
"Jadi apa hasilnya?" tanya Surya pada Azam. Putranya itu yang dia utus untuk mengambil hasil laboratorium obat yang pernah diberikan seseorang pada Nuri.
Azam tidak menjawab, tapi dia menyerahkan lembaran hasil laboratorium tersebut pada ayah Surya. Pria yang hampir paruh baya itu mengerutkan keningnya, entah apa yang kini dia pikirkan tapi Azam yakin ayahnya sedih dan juga kecewa atau mungkin semakin merasa bersalah telah menelantarkan orang tua yang tinggal satu-satunya itu hingga akan dijadikan kelinci percobaan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Ya hasil laboratorium itu memang obat yang mengandung zat yang diperuntukkan untuk mereka penderita kanker, hanya saja obat itu masih dalam bentuk uji coba sehingga belum bisa dipertanggung jawab kan keamanannya.
Keputusan Nuri untuk tidak memberikan obat pada Rosa sangat tepat, karena pihak rumah sakit tidak tahu akan ada efek apa kedepannya karena itu masih dalam uji coba. Hanya saja sangat disayangkan mengapa baru memberitahunya saat ini? Meskipun ini bukan murni kesalahan Nuri, karena Rosa lah yang memintanya untuk merahasiakan ini.
"Bagaimana kasus tentang racun yang sengaja diberikan pada Nenek?" tanya Surya lagi pada Azam setelah dia membaca hasil laboratorium tersebut.
"Hasil ini sudah Azam copy dan Azam kirim ke Mas Reno." ucap Azam memberi tahu.
"Lalu?" tanya Surya tidak sabaran.
"Menurut Mas Reno, mungkin ada kaitannya dengan kasus keracunan nenek." jawab Azam menjelaskan.
"Maksudnya? Ayah belum paham." ujar Surya.
"Menurut Mas Yugo, kemungkinan hasil uji coba itu tidak berhasil, sehingga mereka ingin meninggalkan jejak."
"Mereka meracuni nenek karena itu?" tanya Surya ragu.
"Diperkirakan begitu. Karena mereka tidak tahu jika Nuri ternyata tidak memberikan obat itu pada nenek." ucap Azam lagi. Kali ini dia menjelaskan lebih jauh apa yang tadi dia bahas bersama Reno, Yuda dan pengacara keluarga Bagaskara.
"Jadi bukan Wulan pelakunya?" tanya Surya untuk menyakinkan dugaannya salah.
"Sepertinya begitu, tapi jangan lengah. Mas Reno masih ingin menyelidiki dalang utama kasus ini, biar jelas semuanya dan keluarga kita juga aman." jawab Azam.
"Yah, Azam capek. Mau tidur dulu sebentar." pamit Azam pada ayahnya.
Pemuda itu berlalu dari hadapan Surya lalu masuk kekamarnya yang kemarin dia renovasi menyesuaikan dengan usianya saat ini yang mulai dewasa.
Baru saja Azam akan menutup matanya, sebuah pesan masuk di benda pipih yang ada ditangannya. Dilihatnya sekilas siapa pengirim pesan tersebut. Dibacanya notifikasi tanpa berniat membukanya.
__ADS_1
[Kak Azam, nanti malam kita dinner yuk!] isi pesan yang masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Azam mengabaikan pesan tersebut. Karena sejak anak-anak kampus tahu siapa Azam sebenarnya, banyak sekali gadis-gadis mengirim pesan yang tidak jelas padanya. Ada yang sekedar mengajak kenalan, ada yang mengajak kencan, ada juga yang minta di lamar dan banyak permintaan lain yang membuat Azam sakit kepala menghadapinya. Privasinya kini terganggu bahkan Azam sampai harus bersembunyi untuk menghindar meski dia sudah menutupi wajahnya dengan masker saat di kampus.
Berbeda jauh dengan Azam dimasa lalu. Meski sejak dulu dia sudah tampan, tapi dari segi ekonomi dia kalah bersaing dengan mahasiswa yang memiliki wajah pas-pasan.Tidak ada yang begitu peduli padanya dimasa lalu, tidak ada yang ingin dekat dengannya, tidak ada mahasiswi yang mengejarnya seperti saat ini. Sudah jelas penyebabnya, kan. Jadi tidak perlu ditanyakan lagi mengapa?
Tapi tidak semua mahasiswa bersikap tidak peduli pada Azam. Ada satu nama yang selalu ada bersama Azam. Dia Karla, gadis itu satu frekwensi dengan Azam. Mereka sama-sama dari ekonomi pas-pasan, karena itu mereka menjadi dekat. Namun saat ini Karla seolah menjauh dan menghindar darinya. Ada apa? Azam tidak bisa menemukan jawabannya.
"Ada apa dengan dia?" Azam yang tidak bisa memejamkan matanya tidak bisa berhenti memikirkan satu-satunya teman yang selalu setia dengannya selama ini.
Semua pesan yang Azam kirim tidak ada satupun yang di balas meski sudah bercentang biru. Banyak tanya yang Azam lontarkan tapi tak kunjung dijawab. Membuat Azam beberapa hari ini uring-uringan sendiri. Tidak paham dengan apa yang dilakukan Karla saat ini padanya.
Sementara Azam uring-uringan di rumah, orang yang membuatnya uring-uringan saat ini sedang berbincang hangat dengan Nadya dan Reno.
Sepasang suami istri itu baru saja selesai berbelanja keperluan rumah baru mereka. Reno hari ini mengkhususkan waktunya untuk sang istri seperti janjinya dua hari yang lalu, mereka akan mencari sendiri kebutuhan rumah baru mereka sesuai keinginan Nadya.
"Kuliah kamu bagaimana, Karla?" tanya Nadya.
"Alhamdulillah lancar Mbak." jawab Karla. Nadya pun tersenyum mendengarnya, "Pekerjaan kamu?" tanya Nadya lagi.
Karla menarik nafas panjang, menunjukan saat ini dia sedang tidak baik-baik tentang masalah pekerjaan.
"Kurang baik, Mbak." jawab Karla jujur.
"Kenapa?" tanya Nadya penasaran.
"Teman Karla memfitnah Karla. Dia dituduh mencuri uang toko, sekarang Karla pengangguran." Wina yang menjawab. Biar saja dia membocorkannya pada kakak Azam, mungkin saja Karla akan dibantu dan tidak perlu uring-uringan lagi karena harus kembali kelelahan berkeliling memasukkan lamaran pekerjaan.
"Tidak usah mencari kerja ditempat lain, kamu bawa saja lamaran ke Bagaskara group. Kebetulan sekali sedang ada penerimaan karyawan. Temui orang yang bernama Irfan disana." ucap Reno.
Bagaskara group adalah perusahaan milik keluarga Reno. Perusahaan itu saat ini dipimpin papa Haris sebagai Ceo. Bukan karena Nadya menjelaskan siapa Karla, karena tidak hanya kali ini saja dia bertemu teman Azam itu. Beberapa kali Azam menemuinya di perusahaan, adik iparnya itu sering membawa Karla bersamanya.
"Saya tidak punya pengalaman kerja dikantor Pak. Apa lagi perusahaan sebesar itu. Apa tidak masalah saya diterima kerja disana?" jawab Karla ragu. Apalagi tidak ada orang yang dia kenal disana.
__ADS_1
"Mengapa tidak diperusahaan milik Bapak saja?" tawar Karla.
"Tidak masalah. Nanti kamu bisa berkembang dan banyak belajar disana. Perusahaan saya sedang tidak menerima karyawan baru." jawab Reno.
Mau bagaimana lagi? Karla mau tidak mau menerima tawaran Reno untuk memasukkan lamaran ke Bagaskara Group. Karla akan memberi tahu kabar baik ini pada Azam, temannya itu mungkin bisa menemaninya ke Bagaskara Group saat memasukkan lamaran.
Makanan pesanan mereka sudah tersedia di meja. Nadya mempersilakan Karla dan Wina untuk segera makan. Kini pembahas mereka bukan lagi masalah pekerjaan yang membuat Karla pusing dan mengabaikan Azam.
Azam yang saat ini jadi pembahasan Nadya dan Karla merasakan telinganya panas, bahkan saat meneguk air putih dia tersedak dan batuk nya tak juga reda.
"Mas Azam kenapa?" tanya Nuri yang juga berada di dapur.
"Nggak tahu nih Mbak. Telingga saya kok panas, terus tiba-tiba saja saya tersedak air putih." jawab Azam.
"Sepertinya ada yang sedang membicarakan Mas Azam nih. Hayo...jangan-jangan Mbak Karla, Mas." goda Nuri lalu terkekeh.
"Nuri? Dia lagi sombong sama Azam, Mbak!"
"Bukan sombong, mungkin dia masih pusing cari kerja." sahut Nuri.
"Cari kerja?" Nuri mengangguk.
"Karla kan sudah punya pekerjaan, Mbak." balas Azam.
"Lho... Mas Azam belum tahu kalau mbak Karla dipecat karena di fitnah temannya?"
"Mbak Nuri seriusan? Karla di pecat? Karla difitnah?"
"Nggak hanya serius Mas, tapi seribu rius." jawab Nuri.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...
__ADS_1