MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 61. Mencari Tahu


__ADS_3

Meski sudah dipaksa dengan ancaman, Marisa tetap tidak mau memberi tahu siapa ayah dari bayi yang dia kandung pada Surya. Berbagai alasan wanita itu berikan pada Surya, hingga sang papa tidak lagi bertanya.


Tidak bertanya bukan berarti Surya akan diam saja, dia akan meggunakan cara lain untuk mendapatkan informasi tentang siapa ayah bayi yang Marisa kandung. Meskipun Marisa itu selalu menyusahkan dirinya, tapi Surya tetap menginginkan yang terbaik untuk putri pertamanya itu.


Tidak sulit bagi Surya untuk mencari tahu, cukup meminta bantuan temannya yang biasa menagani hal seperti ini. Surya akan mendapatkan hasil secepatnya, dan laki-laki itu harus bertanggung jawab atas kandungan Marisa.


Sebenarnya Surya bisa saja meminta bantuan Reno, tapi tidak dia lakukan. Tentu saja, Surya ingin menjaga perasaan Nadya dan dia tidak ingin putri keduanya terluka. Bagaimanapun Marisa pernah ada dalam kehidupan Reno sebelumnya. Surya tidak ingin kebahagiaan Nadya terusik lagi oleh masalah Marisa. Cukup sudah Nadya merasa kesulitan dalam hidupnya akibat kesalahannya yang pernah dia lakukan.


Disinilah Surya sekarang berada, di kantor milik Sapto, sahabat Surya yang akan membantunya mendapatkan informasi dengan cepat. Sebenarnya Surya bisa saja menghubungi Sapto lewat telepon, tapi Surya lebih memilih untuk datang dan bicara langsung dengan sahabatnya itu.


"Apa kabar?" tanya Sapto begitu melihat Surya yang masuk kedalam ruangannya.


"Tidak begitu baik." jawab Surya sambil duduk dihadapan Sapto.


"Sudah aku duga, mana mungkin kamu akan singgah ke tempatku jika bukan ada hal yang penting." sindir Sapto.


"Bukankah kamu sama saja To." balas Surya, lalu keduanya tertawa bersama.


Sapaan yang aneh, saling menyindir lalu tertawa bersama. Begitulah mereka berdua sejak dulu jika sudah lama tidak bertemu.


"Jadi masalah apa yang bisa aku bantu?" tanya Sapto langsung menebak pada tujuan Surya


Surya membuang nafas kasar, mencoba menenangkan dirinya. Entah mengapa, membahas Marisa selalu saja menguras energinya. Berbeda dengan Nadya yang justru mampu membuatnya tenang.


"Putri pertama ku hamil dan dia tidak mau memberitahu siapa ayah dari anak itu." jawab Surya. Bicara dengan Sapto tidak perlu berbasa basi, karena itu Surya langsung menjelaskan masalah yang dia hadapi.


"Putrimu dengan Wulan?" tanya Sapto. Surya mengangguk.


Sapto menatap Surya, ada rasa prihatin pada sahabatnya ini. "Maaf Sur. Kamu yakin dia putri kamu?" tanya Sapto lagi.


"Kamu bertanya seperti ini, pasti kamu tahu sesuatu." jawab Surya.


"Biarkan saja dia mau hamil atau tidak, itu bukan tanggung jawab kamu." balas Sapto, "Bukankah dia sudah menikah?" ucap Sapto menaggapi.


"Dia sudah bercerai, putriku cukup nakal. Dia berselingkuh dan sekarang anak itu berada di dalam sel tahanan." jawab Surya.


Sapto terkekeh, "Dia nakal seperti ayahnya." ucap Sapto.


"Aku?" sahut Surya.

__ADS_1


Sapto terkekeh lalu berdiri dan mendekati barisan laci-laci tempat Sapto menyimpan berkas. Menarik salah satu laci, mencari sesuatu didalam sana lalu dia tarik untuk mengeluarkan sebuah amplop coklat.


"Apa ini?" tanya Surya.


"Itu berkas tentang Marisa yang kamu anggap putrimu itu." jawab Sapto.


Surya membukanya, ada beberapa lembar kertas yang bertuliskan keterangan serta beberapa lembar foto yang cukup membuat Surya terkejut.


"Mengapa kamu bisa punya bukti semua ini?" tanya Surya yang sebenarnya sudah tahu, sahabatnya ini dibayar seseorang untuk mencari tahu tentang Marisa.


"Kamu pasti tahu jawabannya." sahut Sapto.


"Siapa?" tanya Surya.


"Kamu tahu nama klien itu rahasia, aku tidak bisa membaginya. Tapi, aku bisa memberi tahu alasannya." jawab Sapto.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Katakan saja!" sahut Surya.


"Marisa dicurigai oleh klienku sebagai selingkuhan suaminya." ucap Sapto memberitahu alasan kliennya.


Sapto diminta mencari tahu sejauh mana hubungan antara Marisa dan suami kliennya. Hasil penyelidikan Sapto ternyata diluar dugaan kliennya. Marisa bukan selingkuhan suami kliennya melainkan putri dari pria tersebut. Hal ini tentu saja menjadi menarik bagi Sapto karena yang dia ketahui Marisa adalah putri Surya sahabatnya. Tapi dia belum yakin sepenuhnya dan dia masih butuh waktu untuk menarik kesimpulan.


"Aku belum yakin, Sur. Aku juga baru mendapatkan informasi ini. Karena itu aku menundanya. Aku masih ingin mencari tahu kebenarannya. Berita yang kamu bawa hari ini menambah daftar kecurigaanku." jawab Sapto.


"Masud kami?" tanya Surya tidak mengerti.


"Beri aku waktu tiga hari untuk mencari tahu siapa ayah bayi itu dan juga ayah biologis Marisa sebenarnya. Kamu atau suami klienku." jawab Sapto.


Di kediaman Surya.


Seperti janjinya kemarin pada Azam, hari ini Nadya berdua Reno mengunjungi Rosa di kediaman Surya. Neneknya sudah terlihat semakin sehat, suster Nuri merawat Rosa dengan sangat baik. Gadis muda itu sangat cekatan dan juga telaten menurut Nadya. Bukan hanya itu, Nuri menyayangi Rosa seperti neneknya sendiri.


"Terimakasih ya Nur, kamu sudah merawat nenek dengan baik." ucap Nadya begitu melihat gadis itu baru saja selesai membantu Rosa meminum obat.


"Sama-sama Mba. Saya juga senang dengan keluarga disini, semuanya baik pada saya." jawab Nuri jujur.


"Termasuk saya ya Nur?" Azam yang mencuri dengar percakapan keduanya menimpali.


"Mas Azam baik, tapi suka usil." jawab Nuri.

__ADS_1


"Usil bagaimana Nur?" tanya Nadya penasaran.


"Mbak Dya kok kepo sih." sela Azam agar Nuri tidak menceritakan keusilannya pada sang kakak. Bisa habis dia dimarah oleh wanita hamil itu.


"Kamu semakin buat Mbak penasaran Zam." keluh Nadya, tapi tidak dia memperpanjang masalahnya.


"Ayah kemana Zam? Apa sudah ke kantor?" tanya Nadya karena tidak menemukan sosok pria itu, padahal dia sudah datang pagi sekali. Sengaja ingin sarapan bersama.


"Ayah mengurus sesuatu." jawab Azam.


"Pasti sangat penting." sahut Nadya.


Azam menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Baginya masalah Marisa ini tidak penting, tapi mungkin tidak bagi Surya.


Reno melihat perubahan pada wajah Azam setelah Nadya bertanya tentang ayah mertuanya. Reno tentu saja tahu masalah apa yang sedang diselesaikan Surya, tapi dia memilih diam selama Surya belum meminta bantuannya.


"Bagaimana kabar nenek sekarang?" tanya Reno mengalihkan pembicaraan.


Tentu Reno tidak ingin Nadya tahu urusan penting apa yang diurus oleh Surya. Reno tidak ingin Nadya ikut memikirkan masalah Surya, apa lagi ini tentang Marisa. Reno tidak ingin kandungan Nadya terganggu akibat banyak pikiran.


Rosa tersenyum, "Nenek jauh lebih baik sekaran." jawab Rosa.


"Syukur alhamdulillah. Saya ikut senang." balas Reno.


"Nek, Dya sama mas Reno mau minta izin." ucap Nadya menimpali pembicaraan Reno dan Rosa.


"Izin apa?" tanya Rosa.


"Izin bawa Nadya liburan Nek, boleh?" sahut Reno.


Rosa terharu atas permintaan Reno. Pria itu harusnya memegang kendali penuh kehidupan cucu perempuannya sebagai seorang suami. Tapi Reno, dia menghormati Rosa dengan meminta restu di setiap kegiatan yang akan cucu dan cucu menantunya itu lakukan.


"Tentu saja boleh." jawab Rosa. Dia ikut bahagia dengan kabar ini. Cucunya sudah lama tidak pernah liburan entah sejak kapan. Karena terlalu lamanya, membuat Rosa lupa.


"Terimakasih Nek." jawab Nadya senang.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua ...

__ADS_1


__ADS_2