MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 63. Kesal


__ADS_3

Reno menatap kesal pada ponsel ditangannya. Nama Yuda tertera disana dan Reno sudah dapat menduga jika asistenya itu tidak bisa menyelesaikan masalah perusahaan yang dia serahkan pada sahabatnya itu selama dia liburan bersama sang istri.


"Jangan katakan kamu tidak bisa menangani wanita ular itu!" seru Reno begitu menerima panggilan Yuda.


"Bukan seperti itu, perempuan itu tidak bisa terima begitu saja keputusan dari perusahaan kita." jawab Yuda.


"Apa mau wanita itu?" tanya Reno kesal, nada suaranya sudah lebih tinggi dua kali lipat dari biasanya.


Suara tinggi Reno menarik perhatian Nadya, istri Reno itu hanya bisa menghela nafas melihat suaminya yang mulai masuk mode tegangan tinggi. Hal ini mengingatkan Nadya saat pertama menjadi istri Reno. Suara pria itu terdengar tinggi dan juga pedas ditelinga. Tapi lihatlah sekarang, pria itu begitu mencintainya, memperlakukannya dengan lembut yang akhirnya membuat Nadya ikut jatuh cinta pada pria yang berstatus suaminya itu.


"Sayang maaf." ucap Reno lalu duduk disamping istrinya.


"Mas nggak salah, kenapa harus minta maaf?" tanya Nadya.


"Mas tadi bicaranya tinggi." jawab Reno.


Nadya tersenyum, "Kan bicara tingginya bukan sama Dya, Mas. Kenapa harus minta maaf sama Dya? Harusnya Mas minta maaf sama Bang Yuda." balas Nadya jawaban Reno.


"Ogah, salah sendiri dia tidak becus mengurus pekerjaan." sahut Reno.


Pria itu lalu menyandarkan kepalanya dibahu Nadya, tempat ternyaman untuknya bersandar setelah mama Dina.


"Sayang." panggil Reno lirih.


Jika nada suara suaminya sudah seperti ini, Nadya tahu kemana arah pembicaraan Reno. Tidak perlu menjawab panggilan Reno, suaminya itu sudah bergerak sendiri. Kembali menegakkan kepalanya, Reno menarik Nadya untuk duduk dipangkuannya.


"Mas pelan-pelan. Dedek didalam nanti kaget." ucap Nadya mengingatkan suaminya itu.


"Maaf ya, sayangnya ayah." ucap Reno sambil mengelus perut Nadya, "Habisnya ibu kamu buat ayah gemas, ingin ayah gigit terus." lanjut Reno ucapannya yang langsung mendapat pukulan dari Nadya di lengan kanannya.


"Mas, kalau bicara sama anak itu yang baik-baik." tegur Nadya.


Bukan marah Reno malah tertawa kecil, istrinya semakin mengemaskan dimatanya saat ini. Reno tidak mau lagi berbasa basi, bukankah liburan ini memang dia rencanakan untuk terus bermain bersama sang istri tanpa gangguan. Maka Reno menjalankan rencananya sesuai jadwal. Siang ini dia akan bermain-main sebentar sebelum mereka tidur. Nanti sore baru Reno akan mengajak Nadya bermain di pantai.


Nadya tidak akan menolak permintaan Reno, sejak hamil dia semakin menyukai Reno yang mengajarinya banyak gaya dalam bercinta. Terlebih lagi sang buah hati akan sangat tenang setiap ayah dan ibunya bercampur jadi satu, seakan-akan tahu apa yang orang tuanya inginkan terutama keinginan sang ayah.


"Anak pintar." ucap Reno sambil mengelus perut Nadya yang mulai membesar itu.

__ADS_1


"Anak kita sangat pengertian sayang, seperti ibunya." ucap Reno lagi.


"Enggak ada ronde kedua, Dya capek." sahut Nadya yang membuat Reno terkekeh. Istrinya sudah tahu kode yang dia berikan.


"Enggak sekarang sayang, nanti malam ya! Kita bisa bermain lagi. Dua, tiga atau...."


"MAS!" panggil Nadya memotong ucapan Reno.


Gila saja jika harus mengikuti nafsu suaminya yang semakin besar sejak dia hamil. Nadya tidak bisa membayangkan bagaimana remuk tubuhnya jika harus terus melayani keinginan Reno yang semakin hari semakin bertambah. Ngidam macam apa ini? Inginya terus bercinta, atau mungkin hanya alasan suaminya saja mengatas namakan keinginan anak mereka seperti saat ini.


"Kan permintaan dedek, sayang." balas Reno.


"Dedek yang mana?" tanya Nadya, "Yang diperut Ibu apa yang dibawah perut ayah?"


"Hahaha." Reno tertawa keras medengar pertanyaan sang istri, "Dua-duanya." sahut Reno sambil menciumi leher istrinya.


Sulit memang bicara dengan suaminya jika dalam mode seperti ini. Lebih baik Nadya abaikan saja dengan memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya yang tadi melayani Reno hampir dua jam lamanya. Entah stamina darimana suaminya itu dapatkan, tapi tidak dapat Nadya pungkiri, dia ikut senang, karena disini dia yang berkali-kali bisa mendapatkan pelepasan.


Reno menarik selimut, menutupi tubuh polos mereka. Nadya biasanya segera membersihkan diri, tapi sepertinya istrinya kali ini benar-benat kelelahan. Reno merasa bersalah, tapi juniornya tidak bisa diajak kompromi. Benarkah?


Sementara itu, selepas menutup panggilan dari Reno, Yuda menatap kesal pada Jasmine. Selain kehadiran wanita itu menganggu kencannya bersama Kania, dia juga harus bekerja ekstra karena Reno menyerahkan semua yang berhubungan dengan Jasmine.


"Maaf Jasmine, Reno saat ini sedang liburan bersama istrinya. Semua pekerjaan sekarang urusannya dengan saya." jawab Yuda.


Terlihat wajah tidak suka yang ditunjukkan oleh Jasmine. Kania bisa melihat jelas bibit-bibit pelakor dalam diri wanita itu.


"Udah sih Mbak, kenapa harus bertemu pimpinan perusahaan kalau masih bisa diselesaikan oleh karyawan dan asistenya." ucap Kania menimpali.


Kania hanya ingin membantu Yuda yang juga tidak suka dengan kehadiran wanita cantik dihadapannya ini. Kania bahkan kagum dan sempat cemburu saat Jasmine memanggil nama Yuda. Tapi kekagumannya luntur setelah melihat bagaimana sombongnya wanita itu saat bicara.


"Siapa kamu? Tidak usah ikut campur!" bentak Jasmine.


"Jangan pernah membentak calon istri saya!" balas Yuda.


Kania melongo tidak percaya bahkan mulutnya terbuka karena terkejut dengan jawaban Yuda. 'Calon istri?' Sepertinya telinga Kania salah dengar apa yang pria itu ucapkan.


"Baru calon istri saja belagu." sahut Jasmine.

__ADS_1


"Dari pada kamu, dilihat saja tidak oleh Reno, tapi serasa sudah jadi istri." balas Yuda.


"Kamu!" tunjuk Jasmine wajah Yuda.


"Pergilah, perusahaan kita sudah tidak ada lagi kerja sama. Jadi, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." ucap Yuda mengusir Jasmine.


"Kebetulan sekali, teman ranjang kamu juga ada disini. Sepertinya dia sudah punya teman wanita yang baru." tunjuk Yuda pada Aditya yang baru saja melewati pintu masuk bersama seorang wanita.


Jasmine dan Kania mengikuti kemana arah tangan Yuda menunjuk. Reaksi keduanya berbeda. Jika Jasmine biasa saja, tidak dengan Kania. Wanita itu sepertinya terkejut melihat sosok Aditya.


"Ada apa?" tanya Yuda, "Apa kamu kenal pria itu?" tanyanya lagi karena Kania diam saja.


"Temanku istri Aditya, mereka sudah memiliki seorang putra dan saat ini temanku sedang hamil anak kedua. Dan menurut temanku, sudah dua bulan ini, pria itu mengabaikannya." jawab Kania menjelaskan, "Dan ternyata dia seudah memiliki teman tidur baru, pantas saja lupa anak istri!"


Yuda menyatukan alisnya, "Aku belum pernah dengar kabat Aditya sudah menikah." ucapnya.


"Aku juga belum mendengar jika pria bodoh itu sudah menikah." timpal Jasmine, "Aku juga bukan teman tidur Aditya, semua karena ulah calon suami kamu itu." sambung Jasmine ucapannya.


"Kamu yang memulainya, menjual istri bos ku pada pria itu."


Kania menatap tidak percaya pada Jasmine, "Tidak dilaporkan?" tanyanya pada Yuda.


"Sudah, tapi mereka bisa bebas dengan jaminan."


Selesai Yuda bicara, terdengar suara ribut dimeja lain. Baik Yuda maupun Kania langsung saja mengalihkan pandangan mereka kesumber keributan tersebut.


"Airin." ucap Yuda dan Kania bersamaan.


"Kamu kenal Airin, Nia?" tanya Yuda.


"Dia teman yang tadi aku ceritakan." jawab Kania.


"Airin adik sepupu ku." sahut Yuda, "Aditya kurang ajar sekali dia, beraninya mempermainkan keluarga Prayoga." ucap Yuda geram.


Tidak perlu lagi berpikir panjang, Yuda berdiri lalu berjalan mendekati Aditya dan Airin yang sedang ribut besar.


BUGH

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Menikah Jadi Istri Kedua...


__ADS_2