MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 20. Anak Kita?


__ADS_3

"Mas Reno bicara saja sama istri Mas...."


"Sama kamu." potong Reno ucapan Nadya.


"Dya serius Mas, bicara dan selesaikan baik-baik. Dya tidak apa-apa disini sendiri." Nadya melanjutkan ucapannya yang dipotong Reno sambil menatap lekat suaminya.


Nadya memang marah pada Marisa, dia juga membenci saudara perempuannya itu. Tapi bukan Nadya namanya jika egonya bisa mengalahkan kebaikan hati yang dia miliki. Marah pun percuma, benci pun tidak berguna. Semua hanya akan menghabiskan waktu dan energinya saja. Sekarang Nadya hanya akan menikmati saja semua takdir yang telah dan akan terjadi padanya.


Bukankah sekarang takdir baik sedang berpihak pada dirinya yang selama ini di zalimin Marisa dan Wulan. Niat Marisa yang ingin hidup Nadya hancur dengan cara memaksa Nadya menjadi ibu pengganti, ternyata menjadi jalan bagi Nadya untuk mengetahui kisah hidup Surya yang tidak pernah Nadya ketahui sebelumnya.


Keputusannya menerima permintaan Marisa menjadi jalan bagi Nadya untuk bertemu teman ibunya sewaktu kecil hingga remaja, teman ibunya yang kini menjadi ibu mertuanya.


Mengapa Nadya harus marah? Bukankah paksaan Marisa agar Reno dan Nadya menikah membukakan pintu kebahagiaan untuk Nadya.


"Mas akan bicara dengannya tapi tidak sekarang, sayang." jawab Reno balas menatap lekat wajah istrinya.


Pandangan keduanya bertemu, Nadya merasa ada sesuatu yang membuncah dihatinya saat Reno memanggilnya sayang.


Nadya terkadang masih merasa tidak percaya pria yang tidak pernah ada dalam mimpinya kini menjadi suaminya. Bolehkah Nadya saat ini berbesar hati karena Reno lebih memilih dirinya dari pada Marisa? Atau Nadya harus mengubur rasa yang mulai tumbuh untuk suaminya?


Ponsel Nadya berdering, mengalihkan perhatian Reno pada tangan Nadya yang memegang layar pipih miliknya. Nama Anjas yang tertera dilayar ponsel itu, Nadya tidak berani menjawabnya sebelum Reno mengizinkan. Nadya tidak ingin mengulang kejadian tadi pagi, wajah Reno menjadi dingin menunjukkan ketidak sukaannya saat Nadya langsung menerima panggilan dari Anjas.


Tangan Reno mengambil layar pipih milik istrinya. Nadya hanya bisa diam dan menunggu apa yang akan Reno lakukan. Deg, jantung Nadya berdetak sedikit lebih cepat begitu jari Reno menggeser tombol hijau.


"Nad kamu berhutang penjelasan." ucap Anjas dari seberang sana. Sahabat Nadya itu tidak tahu jika saat ini yang bicara dengannya adalah Reno.


"Nanti Nadya akan bayar hutangnya." jawab Reno yang membuat Anjas mengerutkan keningnya.


Sementara Nadya menampakkan wajah tidak mengerti dengan ucapan Reno. Dia tidak bisa mendengar apa yang Anjas katakan, lalu mengapa suaminya itu membicarakan hutang?


"Hutang." beo Nadya. "Apa Anjas menagih hutang dari uang yang kemarin dia pinjam untuk tambahan biaya kuliah Azam?" pikir Nadya. Tapi Nadya sudah membayar hutang itu, mengapa Anjas menagihnya lagi?

__ADS_1


"Sebaiknya kamu beritahu sahabat kamu itu itu tentang kita yang sebenarnya." ucap Reno mengalihkan perhatian Nadya, dia hanya mengangguk menjawab ucapan Reno. Wajah suaminya kembali menunjukkan wajah dingin, bahkan sudah membeku seperti di dalam freezer.


"Mas...."


"Aku tahu dia selama ini yang selalu ada untuk kamu, tapi mulai sekarang aku yang akan selalu ada untuk kamu." ucap Reno memotong ucapan Nadya.


Nadya mendekat pada Reno, lalu memeluk suaminya dari belakang. "Bukan itu yang ingin Dya bicarakan." ucap Nadya yang membuat bongkahan es yang melapisi wajah Reno sedikit mencair.


Bukan karena ucapan Nadya, tapi karena pelukan yang Nadya berikan. Hati Reno menghangat mendapat pelukan dari istrinya, cemburu yang tadi menghampirinya berlahan menguap dan menghilang.


Mengapa juga Reno harus cemburu pada Anjas yang jelas-jelas tidak bisa memiliki Nadya, meskipun mereka saling mencintai. Sementara dirinya sudah melangkah lebih jauh dari Anjas, dia sudah memiliki Nadya seutuhnya.


"Dya mau berhenti bekerja, jika Mas mengizinkan."


Senyum terlukis diwajah Reno, dia memang ingin membicarakan masalah ini pada Nadya. Tapi tanpa Reno minta, ternyata Nadya sudah memikirkannya. Jika Reno tahu Nadya melakukan ini karena istrinya itu ingin menjaga perasaan Reno, tentu dia akan lebih bahagia lagi.


Reno berbalik, "Tentu saja Mas mengizinkan." jawab Reno sambil mengusap pipi Nadya yang terlihat lebih berisi.


Senyum Nadya membuat Reno meraup bibir istrinya itu, Nadya selalu saja bisa membuatnya bergairah. Gairah yang Reno sendiri tidak tahu mengapa bisa sangat menginginkannya hanya pada Nadya.


Tautan keduanya tentu saja menuntun mereka untuk melakukan yang lebih jauh lagi. Reno mengecup rahang Nadya lalu turun ke leher istrinya. Tangannya sudah sangat terlatih untuk membuka pakaian yang Nadya kenakan. Milik Nadya masih saja terasa sempit meski Reno sudah beberapa kali memasuki istri keduanya ini.


Nadya yang sudah bisa menikmati penyatuannya dengan Reno, mulai bisa mengimbangi permainan yang Reno lakukan hingga keduanya melepaskan erangan bersamaan. Untuk kesekian kalinya Reno melepaskan benih miliknya di rahim Nadya.


"Terima kasih sayang." ucap Reno sambil mengecup bibir Nadya berkali-kali.


"Reno, kamu didalam? Boleh aku masuk?"


Reno yang masih betah berada diatas tubuh Nadya sehabis pergulatan mereka siang ini, tidak menggubris panggilan Marisa. Dia memilih menjatuhkan tubuhnya disamping Nadya dan memeluk erat istri keduanya ini.


Merasa tidak mendapat jawaban, Marisa meninggalkan pintu kamar pribadi Reno dan juga Nadya. Dia memilih duduk di sofa yang ada di ruang kerja Reno, sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya agar Reno menjauh dari Nadya. Marisa tidak akan membiarkan Nadya berakhir bahagia, itu sudah seperti semboyan bagi Marisa untuk saudara perempuannya. Entah kesalahan apa yang Nadya lakukan pada Marisa, hingga kakak perempuannya ini sangat sangat membenci adiknya itu.

__ADS_1


Lampu menyala diatas kepala Marisa, sebuah ide cemerlang terlintas dipikiran Marisa. Dia menemukan cara yang menurutnya bisa membuat Reno kembali berpaling padanya.


Pintu kamar Reno terbuka, sosok pria tampan yang tadi Marisa panggil keluar dari kamar. Masih dengan rambut yang berantakan, namun wajah Reno memancarkan kebahagiaan.


"Kamu baru bangun tidur Ren?" tanya Marisa sambil memasang senyum lebar, senyum penuh tipu daya untuk menarik simpati Reno yang hanya menjawab pertanyaannya dengan deheman.


"Apa kita bisa bicara sekarang?" tanya Marisa lagi. Dia sudah tidak sabar ingin memberi tahu sesuatu pada Reno.


"Nanti saja, ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang." jawab Reno yang langsung duduk di meja kerjanya.


Suami Marisa dan Nadya itu menyalakan pc yang ada di meja kerjanya. Sebenarnya dia masih ingin memeluk Nadya yang kini masih terlelap. Tapi Yuda memintanya untuk secepatnya memeriksa berkas yang asistenya itu kirimkan.


"Tapi ini penting Reno."


"Tidak ada yang lebih penting dari hal yang akan aku kerjakan sekarang." jawab Reno.


"Ini masalah anak Reno, aku hamil."


Reno melihat Marisa yang tersenyum lebar. "Kali ini apa lagi yang kamu rencanakan?" tanya Reno.


Marisa menyatukan alisnya, mengapa Reno tampak tidak bahagia mendengar kehamilannya. Bukankah ini yang Reno harapkan?


"Aku memberi tahu kamu Reno, kita akan punya anak. Jadi kamu bisa menceraikan Nadya, kita tidak butuh anak dari dia, karena sekarang aku hamil anak kita." jelas Marisa.


"Anak kita? Apa kamu yakin itu anak ku? Aku meragukannya. Sudah berapa lama kita tidak melakukannya? Aku bahkan sudah lupa rasanya bercinta denganmu Ris."


Marisa terdiam, ucapan Reno seperti tamparan untuk Marisa. Mengapa dia lupa jika dia dan Reno sudah lama tidak berhubungan. Terlalu sering tidur bersama Kevin dan produsernya, itulah yang membuat Nadya lupa jika bukan Reno yang tidur bersamanya. Sekarang apa yang akan terjadi? Bukankah Marisa baru saja membuka aibnya pada Reno yang sebenarnya sudah di ketahui Reno.


Reno tersenyum tipis begitu melihat Marisa yang tidak bisa menjawab pertanyaanya, "Jadi siapa ayah bayi yang kamu kandung?"


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Menikah Jadi Istri Kedua ...


__ADS_2