumah tangga yang masih sibuk di dapur.


"Kamu ingat wajah orang yang menitipkan obat dan uang untuk kamu?" tanya Surya, langsung pada pokok pembicaraan mereka.


"Ingat Pak. Nenek juga pasti ingat, dia mengenal orang itu." jawab Nuri.


Surya diam setelah mendengar jawaban Nuri, entah apa yang dipikirkan pria yang hampir paruh baya itu. Melihat Surya hanya diam, Nuri kembali bertanya pada majikannya itu.


"Apa tidak sebaiknya Bapak tanyakan saja pada nenek?" saran Nuri.


"Itu yang sedang saya pikirkan, tapi apa tidak menganggu kesehatan ibu saya?" tanya Surya ragu.


"Melihat kesehatan nenek sekarang, saya kira tidak ada masalah Pak." jawab Nuri yakin.


"Baiklah, akan saya coba. Jujur saya sangat penasaran siapa orang itu dan kenapa?" ucap Surya.


"Nanti kalau Bapak ingin bicara dengan nenek, akan saya pastikan kondisi nenek sedang baik." ucap Nuri. Surya mengangguk.


"Saya permisi Pak." pamit Nuri. Lagi, Surya menjawab hanya dengan anggukan.


Azam tiba di kediaman Reno dan Nadya. Ini kali pertama dia berkunjung dan kata yang keluar dari mulutnya adalah, "Waw." pada kediaman kakaknya.

__ADS_1


Rumah ini, seperti rumah impian kakaknya selama ini. Dan Reno kakak iparnya mampu mewujudkannya. Tidak ada kata lain yang bisa Azam ucapkan selain kata 'Alhamdulillah' dia bersyukur atas kebahagian kakaknya saat ini. Azam berharap Nadya selalu bahagia, itulah yang Azam inginkan sejak dulu.


"Masuk Mas Azam." sapa Ijah yang membukakan pintu untuk Azam.


"Ya, terima kasih Mbak." balas Azam.


"Ibu ada dikamar, saya panggilkan dulu." ucap Ijah memberi tahu.


Azam mengangguk setuju lalu dia memilih untuk berkeliling dan melihat-lihat kediaman baru kakaknya.


"Mas Azam diminta ke kamar sama Bu Nadya." ucap Ijah menghentikan langkah Azam.


"Kamarnya dimana?" tanya Azam.


"Saya antar Mas." sahut Ijah.


Azam pun mengikuti langkah Ijah yang membawanya ke kamar Nadya. Bukan kamar Nadya, ternyata saudara perempuannya itu sedang berada di kamar sebelah, tepatnya kamar yang akan ditempati keponakannya kelak.


"Mbak." sapa Azam begitu melihat Nadya.


"Om Azam sudah datang." balas Nadya. "Duduk Dek." ucap Nadya lagi.


"Ada apa Mbak?" tanya Azam.


"Ngga sabaran bener sih jadi orang!" Azam terkekeh, bukan kali pertama mereka seperti ini.


"Mas Reno nya mana?"


"Sabar, masih ada tamu. Mereka sedang bicara di ruang kerja." jawab Nadya.


"Zam, kemarin Mbak bertemu Karla." ucap Nadya lagi. maksud hati ingin memberitahu Azam, tapi ternyata sang adik sudah lebih dulu tahu.


"Iya, Karla sudah cerita." sahut Azam.


"Wah, Mbak Dya terlambat dong kasih informasinya." balas Nadya.


Azam kembali terkekeh, kali ini dia merangkul sayang sang kakak. "Ada apa?" tanya Azam lagi.


Nadya mencebik, "Pake nanya. Kamu pasti tahu cerita selanjutnya!"


Azam menyengir kuda, "Iya, Karla sudah cerita." sahutnya. "Tapi Mbak, kenapa tidak di perusahaan mas Reno saja?" tanya Azam.


"Tadinya Mbak juga bertanya seperti itu sama mas Reno." sahut Nadya.

__ADS_1


"Apa alasan mas Reno?" tanya Azam tidak sabar.


"Dengerin dulu bisa nggak sih? Kebiasaan senangnya memotong ucapan orang. Orang belum selesai juga!" kesal Nadya, meski dia sudah hapal kebiasaan adiknya yang tidak sabaran.


"Maaf. Lanjut Mbak!" ujar Azam.


"Mas Reno nggak mau Karla jadi bahan pembicaraan di perusahaan mas Reno. Banyak yang sudah kenal Karla disana, karena seringnya kamu ajak dia saat bertemu mas Reno akhir-akhir ini." ucap Nadya menjelaskan.


"Benar juga." sahut Azam. Sama papa Haris juga nggak masalah Mbak. Sama saja, yang penting Karla punya pekerjaan. Dia kan, harus bayar uang kuliah sendiri, belum juga harus biayai sekolah adiknya." ujar Azam.


"Karla itu sama seperti Mbak dulu." ucap Nadya sambil menerawang masa lalu. Untungnya ada Anjas yang selalu siap membantu. Mengingat Anjas, Nadya merindukan pria itu. Bukan sebagai kekasih hatinya seperti dulu yang dia rasakan, tapi murni sebagai sahabat.


Azam mengeratkan rangkulannya pada Nadya. Rasa terima kasihnya tak kan pernah cukup membayar semua jerih payah dan pengorbanan sang kakak. Mengingat masa lalu mereka, masa dimana mereka terpuruk. Menimbulkan kembali rasa benci Azam pada Wulan dan Marisa.


"Sudah, jangan mendendam." ucap Nadya seolah tahu apa yang ada dalam pikiran adiknya itu.


"Yang aku dengar, Wulan akan dituntut dengan hukuman seumur hidup bakan bisa saja hukuman mati. Karena begitu banyak kejahatan yang dia lakukan pada kita." ucap Azam.


"Bagaimana dengan kasus nenek?" tanya Nadya setelah mereka diam sesaat.


"Apa mas Reno nggak cerita sama Mbak?" Azam balik bertanya.


"Kamu tahu sendiri. Mas Reno lebih senang membahasnya bersama kamu dan Yuda, dari pada sama Mbak." jawab Nadya seraya bersungut-sungut.


"Ya itu kan, karena mas Reno sayang sama Mbak Dya. Mas Reno nggak mau Mbak Dya ikutan pusing memikirkannya. Apa lagi Mbak sekarang sedang hamil." ucap Azam membesarkan hati Nadya. Tapi itu memang benar, Reno sendiri yang memberi tahunya tentang hal ini.


"Itu benar sayang." suara Reno membuat mereka beralih menghadap sumber suara.


"Tamunya sudah pulang Mas?" tanya Nadya.


"Pak Abi itu bukan tamu sayang." koreksi Reno.


"Maaf lupa." cicit Nadya.


Azam bergeser, agar Reno bisa duduk disamping Nadya. Tapi ternyata, Reno mengajak Azam untuk masuk keruang kerjanya. Ada hal penting yang harus mereka bahas. Nadya mengalah, membiarkan sang adik bicara berdua bersama suaminya. Dia paham, Reno tidak akan mengizinkan dia untuk ikut terlibat.


Sementara Azam dan Reno berbicara di ruang kerja, Nadya memutuskan untuk pergi ke dapur. Dia bisa membantu Ijah seperti biasanya untuk menyiapkan makan siang. Ini bukan hari kerja, tentu Reno akan makan siang di rumah.


Jika Nadya sedang berbahagia, tidak dengan Anjas sang sahabat yang tadi Nadya rindukan. Pria tampan itu sedang bertengkar hebat dengan Naira.


Anjas tidak mengerti dengan apa yang Naira pikirkan, mengapa masih harus cemburu dengan Nadya yang sudah bahagia saat ini? Tidak ada yang bisa Anjas mengerti selain Nadya, sahabat yang tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Dan itulah salah satu poin mengapa Anjas jatuh cinta pada sahabatnya itu. Hanya Nadya yang mengerti dirinya, bukan mamanya apa lagi Naira.


"Aku merindukan kamu, Nadya." gumam Anjas lirih didalam hati. Bahaya jika dia mengucapkannya dengan keras. Banyak mata-mata ibunya dan juga Naira di sekeliling Anjas. Dan itu sudah ada sejak dulu, saat Nadya masih bersamanya.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua ...


__ADS_2