MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 27. Makan Malam


__ADS_3

Surya berjalan terburu-buru begitu tiba di kediaman Reno, dia sudah sangat terlambat menghadiri undangan makan malam dari putri dan menantunya itu. Kedatangan Marisa benar-benar menyita waktu, untung saja pada akhirnya Marisa mau menerima penjelasan dan mengizinkannya segera pergi.


"Maaf saya terlambat, ada sesuatu yang harus diurus." ucap Surya setelah dia ikut duduk di meja makan.


"Belum terlambat, kami baru saja akan mulai." Haris yang menjawab permintaan maaf besannya.


Reno baru saja akan mempersilakan tamunya untuk makan, kalimatnya tertunda begitu mendengar suara sesorang yang membuat mereka semua terkejut.


"Apa ini makan malam keluarga?" tanyanya.


Surya melongo tidak percaya, ternyata Marisa mengikutinya sampai kediaman Reno. Marisa tersenyum penuh arti pada Surya, menunjukkan jika dia tidak bisa di bodohi Surya begitu saja. Rasa penasaran Marisa lah yang membawanya sampai ketempat ini dan berdiri dihadapan semuanya.


Begitu Surya pergi, Marisa masuk kedalam mobil Kevin. Rasa curiga dengan ketidak biasaan sang ayah membuat Marisa berniat mengikuti kemana Surya sebenarnya pergi.


"Kevin aku ingin tahu siapa orang yang akan ditemui papa." ucap Marisa memberitahu Kevin.


"Maksud kamu?" tanya kevin tidak mengerti.


"Ikuti mobil papa."


Mobil Kevin melaju mengikuti mobil yang di tumpangi Surya dengan jarak aman agar mereka tidak ketahuan.


"Bukankah ini arah kerumah lo, Beb." ucap Kevin membuat Marisa yang fokus pada layar ponselnya langsung memperhatikan sekitar sampai Kevin menghentikan laju kendaraannya.


"Benar, papa sepertinya menemui Reno." ujar Marisa.


"Vin, menurut kamu papa mau apa?" tanya Marisa meminta pendapat Kevin.


"Turunlah dan masuk, lihat dan dengar sendiri apa yang papa kamu lakukan didalam sana."


Seperti seorang murid yang mendapatkan perintah dari gurunya, Marisa keluar dari mobil Kevin dan berjalan masuk kedalam kediaman Reno. Matanya kemudian membulat lebar, begitu melihat di meja makan ada kedua orang tua Reno, Rosa, Azam, Reno dan Nadya. Ditambah papanya yang baru tiba juga disambut baik disana, tentu saja menjadi tanda tanya besar dikepalanya.


"Marisa." panggil Surya.


"Jadi ini yang menyebabkan Papa buru-buru pergi, bukankah Papa bisa mengajakku? Aku juga bagian keluarga ini meski aku bukan lagi istri Reno. Aku juga putri Papa." ucap Marisa dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


Hening, tidak ada yang menaggapi ucapan Marisa. Begitu juga Surya, dia hanya menghela nafas dan merasa malu dengan tingkah putri pertamanya itu.


Reno yang tadi tertunda untuk mempersilakan keluarganya memulai makan malam mereka akhirnya bicara, "Ayo kita makan, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian setelah ini." ucap Reno.


Meski di abaikan, Marisa tetap berjalan dan menarik satu kursi yang masih tersisa. Dia duduk disana dan berteriak memanggil Ijah, meminta piring kosong untuknya.


Dina ingin sekali marah, tapi ditahan oleh Haris. Dia juga selalu ingat ucapan Rosa setiap dia ikut makan bersama anak-anak panti. "Jangan ribut didepan makanan." Nasehat itu selalu Dina ingat hingga saat ini.


Sementara itu, Ijah yang namanya dipanggil menjadi serba salah, mengambilkan piring untuk Marisa atau tidak. "Dia bukan majikan aku lagi kan? Jadi untuk apa aku takut, bukan kewajiban aku lagi untuk melayaninya." gumam Ijah yang akhirnya memilih untuk menghiraukan permintaan mantan majikannya itu.


Marisa mengutuk Ijah yang sudah berani menentangnya saat ini, asisten rumah tangga itu mengabaikan perintahnya. Marisa lupa jika dia sudah tidak memiliki kuasa apapun di rumah ini. Dengan terpaksa Marisa berdiri lalu menuju dapur dan berjalan ke arah kabinet tempat penyimpanan piring bersih berada.


Semua sudah menghabiskan makanan yang ada di piring mereka masing-masing, termasuk Marisa. Wanita itu benar-benar sudah tidak memiliki rasa malu sama sekali. Surya terus membatin merutuk kesal karena kelakuan putri pertamanya itu, yang sangat-sangat tidak sopan.


Reno berdehem, menganggap Marisa tidak ada disekitar mereka dan dia akan melanjutkan tujuannya mengundang semua keluarga untuk makan malam bersama malam ini.


"Aku dan Nadya akan bulan madu." ucap Reno.


Nadya yang tidak tahu sama sekali rencana Reno melihat pada suaminya yang juga melihat padanya dengan senyum lebar.


"Itu bagus." Dina yang bicara, tentu saja dia senang dengan kabar yang disampaikan Reno.


"Kapan?" Rosa yang bertanya.


"Setelah resepsi."


"Apa? Resepsi." ucap Marisa dengan keras dan menunjukkan wajah marah. Jika hanya bulan madu bukan masalah bagi Marisa, tapi resepsi? Kata itu seakan merendahkan dirinya yang menjadi istri pertama Reno. Marisa lupa jika dia sendiri yang tidak ingin orang tahu pernikahan mereka.


"Benar, pernikahan kamu harus diumumkan. Papa sudah lama selalu ditanya kapan kamu menikah? Teman-teman Papa hampir semunya sudah memiliki cucu." kali ini Haris yang berkomentar.


"Papa mendukung rencana kamu, Ren." ucap Haris lagi sambil menepuk pundak Reno.


"Jadi kapan resepsinya dilaksanakan?" Azam ikut bertanya.


Bukan kepo, tapi dia ikut senang dengan berita ini. Itu berarti kakaknya akan menjadi istri sah Reno secara hukum, dikenalkan ke khalayak sebagai menantu keluaga Bagaskara.

__ADS_1


"Minggu depan."


Jawaban yang keluar dari mulut Reno membuat Nadya kembali melihat suaminya, lagi-lagi Reno tersenyum lebar membalas tatapan sang istri. Sementara Marisa yang sedang meneguk air minumnya langsung tersedak. 'Sejak kapan Reno mempersiapkan ini semua'. batinnya.


"Semakin cepat semakin baik. Sudah berapa persen persiapannya?" Haris kembali bertanya.


"Widya pasti bahagia melihat semua ini."


Tiba-tiba saja Rosa berucap, sepertinya nenek Nadya dan Azam itu tengah mengenang menantunya yang telah tiada. Suasana pun kembali hening, nama Widya yang disebutkan Rosa menjadi kenangan dihati masing-masing orang yang ada disana termasuk Marisa. Surya yang sangat terpukul mendengar nama Widya disebut malam ini, dia merasa telah menyia-nyiakan wanita baik dan setia hanya demi seorang putri yang kini mempermalukan dirinya.


"Tidak bisa." teriak Marisa membuat semua orang berpaling melihat padanya.


"Apanya yang tidak bisa?" Haris yang bertanya.


"Mereka menikah karena aku yang memintanya. Kamu harus ingat itu Reno, kamu menolak pernikahan ini sebelumnya. Tapi apa sekarang? Kamu menceraikan aku dan kamu akan mengumumkan pernikahan kamu dengannya."


"Apa yang salah dengan semuanya?" Azam kembali ikut bicara dengan bertanya.


"Terima kasih, karena kamu yang telah mempertemukan mereka dan menyatukan mereka. Aku akui kontribusi yang kamu berikan cukup besar untuk kebersamaan mereka. Meskipun kamu sebenarnya memanfaatkan keterpurukan kakakku saat itu. Masalah mas Reno menceraikan kamu, tentu saja itu cerita yang berbeda, karena kamu yang memang tidak layak menjadi istrinya." ucap Azam dengan mata tajam melihat pada Marisa.


"Kamu, anak kecil yang tidak tahu apa-apa jangan ikut campur dengan urusanku." teriak Marisa menunjuk wajah Azam.


"Aku tidak ikut campur urusan kamu, tapi aku ikut campur urusan kakak ku.


Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu dan ibu kamu itu lakukan. Kalian dua orang yang tidak punya perasaan, dua orang yang berhati keji.


Kalian memang pembunuh berdarah dingin, bahkan tidak ada penyesalan sama sekali dalam diri kalian setelah kalian membunuh ibuku. Kalian berdua juga membuat nenek dan kakakku harus bekerja keras membanting tulang, karena nafkah yang seharusnya diberikan ayah kami, kamu dan ibumu curi."


Azam meluapkan semua emosi yang dia pendam selama ini. Sementara yang lain membiarkan saja Azam meluapkan semua amarahnya. Rosa yang sebelumnya sudah diberitahu Dina hanya diam, dia juga terluka dan tidak percaya mulanya. Tapi dia bisa apa? Semua sudah terjadi.


Sementara Surya tubuhnya merasa lemas, dia baru mengetahui penyebab kematian Widya karena perbuatan Wulan dan Marisa. Bodohnya dia malah memilih meninggalkan ibu dan anak-anaknya demi wanita yang telah membunuh istrinya.


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...

__ADS_1


__ADS_2