
"Itu semua bohong, video itu semuanya bohong. Mereka pasti telah merekayasa semua ini!" teriak Wulan saat aparat yang berwajib menggiring ibu dan anak itu masuk kedalam mobil patroli.
"Sebaiknya ibu diam untuk saat ini. Silakan bicara nanti dengan penyelidik saat di kantor." ucap salah satu aparat.
Marisa sudah tidak mampu menutupi wajah nya lagi. Topeng yang dia kenakan selama ini dilucuti oleh ulahnya sendiri. Malu itu sudah pasti, hancur itu apa lagi. Dia salah memilih lawan kali ini, Marisa lupa siapa yang berdiri dibelakang Nadya. Dia salah meremehkan adiknya itu, Nadya bukanlah Nadya yang dulu yang tidak tahu apa-apa. Kini ada Reno yang tidak akan diam jika orang yang dicintainya tersakiti.
"Reno, tidak bisakah kamu mengingat siapa yang lebih lama berada disisi kamu selama ini?" tanya Marisa lirih sesaat sebelum dia dibawa pihak yang berwajib.
Reno tidak bergeming, harusnya Marisa sadar apa yang telah dia lakukan pada Reno selama ini? Benarkah wanita itu ada disisi Reno seperti yang dia ucapkan. Jika benar, mengapa Reno tidak merasa kebersamaan itu ada.
"Reno!" panggil Marisa dengan nada tinggi karena merasa diabaikan.
"Bertanggung jawablah dengan apa yang telah kamu perbuat Marisa." ucap Reno akhirnya.
Satu pesan yang membuat Marisa harusnya mengerti apa yang mereka tanam maka itulah yang akan mereka petik. Sayangnya Marisa hanya memiliki paras cantik tapi tidak dengan hatinya. Bukan sadar dengan semua kesalahannya dimasa lalu hingga saat ini, dia justru menyalahkan Nadya yang menyebabkan karir dan hidupnya yang hancur saat ini.
Kata ancaman untuk Nadya pun terlontar dari mulut Marisa, "Kamu yang membuat aku seperti ini, maka aku pastikan hidupmu juga akan hancur, NADYA!" ucap Marisa.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menikmati kebahagiaan kamu begitu saja. Kamu pasti akan merasakan apa yang kini aku rasakan, aku pastikan itu." ancam Marisa.
Nadya tidak takut dengan ancaman Marisa, selama dia tidak berbuat buruk pada orang lain, maka Nadya yakin hidupnya akan baik-baik saja. Bukankah seperti itu selama ini yang Nadya jalani? Jadi, mengapa harus takut.
Nadya tersenyum membalas ancaman yang Marisa lontarkan. Hal itu membuat Marisa semakin emosi dan kembali mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Kalian tidak akan bahagia ingat! Ingatlah perkataanku ini, kalian tidak akan bisa bahagia. Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia diatas penderitaanku. Dan satu hal lagi, kalian juga tidak akan memiliki keturunan seperti yang kalian inginkan. Tidak akan!" ucap Marisa dengan bibir terangkat mencemooh Nadya, merasa dirinya seakan-akan yang mengatur hidup manusia hingga bisa meyakinkan Nadya dan Reno tidak bisa memiliki keturunan.
Lagi-lagi Nadya hanya tersenyum, harusnya Marisa meminta Maaf dan memohon agar Nadya mau meringankan hukuman untuk wanita itu. Tapi sikapnya sangat bertolak belakang, Angkuh, Marisa masih mempertahankan keangkuhannya. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan, tidak ada lagi sikap elegan dan terhormat wanita itu yang selama ini memang hanya topeng.
__ADS_1
Tingkah laku Marisa mempermalukan dirinya sendiri, membuat semua yang masih ada di pesta tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Beginilah Marisa sang foto model terkenal itu sebenarnya. Bukan hanya yang hadir di pesta resepsi Reno dan Nadya saja yang menyaksikannya, tapi semua penggemar Marisa melalui siaran langsung yang masih Jane teruskan.
Sumpah serapah yang dilontarkan Marisa akhirnya berhenti saat aparat yang berwajib meminta Marisa untuk diam, lalu mengiring mantan istri Reno itu masuk ke dalam mobil patroli untuk dibawa ke kantor polisi.
Nadya menghela nafas panjang, memasukan Wulan dan Marisa ke dalam penjara bukan berarti ini sudah berakhir. Melainkan episode baru dalam kehidupanya untuk mencari keadilan penyebab kematian ibunya. Mereka pasti akan disibukkan dengan persidangan, tapi semua itu tetap saja tidak bisa mengembalikan sang ibu yang telah pergi.
Nadya merindukan sosok itu, sosok lemah lembut yang penuh kasih sayang. Satu-satu kenangan bersama wanita yang melahirkannya kini tergambarkan kembali. Sungguh Nadya rindu pelukan dan usapan lembut dikepalanya. Wajah yang selalu tersenyum untuk anak-anaknya meski saat itu hatinya terluka. Sikap itu juga yang melekat didiri Nadya, dia akan tetap tersenyum meski banyak luka yang dia simpan.
"Nak terima kasih." ucap Surya.
Suara Surya yang bicara pada Reno membuat Nadya tersadar dan kembali menginjakkan kakinya di bumi.
"Akhirnya wanita itu ditahan juga, papa bisa sedikit lega dan tenang." ucap Surya lagi.
Aparat tidak lamban seperti tuduhan Surya dalam menangani kasus Wulan yang dia laporkan, melainkan mereka masih mengumpulkan bukti lebih banyak lagi seperti permintaan Reno. Bukti kuat jika Wulan adalah sosok yang menghabisi nyawa seorang wanita yang tidak salah apa-apa.
"Maaf kalau saya menahan pihak penyelidik untuk menunda penangkapan mereka berdua, terutama Wulan. Saya hanya ingin bukti yang kita kumpulkan mampu membuat wanita itu mendekam selamanya dipenjara atau mungkin hukuman mati karena melakukan pembunuhan berencana."
"Maafkan kakak mu, Nadya." pinta Surya pada Nadya.
Ada perasaan yang Nadya tidak mengerti saat Surya mengucapkan kata maaf mewakili Marisa. Seakan ada sesuatu yang menyayat hatinya, tapi Nadya mencoba menepisnya dan tersenyum seperti yang diajarkan sang ibu.
"Papa pergi dulu, Papa harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." ucap Surya pamit.
Baru beberapa langkah, pria paruh baya itu menghentikan langkahnya lalu berbalik, "Reno, bawalah istrimu untuk istirahat." ucap Surya.
Reno mengangguk lalu beralih untuk melihat Nadya yang sejak tadi berdiri disisinya. Nadya tersenyum tapi Reno tahu, hati istrinya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Mas." ucap Nadya pelan saat dia merasa tubuhnya sudah melayang diudara.
"Turunkan Mas, malu. Masih banyak tamu." ucap Nadya.
Reno tidak menghiraukan permintaan istrinya, dia terus berjalan membawa sang istri yang Reno rasa mulai sedikit berat dari waktu pertama kali Reno menggendong Nadya.
Mau tidak mau Nadya mengalungkan kedua tangannya di leher Reno lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Reno.
Tiba dikamar barulah Reno menurunkan Nadya dari gendongannya. Mata Nadya dibuat takjub melihat kamar yang akan dia tempati malam ini.
Sepertinya selama pesta pernikahan berlangsuang, Reno memerintahkan seseorang untuk menghias kamar ini menjadi seindah dan seromantis ini.
Reno memeluk Nadya dari belakang lalu mengecup pipi sang istri, "Apa kamu suka?" tanyanya berbisik.
Nadya hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu. Sungguh, jika tadi hatinya kesal karena umpatan yang dilontarkan Marisa. Saat ini hatinya berbunga-bunga karena Reno, sama seperti kamar ini yang dipenuhi kelopak bunga mawar yang bertaburan.
"Mas, Dya mandi dulu ya." pamit Nadya setelah dia puas menyapu pandangannya keseluruh kamar.
"Tapi tolong buka kan ini." pinta Nadya kembali memunggungi Reno dan menunjukkan resleting gaun pengantin yang dia kenakan.
Tidak menunggu lama tangan Reno meraih resleting itu dan menurunkannya hingga terpampanglah punggung mulus sang istri. Hal itu mengusik milik Reno yang sejak sore hanya bisa menelan ludah nya sendiri melihat kecantikan sang istri. Tidak ingin melewatkan hal yang indah dihadapanya, Reno mengecupi punggung yang putih dan bersih itu.
"Mas geli." ucap Nadya.
"Kita mandi berdua." sahut Reno. Menarik gaun milik sang istri lalu kembali mengangkat tubuh Nadya masuk kekamar mandi.
Nadya tidak bisa menolak, dia bisa melihat sorot mata Reno yang sudah dipenuhi hasrat.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua...