
Hari ini Dina mengajak Nadya ke butik langanannya, nanti malam mereka akan menghadiri acara amal yang dihadiri oleh orang-orang kalangan atas. Dina tidak ingin melewati kesempatan ini, ini kesempatan baik bagi Dina untuk memperkenalkan Nadya pada teman-temanya yang selama ini terus menyindir dia yang belum memiliki menantu. Bahkan gosip miring tentang Reno yang suka pada sejenis sering terdengar di telinga Dina.
"Ma, apa tidak apa-apa Dya ikut acara nanti malam?" tanya Nadya yang sedang memilih pakaian dari beberapa desainer terkenal.
"Tidak apa-apa sayang, mulai sekarang kamu harus menemani Reno menghadiri acara-acara seperti ini." jawab Dina menasehati menantunya.
Nadya tersenyum, Reno tadi pagi juga mengatakan hal yang sama.
"Sayang, nanti mama mau ajak kamu ke butik temannya." ucap Reno pada Nadya yang sedang memasangkan kancing kemeja Reno.
"Mau apa?" tanya Nadya yang belum mengerti.
"Cari pakaian untuk kamu dan mama. Nanti malam kita diundang di acara amal." jawab Reno.
"Kenapa harus beli yang baru Mas, yang kemarin Mas Reno beli saja belum dipakai semua." jawab Nadya.
"Tidak apa-apa sayang, mama yang minta. Buat mama senang. Ok." ucap Reno yang diangguki Nadya.
"Apa Dya harus ikut?"
"Harus, mulai sekarang kamu harus selalu mendampingi Mas setiap ada acara." jawab Reno sambil melihat Nadya yang sedang memasangkan dasi di lehernya.
"Apa kamu mau, ditempat acara suamimu yang tampan ini ditemani wanita lain." ucap Reno lagi menggoda istrinya.
"Itu maunya Mas aja, biar bisa gandeng-gandeng perempuan lain." jawab Nadya kesal.
"Jadi pilih yang mana?" tanya pegawai butik yang sejak tadi mendampingi Nadya, membuat istri Reno itu menarik ingatannya tadi pagi.
Nadya sudah melihat satu persatu, tapi setiap melihat harganya dia mengembalikan lagi. Nadya lupa jika kartu yang diberikan Reno sebagai nafkah jumlahnya tak terhitung. Bahkan semua pakaian di butik ini bisa dia beli.
"Ini bagus sayang, cocok untuk kita yang mengenakan hijab." ucap Dina memperlihatkan pakaian yang dia pilihkan untuk menantunya.
Nadya melihat pakaian yang ditunjukkan Dina, pesan Reno memintanya untuk membuat Dina bahagia. Maka Nadya membiarkan Dina yang memilihkan untuknya asalkan ibu mertuanya itu senang dan bahagia.
"Bagaimana sayang, kamu mau ambil yang ini?" tanya Dina pada Nadya.
"Iya Ma, yang itu saja." jawab Nadya.
Dina menyerahkan pakaian itu pada pegawai butik, "Saya ambil yang ini." ucap Dina.
Dina masih melihat-lihat pakaian yang lain, sementara Nadya menunggu ibu mertuanya itu di bangku tunggu sambil membalas pesan dari Reno.
"Jeng Dina." suara seseorang yang memanggil Dina membuat Nadya melihat pada sumber suara yang dia kenal.
__ADS_1
"Jeng Kinanti, apa kabar?" balas Dina panggilan Kinanti padanya.
"Cari pakaian buat nanti malam?" tanya Kinanti pada Dina.
"Sudah dapat, tapi masih mau lihat-lihat yang lain. Jeng Kinanti sendiri mau cari apa?" tanya Dina.
"Menemani calon menantu saya, dia belum sempat cari pakaian sendiri kalau tidak di temani seperti ini." jawab Kinanti.
"Mana calon menantunya Jeng?"
"Sedang mencoba pakaiannya. Jeng Dina sendiri? Saya dengar sudah punya menantu."
"Iya saya sama menantu saya, itu berdiri dibelakang Jeng Kinanti." tunjuk Dina pada Nadya yang sudah mendekati kedua wanita paruh baya itu.
"Nadya." ucap Kinanti tidak percaya.
"Apa kabar tante?" tanya Nadya menyapa Kinanti sambil salim dengan ibu dari Anjas itu.
"Kalian kenal?" tanya Dina pada Nadya dan Kinanti.
"Iya Ma. Tante Kinanti ini ibunya teman Dya." jawab Nadya.
"Jadi Nadya yang jadi menantu Jeng Dina, saya dengarnya anak seorang eksportir." ucap Kinanti merendahkan.
"Anak eksportir kenapa bekerja di restoran keluarga suami saya?" tanya Kinanti yang bermaksud merendahkan Nadya.
"Cari pengalaman kerja tidak apa-apa kan dimana saja." jawab Dina yang membuat Kinanti terdiam.
Dina tentu saja sudah tahu kehidupan Nadya sebelum menjadi istri Reno, bekerja di restoran milik keluarga temannya. Tapi Dina tidak terima menantunya direndahkan oleh Kinanti seperti tadi tanpa tahu penyebabnya.
"Nadya." Nadya melihat pada orang yang memanggilnya.
"Naira, hai... apa kabar?" tanya Nadya sambil berpelukan dengan tunangan Anjas itu.
"Selamat ya, aku dengar dari Anjas kamu sudah menikah." jawab Naira.
"Iya terima kasih, kapan kalian menyusul?" balas Nadya.
Naira diam, entah kapan Anjas akan merubah status mereka yang bertunangan menjadi menikah. Melihat Naira tidak bisa menjawab membuat Nadya merasa bersalah. Tentu saja dia tahu mengapa Anjas selama ini mengulur waktu untuk menikah.
"Jeng Dina, ini Naira calon menantu saya. Ayahnya pemilik beberapa hotel dan resort." ucap Kinanti membanggakan calon menantu dan calon besannya setelah hening sesaat karena pertanyaan Nadya.
"Kalian berteman?" tanya Dina pada Nadya dan Naira.
__ADS_1
"Iya tante, Nadya teman curhat saya." jawab Naira sambil terkekeh.
Kekehan Naira berhenti begitu mendapati tatapan tidak suka Kinanti. Bukan Naira yang membuat Kinanti kesal, tapi Nadya. Dia selama ini tidak melarang Anjas berteman baik dengan Nadya, karena anaknya itu mengancamnya jika melarang. Tapi dia tidak tahu jika Naira juga dekat dengan Nadya, sudah dapat dia tebak ini semua ulah Anjas.
"Aku ambil yang ini Tante." ucap Naira pada Kinanti memecah keheningan.
Melihat perubahan sikap Kinanti, Dina mengajak Nadya pulang. Mereka sudah mendapatkan apa yang dicari, untuk yang lain dia bisa melihat koleksi yang lain dilain waktu.
"Jeng, kami duluan ya. Ada keperluan lain." ucap Dina pamit pada Kinanti.
Nadya kembali salim pada Kinanti meski wanita itu tidak menyukainya, lalu kembali berpelukan dengan Naira.
"Ma, Dya diminta mas Reno ke kantor. Itu pak Agus sudah jemput." ucap Nadya.
"Ada perlu apa?" tanya Dina.
"Enggak tahu Ma, tapi mas Reno biasa seperti ini." jawab Nadya yang sudah beberapa kali diminta Reno ke kantor tanpa memberitahu ada keperluan apa.
"Ya sudah sana, nanti suami kamu lama menunggu." jawab Dina. Ibu mertua dan menantu itu berpelukan sebelum berpisah.
Reno baru saja selesai melakukan pertemuan kerja sama dengan temanya sewaktu kuliah di Amerika. Wanita keturunan Jerman Indonesia itu baru saja kembali ke Indonesia dan langsung mengajukan kerjasama perusahaanya dengan perusahaan Reno.
Reno tidak keberatan, karena kerja sama itu sama-sama menguntungkan tanpa Reno tahu maksud dibalik kerja sama yang dilakukan Jasmine.
"Reno, apa kamu akan datang ke acara amal nanti malam?" tanya Jasmine.
Mereka sedang berdiri didepan pintu lift. Tidak hanya berdua, ada Yuda yang menemani Reno dan dua orang yang mendampingi Jasmine.
"Iya, saya aka datang." jawab Reno.
"Saya juga akan datang, apa kita bisa pergi bersama?" tanya Jasmine lagi.
Reno melihat pantulan dirinya dan Jasmine dipintu lift, terlihat wajah teman kuliahnya itu seperti berharap Reno menjawab bisa.
Belum Reno menjawab, pintu lift terbuka. Sosok wanita cantik yang selalu dirindukan Reno yang berada didalam lift. Senyum diwajah Reno langsung mengembang dan dia segera mengulurkan tanganya untuk menyambut Nadya.
Istri Reno itu segera menerima uluran tangan sang suami dan langsung mencium punggung tangan kekar itu. Mereka saling tatap dan saling melempar senyum. Adengan itu tentu saja membuat Jasmine menatap jengah dan tidak percaya. Reno yang sejak dulu dia kenal dingin bisa selembut itu.
"Siapa wanita ini?" tanya Jasmine yang penasaran.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1