
Wulan masih saja menyangkal apa yang dituduhkan padanya membuat Surya dan Azam geram.
"Mas, aku tidak membunuh Widya. Dia sendiri yang ingin mengakhiri hidupnya setelah tahu kita sudah menikah, percayalah." ucap Wulan yang diabaikan saja oleh Surya.
Apa wanita itu amnesia, sudah jelas dia menikahi Wulan setelah istrinya meninggal, hanya saja dia tidak tahu jika istrinya meninggal karena perbuatan Wulan.
Semua jejak perbuatan Wulan masih tersimpan di ponsel milik Widya yang selama ini disimpan Azam. Surya terkejut saat membuka ponsel itu, banyak kebohongan yang dikirimkan Wulan pada sang istri. Salah satunya Wulan mengirim foto seolah-olah Surya dan Wulan tidur bersama malam itu.
Wulan mengirin pesan untuk menjemput Marisa ditempat lesnya dan megatarkannya pulang. Karena satu arah dengan kediamanya, surya menyanggupi. Marisa meminta ayahnya untuk mampir karena dia masih ingin bersama pria itu. Tanpa menaruh curiga, Surya menuruti keinginan sang putri.
Surya yang tiba-tiba sakit kepala, merasa tidak mampu mengendarai kendaraannya. Dia memutuskan untuk istirahat sebentar di rumah Wulan. Entah apa yang terjadi, Surya tidak dapat menahan kantuk, dia pun terlelap disofa. Siapa sangka, ternyata Marisa bekerja sama dengan Wulan untuk menjebak Surya.
Surya menjambak rabutnya sendiri kala mengingat malam itu. Sampai terjaga, dia masih berada di sofa, sehingga tidak mengira, Wulan mengirim foto dia dan Wulan tanpa busana pada Widya.
"Bodoh." rutuk Surya membuat Azam yang sedang mengemudi terkejut.
"Sudah lah Yah, mau disesali bagaimanapun tidak bisa mengembalikan ibu pada kita." ucap Azam.
Azam juga merasa menyesal baru membuka ponsel milik ibunya, tadinya dia menyimpan benda itu sebagai kenang-kenangan dari ibunya. Siapa sangka ibunya meninggalkan banyak jejak perbuatan Wulan, bahkan di detik-detik terakhir ibunya merenggang nyawa. Ponsel itu akan dijadikan barang bukti untuk menuntut Wulan.
Wulan tidak tahu jika mereka memiliki bukti kuat kejahatan wanita itu. Seandainya saja Azam membukanya sejak dulu, maka kesalah pahaman dengan ayah mereka lebih cepat berakhir.
Surya terdiam mendengar ucapan Azam. Putranya benar, mereka tidak bisa mengembalikan Widya ada bersama mereka. Sekarang bagaimana caranya membuat Wulan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Surya dan Azam kembali ke hotel dimana pesta Nadya Dan Reno di selengarakan. Keluarga mereka hampir semuanya menginap disana malam ini, tentu saja Reno yang mempersiapkan semua fasilitas untuk keluarga mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, lelah dan penat itulah yang Surya rasakan. Begitu juga Azam, tanpa membersihkan diri dia langsung berbaring dan terbang kealam mimpi.
Tok...Tok...Tok. Pintu kamar Reno dan Nadya diketuk seseorang. Entah siapa subuh-subuh begini sudah berani menganggu bulan madu bos muda.
"Ma." ucap Reno terkejut.
"Ada apa?" tanya Reno setelah menyadari Dina tidak baik-baik saja.
"Rosa, ibu Rosa dilarikan Azam dan Surya kerumah sakit." jawab Dina.
"Apa!" teriak Reno.
"Siapa Mas?" tanya Nadya karena suaminya lama sekali.
"Mama." panggil Nadya begitu melihat Dina yang berdiri di depan pintu mereka.
"Sayang ayo kita kerumah sakit." ucap Reno pada Nadya.
"Mama ikut kalian." sahut Dina.
Nadya terkejut, "Siapa yang sakit Mas?" tanyanya.
"Nenek."
__ADS_1
Wajah Nadya menegang mendengar kata nenek yang keluar dari mulut Reno. Tanpa banyak bicara, dia segera menarik tangan Reno untuk pergi ke rumah sakit.
"Sayang, buka dulu mukenanya. Ganti pakaian kamu dan kenakan hijab yang benar." tegur Reno.
Nadya melihat penampilannya, benar saja dia masih mengenakan mukena dan pakaian tidur. Nadya berbalik kembali kekamarnya lalu melakukan apa yang diminta Reno.
Dina juga kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan ponselnya. Tidak lupa dia mengunci kamarnya. Haris papa Reno sudah di rumah sakit, suaminyalah yang mengabari setelah gagal menghubungi Reno dan Nadya yang belum mnegaktifkan pensel mereka.
"Apa yang terjadi dengan nenek, Zam?" tanya Nadya begitu dia bertemu sang adik yang tampak kacau.
"Azam tidak tahu Mbak. Tadi perawat nenek yang membangunkan Azam dan memberitahu nenek sudah tidak sadarkan diri." jawab Azam.
"Semoga nenek baik-baik saja." ucap Reno mencoba menenangkan sang istri.
"Dimana ayah?" tanya Nadya.
"Menemui dokter sama papa dan suster yang merawat nenek." jawab Azam.
Reno mengajak istrinya untuk duduk, begitu juga Azam. Mama Dina entah kemana, tapi Reno yakin mamanya itu menyusul papanya keruangan dokter.
"Ibu Rosa sedang ditangani dokter terbaik di rumah sakit ini, jadi tenang lah."
Reno, Nadya dan Azam serentak melihat pada sumber suara, "Kak Leo." ucap Nadya dan Azam bersamaan.
"Kakak sudah kembali ke Indonesia?" tanya Azam sambil memeluk pria tampan yang mengenakan jas putih yang menandakan jika pria itu adalah seorang dokter.
"Apa kabar kalian?" tanya dokter tampan itu.
Pria itu terkekeh, Azam tidak berubah. Masih seperti Azam yang dia tinggalkan enam tahun yang lalu.
Nadya tidak banyak bicara, dia hanya memperhatikan interaksi antara Azam dan Leo yang berbincang. Sejak dulu Azam memang dekat dengan Leo, karena Azam selalu berada di rumah disaat Leo mengunjungi Rosa. Jangan tanyakan dimana Nadya, istri Reno itu harus banting tulang untuk menghasilkan uang dan kuliah dimalam harinya. Itulah yang membuat Nadya menjadi tidak begitu dekat dengan Leo.
Leo melihat pada Nadya dan tersenyum lalu berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya pada Reno.
"Saya Leo, anda pasti suami Nadya." ucap Leo.
Biarpun dia tinggal di luar negeri, tapi Leo mengikuti berita yang beredar di Indonesia termasuk berita tentang Nadya akhir-akhir ini.
"Reno." ucap Reno sambil membalas uluran tangan Leo.
Ponsel Reno berdering membuat pria itu pamit untuk mengakat panggilan teleponnya. Reno sedikit menjauh, namun matanya tetap mengawasi sang istri. Apa lagi ada pria asing yang baru Reno lihat. Yuda tidak memberikan laporan tentang pria yang bernama Leo sebagai bagian orang yang dikenal istrinya dimasa lalu. Terlebih lagi, Azam tampak akrab dengan dokter muda itu. Reno akan menyelidikinya nanti.
"Selamat atas pernikahan kamu, semoga bahagia." ucap Leo menatap lekat Nadya.
"Terima kasih Kak." jawab Nadya singkat.
Leo hanya bisa mendesah, sejak dulu Nadya selalu saja irit bicara saat bersamanya. Catat! Hanya bersamanya. Nadya akan banyak bicara jika bicara dengan yang lainnya.
"Sejak kapan Kakak kembali dari sana?" Azam kembali bertanya karena baik Leo maupun Nadya hanya diam saja dan itu bukan hal yang aneh bagi Azam.
__ADS_1
"Baru dua minggu." jawab Leo.
Reno kembali duduk disamping Nadya setelah dia mengakhiri panggilan teleponya.
"Yuda yang menghubungi." ucap Reno memberi tahu.
"Mas minta dia menggantikan jadwal bulan madu kita." jelas Reno.
Nadya menoleh pada suaminya, "Maaf." ucap Nadya. Reno sangat menginginkan perjalan bulan madu ini, tapi lagi-lagi harus tertunda.
Reno merangkul sang istri, ini bukan salah Nadya. Semesta yang belum megizinkan mereka untuk mengunjungi Eropa berdua.
Dari jauh terlihat Surya, Haris dan Dina berjalan beriringan. Di belakang mereka perawat yang merawat Rosa mengekori.
"Apa kata dokter, Yah?" tanya Nadya dan Azam yang hampir bersamaan.
"Nenek akan baik-baik saja. Hanya saja...."
"Hanya saja apa?" tanya Nadya penasaran.
"Tenang dulu sayang." ucap mama Dina.
"Nenek tidak sadarkan diri karena ada racun yang masuk kedalam tubuhnya."
"Racun." beo Nadya, Reno dan Azam bersamaan.
"Apa ini ulah mereka?" tanya Nadya.
"Entahlah, Papa sudah minta pihak keamanan untuk memeriksa semua cctv." jawab papa Haris.
"Kejam sekali." gumam Nadya yang bisa didengar Reno.
"Tenang sayang, jika memang mereka, Mas pastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang paling berat." ucap Reno.
Ponsel Reno kembali berdering, nama Yuda kembali terlihat dilayar ponselnya.
"Halo." ucap Reno.
"...."
"Baiklah." jawab Reno.
"Sayang, Mas pergi sebentar." bisik Reno pamit.
Nadya melihat pada suaminya, seakan tahu arti tatapan sang istri, Reno kembali berbisik.
"Yuda sudah mengamankan orang yang memberikan racun pada nenek." bisik Reno lagi.
"Dya ikut Mas."
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...