
Tamparan keras mendarat diwajah cantik Naira. Ridho sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, sungguh, putri bungsunya ini sudah mencoreng nama baik keluarga mereka.
Demi membuktikan apa yang Anjas dan kedua orang tuanya katakan, Ridho dan Lingga segera menuju kantor polisi dimana Naira di tahan. Ridho masih mampu menahan marah saat aparat kepolisian menyatakan apa yang Anjas dan keluarganya informasikan itu benar.
Naira, putri bungsu mereka benar berada disana sebagai tahanan. Kasusnya tidak main-main, melainkan kasus berat yang hukumannya bisa saja seumur hidup. Putri mereka sudah ditetapkan sebagai tersangaka dengan kasus percobaan pembunuhan. Naira terbukti menjadi dalang kasus tersebut. Dia yang memberikan perintah pada kaki tangannya untuk memberikan racun pada calon korban.
Mendengar penjelasan dari anggota kepolisian yang bertugas, amarah Ridho tidak lagi dapat dibendung. Begitu melihat putrinya, maka satu tamparan keras dia layangkan.
Lingga yang menyaksikan itu hanya bisa menangis. Dia sudah diingatkan oleh saudaranya sejak dulu, "Naira itu perlu perhatian yang lebih, dia itu berbeda dari kakak-kakanya." ucap Liana yang seorang psikolog.
Lingga saat itu tidak terima dengan apa yang Liana ucapkan. Dia bahkan tersinggung, karena secara tidak langsung Liana menuduh putrinya memiliki kelainan dalam kejiwaannya.
Sekarang? Lingga hanya bisa menyesal. Lihatlah! Putrinya menjadi seorang kriminal. Bahkan bukan hanya kali ini saja. Lingga dan suaminya meyesal karena mereka tidak pernah mengetahuinya.
"Mulai detik ini, kamu bukan lagi anggota keluarga Adipati." ucap Ridho.
"Pa!" seru Lingga tidak setuju dengan keputusan suaminya.
"Kamu ingin membelanya?" tanya Ridho pada Lingga.
"Bukan begitu, ta..."
"Mau ikut aku coret dari daftar keluarga?" ancam Ridho.
Lingga memilih diam. Mana bisa dia hidup tanpa nama besar Adipati. Biarlah nanti dia akan mencari cara untuk membantu putri bungsunya tanpa Ridho ketahui.
Tidak banyak bicara, Ridho mengajak Lingga pulang. Tujuannya hanya untuk membuktikan kebenaran apa yang Anjas dan keluarganya katakan. Ridho akan mengizinkan Anjas memutuskan ikatan pertunangan dengan putrinya.
Yuda yang berniat menemui Kania, tidak sengaja melihat kedatangan kedua orang tua Naira, "Sepertinya Anjas sudah memberitahu orang tua wanita itu." gumam Yuda.
Ingin tahu apa yang terjadi, Yuda mengikuti langkah kedua orang tua Naira. "Wow!" seru Yuda saat menyaksikan tangan milik Ridho melayang tepat diwajah putih milik Naira, hingga tergambar jelas tanda merah disana.
Yuda berdecak, meski sudah diperlakukan seperti itu oleh papanya, Naira tetap memasang wajah tanpa dosa, seolah dia tidak melakukan apa-apa. Yuda sungguh kagum, wanita itu benar-benar sakit.
"Pak, anda sudah ditunggu bu Kania." seorang polisi wanita menegur Yuda.
"Oh... iya." jawab Yuda merasa tidak enak hati karena ketahuan mengintip apa yang sedang terjadi didalam sana.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Yuda lagi, lalu meninggalkan tempat itu.
Tidak menunggu lama, Yuda segera mengirim rekaman video apa yang tadi dia lihat ke group yang beranggotakan, Reno, Azam dan Didu serta Yuda sendiri.
Azam segera membuka pesan yang Yuda kirimkan, melihat video itu Azam menanggapinya biasa saja. Tamparan yang Naira dapatkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang keluarganya rasakan.
Azam [Kurang seru, Bang] komentar Azam pada Video tersebut.
Didu [Iya, tidak sebanding dengan yang dia perbuat] Didu ikut menimpali keluhan Azam.
Yuda [Baru permulaan, Bro. Santuy] balas Yuda.
"Ada apa Zam?" tanya Nadya melihat wajah Azam yang datar sedang memperhatikan layar pipihnya.
"Tidak ada, bang Yuda kasih kabar kalau orang tua wanita itu mengunjunginya dipenjara." jawab Azam jujur.
"Om Ridho dan tante Lingga, mereka sudah tahu?" ulang Nadya penjelasan Azam.
"Ya, sepertinya kak Anjas sudah menemui keduanya." sahut Azam.
"Kasihan, tapi salah sendiri terlalu menurut dengan keinginan tante Kinanti." ucap Azam memberikan pendapatnya.
"Anak mana yang tidak ingin melihat orang tuanya bahagia meski dia harus berkorban, Zam." tegur Nadya agar Azam tidak menyalahkan Anjas.
Azam membenarkan apa yang kakaknya katakan, dia mungkin juga akan melakukan hal yang sama untuk membahagiakan ibunya dan juga neneknya.
"Kak, aku pulang dulu." ucap Azam setelah mereka hening sesaat.
"Kasihan nenek." ucap Azam lagi.
Nadya mengangguk, "Iya." jawabnya, "Besok Mbak akan mengunjungi nenek, sekalian pamit sebelum pergi liburan bersama mas Reno." lanjut Nadya ucapannya.
Tiba di kediaman Suya, Azam langsung menuju kamar Rosa untuk menemui sang nenek. Tapi, langkah Azam terhenti saat melihat Surya tampak melamun diruang kerja yang pintunya sedikit terbuka.
"Yah!"
Surya tersentak mendengar panggilan Azam, "Baru pulang?" tanyanya sambil berusaha tersenyum pada sang putra.
__ADS_1
"Iya, tadi Azam mampir ke rumah mbak Dya dulu." jawab Azam.
"Bagaiamana kabar mbak kamu, Zam?"
"Mbak Dya baik-baik saja, kandungannya juga sehat. Besok mbak Dya mau main kesini nengok nenek sekalian pamit, dia mau di aja mas Reno liburan." jawab Azam.
Surya mengangguk-gangguk tanda mengerti, dia sudah tenang dengan kehidupan putri keduanya itu. Tapi, kabar kehamilan Marisa membuat Surya cemas. Bukan kehamilan putrinya itu yang jadi masalah. Surya takut jika Marisa juga hamil anak Reno, itu berarti akan mengusik kebahagiaan yang sekarang Nadya rasakan.
Baru pagi tadi Surya menerima kabar kehamilan Marisa. Entah siapa ayah dari bayi itu, Surya berharap bukan anak dari Reno.
"Apa yang Ayah pikirkan?" tanya Azam melihat Surya yang terdiam.
"Marisa hamil, ayah harap itu bukan anak Reno." jawab Surya. Dia tidak bisa menyimpan kegelisahannya sendiri. Azam sudah dewasa, sudah bisa dia ajak berbagi.
"Kita tanya saja pada yang bersangkutan. Tapi Azam yakin itu bukan anak mas Reno." sahut Azam.
Surya menatap menyelidik, "Apa kamu tahu sesuatu?" tanyanya.
Azam mengangguk, "Sejak menikah dengan mbak Dya, mas Reno tidak pernah lagi menyentuh anak pertama Ayah itu." jawab Azam yang hingga saat ini belum bisa menerima Marisa sebagai kakaknya.
Surya bernafas lega mendengar penjelasan Azam. Tidak salah dia memutuskan untuk memberitahu putranya yang ternyata mempunyai jawabannya.
"Ayah akan menemui Marisa." ucap Surya, "Mau menemani Ayah?" tanya Surya, mungkin saja Azam mau menemaninya seperti kemarin.
"Aku ingin menemani nenek." jawab Azam menolak tawaran Surya.
Tanpa menunggu jawaban dari Surya, Azam langsung keluar dari ruang kerja ayahnya. Azam tidak berbohong, dia memang ingin menemui Rosa dan menceritakan pada wanita yang telah merawatnya itu tentang Naira.
Tiba di rumah tahanan, Surya menatap pada Marisa yang terlihat sedikit lebih kurus. Surya tidak bisa banyak membantu untuk kebebasan Marisa, putrinya telah banyak melakukan kesalahan.
"Siapa ayah bayi itu?" tanya Surya yang membuat Marisa terkejut.
"Darimana ayah tahu?" tanya Marisa, ia sudah meminta hal ini untuk disembunyikan hingga dia melahirkan.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1