MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 73. Berbalik Arah


__ADS_3

Keluar dari kamar, Reno terlihat segar dan cerah. Lelah yang dia rasakan satu hari kemarin sudah terbayar. Selain tidurnya yang nyenyak karena memeluk wanita yang dicintainya, Reno juga mendapatkan mood booster dipagi hari. Meski permainan mereka hanya sebentar karena mengingat waktu dan juga tempat, tapi itu sudah cukup memgembalikan semangat Reno untuk menghadapi hari ini.


"Pagi Mas, Mbak." sapa Azam yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


"Kamu nggak tidur?" bukan menjawab sapaan Azam, Nadya malah balik bertanya, karena melihat wajah adiknya yang terlihat sangat lelah.


"Tidur Mbak, tapi nggak bisa nyenyak." jawab Azam, "Masih belum percaya aja kalau ayah sudah nggak ada sama seperti ibu." jawab Azam.


Nadya mengusap punggung adiknya. Bukan hanya Azam, diapun merasakan hal yang sama. Rasanya baru kemarin dia menemukan kebahagian karena ayahnya telah kembali. Karena mereka baru saja kembali menjadi keluarga yang utuh. Tapi sekarang, Surya kembali meninggalkan mereka. Bukan pergi seperti sebelumnya, tapi kali ini pergi untuk selamanya.


"Ayo sarapan, biar kamu punya tenaga." ucap Reno sambil menyodorkan sepiring nasi goreng pada Azam.


"Terima kasih Mas. Jadi malu, Mas Reno yang ambilkan sarapan Azam." balas Azam


"Ya udah kalau malu, buat Mbak aja." sahut Nadya sambil menarik piring berisi nasi goreng milik adiknya.


"Mas Reno ngasih aku lho!" protes Azam, "Mbak Dya ambil sendiri." ucap Azam lagi sambil kembali merebut piring yang tadi di ambil Nadya.


Nadya tertawa, dia sengaja menggoda Azam agar mereka tidak sedih lagi. Melihat istrinya bisa bercanda dan tertawa seperti ini, tentu saja membuat Reno senang.


"Sayang, ini untuk kamu." ucap Reno.


"Mas, harusnya Dya yang ambilkan Mas Reno." sahut Nadya merasa tidak enak dilayani suaminya.


"Sekali-sekali Mas yang ambilkan untuk kamu tidak apa-apa." balas Reno, "Mau disuap Mas juga boleh dengan senang hati." ucap Reno lagi.


"Nggak usah Mas, Dya bisa makan sendiri." jawab Nadya.


"Ya udah ayo makan!" ucap Reno mengajak istri cantiknya untuk sarapan dengan tangannya yang terulur mengusap sayang kepala Nadya lalu turun ke perut sang istri.


"Makan yang banyak sama ibu ya sayang." ucap Reno pada buah hatinya.


"Iya Ayah." sahut Nadya mewakili anak mereka bicara.


Reno tersenyum mendengarnya dan kembali mengusap sayang kepala dan pipi istrinya. Ada banyak pasang mata yang melihat bagaimana Reno begitu menyayangi Nadya. Keluarga Rosa yang lain juga ada yang menginap selain Ana dan Silvi, keluarga yang kembali menganggap mereka keluarga setelah tahu Nadya menikah dengan Reno.

__ADS_1


Azam tidak begitu senang dengan keluarga dari neneknya itu, tapi melihat wajah Rosa yang bahagia melihat saudara-saudaranya berkumpul membuat Azam membiarkan saja mereka kembali mendekat.


Mereka makan dalam diam, tidak ada lagi yang bicara setelah Nadya membalas ucapan Reno pada buah hati mereka. Tidak ada juga yang berani menyapa Reno, hanya saja sesekali mereka melihat suami Nadya itu menghabiskan sarapannya.


Azam baru mengabiskan setengah piring nasi goreng yang dia makan. Dari arah depan terdengar suara teriakan seseorang. Suara itu tepatnya berasal dari kamar tamu, lalu terlihat Ana berjalan dengan cepat kearah mereka.


"Ada apa?" tanya Reno, Nadya dan Azam bersamaan pada Ana yang sudah berdiri didekat mereka.


"Itu... Silvi." ucap Ana sambil menunjuk kearah kamar tamu depan.


"Buat masalah apa lagi dia?" tanya Azam kembali geram begitu tahu nama Silvi lagi yang membuat ulah.


Tadi malam Azam sudah mengusir saudaranya itu untuk pergi dari kediaman mereka. Tapi Silvi menghiraukan perkataan Azam. Wanita itu bukan pergi melainkan masuk ke kamar tidur tamu.


Reno menasehati Azam untuk membiarkan Silvi kembali ke kamarnya. Waktu sudah menunjukkan hampir dini hari, tidak baik seorang wanita berada di luar rumah diwaktu seperti ini.


Azam yang pernah merasakan diusir dari rumah mereka diwaktu malam hari menjadi luluh. Sekarang wanita itu kembali membuat ulah dan keheboan sepagi ini.


"Dia tidak membuat masalah kali ini, tapi terkena masalah akibat ulahnya sendiri." jawab Ana.


"Terkena masalah bagaimana Mbak?" Nadya yang sejak tadi diam jadi penasaran dengan penjelasan Ana.


Karena rasa penasarannya, Nadya segera bangkit dari kursi yang dia duduki. Melihat Nadya berdiri dengan tergesa-gesa, Reno menahan istrinya untuk melangkah.


"Pelan-pelan sayang." ucapa Reno karena Nadya sepertinya lupa pada dirinya yang sedang berbadan dua.


Mengusap perutnya Nadya tersadar, "Maaf Mas." balas Nadya.


Reno ikut berdiri, dia akan menemani Nadya melihat apa yang terjadi. Berbeda dengan Azam, adik Nadya itu seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Setelah tahu Silvi yang terkena masalah, Azam melanjutkan sarapannya.


"Zam." tegur Nadya.


"Aku tidak akan melihatnya. Dia sudah berniat jahat sama Mbak dan keluarga kita, biarkan saja. Dia sedang mendapatkan hukuman dari perbuatan jahatnya." sahut Azam.


Melihat adiknya yang tidak peduli, Nadya hanya bisa diam saja. Sebenarnya dia ingin menasehati Azam. Seburuk apapun perlakuan Silvi pada mereka, mereka harus tetap menolong saudara mereka itu. Tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan adiknya itu. Azam tidak akan bisa menerima nasehat apapun jika sedang dalam keadaan tidak baik-baik seperti sekarang ini. Jadi, untuk sementara Nadya membiarkan saja dulu Azam bersikap seperti tadi.

__ADS_1


Mendekati kamar tidur tamu, langkah Nadya dan Reno di hentikan Nuri, "Mbak Dya mau kemana?" tanyanya.


"Mau lihat Silvi, tadi siapa yang berteriak?" jawab Nadya.


"Mbak Dya sebaiknya istirahat dikamar saja." ucap Nuri memberikan saran.


Nadya menyatukan alisnya, "Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Tidak baik untuk ibu hamil melihat keadaan mbak Silvi saat ini." jawab Nuri.


"Apa yang terjadi Nur?" kali ini Reno yang bertanya.


"Itu Pak, mbak Silvi wajahnya terbakar." jawab Nuri.


"Terbakar bagaimana?" tanya Nadya. Bukan takut mendengar jawaban Nuri, Nadya justru semakin penasaran.


"Ayo Mas kita lihat, dia harus segera di tolong dan dibawa kerumah sakit." ucap Nadya mengajak Reno.


Bukan waktunya untuk marah pada Silvi, saudaranya itu saat ini justru butuh pertolongan.


"Tunggu Mbak!" seru Nuri, Mbak disini saja, saya sudah hubungi ambulance." ucap Nuri lagi.


Sebagai perawat tentu saja Nuri sigap dan tahu prosedur mengurus pasien yang butuh perawatan khusus di rumah sakit. Namun luka bakar diwajah Silvi bukan luka bakar biasa, akibat terkena api, air panas atau keras dan sejenisnya. Tapi, luka yang tiba-tiba saja membuat wajah Silvi memerah lalu melepuh. Karena Itu, Silvi berteriak saat menyadari wajah cantiknya sudah hancur melepuh.


Satu orang yang Silvi salahkan saat melihat wajahnya adalah Nadya, harusnya luka ini dialami Nadya hingga Reno jijik melihatnya. Lalu Silvi akan masuk dalam kehidupan Reno, merebut pria itu dari Nadya.


Rencana yang sudah Silvi susun diketahui Nuri. Tanpa rasa takut Nuri menyingkirkan semuanya. Dan kini apa yang akan dia lakukan pada Nadya berbalik arah menyerangnya.


"Nuri jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Nadya.


Tidak ingin membuat Nadya banyak bertanya lagi, Nuri memberitahu apa yang terjadi ada Silvi. Nadya yang mendengar penjelasan Nuri merasakan seluruh bulu kuduknya merinding. Tidak bisa dia bayagkan, apa yang kini Silvi alami terjadi padanya.


"Tidak perlu takut, ini pelajaran untuk kita semua. Perbuatan buruk yang kita lakukan pada orang lain bisa saja kembali lagi pada kita. Apa lagi dengan cara yang sangat dibenci oleh Allah karena telah bersekutu dengan syaitan." ucap Reno.


"Benar Pak Reno, apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik." sahut Nuri menimpali.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2