
Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Kandungan Nadya sebentar lagi masuk trimester ke tiga. Dina sibuk ingin mengadakan acara tujuh bulanan untuk kandungan menantunya itu. Sudah banyak persiapan yang wanita paruh baya itu persiapkan. Dari jumlah tamu yang akan diundang, menu makanan dan semua kebutuhan untuk acara tersebut yang aka diadakan dua minggu lagi.
Sementara Nadya hanya mengikuti saja keinginan mama mertuanya itu. Memaklumi karena ini cucu pertama, baik dari keluarga Reno maupun keluarganya sendiri. Nadya tidak banyak membantu untuk acara tujuh bulanannya, bukan tidak mau tapi dia dilarang keras oleh Reno. Reno tidak ingin istri cantiknya kelelahan, cukup duduk manis karena sudah banyak orang yang akan mempersiapkan acara tesebut.
Nadya hanya mengiyakan saja setiap perkataan Reno yang terkadang tidak sesuai dengan ucapannya. Pria yang berstatus suaminya itu tidak ingin dia lelah, tapi prianya itu selalu saja membuatnya kelelahan. Nadya terkadang bingung sendiri. Semakin besar kandungannya, semakin besar juga nafsu suaminya itu.
Meski sering kelelahan akibat ulah suaminya, tapi kandungan Nadya sangat sehat dan tumbuh dengan baik. Tentu saja berkat asupan gizi yang benar-benar dijaga. Siapa lagi orangnya jika bukan Berto. Pria paruh baya itu membuktikan ucapannya untuk membuatkan makanan yang sehat untuk Nadya dan bayinya.
Pria bule itu setiap hari mengirimkan makanan untuk Nadya. Tiga kali sehari, sudah sama seperti minum obat saja. Tidak hanya makanan pokok, Berto juga mengirimkan makanan dari olahan buah dan juga kudapan ringan yang bisa Nadya nikmati kapan saja.
"Ibu hamil itu sering kelaparan. Daddy tidak mau anak Daddy kelaparan. Jadi ini Daddy buatkan makanan yang bisa untuk kamu ngemil. Jangan lupa, buahnya juga dimakan." ucap Berto setiap menghubungi Nadya, memberitahu bahwa kurir yang mengirim makanan ke kediaman Nadya dan Reno sudah dijalan.
Nadya tentu saja bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Jangan tanyakan bagaimana sikap Reno, suami Nadya itu semakin hari semakin protektif melindungi istrinya. Apa lagi setelah kejadian Silvi yang berniat mencelakai Nadya, Reno semakin sigap dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nadya.
Membicarakan Silvi, wanita itu sudah keluar dari rumah sakit setelah mendapatkan perawatan selama hampir dua bulan lamanya. Dan Nadya banyak membantu untuk memulihkan kesehatan Silvi. Tidak ada yang tahu kecuali Ana, orang yang membantu Nadya mengurus keperluan Silvi selama di rumah sakit.
"Nad, kamu serius ingin membiayai operasi plastik Silvi?" tanya Ana tidak percaya dengan keputusan Nadya, saat menyampaikan pada dirinya.
"Serius dong Mbak, mana pernah aku main-main." sahut Nadya.
Ana tidak bisa berkata apa-apa lagi begitu Nadya mengirimkan sejumlah uang kepadanya.
"Kalau kurang langsung kabari aku, ya Mbak." ucap Nadya.
__ADS_1
"Ini sangat banyak, aku rasa lebih dari cukup Nad." balas Ana.
Nadya hanya tersenyum, membuat Ana semakin kagum pada saudara sepupunya ini. Tidak ada dendam pada mereka yang dulu jahat padanya. Bahkan sekarang, Nadya banyak membantu keluarga mereka dan lagi-lagi tidak ada yang tahu perbuatan baik Nadya itu.
Sementara Marisa, wanita itu dititipkan di rumah sakit jiwa untuk medapatkan penanganan khusus. Mentalnya terganggu setelah tahu orang yang bisa membantunya keluar dari penjara ikut ditahan karena kasus pembunuhan terhadap Surya.
Reno berhasil medapatkan bukti bahwa ayah dari bayi yang ada dalam kandungan Marisa adalah dalang utama yang melenyapkan nyawa Surya. Bersama Azam, Reno melaporkan pada pihak yang berwajib hingga pria itu akhirnya di tangkap dan ditahan setelah sempat melarikan diri untuk menghindari hukumannya.
Bicara sendiri, tertawa sendiri bahkan menangis sendiri adalah hal yang biasa Marisa lakukan setiap hari. Sungguh menyedihkan kondisi wanita itu. Sedangkan kandungannya semakin hari semakin besar.
Nadya merasa terenyuh saat tahu kabar Marisa dari Didu. Sahabat Anjas itu sekarang menjadi orang penting diperusahaan, dia diberi kepercayaan oleh Reno untuk membantu Yuda sebagai asistenya. Didu tentu saja sangat bersyukur dan berterima kasih pada Reno dan juga Nadya.
Bagaimana dengan Anjas? Pria itu tetap memutuskan untuk pergi ke Jerman, membantu Dean mengembangkan usahanya disana. Anjas secepatnya akan menyelesaikan pekerjaanya di Jerman lalu pulang untuk melangsungkan pernikahan dengan Yusi.
"Saya datang untuk meminta izin ingin melamar putri Bapak." ucap Anjas dengan berani.
Yusi yang ikut duduk bersama orangtuanya menatap Anjas tidak percaya. Mereka tidak sedang menjalin hubungan apapun dan pria ini juga tidak mengatakan apapun padanya saat mereka bertemu kemarin. Bagaimana bisa Anjas tiba-tiba berkunjung dan melamarnya meski ada kebahagian yang tercipta di lubuk hatinya atas lamaran itu.
Melihat wajah terkejut Yusi, Anjas mejelaskan pada wanita itu dan juga pada kedua orang tuanya. Anjas tidak ingin berpacaran, belajar dari pengalaman sebelumnya yang sempat bertunangan bertahun-tahun lamanya hanya membuang waktu saja. Apa lagi memang tidak ada cinta untuk Naira.
Bicara Naira, Wanita itu dihukum seumur hidup. Kondisinya baik-baik saja. Masih tidak terima dengan hukum yang dijatuhkan padanya, karena tetap merasa tidak bersalah, apa lagi menyesali perbuatannya. Merasa hebat dan kaya, Naira suka sekali membuat masalah dengan napi yang lain.
Kembali pada Anjas, pria itu sudah membuat keputusan. Jika hatinya sudah merasa klik dengan seseorang, maka dia akan langsung melamar wanita itu. Tidak seperti perasaannya pada Nadya dulu. Meski sudah merasakan jatuh cinta dan nyaman, Anjas tatap mengantungnya tidak jelas.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Anjas, siapa sangka orang tua Yusi setuju dengan ucapan pria itu. Namun mereka tetap menyerahkan keputusan untuk menerima lamaran Anjas atau tidak kepada Yusi.
Yusi tidak langsung mejawabnya malam itu, dia memang menyukai Anjas, tapi masih ingin memantapkan hatinya dengan sholat istikharah dan akan memberi jawabanya sebelum keberangkatan Anjas ke Jerman.
Anjas pulang dengan perasaan gundah, tapi dia menghargai permintaan Yusi. Mencoba bersabar dan menunggu jawaban dari Yusi.
Menjelang keberangkatan. Sesuai janji Yusi, menerima atau tidak menerima lamaran Anjas, Yusi akan menemui Anjas di bandara. Namun hingga saat ini, Yusi belum juga terlihat batang hidungnya membuat Anjas semakin gelisah dan terus berjalan mondar mandir hingga membuat Dean jengah melihatnya.
Langkah Anjas terhenti saat Yusi memanggilnya. Dengan senyum lebar, Anjas harap-harap cemas menunggu kalimat apa yang akan wanita itu sampaikan.
"Kak, aku... t...terima lamaran Kakak." ucap Yusi.
Anjas yang mendengar itu langsung menarik Yusi masuk kedalam pelukannya. Bahagia itulah yang tergambar diwajah tampan Anjas.
Nadya yang mendengar kabar itu langsung dari mulut Anjas sendiri ikut bahagia. Sahabatnya sudah menemukan wanita yang akan mendampingi hidupnya. Nadya berharap Anjas bisa cepat menyelesaikan pekerjaan dan segera pulang lalu menikah dengan Yusi.
Dimana Azam? Pria muda itu sekarang menjadi ceo. Memimpin perusahaan yang diwariskan Surya, kepadanya dan Nadya. Dibawah bimbingan papa Haris dan Reno, Azam banyak belajar dan mulai memahami apa saja yang harus dan tidak boleh dia lakukan dalam berbisnis.
Meski sudah menjadi Ceo, Azam tetap dengan kehidupannya yang sederhana. Pria muda itu juga sudah tidak sendiri lagi. Ada Karla, sahabat yang kini menjadi kekasihnya itu selalu mendampingi Azam. Membantu Azam yang sedang fokus belajar menjadi pemimpin perusahaan dengan menjadi asisten pribadi pria muda itu.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1