
"Apa yang terjadi Zam?" tanya Surya dengan debar jantung yang tak beraturan. Dia belum tahu mengapa Nadya dirawat dan sekarang dokter tampak terburu-buru memeriksa ibunya. Debar jantung Surya kembali berpacu tak beraturan, tangannya dingin dan tubuhnya terlihat gemetar. Sungguh Surya merasa saat ini dia benar-benar diuji dengan cobaan dan Surya sadar ini semua teguran yang maha kuasa atas dosa-dosanya dimasa lalu.
"Azam tidak tahu. Tadi terakhir Azam lihat nenek masih belum sadarkan diri." jawab Azam.
"Kapan terakhir kamu melihat nenek?" tanya Surya sambil menatap lekat putra satu-satunya itu.
"Dua puluh menit yang lalu, lebih kurang." jawab Azam sambil menoleh melihat ayahnya yang ternyata tengah menatapnya.
"Kita berdoa saja ya, semoga nenek sadar dan bisa memberitahu apa yang terjadi." ucap Azam meraih tangan ayahnya yang gemetar.
"Ada apa Zam?" Leo yang kebetulan lewat bertanya pada Azam.
"Kak Leo, apa kakak tahu mengapa dokter dan perawat tergesa-gesa berlari keruangan nenek?" bukan menjawab Azam justru balik bertanya yang langsung dijawab gelengan oleh Leo.
"Kenapa kalian tidak masuk dan lihat dokter sedang melakukan tindakan apa?" tanya Leo lagi.
Azam menepuk keningnya. Terlalu panik melihat orang berlari keruangan sang nenek membuat Azam jadi lemot dalam berpikir.
"Ayo kita lihat." ajak Leo.
Ketiganya berjalan mendekati pintu ruangan nenek Rosa. Terlihat dokter masih memeriksa keadaan pasien dan perawat sibuk membantu.
"Nenek sudah sadar!" teriak Azam didepan pintu, dia lupa jika berada dirumah sakit. Azam melihat Rosa sang nenek sudah membuka mata saat dokter yang memeriksa nenek Rosa bergeser dari posisinya semula.
Suara Azam yang keras terdengar hingga ke kamar rawat inap dimana Nadya dirawat.
"Nenek Mas." ucap Nadya yang sangat mengenali suara Azam yang berteriak.
"Dya mau lihat dan ketemu nenek." ucap Nadya lagi.
"Sebentar ya sayang, biar Mas lihat dulu diruangan nenek. Sekalian mengambilkan kursi roda buat kamu." balas Reno yang langsung mendapat anggukan dari Nadya.
Bukan hanya Nadya yang ingin tahu keadaan Rosa, Haris dan Dina juga segera ingin tahu apa yang terjadi.
"Reno, Mama ikut." ucap mama Dina saat Reno hendak melangkah pergi.
"Papa saja yang ikut melihat ibu Rosa. Mama disini jaga Nadya." tahan papa Haris langkah mama Dina yang pasrah pada putusan sang suami.
Leo masuk kedalam kamar rawat Rosa mengikuti Surya dan Azam, matanya segera menyapu seluruh ruangan namun dia tidak menemukan sosok yang dia cari.
"Apa ada yang anda cari Dok?" sapa salah satu perawat.
"Tidak ada." jawab Leo cepat untuk menutupi keterkejutannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ibu Rosa" tanya Leo untuk mengalihkan pembahasan mereka sebelumnya.
"Semua normal Dok, tidak ada yang menghawatirkan." jawab perawat itu.
Tak lama, dokter yang memeriksa nenek Rosa selesai dengan kegiatannya. Leo segera mendekat untuk bertanya.
"Bagaimana Dok?" tanya Leo.
"Semua sudah normal, tapi kita masih harus menguji masih ada sisa racun atau tidak, Dok." ucap dokter yang menangani nenek Rosa.
"Lakukan yang terbaik untuk pasien." ucap Leo sambil menepuk punggung dokter yang merawat nenek Rosa. Dokter itu segera mengangguki apa yang diucapkan Leo. Apa yang Leo ucapkan itu sama seperti perintah yang harus dia lakukan, perintah seorang atasan pada bawahannya.
"Nek, apa yang dirasa sekarang?" tanya Leo pada nenek Rosa.
"Nenek masih merasakan pusing, Nak Leo." jawab nenek Rosa.
Sementara Leo bicara dengan Rosa. Nuri mengambil kesempatan itu untuk bicara dengan Azam dan ayah Surya. Dia memberi tahu apa yang diperintahkan Nadya padanya. Tentu saja setelah Nuri menceritakan tentang adanya orang yang menitipkan obat dan uang padanya yang masih dia simpan saat ini.
"Kalian kembalilah ke rumah. Tapi setelah ayah menjengengguk Nadya."
Apa yang diucapkan Surya sampai ke telinga Leo, karena sejak tadi dia mencari Nadya. Leo tidak bisa membohongi hatinya yang kembali bergetar saat melihat Nadya, masih sama seperti tujuh tahun yang lalu.
"Nadya kenapa?" tanya Leo entah pada siapa pertanyaan itu dia tanyakan.
Baru saja Leo ingin bertanya dimana Nadya saat ini, Reno dan papa Haris masuk untuk melihat apa yang terjadi dengan nenek Rosa.
"Nenek sudah sadar?" tanya Reno yang langsung berjalan mendekat.
"Dimana Dya?" tanya nenek Rosa, dia tadi ikut mendengar penjelasan Nuri.
"Dya sedang istirahat dikamar sebelah. Nenek tidak perlu khawatir, istriku baik-baik saja." jawab Reno dengan senyum mengembang diwajahnya. Suami Nadya itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya saat ini.
"Kamu terlihat bahagia Nak." tegur nenek Rosa karena melihat senyum Reno.
"Tentu saja, kabar baik ini juga pasti membuat Nenek bahagia." sahut Reno.
"Jadi kabar baik apa itu, Ren?" tanya ayah Surya yang ikut penasaran. Tidak hanya ayah Surya, Leo pun ikut penasaran ingin tahu.
"Kita akan menjadi kakek, Sur." papa Haris yang menjawab.
"Dan Nenek akan menjadi nenek buyut." timpal Reno memberitahu Rosa.
"Benarkah ini Nak?" tanya nenek Rosa tidak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja benar. Kalau tidak benar, bagaimana aku bisa sebahagia ini?"
"Selamat Om." suara Leo yang mengucap selamat membuat Reno menyadari ada orang lain selain keluarga mereka di ruangan ini.
Jujur Reno tidak menyukai keberadaan Leo, terlebih lagi Reno mengenali sorot mata yang di pancarkan oleh Leo adalah sorot mata penuh cinta saat melihat istrinya. Reno tidak suka itu, dia tidak ingin ada pria lain yang mencintai Nadya. Nadya hanya boleh dicintai oleh Reno saja dan cinta Nadya hanya untuk Reno saja.
"Selamat Reno." Ucapan selamat dari Leo menarik kesadaran Reno yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terima kasih Dokter." jawab Reno sambil membalas uluran tangan Leo.
Tangan keduanya berjabatan tapi mata mereka yang bertemu saling mengingatkan.
'Nadya itu istriku, jangan coba- coba untuk mengambilnya dariku.' Kata hati Reno berucap.
'Nadya wanita yang aku cintai sejak dulu meski dia tidak pernah tahu, jangan coba-coba menyakitinya. Jika itu terjadi maka aku akan mengambilnya dari mu.' Kata hati Leo bicara.
"Ayah mau lihat Dya." ucap Surya yang menghentikan tatapan tajam dari dua pria yang mencintai Nadya.
"Reno antar Yah." ucap Reno.
Ayah Surya mengangguki ucapan menantunya tanda ia setuju dengan tawaran sang menantu. Kini keduanya berjalan beriringan menuju kamar Nadya diikuti Leo yang mengekor dibelakang mereka. Sedangkan papa Haris menyapa nenek Rosa untuk menanyakan keadaan wanita tua itu. Tadi mama Dina meminta papa Haris memastikan nenek Rosa baik-baik saja.
Azam mendekati papa Haris dan kembali membahas apa yang sudah diceritakan Nuri sebelumnya dan keinginan Nadya untuk menyelidiki obat tersebut.
"Papa setuju dengan pendapat Dya. Apa Reno sudah tahu?"
Azam menggeleng, "Belum sempat bicara Pa. Azam dan Ayah baru saja diberitahu Nuri, jadi belum memberi tahu mas Reno." jawab Azam.
"Kalau begitu kita susul Reno kekamar Nadya. Nuri, kamu jaga nenek." ucap papa Haris.
"Baik Pak." jawab Nuri cepat.
Tiba didepan pintu kamar rawat Nadya, Reno menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu. Dia berbalik dan bicara dengan Leo.
"Anda bisa tunggu sebentar Dok? Maaf bukan bermaksud tidak sopan, saya hanya ingin memastikan saja, istri saya sudah menutup auratnya." ucap Reno.
Sebenarnya Leo merasa tersinggung, tapi dia tidak bisa menyalahkan Reno. Sebagai suami tentu Reno harus menjaga istrinya dengan baik dan Leo tahu itu.
"Silakan, saya akan menunggu." jawab Leo akhirnya.
Reno tersenyum dan Leo tahu itu senyum kemenangan. Reno memang pemenangnya, bahkan mereka akan memiliki anak dan Leo hanya bisa menyesal tidak memberitahu tentang perasaannya lebih awal pada Nadya.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Menikah Jadi Istri Kedua...