
"Jadi apa yang bisa aku bantu, Nai?" tanya Nadya lagi karena Naira hanya diam saja.
"Kamu belum bujuk Anjas buat maafin aku?" bukan menjawab Naira balik bertanya.
"Belum." jawab Nadya.
"Kenapa? Nggak biasanya!" balas Naira yang terlihat sedikit kesal.
Nadya menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya berlahan untuk menenangkan diri. Bicara dan memberi pengertian pada Naira itu tidak mudah, tunangan Anjas itu termasuk orang yang sulit menerima masukan dari orang lain. Tumbuh dengan limpahan materi membuat Naira selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak peduli jika harus mengorbankan orang lain. Hal yang sama yang akan Naira lakukan untuk mendapatkan Anjas, dia akan melakukan apapun tanpa peduli jika dia menyakiti orang lain dan juga Anjas orang yang dia cintai. Tapi menurut Nadya, bukan cinta yang Naira rasakan pada Anjas tapi sudah menjadi obsesi seorang Naira untuk bisa memiliki Anjas seperti barang-barang yang ingin dia miliki.
"Bukankah kamu sudah tahu jawabanya, kamu sendiri tidak bisa menghubungi Anjas karena ponselnya tidak aktif." jawab Nadya meski dia tahu nomor lain milik Anjas.
Naira menghembuskan nafas kasar, dia mengacak-acak rambutnya sendiri seperti anak kecil yang kehilangan mainannya lalu merajuk.
Nadya membiarkan saja, tidak bicara juga tidak menunjukkan simpatinya pada Naira. Sudah cukup Nadya mengalah untuk menenangkan gadis itu dengan berjanji banyak hal agar Naira tidak lagi bermuka masam dan uring-uringan.
"Kamu nggak usaha cari dia kemana gitu?" ucap Naira karena tidak mendapat respons seperti biasanya dari Nadya.
"Kenapa aku? Kan yang tunangannya kamu!" sahut Nadya.
"Tapi kamu kan sahabatnya, kamu bisa cari dia terus bujuk dia buat maafin aku seperti biasanya." balas Naira.
"Sekarang nggak bisa seperti itu lagi. Aku sudah punya suami, Nai. Sebelumnya aku sudah pernah kasih tahu kamu, kan?" Naira mengangguk membuat Nadya tersenyum. Namun senyum itu memudar dengan sendirinya setelah Naira menyela ucapannya yang akhirnya tertahan.
"Tapi, kamu bisa minta izin sama suami kamu." sela Naira sebelum Nadya kembali bicara.
"Jika yang akan aku temui bukan Anjas atau pria lainnya, aku berani meminta izin pada suamiku. Tapi ini Anjas, dia seorang pria. Sebagai wanita yang sudah bersuami, aku harus menjaga diri dan jarak dengan lawan jenis termasuk Anjas." jelas Nadya.
"Ada baiknya kamu belajar bicara sendiri pada Anjas, dengan bicara dari hati ke hati kalian bisa semakin dekat." saran Nadya pada Naira. Sayangnya yang namanya Naira, tidak pernah mau dinasehati karena dia merasa digurui.
"Bilang aja kamu sekarang nggak mau tolong aku lagi. Atau kamu sengaja buat aku pisah sama Anjas karena selama ini sebenarnya kamu suka sama dia."
Nadya menghela nafas, jika bukan kenal baik dengan Naira rasanya ingin sekali Nadya mengusirnya dari kediamannya. Tapi dia menahan sabar sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Tanpa Nadya sadari, Reno dan Yuda menyimak apa yang dia bicarakan pada Naira. Ada hal yang membuat Reno bahagia karena Nadya lebih mementingkan perasaanya dari pada memaksa untuk bertemu Anjas. Tapi ada rasa kesal yang Reno rasakan, Nadya terlalu baik menjadi seorang teman. Istrinya tidak sadar jika dimanfaatkan oleh Naira untuk kepentingan gadis itu.
Sayangnya Reno salah, Nadya bukan membantu Naira selama ini. Tapi dia berusaha agar Anjas merasa nyaman menjalani hubungannya dengan Naira. Karena bagi Nadya, kebahagiaan Anjas adalah kebahagiaannya. Jika Reno tahu alasan Nadya sebenarnya, apa dia masih merasa istrinya dimanfaatkan Naira? Atau justru dia cemburu?
"Jadi apa yang kamu dapatkan?" tanya Reno pada Yuda. Mereka sudah berada di ruang kerja saat ini. Begitu Naira pamit, Reno mengajak sahabat yang juga asistennya itu masuk keruang kerja untuk bicara. Apa lagi jika Nadya jangan sampai tahu apa yang mereka bahas. Bukan ingin menyembunyikan sesuatu, Reno hanya tidak ingin menganggu pikiran istrinya yang tengah mengandung buah hati mereka.
"Dia sangat pintar dan bermain bersih, sulit untuk membuktikan dan menyeretnya mendekam dipenjara seperti Marisa dan Wulan." jawab Yuda.
Reno diam sesaat untuk berpikir, bahkan wanita itu benar-benar terlihat seperti wanita manja kebanyakan. Pasti ada cara untuk menjebak dan membawanya menyusul Marisa dan Wulan kedalam jeruji besi.
"Apa tidak ada celah sedikitpun?" tanya Reno.
Yuda menggeleng, "Dia bermain sangat rapi dan bersih." sahut Yuda. "Tapi jika kamu mau, aku ada usul." ujar Yuda.
"Usul apa?" tanya Reno penasaran.
"Minta bantuan Anjas, jika kamu tidak keberatan." sahut Yuda. "Bukankah sahabat istrimu itu mau terbebas dari wanita itu?" ucap Yuda lagi.
"Dan kembali mengejar istriku?" sahut Reno yang mendapat kekehan dari Yuda.
"Itu berarti harus melibatkan Nadya? Aku tidak mau!" ujar Reno.
"Tidak perlu, aku bisa meminta Didu yang bicara pada Anjas. Kamu lupa jika Didu juga sahabatnya Anjas?"
Reno terdiam, Yuda benar. Ada Didu mengapa dia sampai lupa. Menyebut nama Didu, Reno teringat Nadya yang ingin menengok istri dan anak Didu.
"Sore ini saja kita temui Didu. Sekalian mengantar Nadya untuk menjenguk istri dan anak Didu." ucap Reno.
Yuda menjentikkan jarinya, "Cakep, gue suka cara lo yang berpikir seperti ini. Buang jauh-jauh rasa cemburu lho itu. Nggak ada faedahnya, hanya bikin kepala pusing. Yang ada lo bawaannya curiga terus, hilang sudah kedamaian jika sudah begitu." ucap Yuda.
"Aku kasih tahu Nadya dulu untuk siap-siap menjenguk istri dan anak Didu nanti sore." sahut Reno.
"Ya, tapi gue numpang tidur bentar ya." balas Yuda.
__ADS_1
"Dikamar tamu saja, jangan disini." ucap Reno, mencegah Yuda yang sudah siap membaringkan tubuhnya disofa yang ada diruang kerja Reno.
Tidak ada salahnya mengikuti saran Reno, Yuda memang sangat lelah akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, membuat waktu tidur dan istirahat nya tidak teratur.
Nadya sudah siap untuk pergi ke rumah sakit, dia dan Reno sedang menunggu Yuda yang masih membersihkan diri dikamar tamu. Penampilan Nadya hari ini sangat cantik dimata Reno, rasanya tidak ingin pria lain menikmati kecantikan istrinya termasuk Yuda. Tapi mau bagaimana lagi, Reno tidak mungkin mengurung Nadya dan terus dibawah kungkungannya.
Membayangkan itu, membuat miliknya membesar. Memikirkan Nadya, selalu saja memompa hasratnya untuk menikmati sang istri.
"Mas mikirin apa?" tanya Nadya yang tidak sengaja melihat milik suaminya mengeras.
"Mikirin kamu, apa lagi?" jawab Reno jujur karena Nadya sudah melihat miliknya.
"Ishh." gumam Nadya.
"Habisnya kamu cantik baget hari ini sayang." ucap Reno jujur. "Apa kita tunda saja?" bisik Reno.
"Mas!" Nadya membulatkan matanya.
Reno terkekeh melihat istrinya, "Bercanda sayang, Mas sanggup menunggu sampai nanti malam." sahut Reno.
"Hemm." Yuda sengaja berdehem agar sepasang suami istri itu sadar sudah ada dia diantara mereka.
"Lama amat sih. Pak amat aja nggak pake lama." ucap Reno.
"Salah sendiri nyuruh gue tidur di kamar tamu, kebablasan kan gue tidurnya." sahut Yuda.
"Sudah ributnya, ayo berangkat sekarang!" ucap Nadya menghentikan perdebatan dua sahabat itu.
Beberapa bulan hidup bersama Reno, membuat Nadya paham bagaimana Reno dan Yuda berinteraksi. Ada kalanya mereka serius sampai lupa waktu. Ada kalanya juga mereka ribut yang tidak jelas seperti saat ini.
Seperti yang diminta Nadya, mereka segera meluncur ke rumah sakit dimana Ria dan putrinya dirawat. Disinilah sekarang Nadya, Reno dan Yuda berada, di kamar rawat inap Ria. Siapa sangka, mereka bertemu Anjas disana.
Seperti maksud dan tujuan Yuda dan Reno datang kerumah sakit ini, selain mengantar Nadya mereka ingin bicara dengan Didu. Akhirnya kedua sahabat itu mengajak Didu dan Anjas bicara diluar, meninggalkan Nadya dan Ria yang masih asing berbincang.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...