
Ponsel milik Nadya terus berdering, sementara pemiliknya tengah sibuk dikamar mandi membersihkan diri. Reno yang merasa tidurnya terganggu berdecak kesal. Siapa yang terus-terusan menghubungi istrinya disaat liburan seperti ini.
"Harusnya kamu juga menonaktifkan ponsel kamu sayang." gumam Reno namun tak ayal dia bangun dan tangannya tetap meraih ponsel milik Nadya.
Belum sampai tangannya meraih benda pipih milik sang istri, pintu kamar mandi terdengar terbuka. Reno segera berbalik untuk melihat Nadya dan matanya melihat sang istri hanya mengenakan lilitan handuk.
Hanya begitu saja, Nadya sudah mampu membuat junior Reno kembali bereaksi. Reno merutuki dirinya sendiri, lagi-lagi dia terpesona pada tubuh sang istri, meski hampir setiap hari dia melihat tubuh polos istrinya itu namun tetap saja jantungnya berdebar melihat pemandangan indah.
"Mas sudah bangun?" tegur Nadya.
Reno tersentak mendengar pertanyaan dari sang istri. Pikirannya baru saja tercemar hingga suara dering ponsel yang terus berdering hanya seperti senandung indah.
"Suara ponselnya menganggu ya?" tanya Nadya lagi, "Sepertinya ada yang penting Mas. Itu panggilan dari Azam." jelas Nadya yang sengaja mengatur nada dering yang berbeda untuk orang-orang terdekatnya, seperti Azam dan Reno, Rosa dan juga Anjas.
"Azam?" beo Reno.
Jika sudah berkali-kali sudah pasti ada hal yang penting seperti yang Nadya katakan. Reno pun segera meraih ponsel Nadya dan langsung menggeser lambang telepon berwarna hijau di layar pipih tersebut.
"Assalamualaikum, Mbak tolong pulang sekarang!" ucap Azam dari seberang sana, begitu panggilannya tersambung.
"Zam, ada apa?" tanya Reno.
"Mas Reno, tolong ajak mbak Dya pulang secepatnya." ulang Azam permintaannya.
"Iya, tapi ada apa?" tanya Reno penasaran.
"Pulang secepatnya saja Mas, ini sangat penting." jawab Azam lagi yang kekeh tetap tidak ingin memberitahu apa yang terjadi.
"Mbak akan pulang, sekarang juga." sahut Nadya.
Pasti ada sesuatu yang terjadi, Azam tidak pernah memaksakan kehendaknya jika bukan sesuatu yang sangat penting. Nadya segera kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Melihat Nadya kembali masuk ke kamar mandi, Reno segera mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Surya sang ayah mertua. Jika Azam tidak ingin memberitahu, maka Surya pasti akan memberitahunya ada masalah Baru saja aktif sudah masuk notifikasi panggilan dari Dina. Bukan satu kali, melsinkan berkali-kali.
"Ada apa?" batin Reno ikut bertanya-tanya. Azam meminta mereka segera pulang, sedangkan Dina mamanya terus menghubunginya.
"Halo Ma, assalamualaikum." ucap Reno setelah panggilannya tersambung.
__ADS_1
"Reno...! Akhirnya ponsel kamu aktif juga." balas Dina.
"Assalamualaikum Ma." ulang Reno salamnya karena Dina tidak menjawab.
"Iya, waalaikumsalam." balas Dina akhirnya, "Ren, Dya ada didekat kamu?" tanya Dina.
"Sedang di kamar mandi. Mama mau bicara dengan istriku?" jawab Reno.
"Tidak. Mama mau bicaranya sama kamu. Bawa Nadya pulang sekarang ya Ren." jawab Dina.
Pulang! Lagi-lagi Reno mendapatkan permintaan yang sama. Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi, tapi apa?
"Ma, ada apa?" tanya Reno penasaran.
Dina menjelaskan apa yang sedang terjadi pada keluarga mereka. Dan wanita paruh baya itu meminta Reno untuk tidak segera memberitahu Nadya. Dina tidak ingin terjadi apa-apa pada menantunya jika Nadya tahu apa yang terjadi.
"Baik Ma, Reno akan jaga menantu Mama." jawab Reno.
Setelah panggilan terputus, Reno segera memesan tiket pesawat. Dia juga menyimpan kembali pakaian miliknya dan juga Nadya kedalam koper. Mereka baru menikmati liburan selama tiga hari, dan sekarang harus segera kembali. Mengapa sulit sekali untuk bisa menikmati waktu hanya berdua saja seperti dua hari terakhir ini.
"Mas, biar Dya yang bereskan pakaiannya. Mas Reno mandi saja." ucap Nadya begitu melihat Reno sedang merapikan pakaian mereka di dalam koper.
"Iya, ini Mas mandi." jawab Reno sambil berjalan mendekat lalu mengecup pucuk kepala Nadya yang masih basah.
Kembali Reno tersenyum, kali ini dia tersenyum bangga, bangga karena hanya dia yang bisa melihat istrinya tanpa hijab, bisa melihat rambut hitam tebal milik istrinya dan semua keindahan yang ada pada istrinya hanya untuknya. Reno bersyukur, permintaan Diana untuk segera memiliki cucu membuatnya bertemu dengan Nadya.
Mengapa tidak sejak awal saja mereka bertemu? Reno sering mempertanyakannya. Mengapa dia harus bertemu Marisa lebih dulu dan menikah dengan wanita itu.
"Cepat mandi Mas." usir Nadya karena Reno tidak juga beranjak dari hadapannya.
Bukan pergi ke kamar mandi, Reno justru mengecup bibir istrinya. Dia hanya ingin membuat perasaan Nadya tenang meski hanya sesaat. Karena setelah ini, begitu mereka kembali, istrinya akan merasakan kesedihan.
"Mas!" tegur Nadya atas tingkah Reno.
"Sayang, Mas sudah beli tiket pulang." balas Reno teguran Nadya, "Kita akan terbang tiga jam lagi." ucap Reno memberitahu.
Nadya mengangguk mengerti, "Baik Mas, terima kasih." balasnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Meski istrinya tersenyum, Reno bisa melihat ada kegelisahan dimata Nadya. Dan apa yang Reno lihat itu benar. Karena sepanjang perjalan mulai dari ke bandara hingga saat ini perjalanan menuju kediaman Surya, Nadya merasakan perasaan yang tidak tenang.
Entahlah, Nadya tidak mengerti mengapa dia merasakan hal yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Jantungnya berdebar sangat tidak nyaman.
Tangannya yang sejak tadi melingkar dilengan Reno, Nadya eratkan rangkulannya. Sebelah tangannya yang bebas mengelus perutnya yang sudah bertambah bulat.
"Ada apa sayang?" tanya Reno khawatir.
"Enggak tahu Mas, perasaan Dya nggak enak banget. Dedek juga sepertinya tidak tenang." jawab Nadya.
Reno melepaskan rangkulan tangan Nadya di dilenganya. Mengusap perut istrinya dan bicara dengan buah hati mereka, "Jagoan ayah baik-baik di dalam perut ibu ya sayang." ucap Reno.
Lalu Reno merangkul sang istri. Mengeratkan rangkulannya sambil mengusap lembut punggung Nadya untuk menenagkan. Reno memang belum memberi tahu pada Nadya apa yang terjadi seperti pesan Dina.
Dina tidak ingin Nadya merasakan sedih selama perjalan pulang. Karena, pasti akan mempengaruhi kandungan menantunya. Nyatanya saat ini saja bayi yang ada dalam kandungan Nadya sudah bisa ikut merasakan perasaan tidak nyaman ibunya.
Bagaimana nanti saat sudah tiba di kediaman mertuanya? Tentu saja Reno harus siap menjadi penopang untuk Nadya, saat istrinya itu sudah tahu apa yang terjadi.
"Sayang, apapun yang terjadi nanti, kita harus siap menerimanya dan sabar menghadapinya." ucap Reno menenangkan istrinya.
Reno tahu ini berat untuk Nadya, tapi kita tidak bisa melawan takdir bukan? Reno berharap istrinya akan baik-baik saja nanti.
Perasaan Nadya semakin tidak menentu meski Reno terus menguatkan hatinya, dia tahu telah terjadi sesuatu sehingga Azam memintanya pulang lebih cepat dari jadwal liburannya yang tersisa dua hari lagi.
Pikiran Nadya tertuju pada Rosa, apalagi setelah mendengar ucapan sang nenek saat kemarin dia akan pamit untuk pergi liburan.
"Pergilah dan nikmati liburan kamu, Dya. Nenek ikut senang kalau kamu bahagia. Apa lagi kamu sekarang sudah dijaga oleh pria yang tepat, teruslah selalu hormati suami kamu." ucap Rosa.
"Dya akan selalu ingat pesan nenek. Nenek tidak perlu khawatir yang berlebihan, kita semua akan baik-baik saja setelah ini. Ayah juga sudah kembali pada kita, nenek bahagia kan? Sekarang yang penting nenek harus sehat." balas Nadya.
Rosa menganguk, "Nenek bahagia. Apa lagi Azam yang akan meneruskan usaha ayah kalian. Widya juga pasti bahagia dan tenang disana, melihat anak-anaknya sudah memiliki kehidupan yang baik. Nenek bisa cepat sembuh dan tidak akan sakit lagi, melihat kalian bahagia." jawab Rosa.
"Sayang."
Suara Reno membuat Nadya kembali pada dunianya, "Iya Mas." sahut Nadya.
"Kita sudah sampai." ucap Reno memberitahu.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...