
Didu baru saja selesai menjemur pakaian membantu istrinya yang sudah mulai sulit bergerak karena kehamilannya.
"Mas, sakit!" ucap Ria sambil mengusap perutnya begitu melihat Didu.
"Apa sudah mau melahirkan? Bukankah jadwalnya masih sepuluh hari lagi?" tanya Didu.
Didu segera melepaskan keranjang yang ada ditangannya begitu saja, dia segera mendekati istrinya yang meringis menahan sakit.
"Kontraksinya sudah mulai sering Mas." ucap Ria lirih.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit. Mas ganti pakaian dulu terus menyiapkan mobil. Kamu tunggu disini saja, biar Mas yang siapkan semuanya." ucap Didu yang diangguki Ria.
"Mas, koper yang di samping lemari tinggal dibawa saja, masukan dalam bagasi. Didalamnya pakaian bayi dan pakaian ganti aku." ucap Ria memberitahu.
Didu berdiri di teras, sejak tadi dia mencoba mencari taxi tapi tidak ada satupun driver yang menerima pesanannya. Didu kesal sendiri, disaat seperti ini mobilnya tidak bisa menyala. Sementara sang istri yang menunggu di dalam sudah tidak kuat lagi menahan sakit.
Tidak juga mendapat taxi, Didu memutuskan untuk meminjam mobil tetangganya. Untuk urusan urgen Didu tidak perlu malu, karena nyawa istri dan anaknya yang harus dia selamatkan.
Tin...tin... suara klakson mobil membuat senyum Didu mengembang.
"Kamu mau pergi Did?" tanya Anjas.
"Kebetulan sekali, aku butuh pertolongan kamu." jawab Didu yang tidak sesuai dengan pertanyaan Anjas. Pria itu kembali membuka Bagasi mobilnya lalu menurunkan koper yang sudah dia simpan disana sebelumnya.
"Kamu mau keluar kota?" tanya Anjas.
"Tolong antarkan aku, An." jawab Didu dan Anjas mengangguk.
"Mau kemana lagi?" tanya Anjas saat Didu kembali masuk kedalam rumah.
"Istriku masih didalam." jawab Didu lalu berjalan dengan cepat.
"Ria, kamu kenapa?" tanya Anjas terkejut saat melihat Didu memapah Ria yang terlihat kesakitan.
"Istri gue mau melahirkan, cepat bantu bukain pintu mobil!" pinta Didu.
Mendengar ucapan Didu, Anjas segera melakukan apa yang diminta sahabatnya. Tidak lupa Anjas menyimpan koper yang adadi samping mobilnya ke dalam bagasi. lalu dia masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau minta antar kerumah sakit?" tanya Anjas, setelah mereka dalam perjalan menuju rumah sakit.
"Gue panik." jawab Didu jujur.
Ria yang sesekali merasa kesakitan menjadi perhatian Anjas. Entah mengapa yang ada dalam bayangannya adalah wajah Nadya yang akan melahirkan? Anjas menggelengkan kepala pelan, mengapa pikirannya selalu saja pada sahabatnya itu setiap melihat sesuatu.
"Kali ini kamu benar Nai, isi kepalaku memang hanya ada Nadya" lirih Anjas dalam hati membenarkan ucapan Naira.
Sulit memang bagi Anjas untuk tidak memikirkan nama itu. Bertahun-tahun hanya nama itu yang membuatnya semangat menjalani semuanya termasuk saat dia terpaksa menerima perjodohannya dengan Naira hingga mereka bertunangan. Nadya rela mengorbankan perasaannya demi Anjas dan Naira bisa bersama, tapi Naira tidak pernah menghargai pengorbanan Nadya itu membuat Anjas tidak simpatik pada Naira.
"Anjas." Suara yang memanggil namanya menarik Anjas dari lamunan.
__ADS_1
"Leo?" ucap Anjas tidak percaya.
"Apa kabar bro?" sapa Leo.
"Beneran ini elo? Kapan balik? Kenapa nggak kasih kabar?" tanya Anjas beruntun melihat teman satu sekolahnya.
"Sorry, gue balik tapi langsung diminta bertugas disini. Jadi belum sempat kasih kabar." jawab Leo. "Lo ngapain? Ini tempat bersalin, apa..."
"Gue nganter Didu. Dia didalam menemani istrinya melahirkan." ucap Anjas memotong ucapan Leo.
"Gue kira lo udah nikah, sama siapa namanya? Cewek yang di jodohin sama lo itu." ujar Leo.
"Naira."
"Iya, Naira. Gue ketemu dia waktu nenggokin nenek Rosa." ucap Leo menjelaskan.
"Nenek Rosa kenapa? Naira nggak kasih tahu gue."
"Beliau keracunan, setelah pesta pernikahan Nadya. Kamu nggak hadir?" tanya Leo menyelidik.
"Gue hadir, malam itu gue hadir berdua Naira." jawab Anjas.
"Apa orang yang memberikan racun itu sudah tertangkap?" tanya Anjas ingin tahu dan juga penasaran siapa yang berniat jahat pada nenek sahabatnya itu.
"Menurut kamu siapa pelakunya?" bukan menjawab Leo balik bertanya.
"Marisa? Kakak kelas kita yang jadi model itu?" tanya Leo untuk meyakinkan. Anjas mengangguk membenarkan.
"Aku banyak ketinggalan informasi ternyata." ujar Leo. "Tapi sepertinya bukan dia." ucap Leo lagi.
"Apa om Surya sudah menemukan pelakunya?" tanya Anjas lagi, karena Leo belum menjawab pertanyaannya.
"Gue nggak tahu. Lo bisa tanya langsung, kan?" jawab Leo.
"Nanti gue tanya Didu." sahut Anjas.
"Didu?"
"Iya. Didu sekarang jadi orang kepercayaan suami Nadya." jawab Anjas apa adanya. "Kenapa?" tanya Anjas menyelidik saat raut wajah Leo berubah.
"Tidak ada apa-apa." jawab Leo cepat.
"Jangan katakan kamu masih mengharapkan Nadya menjadi milikmu, Leo." ucap Anjas.
"Bukan kah kamu juga sama?" sahut Leo.
Sepi, seketika suasana sepi diantara keduanya. Mereka sama-sama diam. Selama ini mereka bersaing secara gentle untuk meraih hati Nadya. Meski Leo tahu Nadya memilih Anjas, namun status Anjas yang dijodohkan oleh keluarganya membuat Leo mengambil kesempatan itu.
Suara tangis bayi yang terdengar dari ruang persalinan memecah kesunyian diantara mereka.
__ADS_1
"Alhamdulillah." ucap Anjas dan Leo bersamaan mengucap syukur.
"Kita jadi om." ujar Leo, lalu keduanya tertawa.
Kabar kelahiran putri pertama sampai ke telinga Nadya. Dia baru saja diberi tahu Yuda yang sengaja mengunjungi kediamanya.
"Mas, Dya boleh menjenguk Ria?" tanya Nadya meminta izin.
"Tentu saja sayang, kita akan mengunjunginya. Tapi nanti setelah Mas selesaikan pekerjaan dengan Yuda." jawab Reno.
"Iya Mas." jawab Nadya.
Reno masuk ke ruang kerja bersama Yuda. Nadya memilih duduk di sofa ruang keluarga. Namun baru beberapa langkah Reno dan Yuda berjalan, seorang asisten rumah tangga datang dan bicara pada Nadya.
"Bu, didepan ada tamu?" ucap asisten itu memberi tahu Nadya.
Reno yang juga mendengarnya segera menghentikan langkahnya. Dia ingin tahu siapa tamunya dan penasaran dari mana tamunya tahu kediaman ini. Reno tidak memberikan alamat kediamannya pada sembarang orang.
"Tamunya cari siapa Mbak? Saya atau bapak?" tanya Nadya.
"Cari ibu. Katanya teman lama." jawab asisten tersebut.
Nadya melihat pada suaminya, "Belum ada yang tahu alamat ini, kan?" tanya Nadya. Reno mengangguk.
"Saya jamin belum ada yang tahu, Bu." timpal Yuda membenarkan ucapan Reno.
"Laki-laki apa perempuan?" tanya Nadya lagi.
"Perempuan, Bu."
"Ya sudah, nanti saya temui."
Jika Nadya hanya penasaran siapa tamunya. Berbeda dengan Reno dan Yuda, mereka berdua mencurigai seseorang. Ingin meyakinkan kecurigaan mereka, Reno dan Yuda mengikuti Nadya untuk menemui tamu itu.
"Naira? Dari mana tahu tempat ini?" tanya Nadya.
Naira tersenyum, "Aku cari tahu lah!" jawabnya dengan yakin. "Aku cari Anjas sebenarnya." ucap Naira jujur.
"Kenapa nggak dihubungi via telepon?" tanya Nadya.
"Aku sudah coba, tapi ponselnya mati." jawab Naira jujur.
Nadya baru sadar, Anjas menghubunginya lewat nomor khusus. Nomor ponsel yang hanya diketahui oleh dia dan Didu saja.
"Lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya Nadya.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...
__ADS_1