
Dean tersenyum senang bisa mengetahui rahasia Marisa tanpa wanita itu sadari. Bodoh sekali membicarakan masalah pribadi mreka ditempat seperti ini meski keduanya sudah memilih duduk yang paling pojok. Karena baik Marisa maupun Wulan tidak mengetahui, jika dibalik tembok tempat ibu dan anak itu bersandar adalah jalan lain menuju toilet luar yg biasa digunakan untuk penjaga keamanan dan sopir tamu.
Nasib baik menyertai Dean, dia yang kebelet buang air memilih toilet luar untuk menuntaskan hajatnya. Begitu selesai dia mendengar dua orang sedang berbincang membicarakan Surya. Tentu saja hal itu menarik perhatian Dean sehingga dia menguping dan merekam percakapan itu.
Kini Dean memiliki bukti kuat kejahatan Marisa. Dean akan memberikan bukti rekaman ini pada Azam dan Reno setelah dia menemui Marisa terlebih dulu.
"Aku kira kamu tahu dari mana bukti tentang Marisa yang melakukan ini semua." ucap Anjas ditengah perjalanan mereka menuju kediaman Surya.
Mereka akan mengikuti pengajian malam ini, sambil menyerahkan bukti percakapan Marisa dan Wulan.
"Kebetulan saja aku diberi kesempatan untuk mengetahui kejahatan wanita itu. Tapi jujur, aku masih belum bisa terima jika dia saudara tiriku.
"Dean dalam rekaman itu, Marisa mengatakan banyak rahasianya yang diketahui om Surya. Bukankah itu artinya bukan hanya rahasia tentang ayah kandung Marisa dan kehamilannya saja. Mungkin saja ada rahasia besar lainnya tentang Marisa yang om Surya ketahui.
***
Suara ketukan di pintu ruang kerja Surya, membuat mereka yang ada dalam ruangan itu diam sejenak.
Merasa dia yang paling muda, Azam lalu berdiri untuk membukakan pintu tersebut.
"Kak Anjas, Bang Dean." panggil Azam terkejut akan kehadiran dua orang tersebut.
"Kakak dan Abang mencari saya atau siapa?" tanya Azam.
"Ada yang ingin kami bicarakan." ucap Anjas.
"Boleh ikut bergabung bicara didalam?" tanya Dean.
Azam menoleh pada Reno dan papa Haris. Kedua pria beda usia itu mengangguk mengizinkan maka Azam pun membuka lebar pintu ruang kerja tersebut lalu menutupnya kembali setelah Anjas dan Dean masuk.
"Maaf menganggu." ucap Anjas.
"Tidak apa-apa. Kami hanya sedang berkupul saja." balas papa Haris.
"Jadi apa yang ingin dibicarakan Kak Anjas dan bang Dean dengan kami?" tanya Azam.
"Ada informasi penting yang ingin Dean sampaikan." jawab Anjas.
__ADS_1
"Apa itu Bang?" tanya Azam penasaran.
"Siang tadi setelah pemahkaman saya sempat mendengar percakapan Marisa dengan wanita paruh baya yang Marisa panggil Mama. Mere...."
"Tunggu! Wanita itu datang? Tapi aku tidak melihatnya? Bukankah seharusnya ada penjaga yang mengawasinya. Tapi yang kulihat hanya perempuan jahat itu yang mendapat pengawalan." ucap Azam memotong ucapan Dean.
"Tidak ada yang melihat Wulan datang?" tanya papa Haris.
Semua menggeleng menjawab pertanyaan papa Haris. Begitu banyak pelayat hingga membuat mereka sulit memperhatikan satu persatu tamu yang datang.
"Sudahlah, mau melihatnya atau tidak bukan jadi masalah. Nyatanya, Dean melihat dan mendengarkan dua wanita itu bicara." ucap Reno agar pembahasan mereka tidak kemana-mana.
"Sekarang katakan saja apa yang kamu dengar dari mulut perempuan itu, Dean?" ucap Reno lagi setelah semua diam.
"Ini." Dean meletakkan ponselnya di meja yang ada didepan sofa ruang kerja itu. " Tadi saya sempat merekam apa yang mereka perbincangkan." ucap Dean.
Dean segera saja memutar ulang rekaman isi percakapan Marisa dan Wulan. Mereka semua yang ada disana langsung memasang telinga untuk menyimak.
Reaksi mereka yang ada disana berbeda-beda, ada yang tangannya mengepal, ada yang tenganga, juga ada yang mengerutkan alis dan ada juga yang menggelengkan kepala. Intinya, mereka semua tidak percaya, seorang anak bisa membuat rencana untuk menghabisi ayahnya sendiri meski bukan ayah kandung.
"Luar biasa." ujar Yuda.
Bagaimanapun disini Azam orang yang tepat mengambil keputusan sebagai anak laki-laki.
"Kalau saja hukum rimba boleh berlaku dinegara ini, tentu aku akan mebalas dengan menggunakan hukum rimba." ucap Azam geram.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa, sayangnya semua ada aturan. Dan Azam bukan orang yang suka melanggar aturan.
Mengapa hidupnya dan Nadya tidak pernah tenang? Baru saja mereka akan bahagia, selalu saja datang lagi masalah yang baru dan yang menyakitkan masalah itu selalu saja datang dari orang yang sama.
"Rekaman ini bisa menjadi sebuah bukti dan akan memberatkan hukumannya." sahut Sapto.
"Bagaimana dengan sidang yang sedang dia jalani?" tanya Anjas karena jujur dia tidak mengikuti perkembangan Marisa meski beberapa televisi menayangkan beritanya dalam berita infotainment.
"Minggu depan sidang putusan." jawab Yuda.
Diam-diam Dean memperhatikan Reno yang sejak tadi hanya diam setelah mendengar percakapan Marisa dan ibunya. Dean sedikit penasaran mengapa pria itu seolah tidak peduli dengan masalah ini. Atau memang seperti ini seorang Reno?
__ADS_1
"Bagaimana menurut kamu Ren?" tanya papa Haris.
Setelah Azam, ada Reno sebagai menantu Surya yang bisa mengambil keputusan selanjutnya.
"Ikuti saja jalur hukum yang berlaku Pa, aku yakin dia pasti akan menerima hukuman yang sesuai, apa lagi kita sudah punya bukti kuat."
"Kamu tidak akan bermain dibelakang Ren?" sindir Yuda.
"Istriku sedang hamil, aku tidak ingin mengotori tanganku." jawab Reno.
Sekarang Dean mengerti mengapa Reno diam saja. Pria itu benar, Dia juga akan seperti Reno jika istrinya sedang hamil. Istri? Bagaimana Dean bisa bicara soal istri jika kekasih saja dia tidak punya. Tepatnya wanita yang ingin dia jadikan istri sudah menjadi istri orang lain dan orang itu yang baru saja bicara tentang istrinya.
"Kau tidak akan menemui pria di gudang itu?" tanya Yuda lagi.
"Kalian urus saja. Tanyakan alasannya mau membantu wanita itu. Laporkan padaku setelahnya baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan pada pria itu." jawab Reno.
"Bukti sudah kita dapatkan, itu berarti tinggal kita laporkan saja kasus ini pada yang berwajib, kan?" tanya Azam.
"Sabar bro, kita tunggu hasil otopsinya keluar dulu." sahut Yuda.
"Dean, bukakah tuan Julien itu suami ibumu?" tanya Sapto.
Dean mengangguk, "Iya dia suami ibu saya." jawabnya.
Menurut kamu, apa tuan Julien akan membantu putrinya?" tanya Sapto lagi.
"Saya tidak tahu. Jujur saya baru tahu jika Marisa itu anak dari ayah tiri saya." jawab Dean.
"Pak Sapto, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Anjas.
"Silakan saja. Hal apa yang ingin anda tanyakan?" balas Sapto.
"Apa ada rahasia besar lain yang di ketahui om Surya hingga Marisa sampai melakukan hal itu?" tanya Anjas.
Sapto tidak bisa menjawab. Ini rahasia negara. Yang namanya rahasia tentu dia tidak bisa membaginya pada siapa pun.
Jika yang lain penasaran dengan jawaban Sapto, lain halnya dengan Reno. Suami Nadya itu sudah tahu jawabannya.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...