
Reno membawa Nadya pergi ketempat makan yang bernuansa alam, berharap suasana yang sejuk dibawa pepohonan yang rindang bisa menenangkan hati istrinya. Dan Reno berhasil, seperti harapannya Nadya bisa menikmati makanan yang dia pesankan untuk istri keduanya itu.
"Mau tambah?" tanya Reno yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Nadya.
"Dya gendut nanti Mas kalau makannya banyak." jawab Nadya yang disambut kekehan dari Reno karena istrinya sudah bisa bercanda.
"Mas."
"Apa sayang." jawab Reno tersenyum lebar karena wajah Nadya kini merona. Apa lagi penyebabnya kalau bukan panggilan sayang yang diucapkan Reno.
"Sejak kapan Mas Reno tahu Dya dan dia saudara tiri?" tanya Nadya pada Reno yang senyumnya berganti dengan wajah yang menunjukkan terkejut karena Nadya tidak ingin menyebutkan nama Marisa.
"Mas harus balik ke perusahaan sekarang sayang." ucap Reno, bukan menjawab pertanyaan Nadya.
"Terus Dya gimana?"
Reno kembali terkekeh mendengar pertanyaan Nadya. "Ikut Mas ke perusahaan." jawab Reno.
Sepanjang jalan Nadya hanya diam, menunggu Reno menjawab pertanyaannya. Tapi hingga mereka sampai di perusahaan laki-laki yang sejak tadi menyandarkan kepala di bahunya tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Ayo turun." ajak Reno sambil menarik kepalanya dari bahu Nadya.
Satpam membukakan pintu untuk Reno yang langsung turun lalu berjalan ke sisi pintu yang lain, dia membuka pintu mobil agar Nadya ikut turun bersamanya.
Untuk kedua kalinya Nadya mengunjungi perusahaan milik Reno, lagi-lagi dia menjadi perhatian karyawan yang bekerja di perusahaan Reno.
Nadya diminta Reno menunggu di ruangannya, sementara Reno bertemu dengan kliennya di ruang meeting. Terlalu lama menunggu Nadya merasa bosan, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan Reno. Nadya tidak tahu mau kemana, dia hanya ingin jalan-jalan untuk menghilangkan kebosanannya berada di ruangan Reno.
Nadya tiba di depan pintu pantry yang ada di lantai sepuluh, lantai dimana ruangan Reno berada. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, Nadya bisa mendengar karyawan yang sedang berbincang didalam sana. Dan sepertinya mereka sedang membicarakan dirinya.
"Aku lihat dia diajak masuk keruangan pak Reno." ucap salah satu karyawan yang bernama Lina, sambil menikmati minumannya di pantry.
"Istrinya yang diajak masuk keruangannya ya tidak apa-apa. Kalau kamu yang dibawa masuk, itu yang bahaya." jawab Didu karyawan pria yang duduk disampingnya.
"Dia benaran istrinya Pak Reno?" tanya Lina tidak percaya.
"Memangnya kenapa? Dia cantik, memang serasi sama pak Reno yang tampan biarpun dingin seperti kulkas itu." jawab Ica yang sedang membuat minuman untuk dirinya sendiri.
"Maksud aku, mungkin saja dia bukan istrinya tapi selingkuhan pak Re... aduh." ucap Lina yang langsung mengaduh kesakitan karena lengannya di pukul Didu.
"Aku kenal istrinya pak Reno, dia wanita baik-baik. Dia itu dulu tetangga aku, sahabatnya temanku juga." jawab Didu.
Nadya yang penasaran dengan siapa pria yang kenal dirinya langsung mendorong pintu pantry yang memang sudah terbuka setengahnya itu.
"Maaf saya mau meminta air hangat." ucap Nadya mencari alasan.
"Saya ambilkan Bu." ucap Ica.
"Biar saya ambil sendiri saja Mbak." jawab Nadya.
"Jangan Bu, Ibu mau teh atau kopi?" tanya Ica lagi.
"Kopi hitam tanpa gula." Didu yang menjawab.
Hanya orang yang benar-benar kenal baik Nadya yang tahu minuman favoritnya itu. Nadya melihat pada Didu yang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Hai Nad." ucap Didu.
"Nggak sopan." sahut Ica menegur Didu.
"Didu." panggil Nadya.
Pantas saja tahu minuman kesukaan Nadya, karena setiap Nadya diajak Anjas main kerumah Didu, Anjas selalu memesan kopi hitam tanpa gula untuk Nadya.
"Sudah lama ya tidak bertemu." ucap Didu.
"Iya, akhir-akhir ini Anjas sibuk sama Naura." jawab Nadya.
"Dan kamu sibuk sama pak Reno." jawab Didu yang dapat senyum kecil dari Nadya sambil menarik kursi yang ada dihadapan Didu.
"Ini kopinya Bu." ucap Ica.
"Terima kasih Mbak...."
"Ica, Bu. Nama saya Ica." jawab Ica.
"Ya, terima kasih Mbak Ica." ulang Nadya ucapannya yang kali ini menyebut nama Ica.
"Istri kamu sudah melahirkan Du?" tanya Nadya. Karena terakhir mereka bertemu tujuh bulan yang lalu, istri Didu memberitahu Nadya kalau dia sedang hamil.
"Usia kandungannya baru delapan bulan." jawab Didu.
"Ibu kenal juga sama istri Didu?" tanya Ica. Sementara Lina yang ada disamping Didu terus memperhatikan Nadya tanpa ada niatan untuk menyapa.
Merasa ada yang kenal membuat Nadya betah berada di pantry sambil menikmati kopi hitam buatan Ica dia dia berbincang dengan Didu dan Ica sampai-sampai dia lupa jika diminta Reno menunggu diruangan suaminya itu.
"Sayang."
Suara Reno mengejutkan empat orang yang ada di pantry.
"Pak." ucap Ica, Didu dan Lina bersamaan.
"Mas." ucap Nadya yang langsung berjalan mendekati Reno yang menyambutnya dengan senyum dan usapan sayang di kepala Nadya.
"Dya bosan di ruangan." ucap Nadya memberi tahu Reno.
"Kebetulan disini bertemu Didu." tunjuk Nadya pada Didu.
"Didu dulu tetangga Dya." jelas Nadya agar Reno tidak salah faham.
"Iya tidak apa-apa, sekarang ayo kembali keruangan Mas." ucap Reno yang diangguki Nadya.
"Didu, Mbak Ica dan Mbak...."
"Lina." jawab Ica.
"Mbak Lina." ulang Nadya panggilnnya pada Lina.
"Saya kembali ke ruangan pak Reno dulu." pamit Nadya pada ketiganya.
Reno langsung meraih tangan Nadya, membawa istrinya keluar dari pantry dengan tangannya yang mengenggam erat tangan Nadya.
__ADS_1
"Aku iri. Pak Reno sayang sekali dengan bu Nadya. Wajah kulkasnya bahkan bisa mencair begitu menatap bu Nadya." ucap Ica.
"Untuk jatuh cinta dengan Nadya itu mudah, tapi membuat dia jatuh cinta sama kita yang sulit. Pak Reno sangat beruntung, bahkan bisa sampai memperistrinya." sahut Didu.
"Jangan katakan kalau kamu sempat jatuh cinta sama si Nadya itu." ucap Lina.
"Nggak sopan banget kamu Lin manggil nama bu Nadya." tegur Ica.
"Biarin, emang dia siapa harus di hormati." jawab Lina sambil bersungut tidak suka di tegur Ica.
"Jawab pertanyaan aku, Didu." ucap Lina lagi.
"Siapa yang tidak akan jatuh cinta sama perempuan cantik seperti Nadya, bukan hanya cantik fisik tapi juga cantik hatinya.Tapi aku tahu diri, jadi mundur dengan sendirinya." jawab Didu lalu terkekeh sendiri.
"Teman aku yang paling ganteng di komplek aja nggak bisa dapetin dia, apa lagi aku yang mukanya pas-pasan." ucap Didu lagi yang kali ini mendapat kekehan dari Ica.
"Tadi aku udah bilang, kalau pak Reno sama bu Nadya itu pasangan yang serasi. Apa lagi Bu Nadya orangnya baik, sopan, bisa mengimbangi pak Reno yang seperti kulkas." ucap Ica.
"Kamu akan lebih kagum lagi kalau sudah kenal dia, Ca." sahut Didu.
"Jangan dibanggakan terus, lihat ini." ucap Lina menunjukkan layar ponselnya.
"Yang aku tahu, pak Rino itu kekasihnya Marisa ini." tunjuk Lina pada layar pipih miliknya yang menampilkan wajah Marisa yang seperti marah pada Nadya.
"Tuh, dia mau di tampar. Sepertinya papanya Marisa." ucap Lina lagi. Entah dari mana Lina mendapatkan video kejadian saat Nadya dan Reno bertemu, Surya, Wulan dan Marisa.
"Siapa yang mau di tampar."
"Eh, ada Pak Yuda." ucap Ica.
"Ini Pak, saya dapat kiriman video dari teman saya yang kenal pak Reno." jawab Lina.
"Coba saya lihat." ucap Yuda mengambil alih ponsel milik Lina.
"Istri pak Reno itu merebut bu Nadya dari model Marisa itu ya Pak. Sepertinya Marisa sangat marah melihat pak Reno datang bersama istrinya, papanya marisa sampai mau menampar istrinya pak Reno."
"Jangan bicara sembarangan kalau kamu tidak tahu apa-apa." ucap Didu.
"Yang saya tahu laki-laki itu ayahnya bu Nadya, mereka memang tidak akur sejak ayahnya itu menelantarkan dia, adik dan neneknya karena memilih menikah dengan wanita selingkuhannya, ibu dari model yang kata aku nggak pantas jadi model." ucap Didu.
"Kamu banyak tahu tentang bu Nadya ternyata." ucap Yuda.
"Saya dulu tetangga bu Nadya, dan kami berteman bahkan sampai sekarang." jawab Didu.
"Berteman juga dengan Anjas?" tanya Yuda yang sebenarnya sudah tahu siapa Didu.
Didu mengangguk, "Bapak kenal Anjas?" tanya Didu.
Bukan menjawab pertanyaan Didu, Yuda mengajak Didu menjauh dari Ica dan Lina.
"Ikut saya." ucap Yuda.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...
__ADS_1